Sahabat Jadi Cinta

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 9 September 2017

Namaku Elvira Aghizah Arana sering dipanggil vira, ara, atau gizeh. Tapi kalian cukup panggil aku vira. Aku bersekolah di SMA Tanujimasa Cerdas. Aku memiliki dua orangtua sebut saja mereka ayah dan bunda, dan keempat saudara dan saudari kandungku. Aku memiliki banyak sahabat di antaranya Ifan, Fernando, Keenan, Defa, dan lain-lain. Yaa… memang aku lebih menyukai berteman dengan laki-laki dibandingkan dengan perempuan. Namun aku dan fernando tidak pernah akur.

Hari ini tepat tanggal 01 Januari 2017. Perayaan malam tahun baru selesai. Aku kembali ke kamarku untuk beristirahat. Kubaringkan badanku, sambil mencoba memejamkan mataku. Hingga akhirnya aku pun terlelap.

Kringgg… kringgg…
“Handphone siapa sih?” gumamku.

Suara itu masih saja kudengar.
“Matiin woi hapenya”
Pada akhirnya aku pun bangun untuk mengecek dari mana suara yang mengacaukan tidurku itu berasal. Setelah aku mengetahuinya, aku tertawa geli. Dan ternyata itu adalah suara alarm handphoneku sendiri.

Aku menuruni tangga rumahku. Aku melihat ayah, bunda, kakak, dan adikku sedang asyik berbincang di ruang makan. Rupanya sedari tadi bundaku berusaha membangunkanku, namun aku tak kunjung bangun. Maklum, aku hobinya ngebo.
“Good morning sayang” ucap bunda. “Morning bunda, udah pada sarapan nih?” tanyaku tanpa dosa. “Ya belum lah, kita semua nungguin elo nih” gumam kakak pertamaku. “Hehe iya maaf, makan yuk” ajakku.

Di sekolah.
“Entar lo pulang bareng fernando aja ya?”
“Loh kok gitu sih kak? Gue gak mau, titik.” Kataku
“Kakak ada Class Meeting jadi gak bisa anter lo pulang, udah deh pulang sama fernando aja” gumamnya, seraya meninggalkanku.

Di kelas.
Hari ini kelasku jam kosong, karena Bu Ditha sedang ada keperluan mendadak. Kami hanya ditinggalkan tugas yang lumayan banyak. Dan harus dikumpulkan pada saat jam istirahat. Aku sibuk dengan buku dan pulpen hello kitty ku. Fernando mendatangi aku.
“Banyak banget loh vir, lo yakin bakal selesai?”
“lo ngeremehin gue ya?, tugas ini bakal selesai sebelum bel istirahat”
“Gue gak yakin lo bakal nyelesaikan itu semua” ejeknya.
“Enak aja, sana pergi jauh-jauh” usirku hehe.

Bel istirahat pun berbunyi. Semua siswa mengumpulkan tugas termasuk aku, terkecuali Fernando. Ternyata, dia belum selesai mengerjakan tugas itu.
“Belum selesai nih?” tanyaku.
“Menurut lo gimana?”
“Kasian banget sih, ya udah gue duluan ke kantin ya”
“Apaan? Gak! Lo harus nungguin gue sampe gue selesai”
“Buruaaan!!” bentakku.

Ifan, Theo, dan patrick datang ke kelasku dan Fernando.
“Gila ya lu kita nungguin di kantin tapi lo gak muncul-muncul” gumam Defa.
“Iya nih si Fernan lama banget ngerjain tugasnya” jawabku.
“Ya udah sih lo tinggal nyontek aja” sambung ifan
“Mana ada orang yang mau nyontekin dia si pemalas!” ejekku
“Ha.. Ha.. Ha..” semua tertawa.

Fernando menungguku di depan taman kelasku. Rupanya ia sudah sedari tadi menungguku, namun aku tak menyadari itu.
“Eh loooo viraa!!” teriaknya lantang padaku seakan-akan aku ini adalah seorang maling.
“huuh kenapa sih dia teriak-teriak” gumamku dalam hati.
Aku menghampirinya.
“Gak usah pake teriak bisa gak, gue denger juga kok”
“jarak semeter aja lo gak denger gimana sama yang tadi” timpanya.

Di perjalanan Fernando masih saja mengomel. Dan aku tak peduli dengan itu. Yang kupedulikan sekarang adalah terus berdoa pada Tuhan agar aku sampai tujuan dengan selamat. Karena Fernando kalau bawa motor seperti motor yang tidak memiliki rem.

Sampai akhirnya tiba di depan rumahku.
“Gue numpang buang air kecil dong” pintanya.
“Lo pipis aja noh di bawah pohon pisang”
“Kasian ah masa pisang ngencingin pisang” candanya.
“Hah? What do you mean?” tanyaku aneh.
Fernando pun masuk dan berlari menuju kamar mandi rumahku.

“Udah pipisnya? Udah di siram yang bener gak? Entar bau lagi kamar mandi gue” gumamku dengan melipat kedua tanganku di dada.
“bacotan lu vir, bahkan gue sempet ngepel kamar mandi lo yang jorok itu” ocehnya seraya pergi keluar rumah tanpa mengucapkan terima kasih.
“ughh gak tau diri banget sih jadi orang!”

Aku menuju kamar tidurku. Setelah aku masuk dan mengganti seragam sekolah dengan kostum basket. Ya aku memang anak basket di sekolahku. Aku bersiap-siap untuk kembali menuju sekolahku. Aku berencana untuk naik ojek, karena tidak ada satu orang pun yang bisa mengantarkanku ke sekolah.

Aku sudah berjalan separuh jalan menuju sekolahku. Namun, belum juga kutemui tukang ojek yang mangkal. Aku keletihan, hingga akhirnya aku pun beristirahat di depan sebuah rumah mewah. Tidak lama aku duduk di depan rumah mewah itu si empu rumah keluar dengan mobilnya. Aku tak mengenalnya, dia menatapku sinis.

“elo siapa?” tanyanya sinis
“gue vira” jawabku singkat padat dan jelas.
“mau apa lo di depan rumah gue?”
“mau istirahat, gue cape nyari pangkalan ojek gak nemu-nemu”
“emang lo mau ke mana?” kali ini wajahnya sudah tak sinis lagi.
“ke sekolah, gue mau latihan basket” jawabku melas.
“lo anak SMA Tanujimasa Cerdas kan ya?” tanyanya tanpa ragu.
“yaa…” jawabku ragu.
“ya udah lo ikut gue aja, gue anak baru di sana. Kebetulan gue juga baru masuk di ekskul basket. Masuk gih biar barengan”
“gak ngerepotin lo kan?”
“udahlah nggak kok….”
Setelah berbincang panjang lebar, aku pun masuk ke dalam mobilnya. Bahkan aku belum tau namanya siapa.

Di perjalanan dia terus saja bercerita, hingga akhirnya aku tau namanya siapa, dia adalah Sabilal. Dia lelaki yang tampan menurutku, hanya saja jika bertemu dengan orang baru wajahnya membuat orang gemas dan kesal melihatnya.

Sesampainya di sekolah. Aku langsung berlari menuju lapangan basket. Hingga aku lupa mengatakan terima kasih pada Sabilal.
“Sorry gue telat, nyari ojek kagak nemu”
“Terus elo ke sini sama siapa?” tanya ifan
“Sama dia” aku menunjuk ke arah sabil.

Selama latihan basket ada yang aneh dengan Fernando. Tapi aku tak pernah mempedulikan itu. Hari ini aku punya tugas untuk mengajari Sabilal anak baru itu. Dengan muka yang biasa aja aku mengajaknya untuk menuju lapangan basket di belakang sekolahku. Di sana tempatnya cukup sepi jadi cocok untuk mengajari Sabilal yang baru pertama kali ikut ekskul basket.

“Lo udah tau basic main basket?” tanyaku.
“Belom, lo lajarin gue gih. Biar gue cepet bisanya” pintanya.

Hampir 2 jam aku mengajarinya, dia ternyata anak yang cukup pandai dalam waktu 2 jam dia sudah bisa bermain basket layaknya atlet.
“Keren banget lo bil, baru satu hari pertemuan lo udah bisa sekeren itu” Pujiku.
“Ahelah biasa aja, gue emang suka basket dari dulu karna gue terlalu sibuk sama band gue jadi gue gak pernah sempet deh untuk latihan basket”
“oh gitu.. ya udah kita ngumpul sama yang lain yuk”

Aku dan Sabilal kembali ke lapangan depan sekolah. Aku kembali melihat wajah Fernando yang tampak sinis melihatku. Tapi, bukannya dia memang seperti itu?. Aku mencoba menghampiri Fernando.
“Lo kenapa?”
“gak.. gak papa” jawabnya ketus.
“kok lo gitu sih, aneh.” tanyaku.
“Lo bisa kenal dari mana sama Sabilal?”
“Tadi gue ketemu sama dia di depan rumahya pas gue lagi istirahat”
“oh..”
“Kenapa? Lo cemburu yaaa?” aku mencoba mengisenginya.
“Kalo iya kenapa?” jawabnya ketus sambil menatapku tajam.
Aku kaget mendengar jawaban dari Fernando. Aku juga bingung, apakah ini benar atau dia hanya bercanda karena selama ini aku memang tidak memiliki hubungan baik dengannya.
“Apaan sih lo Fer, gak lucu” jawabku seraya meninggalkannya.
“Gue bisa bedain yang mana harus dibecandain dan mana yang gak harus dibecandain” teriaknya.
Aku terharu mendengarnya, aku mencoba berjalan namun kakiku terasa kaku. Belum lagi ditambah semua orang melihat kearahku. Fernando menghampiriku.

“Lo pasti gak bakal nyangka kalo selama ini gue punya rasa sama lo, dia balik kejudesan gue selama ini pasti lo ngira gue benci sama lo. Lo salah, lo selalu nilai gue dari sisi negatif. Gue sayang sama lo mulai dari kelas 1 SMA!. Dan lo gak pernah sadar akan itu.” Jelasnya.
“Tapi kenapa baru sekarang lo ngomongnya?. Kita gak pernah punya hubungan yang baik, dan sekarang tiba-tiba lo bilang kalo lo sayang sama gue? Hah! Lo egois!” ucapku dengan menahan tangis.
“Lo sayang sama gue?” Tanyanya lagi, dan membuatku semakin kaku.
“I.. i..yaaa gue sayang sama lo”
“Lo jawab pake hati lo kan?”
“Nggak! gue jawab pake mulut gue lah” Aku mencoba untuk melucu namun gagal.
“Lo mau gak jadi pacar gue?” Pertanyaan yang sangat seram menurutku.
“Iya gue mau” jawabku tanpa berpikir dua kali untuk menjawabnya.
Aku melihat tawa bahagia dari Fernando saat itu. Semenjak itu aku mulai memliki hubungan baik dengannya. Dia selalu membuatku bahagia.

Selesai

Cerpen Karangan: Indira Naidimia

Cerpen Sahabat Jadi Cinta merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Hantu Palsu Di Sekolah

Oleh:
Aku berjalan terburu-buru dari parkiran menuju kelas. Aku datang sangat pagi, motorku pun terparkir pertama di tempat parkir Yang masih luas. Datang jam 6 kurang 15 menit, sehingga belum

Adira

Oleh:
“Untuk apa kamu masih berteman dengan orang gila seperti dia? Apa harus aku berkata padanya agar dia menjauhimu?” Plakk!!! Spontan saja tanganku mendarat di pipinya. Seperti tersambar, terguncang hebat.

Cinta Bersemi di Pondok Pesantren

Oleh:
Hari ini adalah hari yang menyulitkan bagiku. Ayahku memasukanku ke dalam sebuah pondok pesantren di luar pulau. tadinya aku tidak ingin tetapi ayahku tetap memaksa. “nak kamu harus mondok

Pahitnya Surabaya

Oleh:
Perkenalkan saya adalah salah satu mahasiswa baru dari Lombok yang sebelumnya belum pernah tinggal di kota Surabaya yang terkenal dengan kota metropolitan setelah Jakarta. Setelah saya menamatkan study saya

Cinta Pertama Anak Polos

Oleh:
Nama saya Imam Safarudin, ini kisah nyata perjalanan cinta saya yang lucu. Waktu pertama masuk smp gue tidak mengenal apa itu cinta, apa itu pacar, yang gue tahu hanyalah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *