Sahabatku Cintaku (Katakan Cinta)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 11 June 2016

“Sudah menunggu lama tuan bawel” suara itu menghentikan lamunanku memandangi langit sore penuh keindahan, Pandanganku yang begitu lepas tanpa hambatan apapun membuat jiwaku begitu tenang, dan dia yang aku tunggu sejak tadi telah hadir dihadapanku dengan seorang cewek cantik yang aku minta maya mengenalkannya padaku, jelas dia lebih cantik dari maya.
“Dika kenalin ini putri teman kuliahku, dan putri kenalin ini dika sahabat terbaikku” kata maya mengenalkan, tak ingin menyia-nyiakan waktu, langsung aku suguhkan tangan dinginku padanya, aku tak biasa berhadapan dengan cewek cantik kecuali maya, aku memang sangat pemalu dan tidak terlalu berani dengan wanita.
“Sudah jangan terlalu lama pegangan tangannya” cegah maya yang terlihat jeales. Spontan ku lepas tanganku dari nya, putri hanya tersenyum malu. Aku tak berbicara sedikitpun dengan putri.
“Hah” desah maya, gerak-geriknya seakan ingin meninggalkan kami berdua, desah itu terdengar jelas di telingaku, dia selalu mendesah jika merasa membosankan, dan PDKT kami terlihat membosankan dengan berdiam diri sejak tadi.
“Aku pergi dulu ya” lanjut maya.
“Kau mau kemana mei?” tanyaku.
“E… aku ada perlu sebentar, kalian ngobrol saja dulu, aku tinggal dulu ya putri” kata maya tersenyum dan bertingkah aneh, langkahnya begitu berat di mataku.
“Kalian sudah berteman lama?” Tanya putri padaku. Menghentikan pandanganku pada maya yang semangkin jauh dariku.
“Iya sangat lama, dari kecil sampai sekarang kami selalu bersama, bahkan waktu SMA kami tidak bisa memiliki pacar karena terlalu dekat, kalau pun ada itu tidak berlangsung lama, hah… wanita mana sih yang tahan melihat kedekatan kami seperti sepasang kekasih, kecemburuan selalu terlihat di mata mereka” ucapku menjelaskan, hal itu mungkin tak disukai putri, aku malah membicarakan maya di hadapannya.
“Ya… maya juga saat mengenalkanmu padaku, juga terlalu memujimu, dia bilang kamu sangat baik” kata putri memuji.
“Oh ya…! Maya bilang begitu padamu,aku tidak terlalu seperti yang dikatakan maya, maya tidak pernah berubah dari dulu, selalu melebih-lebihkan” kataku mengelak.
“Oh ya.. Kamu suka nonton? Bagaimana kalau nanti malam kita nonton, apa kamu sibuk nanti malam?” Ajakku.
“Tidak, aku tidak sibuk” jawabnya santai.
“Kamu suka film apa?” Tanyaku padanya.
“Biasalah wanita, tentunya film yang romantis dan penuh drama” jawabnya dengan senyuman kecil di wajahnya.
“Membosankan” ucapku berbisik.
“Kenapa?” Tanyanya.
“Hmm tidak apa-apa. jadi nanti malam aku jemput jam 7, kita nonton film romantis itu.”
“Emang kamu tau rumahku?” Tanyanya mengingatkanku.
“Oh iya.. Aku lupa, bagaimana kalau nomor ponsel kamu, nanti aku telepon untuk menanyakan alamatmu.” Pintaku.
“Bagaimana kalau nomormu saja, nanti aku yang akan menelponmu.” Pintanya kembali.
“Baiklah, tidak masalah. 085372437264” putri langsung mencatat nomor teleponku.
“sepertinya aku harus pergi dulu, kamu tidak apa-apa kalau aku tinggal sendiri.” Lanjutku.
“Tidak apa-apa kok” jawabnya kecewa, tak seharusnya aku seperti itu.

Aku melangkah meninggalkannya, aku menghawatirkan maya, kemana dia pergi?. Ternyata aku menemukan maya duduk menyendiri di pinggir danau. Sedikit pun dia tidak merasakan langkahku menghampirinya.
“Sedang apa nyonya cerewet?” Aku duduk di sampingnya. Dia hanya terkejut melihatku, matanya seperti mencari-cari, menoleh ke kiri dan kanan.
“Mana putri? Kenapa kau sendirian?” Tanyanya kebingungan.
“Putri katanya ada urusan penting, makanya aku mencarimu. kau sendiri kenapa pergi dan menyendiri seperti ini? Jealous ya?” Tanya ku memanasinya.
“Tidak! Aku tidak jealous, buat apa aku jealous.” Jawab keras maya, kata-katanya begitu tegas, tapi raut wajahnya tampak penuh kebohongan, aku kenal betul bagaimana maya, dia tidak bisa membohongiku. Bibir nya mengatakan tidak jeales tapi matanya mengungkap semua persaannya.
“Oh yeaaa?” Kata ku mengejek.
“Hmm… nanti malam aku mau jalan sama putri” pancingku.
“Ya sudah, jalan saja sana” ucapnya. kerut wajahnya tampak sedang jengkel, Maya langsung berdiri dan melangkah pergi meninggalkanku.
“Mau kemana?” Tanyaku.
“Mau pulang lah, ini sudah sore, masih banyak yang harus aku lakukan dari pada mendengarkanmu ocehanmu yang gak jelas itu.” jawabnya kesal. Dan melanjutkan langkahnya dengan wajah yang kusut.
“Aku saja tidak pernah di ajaknya jalan, dia malah pamer akan membawa putri jalan-jalan, kapan ada pangeran yang akan datang menjemputku dan membawaku ke tempat yang romantis” ucap maya dalam hati.

Aku memenuhi janji ku pada putri, acara nontonku dengannya berjalan membosankan, dia sangat dingin, tidak seceria maya, namun aku tetap akan meneruskan permainan, aku tidak ingin membuat putri kecewa, kedekatanku dengan putri membuatku harus memulai semua dengannya, aku semangkin dekat dengannya, dan bukan hanya nonton aku mengajaknya dinner ke mall dan jalan-jalan ke tempat yang romantis namun aku tidak melupakan maya yang terus menjauhiku, hingga aku menyatakan cinta pada putri dan putri menerima cintaku yang sesungguhnya tidak pernah aku miliki, tapi aku yakin seiring berjalannya waktu aku bisa mencintainya dengan perlahan. Aku hanya tak ingin merusak persahabatan yang telah aku bangun dengan maya sejak kecil hanya karena aku mencintainya, dan aku yakin maya juga begitu, dia hanya menganggapku sebagai seorang sahabat.

Maya mengetahui hubunganku dengan putri, kebahagiaan putri selalu ia katakan pada maya yang menanggapinya dengan biasa saja, hanya senyuman yang berat yang iya beri sebagai ungkapan ucapan selamat kepada putri, maya tidak memberi komentar sama sekali tentang hubungannya denganku. Disitu tampak jelas bahwa maya memiliki perasaan yang sama dengan putri.

Aku tak ingin maya merasa aku menjauhinya, dan aku tetap bersikap seperti seorang sahabat terbaiknya dan sahabatnya sejak kecil, namun aku merasakan senyumannya padaku tidak seindah dulu, perubahannya terlihat jelas dengan cara dia memandangku.
“Selamat ya dik, aku senang kamu mendapatkan wanita yang tepat, putri adalah wanita yang baik, tolong jangan kau sakiti hatinya, dia sahabatku dik” ucap maya, dia ternyum lalu menangis, aku tak mengerti dengan air mata itu, apakah air mata bahagia atau penyesalan.
Ku usap air matanya perlahan “mei… Kenapa kamu menangis?” Tanyaku padanya.
“Tidak.. Aku tidak menangis, aku hanya bahagia melihat sahabatku bahagia.” Jawab maya mengelak, dia mengusap air matanya seketika. Mencoba bersembunyi dari kenyataan.
“Kamu memang sahabat terbaikku mei.” Kataku sembari memeluknya.

Hari demi hari kulalui dengan putri, namu aku merasakan hal yang berbeda, semenjak aku dengan putri, aku malah benar-benar kehilangan sosok maya di kehidupanku, aku bingung mengapa jadi seperti ini, bahkan hubunganku dengan putri tak membuat hatiku berpihak padanya, aku bersamanya tapi hatiku tak bisa menerimanya. Harapan demi harapan terus aku beri padanya, sampai aku merasa jenuh dengan semua yang aku lakukan, aku tak menemukan kenyamanan sedikitpun bersama putri. Karenanya Maya semangkin jauh dariku, seakan maya tak ingin mengganggu hubunganku dengan putri, mengingat kenangan buruk tentang masa lalu saat semuanya kacau karena kedekatan kami.

Kini maya lebih sering menyendiri, Putri melihat maya sedang duduk di tepi danau, berat hati putri ingin menemuinya, sebenarnya putri mengetahui bahwa maya sangat mencintaiku, namun maya selalu menyembunyikan itu semua.
“maya adalah sahabatku, aku harus berbuat sesuatu untuk membawa kembali senyum di wajahnya.” Gumam putri dalam hati.

Putri semangkin sadar dengan sikapku yang juga dingin terhadapnya, aku bahkan kadang menganggapnya tak ada meski dia di sampingku. perasaanku bimbang aku tak mau mengambil keputusan yang salah lagi, aku sudah bermain dan aku harus mengakhirinya, namun aku harus bagaimana? Apakah aku harus mengatakan pada putri bahwa aku tidak mencintainya? Dan aku mencintai maya? Tentu putri akan sangat kecewa mengetahui hal itu, lalu apakah aku harus terus memakai topeng dan membohonginya dengan terus berpura-pura mencintainya? tentu putri akan lebih sangat-sangat kecewa? jika aku terus berbohong pasti akan ada kebohongan lagi, tapi sampai kapan aku akan bertahan. kebodohanku dan ketidakberanianku menyatakan cinta pada maya membawaku ke jalan yang salah, bahkan aku tidak tau bagaimana perasaan maya terhadapku. Namun aku harus tetap mengambil keputusan.

Malam ini begitu berbeda, tak biasanya bintang tak menunjukkan keindahannya, dan bintang yang berada di sampingku juga terlihat berbeda, tak ada senyum di wajahnya sejak tadi. Ini saatnya aku mengatakan yang sejujurnya pada putri, aku sudah mempersiapkan semuanya dengan matang, semoga putri dapat memahaminya dan menerima semua kenyataan.
“Putri..? Aku mau ngomong sesuatu padamu.” Kataku yang duduk penuh dengan kegelisahan, Kata-kataku sangat meragu. Aku harus bersikap tenang, putri juga akan menerima semuanya jika aku menjelaskannya dengan baik.
“Bicara saja dik?”
“sebelumnya aku minta maaf, Aku mau bilang….”
“Kamu mau bilang kalau kau mencintai maya kan?” Potong putri, aku terdiam heran, ternyata nalurinya sudah bekerja sejak lama.
“Maafin aku put? Aku udah coba untuk merubah semua perasaan di hatiku, tapi..”
“Sudahlah dik, aku mengerti kok dan Aku paham dik… ragamu memang bersamaku, tapi tidak dengan hati dan pikiranmu, semua itu sangat jauh dariku, bahkan aku tak bisa merasakan cintamuuntuku, aku memang sangat mencintaimu dik, tapi keegoanku akan merusak persahabatanku dengan maya, maya itu sahabatku dik, dia sudah cukup banyak membantuku, ini saatnya aku membalas kebaikannya, dan seharusnya kamu tidak menyia-nyiakannya sejak dulu dik, semua tergantung padamu, jika kamu terus menunda kamu akan semangkin kehilangannya.” Matanya mulai berkaca menjelaskan hal itu, putri seakan begitu kecewa, tapi batinnya akan lebih tersiksa jika ia tetap menginginkan aku, karena dia akan melukai maya sahabatnya, baginya sahabat itu lebih penting dari pada pacar.
“Hah..” Desahnya, desah nafas itu seperti menahan luka yang amat sangat dalam. “Dik, Kamu harus menemuinya dan yakinkan hatimu untuk mengungkapkan isi hatimu padanya, aku juga yakin dia memiliki perasaan yang sama.” Kata putri sembari memegang tanganku.
“Makasih put… sudah mencintaiku dengan tulus, kamu wanita yang baik, kamu akan mendapatkan lelaki yang baik yang tulus mencintaimu dan tidak seperti aku.” Ucapku meyakinkannya. Kuletakkan tanganku di atas tangan yang sedari tadi memegang tanganku. perlahan ku lepas tangannya kupeluk tubuhnya mungkin untuk terakhir sebelum aku benar-benar pergi meninggalkannya dan menemui cinta sejatiku. Langkahku mulai meninggalkannya, putri hanya tersenyum berlinang air mata melepas kepergianku.

Maya terlihat duduk menyendiri di depan rumahnya, terlihat mendung di wajahnya, di pandangnya langit yang indah meski tanpa bintang, baginya bintang itu hanyalah figuran, figuran itu jarang terlihat, dan langitlah pemeran utamnya matahari sebagai pemeran kedua dan bulan sebagai peran pembantu, sejak dulu maya tidak pernah mau menjadi bintang, dia ingin menjadi langitnya yang selalu terlihat meski di selimuti tebalnya awan.

Aku seakan ragu untuk menemuinya, “Haaaah” ku tarik napas sepanjang-panjangnya, dan ku yakinkan diri untuk melangkahkan kaki menuju cinta sejati.
“Hai nyonya cerewet?” Sapaku. Aku duduk di sampingnya, tak sedikitpun dia menoleh kepadaku.
“Ada apa tuan bawel?” Sedikit dia melirikku dengan senyuman kecil di wajahnya. Dia tak ingin menunjukkan kekecewaannya padaku.
“Aku… aku Menyayangimu mei” ucapku serius. Ku pegang erat tangannya, dia hanya tersenyum. Senyum itu penuh kekecewaan.
“Aku juga menyayangimu, kamu kenapa sih, pertanyaanmu aneh,” katanya yang menyulitkanku, seakan dia ingin aku memperjelas maksudku.
“Aku serius!”
Dia tertawa kecil “Jadi kau kira aku bercanda, aku juga menyayangimu dika”
“Aku mencintaimu maya?” Ungkapku, Ku lepas genggamanku, ku pegang kedua bahunya dan ku hadapkan dia tepat di hadapanku, mataku terus memandang matanya yang terus menghindar.
“Kita bersahabat sudah lama dik, sejak kecil. Dan sejak kita SMA, aku sudah memutuskan bahwa di antara kita tidak akan perna terjadi apa-apa, aku hanya akan menganggapmu sebagai sahabat, tidak lebih dik. Dan aku merasa kamu juga begitukan?.” Tanya maya setelah menjelaskan, aku terdiam mendengar penjelasannya, aku tak menyangka dia berkata seperti itu. “kenapa kamu tidak pernah mengungkapkan isi hatimu sejak dulu. Kini aku hanya bisa menganggapmu sebagai sahabatku, sahabat terbaikku. Dan aku mencintai orang lain dik, maafkan aku” jelasnya. Aku begitu kecewa, mataku berkaca dan hatiku terasa sakit, aku mulai menyesalinya, aku tak butuh penjelasan lagi dari nya, yang aku butuhkan sekarang adalah, bagaimana cara ku melupakannya dan menerima kenyataan bahwa aku telah kehilangannya.
“selamat ya mei semoga kamu bahagia dengannya.” Ucapku sembari aku berdiri dan melangkahkan kakiku dengan berat hampir meninggalkannya. Air mataku mengiringi jejak langkah yang terasa hampa.
“Hei bodoh..” Suara itu terdengar jelas di telingaku.
“Hanya seperti itu! dasar lemah. Kau tidak mau memperjuangkanku? sebatas itukah cintamu? itu yang dikatakan cinta Dengan membiarkanku menikah dengan orang lain?” lanjutnya, langkahku terhenti, aku tak mengerti apa maksudnya.
“Kau juga tidak mau tau siapa yang aku cintai? biasanya kau selalu kepo padaku” langkahnya mulai mendekatiku, terasa jelas di belakangku.
“Aku sudah kalah mei, dan sekarang aku akan pergi, tidak ada yang harus aku perjuangkan lagi, harusnya sejak dulu aku memperjuangkannya, bukan sekarang mei, sekarang sudah terlambat, biarlah ini jadi pelajaran untukku agar tidak menunda-nunda mengatakan cinta padamu.” Ucapku mengeluh. Langkahnya mulai menghampiriku, dan dia berdiri tepat di hadapanku, air matanya menetes membasahi pipinya. Bahkan aku tak sanggup menatap matanya.
“Aku juga mencintaimu dik, sejak dulu sejak kita SMA, dan aku sudah menunggu saat-saat seperti ini” ungkapnya. Matanya begitu tulus menatapku, matanya berbinar seakan ingin tumpah membasahi bumi.
“Tapi kau tak pernah peka, kau selalu saja seperti orang bodoh” lanjutnya. Aku terkejut mendengar pengakuan nya, kembali ku beranikan diri menatap matanya yang berlinang air mata.
“Kenapa kau diam saja, apa kau tidak ingin memelukku dan mengatakan kalau kau sangat mencintaiku.” Air mataku menetes tak tertahan. Aku memegang kedua tangannya. “Aku mencintaimu maya, sangat mencintaimu, kau mau menjadi pendamping hidupku, dan menjadi bintang di hatiku” ungkapku.
“Tidak dik, aku tidak mau menjadi bintang mu, aku akan menjadi langitnya.” Gurau nya. Sembari aku memeluknya.
“Berarti kau pemeran utamanya dong, tidak bisa begitu, Aku pemeran utama kau pemeran keduanya nyonya cerewet.” Kataku menentang. Ku lepas pelukanku, kuhapus air matanya dengan jemariku.
“Iyalah tuan bawel, aku jadi mataharinya saja pun tidak apa-apa, asal tetap di bawah langit ya dan kau harus menjagaku.” Ucapnya, sembari aku memeluknya kembali. “Iya nyonya cerewet aku akan selalu menjagamu.” Terlihat seorang gadis di seberang jalan yang sedari tadi memperhatikan aku dan maya, maya yang melihatnya dengan jelas hanya tersenyum, gadis itu pergi sembari membalas senyuman maya, ia merasa yang dilakukannya adalah hal yang benar dan hatinya merasa lebih lega melihat kami bersama. Dengan menemui maya di tepi danau, putri sudah menjelaskan semua pada maya, bahwa aku sangat mencintainya bukan putri dan putri meminta maya untuk bersama denganku, namun maya menolak permintaan itu, maya tidak mau menyakiti putri, tapi putri akan lebih tersakiti jika terus tertawa di atas penderitaannya.
“aku ikhlas mei… persahabatan kita lebih berarti, kau adalah sahabat terbaikku mei” jelas putri.
“terima kasih put… kau juga sahabat terbaikku” Putri memeluk maya dengan kasih sayang seorang sahabat.

Arti sebuah persahabatan itu membuka mataku dengan lebar, bahwa akulah penyebab semuanya.
Kini aku sadar jika cinta harus diungkap bukan untuk dipendam, Selama kita memendam selama itu juga kita tidak akan pernah tau perasaannya, katakanlah apapun yang akan terjadi, kejujuran itu lebik meski pun pahit.
Dan jangan pernah memaksakan persaanmu, jangan pernah membohongi cinta, karena itu akan menyakitimu dan orang yang kamu cintai.

Tamat.

Cerpen Karangan: Bastian Samosir
Facebook: Bastian Da Silva Samosir

Nama: Bastian Samosir
TTL: Pulau Tanjung 08 juni 1995
Email: bastiansam08[-at-]gmail.com
blog: http://bastiansamosir.blogspot.co.id/
twiter: @bastiansam08
No Hp: 085372437264

Cerpen Sahabatku Cintaku (Katakan Cinta) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Hujan

Oleh:
“Mungkin ini terakhir kalinya aku melihatmu, selamat tinggal Arya” aku melangkah agak menjauhinya. “Jangan pergi, aku mohon. Jangan tinggalin aku In, aku benar-benar sayang sama kamu” terang Arya yang

Air Terjun

Oleh:
Banyak hal yang tak bisa kita sangka akan terjadi di masa depan. Hal atau kejadian yang jauh dari angan dan harapan, dan kini aku telah membuktikan betapa sang pencipta

You Are My Korean Love (Part 1)

Oleh:
Aku kembali mengecek ulang surat tugasku. Beberapa kali ini aku udah mendesah. Masa iya aku harus tugas ke Korea? Itu kan jauh. Dan aku harus bertugas selama tiga tahun.

Cinta Petak Umpet

Oleh:
Hai bintang, gimana kabar lo? sorry yah malam ini, gue lagi-lagi nggak bisa nunjukkin siapa pacar gue. Seperti malam-malam sebelumnya, gue cuma doyan ngasih janji. Nama gue Riski, cowok

Cahayamu

Oleh:
Kicauan burung yang merdu di pagi hari membuat aku tersentak untuk bangun dalam tidurku, kubuka jendela kamarku dan kulihat burung-burung di taman seolah tersenyum membuat hati terasa tenang. Tentramnya

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Sahabatku Cintaku (Katakan Cinta)”

  1. Ifacuw says:

    Sahabat bs jadi cinta tp cinta belum tentu bs jadi sahabat. Jagalah sahabatmu selagi dia masih ada 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *