Sajak Cinta Ralin

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 2 October 2017

Asal kau tahu saja
Senyum mu itu adiktif. Aku kecanduan.
By: Your Forever Admire

Begitulah Ralin sekitar enam bulan terakhir ini ia gencar sekali mengirimi tulisan tulisan semacam itu untuk Arya, kakak kelas pujaan Ralin. Tepatnya bukan cuma pujaan Ralin tapi juga Dina, Mei, Sri, ah banyaaakkkk. Dan Arya juga belum mencari tahu asal muasal surat-surat di dalam lokernya yang hampir setiap pagi itu karena jelas sekali dilihat dari gaya menulisnya tulisan itu dari pengirim yang berbeda. Ya kaleeee nelusurin satu persatu asal tulisan itu hemmm. Tapi ada satu surat yang selalu ia tunggu. Surat bertinta biru. Sajak-sajak dari “Your Forever Admire”.

Di satu siang sepulang dari sekolah Ralin singgah ke perempatan jalan untuk mewawancari salah satu anak jalanan untuk tugas sosiologi sekolahnya tentang “anak jalanan”.
“Jadi kalian ini ada bosnya?”, tanya Ralin antusias
“Iya kak, ada satu orang yang biasa dipanggil bang Bos, karena kita semua gak pernah tau nama aslinya. Kita-kita di sini tiap hari harus nyetor duit yang udah ditetepin. Kalo gak sesuai yah paling gak dikasih makan dan kalo kita coba-coba ngumpetin duit dari bang bos kita bisa abis dipukulin. Si Ali tu pernah ngumpetin goceng eh ketauan, ya udah si Ali sampe demam dia seminggu. Ah jalanan kejamlah pokoknya”. Jelas Juki dengan suara setengah berbisik.

Dari obrolan itu, Ralin terus menerus memikirkan Jukin dan teman-temannya. “kasihan sekali mereka. Bang bos, Bang bos ahhhh siapa manusia yang tak punya hati itu?”, gumam Ralin geram.

Keesokan harinya Ralin sengaja ingin mengunjungi Juki dengan membawa makanan buatan Bunda yang dibawanya dari Rumah. setibanya di lampu merah perempatan terlihat Juki dan teman-temannya tengah asik menyantap nasi dengan gulai ayam. Lahap sekali mereka.
Ralin berlari kecil menuju mereka, “Wah kakak telat nih kayaknya”
“Eh kak Ralin haha gak kok kita mah masih sanggup dua porsi ginian lagi”, Sahut Juki dengan mulut masih dipenuhi nasi disusul dengan gelak tawa yang lain
“Nih kakak bawakin makanan tapi simpen aja dulu buat sorean dikit. Juk banyak koran laku? pesta ni kayaknya”, selidik Ralin
“Bukan kak ini dari abang kita, emang sering sih dia ngasih kita makanan dan kakak harus tahu dia juga yang lagi usaha ngebongkar kedok Bang bos. Nanti deh kita kenalin.”, jawab juki dengan senyum tiga jarinya.
“Alhamdulillah di kota besar gini masih ada orang yang peduli”, Ucap Ralin pada dirinya sendiri

Setelah puas mengobrol dengan adik-adik baru itu Ralin memutuskan untuk pulang, di perjalanan pulang tak jauh dari tempat Juki dan teman-teman beristirahat, Ralin melihat Kipli yang juga anak jalanan sama seperti Juki hanya saja Kipli sedikit lebih besar.
Kipli menangis terisak menghadap seorang laki-laki di hadapannya, “Gak bang gak lagi, sumpah”
Tersentak hati Ralin melihat tangan sebelah kanan kipli menutupi tangan sebelahnya lagi yang jelas-jelas mengucurkan darah. Mungkin itulah Bang Bos yang sering diceritakan anak-anak namun Ralin tak bisa melihat bagaimana wajahnya karena laki-laki itu membelakangi Ralin. Dengan sigap ia mengarahkan kamera ponselnya pada laki-laki itu karena siapa tahu ini bisa jadi bukti buat ngelaporin si Bang bos biadap itu. Selang beberapa detik Ralin dapat melihat wajah laki-laki biadap itu dengan jelas, matanya dan mata Ralin bertemu. Tangan Ralin lemas, lututnya gemetar. Laki-Laki itu Arya. Pujaannya. Ia berlari. Menangis sejadi-jadinya. Hujan seketika turun. Langit tak kuasa melihat Ralin menangis sendirian.

Dari hari itu tak pernah lagi Ralin mengirimkan sajak-sajak bertinta biru untuk Arya. Ralin sering memaki dirinya sendiri, “mengapa bisa aku jatuh cinta pada laki-laki seperti itu, ahhhh bodoh sekali!”

Minggu kemudian, Ia berniat membawakan makanan untuk adik-adk jalananya, sebentar saja. Langsung pulang. Sesampainya di sana hanya ada Juki sendirian sedang menghitung penghasilan penjualan koran. Belum lagi Ralin memanggil, ternyata Juki sudah menyadari kehadiran Ralin.
Juki berdiri, berlari kecil mendekati Ralin dan langsung memeluk gadis yang dianggapnya kakak itu, “kak Ralin aku senang sekali, bang bos udah berhasil ditangkep, sekarang Juki sama temen temen cari duit bener-bener buat keperluan kita bukan buat bang bos itu”
Juki terus bercerita tanpa mengizinkan Ralin menjawab. Mata Ralin berkaca-kaca ikut merasakan kebahagiaan Juki kecil itu.
“Nah semua ini berkat abang baik yang aku pernah janji mau kenalin sama kakak, kebetulan dia ada di bawah jembatan sana lagi ngajarin temen-temen baca tulis, yukkkk”, tanpa menunggu jawaban Juki langsung menarik tangan Ralin.

Arya. Dia ada di bawah jembatan sana.
“Juk kata kamu Bang Bos mu itu udah ketangkep?”
“Emang”, jawab Juki singkat
“Kak Ralin ini abang baik yang pernah aku ceritain namanya bang Arya, Bang ini kak Ralin yang juga sering aku ceritain itu”, tambah arya menambah kebingungan Ralin
Arya menangkap kebigungan di mata Ralin, sebelum pulang Arya mengajak Ralin mampir dulu ke danau kecil di tengah perjalanan pulang. Bertukar masing-masing kebigungan. Terjawablah sudah. Ternyata hari dimana Ralin melihat Arya dan Kipli yang sedang menangis adalah hari dimana Kipli yang terisak karena menyesal telah mencoba bunuh diri dengan menyayat-nyayat pergelangan tangannya. Untung saja Arya melihatnya dan mengobati pergelangan tangan Kipli yang terluka.

Ralin semakin kagum dengan pujaannya itu. Ya benar-benar pujaannya. Dan betapa terkejutnya Ralin megetahui bahwasanya Arya lah yang beberpa kali mengirim bunga dan coklat ke alamat ruamahnya yang disangka Ralin dan Bunda “kiriman salah alamat” itu.
“jangan pikir aku gak tau kalo tinta kamu selalu waran biru”, tambah Arya
Lengkap sudah kebahagiaan Ralin

“Cerah ya kak matahari nya hehe”, Ralin mencoba mengalihkan omongan karena salah tingkah
“Iya tapi aku gak mau jadi matahari”, sahut Arya
“Lah kenapa?”, Tanya Ralin kebingungan
“Iya aku gak mau jadi matahari, gak bisa nemenin kamu waktu malem dan aku juga gak mau jadi Bintang, percuma aku terang kalo gak bisa liat senyum kamu lagi kalo langit udah terang”, jawaban Arya kali ini benar-benar mempercepat degup jantung Ralin
“Ralin, aku cuma mau jadi aku. Yang ada kapanpun kamu butuh”, tambah Arya
Lengkap sudah. Angin februari menemani dua insan yang hatinya tengah didesaki taman bunga.

Cerpen Karangan: Jiankhanna
Namaku jiankhanna
Cuma gadis yang hobi nulis. Udah gitu aja.
Ig: @jiankhanna
*buat kakak admin maaf yah aku ga punya facebook. Beneran. jadi ga bias like fanpagenya 🙁

Cerpen Sajak Cinta Ralin merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cinta Yang Tak Terbalaskan

Oleh:
Nama saya indah saya kelas 2 sma 2. Cerita ini bermulai sewaktu pramuka wajib kelas 11 hari sabtu setelah pulang sekolah, sewaktu pramuka itu kami murid kelas memasuki kelas

Take A Bow

Oleh:
Kusingkap tirai yang menutupi jendela kaca kamarku. Rinaian hujan mengguyur rumahku, membuat bercak-bercak putih kecoklatan di jendela. Dari kaca yang bernoda ini, kulihat samar-samar halaman rumahku yang basah kuyup.

Love Me?

Oleh:
Namanya Riza, anak kelas X-3 di SMA Harapan Bangsa. Cowok paling cool dan ganteng, meskipun masih kelas X namun pesonanya mengalahkan pesona kakak kelas. Dia paling sering dibicarakan oleh

Cinta Dan Kenangan

Oleh:
Pagi ini saat aku membuka pintu, aku merasa ada yang berbeda dari diriku. Aku begitu teringat dengan Lisa, Lisa ini mantanku yang amat sangat mencintaiku sepenuhnya saat aku masih

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *