Sang Romeo Salma

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Penantian, Cerpen Slice Of Life
Lolos moderasi pada: 18 May 2018

Siang itu, hujan turun begitu deras. Sederas air mata yang jatuh dari pelupuk mataku, sepuluh menit lalu, mungkin? …hhh, dengan tegar, aku menarik napas dalam-dalam sambil memejamkan mata. Kunikmati aroma hujan yang sangat menusuk hidung karena ciri khasnya, bau tanah basah, bau daun basah, dan bau aspal basah. Kuhirup aromanya dalam-dalam, sebisa mungkin, sampai air mataku berjatuhan. Sekarang, bukan lagi bau tanah basah, atau pun aspal basah, kali ini, bau bedak luntur. Untuk pertama kalinya, aku sudah tidak peduli lagi akan penampilan wajahku karena air mata sialan ini.

Sudah satu jam aku menunggu. Tidak. Bahkan hampir dua jam. Oh, tidak juga. Perjalananku dari rumah sudah memakan waktu hampir satu jam. Jadi, aku sudah menunggu hampir tiga jam. Ke mana dia? Yang bilang ingin katakan sesuatu. Yang bilang ini adalah hal serius. Dia butuh aku. Tapi kenapa dia tidak kunjung datang? Hati ini terasa sangat sakit. Bahkan untuk bernapas, rasanya seperti tercekik. Lalu hujan turun semakin deras. Seolah berlomba dengan suara tangisku. Lalu, kulihat bayanganku di atas air yang menggenang. Sungguh menyedihkan melihat wajahku sendiri. Baju seragam yang hampir lusuh, sepatu yang terlihat kusam, serta tangan ini, yang menggenggam payung warna pink muda.

Sejak kecil, Salma sangat takut akan suara ledakkan, seperti petir, kembang api dan sebagainya. Jika hujan datang, atau pada saat malam-malam dimana kembang api bertebaran, Salma mengurung diri. Karena itulah, di rumahnya terdapat studio kecil kedap suara yang memang dikhususkan hanya untuk dirinya. Tapi hari ini, benar-benar berbeda. Entah sudah berapa jam ia berdiri di sana. Entah pula berapa kali petir sudah bersuara. Hari ini, Salma berubah. Bahkan ia sudah tidak mengenali dirinya sendiri.

Dengan tatapan sendu, dan secercah harapan dalam hatinya, berharap sang romeo akan datang, ia melepas ikat tali di rambutnya, lalu mulai melangkahkan kaki, berjalan di tengah hujan tanpa tau harus berbuat apa. Ya, itulah Salma. Yang sekarang sedang menikmati tangisnya bersama air hujan bercampur air mata. Setidaknya ini lebih baik. Hujan dapat sembunyikan sedihnya. Salma mudah sekali terbawa suasana. Saat ini ia bahkan berlari-lari kecil di jalanan. Tanpa menghiraukan tubuhnya yang mulai basah kuyup. Tasnya, seragam sekolahnya, sepatunya, sampai kaus kakinya, benar-benar sudah basah tanpa sisa. Indahnya, petir sudah mulai tenang. Setenang suasana yang ia rasakan saat ini. Tidak, hatinya tidak tenang. Karena sang romeo belum kunjung datang. Lalu ia berlari kecil lagi, bermain-main dengan air hujan. Sampai petir yang tadinya tenang, kembali berteriak. Mengejutkan dirinya sampai terjatuh.
Saat itulah, ia menangis lagi, sekencang-kencang ia bisa lakukan.

Ke mana sang romeo? Janji untuk bertemu tiga jam lalu tapi tak kunjung datang. Di mana sang romeo? Berkata ingin sampaikan sesuatu tapi tak kunjung terlihat.

Cerpen Karangan: Kinaryochi W
Instagram: kinarych

Cerpen Sang Romeo Salma merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kesetiaan Si Mantan Pacar

Oleh:
Perkenalkan, namaku Viona, umur ku mau beranjak 17 tahun. Aku terlahir di dalam keluarga yang cukup kaya dan terpandang, sehingga orang tuaku disegani hampir semua orang. Menurutku materi itu

72 Jam Meraih Cinta

Oleh:
Semenjak pertemuan itu, Riggo si pria tampan menjadi seorang pelamun tak ramah seperti biasa bawaannya menyendiri. Pada waktu 20 jam selepas pulang kerja, berjalan dalam keadaan melamun di pinggir

Kamu

Oleh:
Mungkin, aku memang bukan yang terbaik untukmu —bukan sama sekali. Tetapi aku bersikeras untuk mampu mempertahankanmu dalam mengoyakan masa depan kita. Menjiwai tanpa batas naluri keingkaran yang kita miliki.

Getaran Apakah ini?

Oleh:
Kamis siang di sekolah saat itu sedang diguyur hujan deras. Ketika bel pulang sekolah berbunyi, aku yang ingin segera pulang dengan terpaksa menunggu sejenak di sekolah hingga hujannya mereda.

Bukan Punguk Yang Merindukan Rembulan

Oleh:
Satu tahun sudah berlalu, tapi Ipung masih begini saja. Masih memandanginya dari jauh tanpa kata. Mendekat pun Ipung tak berani. Dia terlalu tinggi untuk digapai, begitu pikir Ipung murung.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *