Sahabat Kecil Ku Jadi Cinta Ku

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 7 January 2016

Sinar di ufuk timur mulai menampakkan wajahnya. Aku pun terbangun dari tempat tidur dan bergegas menuju kamar mandi untuk wudu. Setelah itu aku langsung menunaikan salat subuh. Kemudian aku mandi dan mengenakan pakaian sekolah. Hari ini hari selasa, hari dimana aku akan masuk ke sekolah baru. Oh ya, namaku Jessy Anastasya. Biasa dipanggil Jessy. Saat aku sedang menyisir rambutku, tiba-tiba datang mamaku. Dia menyuruhku langsung ke ruang makan untuk sarapan pagi. Saat aku tiba di ruang makan papa dan mamaku sudah menungguku untuk sarapan bersama.

“Pagi Ma, pagi Pa!” sapaku.
“Pagi.” ucap mama dan papaku hampir bersamaan.
“Ayo makan, tapi jangan lupa baca doa dulu.” ucap mamaku lagi.
“Iya Ma,” balasku.

Setelah membaca doa aku mulai melahap sarapanku. Setelah itu, aku langsung diantar oleh papa pergi ke sekolah baruku. Aku sedikit gugup memasuki sekolah baru. Namun, kegugupanku itu sedikit hilang karena papa bilang di sekolahku yang baru ada seorang sahabat lamaku bernama Paras. Lengkapnya Paras Danansyah. Dialah yang akan manjadi teman pertamaku di sekolah. Dia sahabatku dari kecil hingga kami lulus SD.

Saat aku SMP aku melanjutkan sekolahku ke Bandung, karena saat itu papaku dipindahkan kerja ke Bandung. Namun saat ini papaku dipindahtugaskan ke Jakarta lagi. Hingga akhirnya aku harus melanjutkan SMA-ku di Jakarta. Setelah itu, kami tidak pernah bertemu lagi. Entah seperti apa dia sekarang, pikirku. Tak terasa aku pun sudah sampai di sekolah baruku. Aku dan papaku ke luar dari mobil. Kemudian aku mencium tangan papaku. Tiba-tiba seorang pria datang menyapa papaku dan langsung mencium tangan papaku seperti yang baru ku lakukan. Pria itu tinggi, putih, dan menurutku dia tampan. Papaku pun membalas sapaannya.

“Hai, Ras. Apa kabar?” tanya papaku.
“Baik Om. Tante bagaimana kabarnya?” tanya-nya balik.
“Baik.” jawab papaku.
“Oh ya Om, apa ini Jessy?” tanya-nya sambil melihat ke arahku.
“Iya. Ini Jessy sahabatmu dulu. Om sudah terlambat kerja nih, Om titip Jessy ya sama kamu.” ucap papaku.

Paras hanya mengangguk pelan. Setelah papaku pergi, ia mengajakku masuk ke dalam sekolah. Seketika seluruh sekolah menatapku dengan tajam, apalagi kaum hawa. Paras menggenggam tanganku dengan erat. Aku bener-benar bingung mengapa semua orang menatapku seperti itu. Namun, aku tidak peduli dengan apa yang mereka lakukan. Saat kami tiba di ruang kepala sekolah, aku pun masuk ke dalam. Saat aku ke luar, ternyata Paras masih menungguku. Ku pikir dia sudah pergi. Kepsek yang akan mengantarku ke kelas terkejut melihat Paras yang tiba-tiba di depan pintu.

“Loh Paras, kenapa kamu di sini. Bukannya bel tanda masuk sudah berbunyi dari tadi?” tanya kepsek.
“Saya tahu kalau belnya sudah berbunyi dari tadi. Tapi Bu, saya sedang menunggu Jessy. Saya harus menjaganya, karena saya sudah bejanji pada Papanya.” jawab Paras dengan tegas.
“Tapi tidak seperti ini caranya. Sebaiknya kamu kembali ke kelasmu.” ucap kepsek, yang bahkan belum ku ketahui namanya tersebut.
“Tapi Bu, Jessy masuk kelas mana?” tanya Paras.
“Kelas IPA 1. Kelas yang berbeda darimu.” ucap kepsek yang mulai kesal dengan Paras.

Aku dan kepsek berlalu meninggalkan Paras sendirian. Akhirnya Paras kembali ke kelasnya. Saat aku masuk ke dalam kelas, suasana yang tadinya senyap berubah menjadi sedikit ribut.
“Anak-anak tolong diam. Hari ini kalian akan mendapatkan teman baru. Silakan perkenalkan namamu Nak.” ucap kepsek sambil melihat ke arahku. Akhirnya ku beranikan diri untuk memperkenalkan diri.

“Perkenalkan namaku Jessy Anastasya. Kalian bisa memanggilku Jessy. Aku pindahan dari Bandung. Semoga kalian bisa menerimaku di sini.” ucapku sedikit gugup.
“Baik Jessy, kamu bisa duduk di belakang. Di samping Lara.” ucap seorang guru yang mengajar di kelas baruku sambil menunjuk ke arah bangku yang akan ku duduki.
“Baik Bu.” ucapku.

Aku berjalan menuju bangku tersebut. Saat aku tiba di bangku tersebut, dia menyapaku. Sepertinya dia anak yang baik karena kata-katanya sopan dan bersahabat padaku.
“Hai, gue Lara. Ayo silahkan duduk.” ucapnya sambil tersenyum.
“Terima kasih.” ucapku dan membalas senyumannya.

Aku pun bertanya pada Lara siapa nama kepsek dan guru yang mengajar di kelas kami. Ternyata nama kepsek itu adalah ibu Tina. Sedangkan nama guru tersebut adalah ibu Mala. Pelajaran pun dimulai kembali. Saat bel istirahat berbunyi. Ibu Mala baru saja ke luar, tiba-tiba saja Paras sudah ada di sampingku. Aku sedikit terkejut. Tapi aku tak berani mengatakan apa pun padanya karena aku merasa sedikit canggung bila dekat-dekat dengannya.

“Ayo temenin gue ke kantin.” ucapnya. Namun dari cara bicaranya, ia sedikit bersikap dingin padaku. Tidak seperti pagi tadi. “Tapi gue sama Lara mau ke perpustakaan.” ucapku lirih.
“Gak. Gue gak bakal izinin. Pokoknya lo tetap harus temenin gue.” ucapnya memaksa.
“Ih, lo kok gitu.” ucapku yang mulai kesal.

Tiba-tiba saja Paras langsung menarik tanganku. Aku tak bisa berbuat apa-apa karena dia menggenggam tanganku dengan sangat kuat. Dia benar-benar membawaku ke kantin. Seperti pagi tadi, lagi-lagi semua orang menatap kami. Aku benar-benar bingung dibuat mereka. Tiba di kantin sekolah aku langsung marah dengannya, namun sedikit ku tahan suaraku agar orang lain tidak ada yang merasa terganggu. “lo tuh kenapa sih, gue mau pergi sama Lara juga gak boleh.” ucapku dengan sangat kesal.

“Denger ya Jessy, pagi tadi gue udah temenin lo ke ruang kepsek. Dan sekarang gue minta balesannya. Gue mau pergi ke kantin sama lo. Emangnya gue salah kalau gue minta ditemenin sama lo.” ucapnya sambil menatapku.
“Oke. Tapi, kali ini aja gue temenin lo.” ucapku yang membuat wajahnya menjadi cemberut.
“lo mau pesen apa? Gue yang traktir.” tanyanya.
“Gak usah, gue gak laper. Lagian, gue di sini kan cuma buat temenin lo doang.” ucapku.
“Ya udah, kalau gak mau juga gak apa-apa.” ucapnya sambil pergi untuk memesan makanan.

Saat Paras pergi, ada tiga orang cewek yang mendekatiku. “Eh, lo anak baru. Jangan sombong deh lo. Baru ke kantin sama Paras aja udah sombong. Eh, denger ya Paras itu cowok terkeren di sekolah. Dia tuh kapten basket di sekolah ini. Jadi, jangan mimpi deh kalau lo bisa jadi pacarnya Paras.” ucap seorang cewek berambut panjang dan pirang.

“Ih, lo tuh apa-apaan sih, gue sama Paras itu udah sahabatan dari kecil. Dan lo jangan bentak-bentak gue karena gue gak suka.” ucapku dengan sangat marah, sambil menunjuk cewek tersebut. Sepertinya karena kesal, cewek tersebut mendorongku sampai aku terjatuh. Paras yang melihat hal itu langsung membentak cewek tersebut dengan kata-kata yang membuatku terkejut. “Eh Rita, lo tuh apa-apaan sih. Kenapa lo ganggu cewek gue. Emangnya lo tuh siapa? Inget ya, sekali lagi lo lakuin hal ini sama cewek gue, lo bakalan tahu akibatnya.” bentak Paras.

Paras pun membantuku. Tapi lututku terluka sehingga aku kesulitan untuk berjalan. Akhirnya, Paras menggendongku dan membawaku ke UKS. Setibanya di sana, dialah yang mengobati dan membersihkan lukaku. Aku merintih kesakitan saat dia mengoleskan obat merah ke lututku. Namun Paras meniupnya, sehingga rasa sakitnya sedikit berkurang. Setelah selesai mengobatiku, aku mengatakan sesuatu pada Paras.

“Jadi, itu sebabnya kenapa saat gue deket-deket sama lo semua orang memperhatikan kita. Ternyata, lo itu idola semua cewek di sekolah ini. Kalau gitu, mendingan gue ngejauhin lo atau gue pindah sekolah aja daripada gue harus dibully tiap hari.” ucapku yang membuatnya terkejut.
“lo gila apa. Gue udah nunggu lo selama tiga tahun. Dan lo sekarang mau ngejauhin gue. Lo mikir gak perasaan gue. Gue tuh sayang sama lo. Gue udah sayang sama lo dari kita masih kecil.” ucapnya yang membuatku jadi terkejut juga.

“Kalau lo sayang sama gue, tapi kenapa lo gak pernah coba hubungi gue selama gue di Bandung. Saat gue mau pergi sama Lara aja lo gak izinin. Llo malah maksa gue pergi ke kantin sama lo. Cinta itu gak maksa. Cinta itu harusnya tulus dari hati lo.” ucapku yang mulai kesal.

“Karena gue bingung harus ngungkapin rasa sayang gue sama lo kayak gimana. Gue gak hubungi lo bukan berarti gue gak tahu apa aja yang lo lakuin di sana. Gue selalu nanyain kabar lo sama bokap lo. Saat lo sakit, gue cuma bisa nangis dan berdoa supaya lo cepet sembuh karena gue gak bisa berbuat apa-apa lagi selain itu. Lo tahu, saat bokap lo bilang lo bakalan sekolah di sini gue seneng banget. Dan satu lagi, gue maksa lo untuk pergi sama gue karena gue pengen banget deket-deket sama lo. Gue gak bisa kalau lo jauh dari gue Jess,” ucapnya pelan yang membuatku sadar kalau Paras benar-benar menyayangiku.

“Maafin gue ras, gue gak peka sama perasaan lo. Gue emang gak berguna.” ucapku sambil menangis.
“Gak, lo gak salah. Gue yang salah. Seharusnya gue ngungkapin perasaan gue ini sejak lama. Tapi, guenya aja takut kalau lo gak mau terima gue.” ucapnya sambil mengusap air mataku. “Jessy Anastasya, lo mau gak jadi pacar gue?” ucapnya lagi. “Gue mau kok jadi pacar lo.” ucapku sedikit malu-malu.

Tiba-tiba saja Paras mencium keningku dan memelukku. Sejak saat itu kami berdua selalu bersama. Namun, tidak bisa dipungkiri bahwa aku selalu dibully oleh cewek-cewek di sekolah. Namun, Paras selalu melindungiku. Oleh sebab itu, aku selalu merasa nyaman bila di dekatnya. Dan aku yakin bahwa dia tidak akan pernah meninggalkanku.

The End

Cerpen Karangan: Sara Humaira Faradibha
Facebook: Sara Humaira (Fara) Atau Sara Humaira (Sara)

Cerpen Sahabat Kecil Ku Jadi Cinta Ku merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kamu

Oleh:
Kamu orang yang belakangan ini selalu hadir dan menyelinap di antara kesibukanku sehari hari, kamu orang asing yang sekarang tak kurasa keasingannya lagi. Kamu yang terlihat begitu tegar dan

Radar Cinta Prosesus dan Brontosrious (Part 1)

Oleh:
Setiap malam aku selalu berpikir untuk menemukan radar cinta dari prosesus pangeran ganteng dari negri kayangan. agar suatu saat nanti aku bisa mendapakan cinta dari prosesus.. aku menyebutnya prosesus

Dania

Oleh:
Di sana, di balik kaca yang berembun aku masih melihat bayangan wajahmu, Dania. Kereta Sriwedari yang kutumpangi kini merapat di Stasiun Purwosari. Dua belas menit memisahkan kita, masihkah kau

Cermin

Oleh:
Memang benar, perempuan itu adalah aku. Seorang gadis remaja yang mengalami pahit penderitaan di sekolah. Tak ada seorang pun yang mau menjadikan aku sebagai teman berkumpul. Mulai dari fisik,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Sahabat Kecil Ku Jadi Cinta Ku”

  1. srirosalina1d says:

    Aaa critanya buat gue baper.. kerenn

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *