Sang Penyemangat

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Perpisahan
Lolos moderasi pada: 7 August 2019

Suhu Malam sudah terlalu dingin untuk dirasakan, kulitku sendiri yang bisa mengerti, dan dia mulai membisikannya ke seluruh bagian tubuhku. Udaranya sangat tak nyaman. Mungkin memang tertidur adalah satu-satunya jalan namun aku tak punya sandaran, bahkan rasa kantuk pun aku tak punya. disela-sela lamunanku aku terpikir dengan kejadian sore tadi yang terus terbesit dalam pikiranku.

Rabu, 16:00, 11 april 2017
Sore itu tepat di hadapanku telah duduk seorang wanita yang selama dua tahun ini kuanggap sebagai bidadari dalam hidupku, kepalanya tertunduk diiringi linangan air mata yang membasahi wajah teduhnya, dia menyodorkan secarik surat. Dan langsung bangkit, ia sempat memelukku sejenak dalam situasiku yang belum benar-benar mengerti apa maksud dari pemberian surat ini.

Iya…
Nama wanita tersebut adalah nur zahra, biasa aku memanggilnya dengan zahra. Sosok wanita yang telah mengisi penuh hatiku ini, dan pada hari ini tepat di hari dan tempat ini menjadi saksi bisu sebuah kisah cinta dan perjuangan seorang lelaki demi menemukan tempat sandaran yang bisa membuatnya nyaman dan bahagia bila berada di sisinya. Hubungan kami telah memasuki tahun kedua tepat hari ini, namun aku belum benar-benar mengerti dengan kejadian sore tadi. Tanganku masih terus memegangi surat pemberian zahra yang masih belum berani aku membacanya. Akhirnya aku terlelap dalam tidurku dengan banyaknya pertanyaan tentang zahra.

Mentari pagi terbit dari ufuk timur dan menembus jendela kamar tidurku. Tidak seperti biasanya hanya ada satu pemberitahuan di handphonku dan itu dari temanku yang mengingatkanku untuk mengisi absensinya, biasa penyakit mahasiswa. Biasanya zahra selalu meneleponku pagi-pagi sekali hanya untuk mengingatkanku untuk sarapan, dengan kata-katanya yang sudah kuhafal. “selamat pagi haikal sayang jangan lupa sarapan dan jangan sampai telat ke kampus ya” namun hari ini tidak ada ucapan penyemangat bagiku di pagi ini. Kulirik jam dinding di kamarku yang telah menunjukkan pukul delapan yang tandanya sejam lagi aku harus sudah berada di kampus. Aku tidak ingin mendengar ocehan disertai ceramahnya pak yasir yang merupakan dosen terkiler di kampusku.

Setelah jam kuliahku selesai, aku langsung bergegas menuju ke rumahnya zahra. Jarak dari kampusku ke rumah zahra dapat di tempuh dalam waktu 15 menit dengan kecepatan normal, dalam perjalanan pikiranku selalu dipenuhi tanda tanya apa yang terjadi dengan kekasihku zahra, setibanya ku di rumah zahra, keadaan rumahnya sepi tak terlihat mobil milik ayah zahra yang biasa terparkir di halaman rumah, tapi mungkin saja ayah zahra sedang tidak berada di rumah. Kucoba ucapkan salam sampai tiga kali tapi tak ada satu orang pun yang keluar dari rumahnya, namun hanya ada tetangganya yang keluar dan menghampiriku lalu mengatakan “maaf mas, keluarga pak muzammil sudah pindah sejak kemarin”
Seketika hati ini bagai terkena sambaran petir, kaget bercampur dengan kesedihan, disaat itulah terbesit di ingatanku dengan surat pemberian dari zahra kemarin sore. Kuucapkan terimakasih kepada bapak tersebut dan langsung menuju ke rumahku. Dalam perjalanan pulang air mataku mulai menetes aku tidak bisa menjalani kehidupan ini tanpa hadirnya zahra di sampingku, “kemana kamu zahra sang penyemangat hidupku ini” ucapku lirih.

Langkahku cepat menelusuri rumah, adikku yang sedang duduk di ruang keluarga tampak heran melihat kelakuan sang kakak yang tampak gelisah dan tergesa-gesa menuju kamarnya,
Kugapai surat pemberian zahra yang semalam kuletakkan di atas tumpukan buku-buku bacaanku. Tanganku ragu untuk membukanya, tapi semua jawaban dari kejadian menghilangnya jejak zahra ada di dalamnya. Kucoba kuatkan hatiku untuk membaca surat pemberian zahra.

Dear haikal

Aku sayang kamu, bahkan sangat menyayangimu, aku tak sanggup untuk mengatakannya padamu, dan satu hal yang harus kamu tau tanganku berat ketika harus menulis setiap kata di surat ini, terlalu banyak air mata di setiap katanya.

Haikal aku harus ikut dengan keluargaku yang pindah ke jerman.

Jaga dirimu baik-baik, jangan malas pergi ke kampus ya.

Salam cinta

Zahra Sang penyemangat

Cerpen Karangan: Rachmad Maulana
Blog: Rachmadsangpencerah.blogspot.co.id

Cerpen Sang Penyemangat merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kembali

Oleh:
Kata kembali sering kudengar di mana-mana, di tempat-tempat yang kusinggahi. Bertahun-tahun aku menunggunya di sini berharap dia kembali, kekasihku. Tahun demi tahun, malam berganti malam bagai kertas yang mengusam,

l Had To Choose Who

Oleh:
Akhir-akhir ini si ganteng bersaudara, tak lain Justin Bieber dan adeknya Luke hemmings yang famous banget di Heatman University tempat aku menuntut ilmu sekaligus jalan untuk menyongsong masa depan

Kesedihanku

Oleh:
Aku duduk dibangku kelas. Diam membisu seperti biasa. Menatap satu persatu teman yang sedang asyik ngobrol dengan tatapan semu. Biasanya aku, Andika, Ifan, dan Rafli akan bercerita tentang hal-hal

Tuhan Jagakan Pelangiku (Part 1)

Oleh:
Tentang gelembung-gelembung bening yang bertebaran dengan indahnya menghiasi langit senja. Seorang gadis remaja berkerudung abu abu terlihat asyik mengagumi Mahakarya Tuhan, selepas rintik hujan, terlukis indah warna pelangi, tercium

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *