Salah

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Galau, Cerpen Patah Hati
Lolos moderasi pada: 1 April 2016

Pagi itu aku masih menjalani aktivitas seperti hari-hari sebelumnya. Menjalani rutinitas yang memang tiada habisnya. Aku selalu sampai di kantor terlebih dahulu ketimbang munculnya matahari. Cukup lama sudah aku duduk di dalam kubikalku menyelesaikan analisa industri yang menjadi permintaan atasanku. Aku merasa mataku mulai lelah. Ku hentikan sejenak aktivitasku memandangi komputer. “Ah, padahal sedikit lagi selesai!” pikirku. Aku memutuskan untuk membuat kopi hangat yang ku harap dapat menemaniku dalam aktivitas ketik mengetik selanjutnya. Secangkir kopi ku bawa dari dekat dispenser yang jaraknya hanya 10 langkah dari kubikalku. Aku duduk kembali. Sebelum kembali ke laptop, aku tergoda untuk membuka ponsel pintarku. Namun, ku urungkan niat itu. Aku khawatir akan terlalu asyik jika nantinya sudah terlanjur autis dengan ponsel pintar yang sebenarnya bisa membuatku tidak pintar.

Kemudian aku kembali melanjutkan analisaku. Hmm, cukup menarik pikirku. Beberapa tahun sebelumnya harga batubara tersenyum bangga di angka $120. Tepat ketika aku mulai bergabung di sini, harga emas hitam tersebut hanya mesam-mesem di angka $80 dan diperkirakan akan terus menurun. Aku bersama tim dipercaya untuk menganalisa faktor eksternal maupun internal yang akan mempengaruhi bisnis perusahaan kami. Strategi bisnis apa yang cocok agar kami bisa bertahan, apakah kami harus mengembangkan produk, mengembangkan pasar, joint venture, atau diversifikasi, atau yang lainnya. Ya, menganalisa hal-hal seperti ini memang merupakan keahlianku. Jadi, cukup jelas jika aku menyelesaikan pekerjaan ini dengan waktu yang singkat.

Saatnya aku membuka ponsel pintarku. Sudah lama aku tidak mengecek laman Facebook-ku. Terakhir aku buka yaitu, 12 bulan lalu atau 52 minggu yang lalu, atau 365 yang lalu. Mudahnya, katakan saja setahun yang lalu. Itu pun hanya untuk melakukan hal yang tidak penting –yang sebenarnya tidak perlu sampai segitunya untuk dilakukan. Kala itu, aku membuka FB hanya untuk mengganti relationship status dari “In a Relationship” menjadi “Single”. Nah, tidak penting kan? Tapi terkadang aku merasa itu perlu dilakukan agar aku bisa menemukan seseorang kawan spesial yang baru untuk suasana yang baru. Perpisahanku dengan kekasih saat itu sempat membuatku bimbang dan sering menguras pikiran. Bagaimana tidak? Kami saling menyimpan perasaan sejak masih berseragam putih merah. Cinta anak monyet! Pertemuan kami sebagai teman hanya sesaat dan sesekali ketemu pun hanya berani senyum-senyum tidak jelas. Bahkan kalau semakin malu, kami saling memalingkan wajah.

Ketika kami berganti seragam menjadi putih biru, kami bertemu lagi di sebuah event. Aku memandanginya dengan penuh kekaguman saat jari-jarinya menari lincah di atas tuts hitam putih. Saat senyumnya ia lemparkan ke seluruh penonton. Saat punggungnya membungkuk memberi tanda hormat kepada audiens. Sungguh begitu menawan. Sementara jari-jariku tak mampu selincah biasanya karena aku merasakan ada pandangan tajam yang dilempar ke arahku. Ada sepasang telapak tangan yang ditepuk malu-malu setiap kali aku berhasil melewati bait yang rumit. Menjelang event berakhir, kami pun hanya masih saling pandang dan diam-diam menyimpan senyum. Malu. Sampai akhirnya kami bertemu lagi dengan seragam putih abu-abu. Tetap saja, hanya saling pandang dan diam-diam menyimpan senyum. Namun, ada yang berbeda, kami mulai berani untuk saling menyapa.

“Kamu, dulu konser di (aku menyebutkan sebuah tempat)?” tanyaku. Dia mengangguk cepat tetap dengan senyum manisnya.
“Kamu dulu bawain lagu (menyebut sebuah judul lagu) ya?” dia balas bertanya. Kali ini, aku yang mengangguk cepat. Tentu dengan senyum termanisku juga.

Bolak-balik hanya begitu saja yang pernah kami lakukan. Kemudian angin cinta menyambar kami hingga ketika di bangku kuliah kami akhirnya berpacaran. Tanpa ada tembak-tembakan seperti anak muda pada umumnya. Kami jalani apa adanya saja. Setiap hari kami warnai dengan lelucon konyol dan gubahan lagu-lagu. Nada-nada indah tak hanya ke luar dari bibirnya, tapi juga dari jemarinya. Aku menyumbangkan syair kehidupan dan ia memainkan melodi kehidupan. Harmoni dan sempurna. Tidak ada hari spesial karena setiap hari kami adalah istimewa. Aku tidak banyak permintaan, begitu juga dengannya. Namun, satu permintaannya yang membuatku berpikir keras dan menamparku bahwa ternyata masa pacaran ini bukan cinta monyet. Aku harus dewasa.

Permintaannya hanya satu, “Ibuku sudah rutin hemodialisis. Kawan-kawannya sudah pergi semua. Ibuku cepat atau lambat akan pergi juga. I will be the one who take care of my sister. No one will. I want you to stay. ‘He cried and I didnt know what I should do.’ I only answered, ‘I will stay.'” Hingga suatu hari ada sesuatu yang membuat kami kembali menjalani hidup masing-masing. Tidak bersama-sama lagi. Hilang begitu saja. Baik aku ataupun dirinya. Hilang saja. Meninggalkan sebuah janji, “Insya Allah, jika ada jalan, bisa kembali bersama.” Itu baru rencana.

Kerinduan. Itulah yang ku rasa saat ini. Kesibukan di kantor membuatku memang tidak lagi pernah memikirkan masa emas kami. Pun ia juga begitu ku rasa. Tapi, khusus hari ini entah mengapa aku merasa rindu. Karena itulah aku memainkan ponsel pintar untuk membuka FB-ku. Mau kepoin dia. Stalker! Aku menjadi stalker sekarang. Belum sempat aku membuka FB-nya, aku menerima notification dari sebuah grup. Tak biasanya aku tertarik untuk membukanya. Padahal, ada notification ke wall atau message pribadi saja tidak pernah aku buka. Aku membuka tulisan yang diposting kawan lamaku, “Teman-teman yang kenal dengan Arsa Wirasono, pagi tadi Ibunya meninggal karena sakit ginjal. Dikubur siang ini jam 11.00 di TPU Pondok Jeruk.”

DANG!!!

Tubuhku bergetar. Aku tahu ini berlebihan tapi jujur aku merasa tubuhku bergetar. Di saat aku dilanda kerinduan mendalam, berita itu yang justru menjadi jawaban. Aku tak mau tubuhku bergetar lebih hebat lagi. Aku menarik napas dalam dan menuju meja atasanku. “Pak, mohon maaf dan mohon izin. Orangtua sahabat saya meninggal. Mohon izin Bapak untuk saya melayat dan selesai pemakaman saya secepatnya kembali ke kantor.” Atasan super baik yang dengan mudahnya memberi izin sekaligus menawarkan bantuan, “Di luar hujan, kamu naik mobil kantor aja ya.” Aku mengambil keputusan dengan cepat dan ku harap tepat, “Makasih, Pak. Saya bawa mantel hujan, naik motor saja. Kalau naik motor 1 jam saja sudah perjalanan PP. Naik mobil kantor bisa-bisa 2 jam baru sampai di makam.”
“Hati-hati ya, jangan sembarangan!” Itu saja yang dipesani atasanku.

Cukup 30 menit dari kantor menuju TPU. Aku sempat mampir toko baju membeli blazer hitam. Boros memang, tapi aku harus membelinya. Baju yang ku pakai ke kantor hari ini adalah blouse merah. Kebayang kan ngelayat pakai baju merah meriah? Tidak ada orang yang ku kenal sesampainya di sana. Rombongan dari rumah duka pun belum datang. Bodohnya, aku tak punya payung dan tidak membeli payung. Aku membiarkan tubuhku dibasahi hujan. Berteduh di bawah pohon beringin pun tidak membuatku kering. Masih ada rintikan hujan membasahi rambutku. Semakin lama semakin lepek rambutku. Nggak jelas sudah bagaimana rupaku.

Lalu, tibalah rombongan dari rumah duka diiringi suara ambulans yang khas yang berusaha menggetarkan tubuhku. Aku menahan diri untuk tetap tenang. Aku sibuk mencari kosakata apa yang harus ku ucapkan saat nanti bertemu dia. Tahun lalu dia meminta aku tetap tinggal. Bahkan ketika ibunya menghembuskan napas terakhir, seharusnya aku di sampingnya, bukan baru datang saat acara pemakaman. Tapi, apa daya, kita sudah lama menjalani hidup masing-masing. Aku terlalu takut mendatangi hidupnya lagi.

Pusara sudah terbuka. Seorang Romo lengkap dengan jubahnya menyampaikan khotbah dan juga bait-bait suci mendoakan almarhumah. Dia berdiri di samping Romo, sambil memeluk adik perempuannya yang menangis tiada henti. Aku memandangnya dari kejauhan. Romo kemudian menyiarkan kenangan-kenangan baik beserta jasa-jasa almarhumah. Para jemaat yang juga melayat mendengarkan dengan khusyuk. Kemudian terdengar nyanyian mengantarkan almarhumah ke surga. Ku lihat dia pun khusyuk menyanyikan doa-doa untuk Ibundanya sementara tangan kirinya masih merangkul sang adik. Aku membaca Al-Fatihah dalam hati, menyesuaikan dengan kepercayaanku.

Di tengah kekhusyukan para jemaat, hujan semakin lebat seolah ikut menangisi kepergian Sang Bunda. Hanya Arsa yang ku lihat sejak tadi tidak menangis. Meneteskan air matapun tidak. “Ia masih tegar seperti dulu.” batinku. Hampir aku flashback lagi dengan kenangan-kenangan bersamanya. Lamunanku disadarkan suara lembut seorang wanita yang ternyata sejak tadi memanggilku. Wanita yang tidak ku kenal namun melihat wajahnya yang bersahabat aku tersenyum. Dia melambaikan tangannya. Aku menghampirinya yang berjarak 3 langkah dari tempatku berdiri. “Bareng aja sini, Mbak. Mbaknya hujan-hujanan nanti pusing.” katanya sambil menarik lembut tanganku menuju payungnya. “Makasih, ya.” jawabku. “Alhamdulillah, aku nggak kehujanan.” ucapku dalam hati.

Jenazah ibu sudah diturunkan ke dalam pusara abadi. Tanah pusara juga sudah ditutup. Juru gali meletakkan cangkulnya. Arsa mengusap tangannya membersihkan dari tanah yang menempel dan melepas gulungan lengan kemeja hitamnya. Romo pun menutup alkitabnya dan menutup prosesi pemakaman dengan doa. Para jemaat mulai saling bersalaman, ada juga yang saling berpelukan dan mengusap punggung, memberi isyarat untuk bersabar dan tabah bagi keluarga yang ditinggalkan. Aku dan wanita malaikat yang menawarkan payung tadi, menuju ke tempat Arsa dan adiknya berdiri. Aku mengajak sang adik bersalaman, mengusap rambutnya, dan ku selipkan amplop pada genggamannya. Sang adik kemudian langsung memeluk wanita malaikat. Ah, aku mendambakan pelukan itu dulu. Tapi, tak pernah ku dapatkan. Masih di tempat yang sama, aku menjabat tangan Arsa, “Aku turut berduka cita ya. Maaf baru datang di sini.” ucapku pelan, kaku, sambil menepuk lengannya dengan sentuhanku yang sebeku es di kutub utara.

Arsa tersenyum mengucap terima kasih kemudian mengusap rambutku, “Jangan hujan-hujanan ya!” itu saja katanya. Jantungku mau lepas rasanya. Aku sudah tidak tahu mau berkata atau bertanya apa lagi. Aku sudah tahu semuanya dan tidak bisa berpura-pura tidak tahu. Aku tak pandai berbasa-basi. Meski hatiku ini sudah lama berteriak ingin tetap tinggal di sana. Hanya saja, pikiranku menolak keras dan aku harus kembali ke kantor. Untuk apa berdiri dengan penuh kekakuan di sini. Antara rasa dan logika tidak akan pernah bisa bersama. Aku pamit, menyalami sang adik, menyalami wanita malaikat, menyalami Arsa. Lalu kami berempat berjalan perlahan meninggalkan pusara. Mungkin mereka ingin mengantarku sejenak. Sambil berjalan menjauhi pusara, Arsa sempat merangkul pundakku beberapa detik dan mengusap pundakku 1 detik sebelum ia berpesan, “Hati-hati ya…”

Aku terus berjalan namun rindu ini masih belum terobati. Aku menoleh ke belakang. Arsa dan wanita malaikat melambaikan tangannya. Aku tak lagi memandang Arsa, ku pindahkan pandanganku ke wanita malaikat. Ia tersenyum penuh ketulusan. Sambil berjalan aku bergumam, “Aku merasa seperti bercermin ketika melihat wanita malaikat. Nyaman sekali aku memandangnya.” Dalam perjalanan menuju kantor aku menerka-nerka, siapa sebenarnya wanita malaikat itu. Aku berharap jika dia adalah salah satu keluarga Arsa, aku yakin aku bisa cocok dengannya dan semoga ia bisa menerimaku. Sesuai dengan janjiku dengan Arsa waktu dulu, “Insya Allah, jika ada jalan, bisa kembali bersama.”

Harga batubara sekarang hanya $76 dan ini sesuai dengan prediksiku bersama tim. Kami telah menyusun strategi agar perusahaan ini bertahan. Strategi yang seharusnya sudah lama dilakukan yaitu, pembuatan power plant atau pembangkit listrik. Ketika harga batubara menurun, ya sudah, untuk apa susah jualan, lebih baik dikonsumsi sendiri dan dijadikan energi. Sudah saatnya memang batubara itu pensiun dari status komoditi. Kabar baik ketika strategi ini diterima dengan baik dan sejalan dengan keputusan direksi.

Sudah 3 bulan sejak kepergian Ibunda Arsa dan pertemuanku dengan Arsa di pemakaman. Meski hanya sesaat tapi ternyata peristiwa itu membuatku kembali gundah dengan rasaku. Sekali lagi, antara logika dan rasa tidak akan bisa bersama. Aku lagi-lagi ingin mencari tahu informasi dengan Arsa dan berusaha mengembalikkan keadaan seperti masa emas kami. Aku ingin menceritakan keberhasilan strategi timku ini kepada Arsa. Sejak dulu memang Arsa yang paling seru diajak berdiskusi mengenai pekerjaan. Kembali aku membuka FB-nya. Dengan semangat, aku berkata sendiri pada nuraniku, “Selesai stalking, aku mau SMS, ngajak ketemu, lalu sharing kerjaan dan bikin lagu lagi.” Ada satu hal yang menarik perhatianku, sapaan dari si wanita malaikat beberapa bulan lalu. “Wah, tepat sekali aku juga mau tahu banget siapa cewek ini.”

Wanita Malaikat: “Hai, maaf ini siapa? Kita pernah ketemu di mana ya sebelumnya?”
Arsa: “Hai, aku pernah lihat kamu di gereja. Aku Arsa, salam kenal ya, Fransisca.”
Aku klik nama si Wanita Malaikat itu “Fransisca Angela”. Aku langsung menuju bagian “About Me”. Satu hal lagi yang menarik perhatianku, bahkan masih hangat, baru di-update 5 hari lalu. “Fransisca Angela is in a relationship with Arsa Wirasono”.

Cerpen Karangan: Astien Setianingrum
Blog: http://dartventure.blogspot.co.id

Cerpen Salah merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Gara-gara Voli Turun ke Hati

Oleh:
Namaku Vila Lestari, saat ini usiaku 15 tahun. Aku duduk di bangku kelas satu SMA. Susan adalah sahabatku yang baru aku kenal ketika masuk SMA dan sekelas denganku. Susan

Selalu Ingin Bersamanya

Oleh:
Namaku Rian Febryansyah, aku bersekolah di SMA Tunas Bangsa. Hari itu, hari pertamaku masuk sekolah lagi. Sekarang aku duduk di kelas VIII yaitu VIII D. Aku tak sabaran melihat

Sebuah Nama, Sebuah Misteri

Oleh:
Hari ini memang bukan hari yang indah untukku. Aku harus merelakan kepergian sahabat baruku, Cheryl Putri. Hujan air mataku mengiringi kepergiannya. Aku tidak kuat untuk mendampinginya pergi ke sana.

Cinta Itu Sederhana

Oleh:
“Cinta yang indah adalah jika kita mencintai seseorang dengan ikhlas tanpa balasan dan tanpa satu alasan apapun” Pagi yang cerah menyelimuti alam ini, ak terbangun dari tidur yang lelap.

Nino’s Story

Oleh:
Seperti biasa, Nino menyapa siapa saja yang dia lihat saat akan menuju kelas dengan senyum yang lebar. Dia memang sosok yang ceria dan ramah. Idola di sekolahnya. Sangat sempurna,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *