Sampai Sirna

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Persahabatan, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 21 August 2014

Siapa yang menyangka kalau pagi ini adalah pagi yang terasa baru bagi Kristin. Rumah sebelah yang semula kosong sekarang sudah ada yang menempati. Rasa penasaran mendorong tubuh kecil Kristin untuk melihat siapa tetangga barunya itu.

Melalui tembok pembatas yang sedang, Kristin melihat tetangga baru itu sedang membenahi rumah. Memang hal yang biasa Kristin lihat, karena hampir seminggu sekali ada warga baru yang pindah ke rumahnya. Asyik melihat perabotan rumah yang masih berantakan di halaman rumah, ada sesuatu yang lebih memikat matanya. Seorang lelaki kecil tengah berdiri di depan pagar rumah. Ia memegang sebuah mobil mainan di tangan kanannya, memandangi kotak surat yang bentuknya unik.

Tanpa perintah Kristin berlari ke arahnya. “Hai! Aku Kristin, kamu siapa?”, ucapnya penuh percaya diri sambil memberikan tangannya. Mengetahui itu Aldo menundukkan kepalanya dengan malu. “Nggak papa, Kristin”, ulang Kristin.
“A… Aku Aldo”, katanya dengan suara malu-malu. Dengan polosnya Kristin mengajak Aldo untuk main ke rumahnya.
Sesampainya di rumah, Kristin langsung mengenalkan tetangga barunya itu kepada orangtuanya. Kristin dan keluarganya selalu menerima warga baru dengan baik. Tak heran kalau keluarga Kristin sangat dikenal dengan keramahannya. Dengan segera, keluarga Kristin akrab dengan keluarga Aldo.

Aldo dan Kristin berteman dengan baik. Aldo sekarang bersekolah dimana Kristin juga disana. Sebagai warga baru sekaligus murid baru di sekolah, Aldo semakin kesulitan bergaul. Namun begitu Kristin dengan senang hati membantu Aldo beradaptasi dengan lingkungan sekolahnya. Begitu seterusnya hingga kelas 4 SD. Memang agak terkesan aneh, kemana-mana mereka selalu berdua. Dimana ada Kristin, tidak jauh darinya pasti ada Aldo. Bahkan keduanya sempat menjadi bahan olok-olokan teman sekolah. Namun mereka tidak pernah memedulikannya, hingga akhirnya Aldo sudah bisa mengenal siapapun baik di sekolah maupun lingkungan rumah.

“Thanks ya Tin, gak kebayang kalo aku gak pindah di sebelah rumahmu. Bisa-bisa aku anak kuper, ha ha ha ha” . katanya pada Kristin.
“Ah gak papa. Toh kita kan teman”, kata Kristin tersenyum pada Aldo.

Setiap hari Kristin bermain di rumah Aldo. Hari-hari dihabiskannya di kamar Aldo. Jangan berpikir negatif, mereka hanya bermain mainan yang ada. Hampir tiap waktu ada beberapa mainan baru. Semuanya adalah milik mereka berdua, sebagian mainan Kristin ada di kamar Aldo.

Persahabatan mereka berlanjut hingga SMP. Mereka kembali masuk di sekolah yang sama. Kedekatannya pun semakin intim saja. Kristin sudah menganggap Aldo sebagai saudara sendiri. Berangkat dan pulang sekolah selalu bersama. Prestasi mereka pun selalu berimbang di sekolah, kalau tidak menduduki peringkat tiga besar, paling tidak mereka ada di lima besar.

Pernah suatu ketika teman Kristin menanyakan soal kedekatannya dengan Aldo.
“Tin, sebenernya tuh gue bingung sama lo berdua”, tanya temannya dengan nada mengintimidasi. Namanya June.
“Dih apaan si? Gue sama siapa emang?” jawab Kristin dengan santainya.
“Ya lo sama Aldo lah. Siapa lagi sih yang setiap hari sering pergi bareng sama lo? Udah jadi rahasia umum kali kedeketan lo sama dia.” Terang June.
“Hah? Gitu doang lo pertanyakan sampe sekarang? Aduh June kudet banget sih lo, gue sama Aldo tuh Cuma tetanggaaan doang. Soal kita deket sampe sekarang mah orang kita udah temenan dari sejak dia pindah kok.” Jelas Kristin.

Dua tahun kemudian, saat upacara kelulusan. Mereka bergembira ria. Bagaimana tidak? Keduanya menjadi lima besar lulusan terbaik di sekolah. Angkanya pun sangat cantik. Kristin urutan keempat, sedangkan Aldo menjadi urutan kelima. Mereka berdua yang sudah populer kedekatannya sejak kelas 1, kini makin populer dengan prestasi yang diraih mereka.

“Do, ngomong-ngomong, habis lulus ini kamu mau ngelanjutin ke SMA mana?” tanya Kristin penasaran.
“Hah? Oh… aku sih mau disini aja, semenjak pndah kesini aku jadi betah sama hawa-hawa kota ini. Gak mau pisah rasanya, hehehehe” jelas Aldo.
“Tapi, Do…”
“Selain itu juga ada kamu Tin.” Ucap Aldo malu-malu. Keadaan ini makin mempersulit Kristin untuk menjelaskan pada Aldo, bahwa dirinya tidak meneruskan sekolah di Bogor.
“Tapi maafin aku ya Do…” kata Kristin.
“Kenapa?” tanya Aldo penasaran.
“Bukan aku gak mau di Bogor lagi, tapi udah ada SMA di Jakarta yang ngasih aku beasiswa untuk bersekolah disana. Sebenernya aku pengin kasih tau kamu sejak sebelum upacara kelulusan. Tapi aku takut bikin kamu kecewa” jelas Kristin dengan rasa bersalah.
Terpapar sebuah kesedihan di wajah Aldo, wajahnya melesu seketika. Namun Aldo berusaha menutupinya.
“Do? Kamu gak papa?” tanya Kristin khawatir.
“Enggak papa Tin. Justru aku seneng kok lihat kamu berprestasi gitu, apalagi di kota metropolitan. Aku dukung kamu deh Tin” jawab Aldo dengan tersenyum. Meski Kristin dapat melihat bahwa senyum Aldo berlatar belakang kekecewaan.
“Makasih ya, Do” kata Kristin sambil memeluk badan besar Aldo. Pelukan hangat yang mungkin terakhir kali. Mungkin.

Di Jakarta, kedatangan Kristin disambut ramah oleh kepala sekolah SMA Harapan Bangsa. Karena prestasi Kristin yang terbilang cukup tinggi di daerahnya. Dengan Kristin melanjutkan pendidikannya di Jakarta, memboyong keluarganya di Bogor walaupun ayah Kristin tetap tinggal. Kristin masih memikirkan Aldo. Apa jadinya lingkungan rumah kami tanpa hadirnya aku, gumam Kristin dalam hati. Semoga di Bogor Aldo baik-baik saja.

Sementara di kampung halaman, Aldo merasa sangat kesepian. Keberangkatan Kristin ke Jakarta membuatnya kehilangan teman bermain. Memang benar, teman yang paling dekat sejak dia kecil hanya Kristin, tidak ada yang lain. Pikirannya menyebar kemana-mana, memperkirakan kapan Kristin kembali lagi kemari, seperti apa dia disana, apakah dia memiliki teman yang lebih akrab darinya. Pikiran yang menurutnya mustahil, justru membuat dirinya sangat terpuruk. Impiannya untuk terus bersama Kristin terputus. Aldo beringsut dari sandarannya, merebahkan diri di atas kasur. Ia memandangi stiker tempel glow in the dark yang ia tempelkan susah payah bersama Kristin dulu. Mengantarkannya tidur dalam suasana yang muram, seraya berdoa agar Kristin tidak benar-benar melupakannya.

Kecakapan Kristin dalam bergaul memudahkan Ia cepat mendapatkan teman baru disana. Teman pun bukan sembarang teman. Semua yang berteman dengan Kristin pasti anak yang baik-baik dan tidak suka bersenda gurau yang berlebihan. Ini semua berkat basic Kristin yang biasa berteman. Namun ia juga tidak pernah meninggalkan teman yang lainnya. Walau yang lain pergaulannya sedikit miring, Kristin tetap dapat mengakalinya, sehingga Ia dapat memiliki banyak teman.

Satu tahun kemudian saat Kristin menduduki kelas XI SMA, teman Kristin yang bernama April menanyakan sesuatu padanya.
“Tin, lo masih single sampe sekarang?” tanya April.
“Kalo iya kenapa? Apaan si lo, Pril pake nanya gituan segala. Kepo deh” ucap Kristin.
“Yee… bukannya gitu Tin. Gue penasaran aja, kok lo bisa tahan dengan keadaan lo single kaya gini. Cari pacar ngapa Tin?” jelas Kristin.
Pertanyaan April mengingatkannya akan Aldo. Sudah setahun ini ia meninggalkannya. Memberi kabar pun tidak. Kristin juga tidak mengetahui kabar Aldo. Padahal ayahnya yang masih tinggal di Bogor harusnya memberi tahu keadaan sekitar kampung halamannya, termasuk Aldo.
“Bodo ah… ngelantur aja omongan lo” ucap Kristin sambil berlari meninggalkan April. “Ehh Tinn!! Tungguin gue!” .

Apa yang dikatakan April membuatnya terbujuk untuk mengunjungi Bogor. Kebetulan sudah liburan semester satu, tidak ada halangannya untuk pergi ke luar kota.

Kereta api yang melaju kencang kini telah sampai di Stasiun Bogor. Ia datang sendiri. Bogor masih sama, belum ada yang berubah, gumam Kristin. Bahagia rasanya kembali menginjak Bogor, rasanya kembali muda seperti anak SMP lagi, pikir Kristin. Berbekal ingatan yang masih luas tentang Bogor, ia segera menuju rumahnya menggunakan angkutan kota.
Dari ujung pintu perumahannya ia berjalan. Nampaknya ada sedikit renovasi pada perumahan ini, pikir Kristin. Kini ia sudah berada di depan rumahnya. Sudah sedikit gersang dengan daun kering berserakan, sama dengan rumah di sebelahhya. Rumah Aldo. Ia melemparkan tas backpack-nya ke teras rumah den segera ke rumah Aldo. Nampak gersang seperti yang telah dikatakan. Sepertinya semua begini sejak aku pindah, pikir Kristin.

Diketuknya pintu putih bernomor 17 itu tiga kali. Tidak lama kemudian muncul seseorang yang tidak asing. Ibunda Aldo!
“Lho? Nak Kristin?! Ya Tuhan apa kabar kamu?” sambut ibu Aldo dengan ramah.
“Baik kok tante. Ngomong-ngomong Aldonya dimana tante? Kangen deh saya pengin main lagi sama dia” ucap Kristin.
Ditanyai seperti itu membuat raut wajah kebingungan terlukis di wajah Ibu Aldo. Seperti hendak mengatakan sesuatu tapi enggan mengatakannya. “Ah, kok jadi bicara di luar seperti ini, ayo masuk dulu, nak” tawar Ibu Aldo dengan cepat.

Harum rumah ini tidak berubah. Masih sama. Kristin segera naik ke atas. Ke kamar Aldo seperti biasanya. Kamar Aldo kosong, namun masih rapi. Kristin rindu dengan kamar ini. Rindu segala-galanya, mainan mereka yang masih disusun dengan susunan yang tidak pernah berubah, parfum Aldo yang soft, bahkan bau badan Aldo pun masih bisa dirasakan Kristin. Ah, mungkin Aldo lagi pergi, pikir Kristin. Sedang asyik melihat-lihat, Kristin menemukan tape recorder yang biasa mereka mainkan saat masih kelas satu SMP. “Wah, masih disimpen juga benda beginian, kirain malah udah ilang”, gumam Kristin. Ia membuka tape recorder tersebut, kaset yang ada di dalamnya ia keluarkan. Di atasnya tertera tulisan Aldo yang masih agak berantakan itu. “ALDO_KRISTIN” bunyi tulisannya. Kristin jadi ingat saat mereka berdua memainkan tape recorder itu sampai jatuh terpelanting ke lantai. Mungkin sudah tidak bias digunakan lagi, pikirnya.
Sedang mencoba menekan tombol play tiba-tiba ibu Aldo muncul di depan pintu kamar. Kehadirannya membuat Kristin sedikit terkejut.
“Eh, nak Kristin.Tante cari-cari ternyata ada disini.” kata Ibu Aldo.
“eh iya tante maaf, aku jadi main masuk ke kamar Aldo gini”, jelas Kristin sembari menyembunyikan tape recorder di belakang punggungnya.
“Gak papa lagi, bukannya dari dulu kamu biasa keluar masuk rumah tanpa tante tahu, hahaha. Sudah ayo ikut tante, Tin.” Ajak ibu Aldo.
“Kemana, tante?” Tanya Kristin penasaran.
“Ayo ikut aja” ajak ibu Aldo.

Mobil Avanza biru melaju kencang membawa Kristin dan ibu Aldo. Pak sopir yang sedari tadi menyetir terlihat begitu tegang dan tidak mengeluarkan satu kata pun. Tidak seperti biasanya, gumam Kristin.

Mereka berhenti di sebuah Gedung rumah sakit di suatu sudut kota di Bogor. Kristin memang belum pernah kemari. Sejak kecil Kristin selalu sehat, menyentuh dokter pun jarang sekali. Tapi untuk apa mereka kemari? Apa ibu Aldo mau kontrol atau apa, Kristin masih penuh dengan rasa penasaran. Kristin mengikuti ibu Aldo masuk ke rumah sakit tersebut. Namun semuanya jauh dari perkiraan Kristin. Cancer Center? Siapa yang kanker? Rasa was-was dan penasaran Kristin bertambah besar.

Pintu merah tua bernomorkan K201 sudah ada di depan mereka. Kristin semakin bingung. Mau apa sih kesini? Menjenguk? Tapi siapa?, dalam hati Kristin bertanya-tanya. Dilihatnya, ibu Aldo tampak sedikit tertunduk. “Ini, isinya siapa, tante?” Tanya Kristin penasaran. “Sebaiknya kamu duluan dulu deh. Silahkan” tawar Ibu Aldo.
Gagang pintu mulai ditariknya. Belum sampai masuk ruangan, Kristin terdiam, terpaku akan apa yang dilihatnya sekarang. Badannya gemetar dan berusaha menahan tangis. Dirinya benar-benar terguncang. Aldo. Aldo terbaring lemah di depannya. Selang-selang infuse dan oksigen seakan menjerat badan Aldo.

Kristin berlari mendekatinya. Tapi memang air mata sulit sekali untuk dibendung, Kristin meneteskan air mata. Ia duduk di samping tubuh lemah itu. Diraihnya tangan Aldo yang sudah sedikit lebih besar dari satu tahun yang lalu. Napasnya satu-satu. Kristin benar-benar tidak menyangka akan apa yang terjadi sekarang.

“Nnngg… Nak Kristin, sebelumnya tante minta maaf, tante belum kasih tau kamu dari tadi. Tante takut bikin kamu kaget, kan kamu baru dateng dari jauh. Lagi pula kamu kan masih lelah.” Jelas ibu Aldo
“Aldo kenapa, tante?” Tanya Kristin sambil menyeka air matanya.
“Ayo kita bicara di luar” ajak ibu Aldo.

“Sejak nak Kristin pindah ke Jakarta, pola hidup Aldo berubah jauh dari waktu dia masih sering main sama kamu. Ia lebih sering menghabiskan waktu di kamarnya. Pulang sekolah tidak pernah tepat waktu. Selalu diatas jam 5 sore. Sikapnya berubah seperti pertama kali pindah kesini. Tante juga nggak menyangka kalau dia mulai merok*k. Padahal tante sudah melarangnya tapi dia tetap melawan larangan tante mentah-mentah. Tiga hari yang lalu, saat sebelum berangkat sekolah, Aldo mulai mengeluh dadanya terasa sakit, dan tiba-tiba pingsan. Om dan tante kaget dan kebingungan, akhirnya kita bawa kesini. Ternyata dia udah kena kanker paru-paru.” Jelas Ibu Aldo sambil menyeka air matanya yang terus menerus turun dari matanya yang sayu.

Kristin yang mendengarkannya benar-benar merasa bersalah. Jadi, Aldo menjadi seperti ini karena dirinya pindah ke Jakarta. Kristin jadi ingat saat mereka bicara berdua setelah upacara kelulusan SMP dulu. Raut wajah Aldo sedikit kecewa saat ia mengatakan harus bersekolah di Jakarta. Dan semua berdampak seperti ini. Kristin benar-benar tidak mengerti apa yang harus dilakukannya sekarang. Sungguh dirinya ingin Aldo cepat siuman dan melihat dirinya. Ia ingin meminta maaf atas apa yang telah dilakukannya sehingga membuat Aldo seperti ini.

Bukan mau tak mau, tapi Kristin harus menghabiskan liburannya di Bogor. Wajib baginya menemani Aldo, karena menurutnya ialah yang telah membuat Aldo seperti ini. Hampir setiap hari dihabiskannya di samping Aldo, ia tak mau kalau Aldo sadar nanti, ia tidak melihatnya.

Suatu hari, entah hari ke berapa Kristin menunggui Aldo. Momen yang ditunggunya akhirnya datang, saat Kristin tertidur di samping Aldo, sebuah suara lirih dan berat memanggilnya.
“K..k… Kristin…” suara tersebut tidak jauh dari telinga Kristin. Suara itu membuat Kristin terbangun. Tapi, siapa sangka kalau Kristin terbangun dengan kejutan yang ia tunggu.
Itu suara Aldo! Ya, Kristin bisa mencerna suara tersebut. Kristin langsung terbangun dari tidurnya dan melihat Aldo yang sudah membuka matanya. Nampak berkaca-kaca. “Aldo!!!” teriaknya terkejut, tapi terkejut karena bahagia. Tanpa perintah, Kristin langsung meraih tubuh Aldo, memeluknya. “Ini beneran Kristin?” Tanya Aldo memastikan.
“Iya, ini aku, Do. Seneng bisa lihat kamu udah bangun” ucap Kristin.
“i.. iya, aku juga seneng lihat kamu udah disini”

Kedatangan Kristin cukup membuat banyak perubahan. Keadaan Aldo makin membaik. Memang tidak sia-sia Kristin kembali ke Bogor. Selama masa penyembuhan, Kristin selalu menemani Aldo kemanapun dia pergi. Mereka kembali seperti dulu.
“Tin, kamu mau janji sesuatu gak ke aku?” Tanya Aldo.
“Mmm… boleh aja. Emang apaan?” Tanya Kristin penasaran.
“Gampang kok. Kamu tinggal temenin aku aja. Sampe besok, ya?” jelasnya.
“Ooh… Cuma itu. Ngapain pake janji segala, gak perlu kamu minta juga aku udah disini kan?” kata Kristin.
“Iya, percaya deh”

Dua hari setelahnya, saat Kristin sedang bersiap ke rumah sakit untuk menjenguk Aldo. Ponselnya berdering, Aldo meneleponnya. Aldo meminta untuk segera ke sana, jadi dengan segera Kristin berangkat.

Sesampainya di sana, Kristin langsung masuk ke kamar rawat Aldo. Ia mendapatinya sedang berkutat dengan Blackberry Bold lamanya.
“Hai, Do!” sapa Kristin
“Hai! Lama banget sih, udah aku tungguin tau” balas Aldo.
“Emang ada apa kamu minta aku cepet-cepet dateng? Ada yang penting?” tanya Kristin penasaran.
“Ada, eh enggak sih… aku kangen kamu aja” jawabnya sambil bercanda.
“Idiiihhh dasar, aku kirain apa. Ya gak papa sih lagian juga aku males di rumah terus… hehehehe” kata Kristin.
Sebenarnya, alasan Aldo meminta Kristin untuk datang lebih cepat, karena Aldo ingin mengutarakan sesuatu pada Kristin. Rasa yang telah Ia pendam semenjak SMP dulu. Karena selalu pergi bersama, Kristin adalah belahan jiwa baginya. Lama hening akhirnya Aldo membuka kembali pembicaraan.
“Tin, aku boleh bilang sesuatu gak?” tanya Aldo.
“Apaan?”
“Kamu mau ya temenin aku lebih lama lagi.” pinta Aldo.
“Nnnngg…. maksudnya apa ya? Sekarang kan aku udah nemenin kamu selama aku liburan.” Jelas Kristin, tapi dirinya masih belum bisa mencerna apa yang dikatakan Aldo.
“Kamu nggak inget pernah ninggalin aku?” tambah Aldo.
“Eh, iya. Maafin aku soal itu. Sebenernya, aku juga gak berniat untuk sekolah di Jakarta. Tapi sekolah sana yang ngundang aku. Sayang kan kalo gak diambil, SMP kita bakal kena blacklist kalo aku gak ngambil undangan itu dulu.” jelas Kristin.
“Tapi kan…”
“Udah, Do. Masalah buruk gak perlu diungkit lagi. Sekarang kan aku udah di sini. Udah balik nemenin kamu, ok?” sela Kristin.
“Hmm… makasih ya, Tin” ucap Aldo.
“Aku sayang sama kamu”.
“Aku juga, Do” balas Kristin sambil mengeluarkan sesuatu dari tas selempangnya. “Do kamu masih inget ini gak?” tanya Kristin sambil menunjukkan tape recorder yag dibawanya dari rumah Aldo. “Lho? Kok di kamu? Kamu habis dari rumah aku apa?” tanya Aldo bingung. “Hahaha iya, waktu kapan ya, pas aku baru dateng dari Jakarta. Aku gak langsung ke rumah. Tapi ke rumahmu dulu. Niatnya mau nyariin kamu, sampe masuk-masuk ke kamarmu. Eh nemuin artefak ini nggletak aja di meja belajarmu.” jelas Kristin.
“Yeee dasar tukang kutil. Ngomong dulu kali kalo mau ngambil” canda Aldo.
“Orang aku aja gak tau kamu ada disini, hahaha” balas Kristin.
Mereka asyik sekali bersenda gurau. Seperti layaknya pertemuan akan dua sahabat karib yang terpisah lama. Mungkin bukan sahabat karib lagi, karena di antara mereka berdua, hadir suatu rasa yang lebih kuat menyatukan mereka.
“Nggg… aku ngantuk nih, Tin. Berat banget rasanya nih mata” ucap Aldo.
“Ya udah tinggal tidur aja, aku disini kok.” jawab Kristin.
“Eh, pegangin dong. Titip.” kata Aldo sambil menyodorkan kalung rosario yang dipakainya sejak kemarin. “Kamu boleh pake”
“Iya, sini. -mengambil kalung Aldo- oh iya aku mau dengerin rekaman-rekaman aneh kita yang dulu, kamu mau dengerin?” tawar Kristin.
“Boleh, lumayan lah, pengantar tidur.” jawab Aldo sambil tersenyum.
Ditekannya tombol play oleh Kristin.

Hai haaaiii… Aldo disini, di tape recorder baru yang aku beli, nnnggg… bingung mau rekam apaan, heheheh. Tin ngomong nih.
Eh apaan sih… eh eh iya. errr… aku Kristin. Salam kenal.
Jiaahh, salam kenal. Kayak kaset ini mau dimasukin tipi aja.
Ya bodo amat, orang aku gak tau mesti bilang apa
Hahahaha dasar tengil
Kamu tuh genit
……
Laaahh ngapain sih Do. Orang aku baru dateng juga, mau main ngeloyor aja.
Aku mau ke warung sebelah. Beli kelereng.
Umur woy umur…
Yang penting gak malu maluin orang hahaha
Yeeee dasar… lho? eh ini masih nyala ya? Dasar Aldo… pikun.
……
Yeeeeeiii kita lulus wooohooo!! Makasih Tuhan… gak sia-sia kita belajar kayak burung hantu.
Mataku panda nih Do. Padahal udah jauh dari UN masih gini.
Makanya jangan kepinteran.
Sembarangan kamu ah
Yeee becanda kali Tin, eh kita SMA bareng lagi gak ya?
Tau.. aku sih penginnya masih di Bogor aja. Siapa tau kalo bareng lagi sama kamu kan bisa ada yang nemenin belajar.
Udah pinter kali kamu tuh, ngapain belajar.
Huuuh dasar
Pokoknya aku mau bareng lagi sama Kristin. Sampe tua juga gak papa.
Emangnya aku babysittermu apa… tapi boleh sih ahahha
Kan, mana ada yang gak mau sama cowok ganteng kayak aku
Gombal, hahaha
……

Seiring dengan kaset yang sudah tidak mengeluarkan suara lagi. Aldo pun ikut tertidur. Kristin menghela napas panjang, dimasukkannya kembali tape recorder ke dalam tas. Kembali ia menatap Aldo yang sudah tertidur. Tidurnya beda sekali, tenang, damai. Wajahnya kelihatan lebih bercahaya. Kristin meraih tangan Aldo, dingin. Kristin mulai khawatir, ia memeriksa keadaan, dada Aldo tidak kembang kempis, tidak ada lagi napas hangat keluar dari lubang hidungnya. Kristin jatuh berlutut di samping badan yang terbujur kaku seperti kristal yang abadi.

Siapa yang menyangka kalau malaikat sudah mengantar Aldo ke atas sana. Di umur 17 tahun, yang masih memiliki segudang cita-cita dan keinginan. Padahal ia baru saja meminta Kristin untuk menemaninya hingga hari ini. Namun sayang, Aldo sudah tidak bisa mendapati Kristin menemaninya lebih lama. Begitu juga Kristin. Sekarang Aldo sudah tertidur, entah kapan dan siapa yang akan membangunkannya.

Gerimis menyirami tanah merah dan nisan yang berdiri tegak, seakan bumi ikut menyesali kepergian Aldo. Namun, siapa yang bisa dan berani melawan takdir?

Foto Aldo dan tape recorder ada di tangan Kristin. Gerbong yang berjalan bak angin membawanya pergi kembali ke Jakarta. Kristin masih bisa bersyukur, dapat dipertemukan dengan Aldo sampai akhir waktunya. Kenangan mereka telah kembali dinyalakan, sampai sirna.

Cerpen Karangan: Muhammad Reza Aldian
Facebook: Rezha Aldian
Muhammad Reza Aldian
15 Desember 1996
SMAN 1 PURWOKERTO, Jawa Tengah

Cerpen Sampai Sirna merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Beside You

Oleh:
Rere tahu jika Rere sudah lama dengan prianya yaitu Vito tapi entah kenapa ada saja terselimut keraguan dari Rere kalau Vito tidak akan menikah dengan Rere karena sekali pun

Skuad Para Pemimpi

Oleh:
Setiap kejadian hidup akan tersimpan secara sistematis di dalam memori otak dan hal-hal kecil bisa memicu kenangan itu. Kenangan adalah sesuatu yang menyenangkan, bagian-bagian kecil dari masa lalu. Kadang

The Gift

Oleh:
Pagi ini aku terbangun dari fantasi malamku, sejenak aku terdiam mencoba mengingat kembali alur demi alur cerita di dalam mimpiku tadi malam. Dan sampailah aku kepada satu bagian mimpi

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Sampai Sirna”

  1. salsabillah shafa zhafirah says:

    Sedih Gua Liat Nya :'(

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *