Saranghae Appa (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Keluarga, Cerpen Korea, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 29 May 2013

“Hidup sendirian, inilah yang aku rasakan. Gadis umur 16 tahun yang baru saja kehilangan Appanya. Sebelumnya, hidupku selalu bergantung padanya. Jika aku bisa menarik kembali kata-kata terakhirku padanya, akan ku ganti dengan ‘Saranghae Appa.’ ”

Suasana kamar Appa pagi ini tampak begitu berbeda. Keadaan rumahpun sama. Biasanya setiap pagi akan tercium bau Kimchi. Mungkin mulai hari ini tak akan ada aroma Kimchi buatan Appa lagi.
“Appa..” Aku mendesah sendiri melihat rumah yang berantakan. Aku tak pernah membantu Appa membereskan pekerjaan rumah. Kegiatan sehari-hariku hanyalah sekolah, makan dan bermain. Tak pernah aku memikirkan sedikitpun tentang pekerjaan. Kurang apa Appa padaku sehingga aku membencinya?
“Srett” Ku dengar pintu di geser. Siapa yang datang?
“Hyun-Ae, kau mau sekolah?” Goo-Hyung datang dari balik pintu. Aku masih duduk terdiam melihat pemandangan rumahku yang begitu buruk.
“Hyun-Ae, akan beginikah keadaan rumahmu? Sampai kapan rumahmu seperti ini? Sudah 3 hari.” Gumamnya lagi.
“Aku tak akan sekolah hari ini. Aku akan membereskan rumah.” Ucapku.
Ku mulai bangun dari dudukku dan mulai membereskan kamarku sendiri yang terlihat tak baik di pandang. Sementara Goo-Hyung masih berdiri menatapku.
“Kau hanya berdiri saja disana? Tak akan sekolah?” Ujarku padanya.
“Shireo (Aku tak mau) jika kau tak akan sekolah juga. Aku akan membantumu. Membereskan rumah ini sendirian, sangat memprihatinkan.”

“Kau masih punya simpanan uang?” Gumam Goo-Hyun. Aku hanya terdiam melihat isi dompetku yang sudah menipis. Aku bingung, apakah aku harus bekerja paruh waktu demi perutku?
“Sudahlah kau tak perlu cemas. Jika kau tak punya uang lagi, kau bisa minta bantuanku.” Ucapnya.
“Jeongmal (Benarkah)?” Gumamku meyakinkannya.
“Ne (Ya).”
“Gomawo (Terimakasih), tapi.. Shireo. Aku tak mau membebankanmu.” Ujarku. Goo-Hyung hanya menatapku kosong. Aku tak mau membuat orang yang satu-satunya ku punya ini terbebani olehku.
“Lalu kau akan apa? Bekerja? Kau masih kecil.”
“Aku akan bekerja. Lagipula aku sudah berumur 16 tahun. Aku akan lebih dewasa lagi.” Ujarku pada Goo-Hyung. Dia tersenyum, namun dia juga terlihat sedikit cemas.
“Hajiman (tapi), tak mudah untuk mendapatkan pekerjaan. Eotteokhae (Bagaimana) ini?”
“Kau tak perlu berfikir apakah aku akan dapat pekerjaan. Berfikir bahwa aku dapat untuk bekerja.” Gumamku padanya. Dia sedikit berfikir. Aku hanya menatapnya heran.
“Aku masih cemas. Kau masih anak kelas 2 SMA. Belum begitu dewasa untuk hal ini.” Ucapnya lagi sedikit murung.
“Sudahlah, Gwaenchanayo (Tidak apa-apa), usia bukanlah faktor yang mempengaruhi pekerjaan. Tapi keterampilan.”
“Tapi ku rasa, kau tak begitu terampil dalam pekerjaan.” Ledeknya padaku. Tapi kurasa, memang iya.
“Betul juga. Apa ya keterampilanku? Selama ini rasanya aku tak pernah bertanya pada Appa bagaimana cara memasak.” Keluhku. Ahh..
“Ya sudah, kau belajar saja dari sekarang. Mulai dari pelayan toko, restoran dan lain-lain. Yang mudah-mudah saja.” Ujarnya. Aku sedikit berfikir. Akan adakah orang yang mau memperkerjakanku di tempatnya?
“Eotteokhae (Bagaimana)?” Ucapnya lagi.
“Idemu tidak buruk. Kau bisa kan mengajarkanku?”

Cuaca siang ini cukup cerah. Walau sedikit gerah dan lelah menurutku. Tentu saja lelah, pulang sekolah berjalan kaki sangat lelah. Mengingat antara rumah dan sekolahku 3 km. Waww..
Sejenak, ku lihat-lihat toko sekitar yang berjajar dijalanan. Kalau saja ada toko yang membutuhkan pekerja baru. Hihihih..
Sudah 3 kali aku di tolak, semoga sekarang aku bisa di terima.
Sambil melihat-lihat, ternyata ada, emm bagus ini.
Mulaiku masuk ke toko itu.
“Anyyeong haseyo (hallo).” Sapaku pada pemilik toko yang sedang sibuk membersihkan meja dengan kemocengnya. Tiba-tiba dia langsung tersenyum melihatku.
“Anyyeong haseyo, gadis yang cantik. Kau mau makan disini?” Tanyanya manis padaku. Aku hanya tersenyum kecil.
“Ani (Tidak), Gamsahamnida (Terimakasih). Saya hanya ingin melamar kerja disini.” Jelasku padanya.
“Oh jadi begitu. Tapi, kau terlihat masih bersekolah.” Ujarnya lagi.
“Saya memang masih duduk di kelas 2 SMA.”
“Hmm, siapa namamu?”
“Jigeum Park Hyun-Ae imnida (Nama saya Park Hyun-Ae).” Gumamku padanya. Dia hanya tersenyum.
“Kau masih kecil. Mengapa kau bekerja? Orang tuamu kemana?” Tanyanya padaku.
“Eommaku sudah meninggal sejak aku kecil. Dan Appaku baru saja meninggal seminggu yang lalu. Aku hidup sendirian. Jadi aku harus mencari pekerjaan. Kau akan menerimaku kan walau aku hanya bekerja paruh waktu? Setelah pulang sekolah aku baru bisa bekerja. Tak apakan?” Tanyaku padanya. Diapun tersenyum manis padaku.
“Gwaenchanayo, aku tahu. Coba kau pakai celemek ini. Lalu berikan makanan itu pada pelanggan disana.” Perintahnya sambil menunjuk seseorang disana. Aku langsung tersenyum sambil mengangguk dan membungkuk. Lalu mulai ku simpan tasku dan mengambil nampan berisi Bulgogi (Daging sapi di potong kecil-kecil lalu dicelup kecap asin dan saus bawang putih) itu. Rasanya mengantarkan makanan ini membuat perutku berbisik-bisik. Hanya bisa menelan ludah saja kerjaku.
Mulaiku sondorkan mangkuk berisi Bulgogi itu kepada mereka.
“Selamat makan.” Aku membungkuk lalu mendekap nampan yang ku pegang lalu pergi menuju dekat casir. Huhh.. Baru kali pertamanya aku melakukan hal ini. Terasa tegang. Benar. Walau rasanya aku ingin sekali menyantap Bulgogi itu. Tapi aku rasa kali ini langsung akan di pecat aku.
“Hey, kau melamun saja nak. Kau bisa membersih dan membereskan meja-meja kosong itu.” Ujarnya mengagetkan lamunanku tentang Bulgogi itu. Huhh..
“Eh, Ne. Arraseo (Baiklah) Nyonya.”

“Wah, kau hebat sekali. Sekarang kau sudah bisa bekerja.” Goo-Hyung memuji kehebatanku ini. Hhahaha ada-ada saja.
“Tentu saja, kau tahu? Nyonya pemilik restoran itu sangat baik padaku. Dia mengerti apa yang aku rasakan. Andai saja aku punya Eomma seperti itu.” Gumamku padanya. Dia hanya mengerutkan sedikit dahinya.
“Hey kau ini, kau bilang pada Appamu kau tak ingin punya Eomma lagi.”Ujarnya. Benar juga. Aku bilang seperti itu pada Appa. Appa..
“Sudahlah, kau membuatku ingat pada Appa. Tapi, bisa di bilang lelah juga ya bekerja. Appa mungkin seperti ini. Mati-matian bekerja demi aku. Aku memang anak yang bodoh. Tak mau aku punya anak seperti aku. Tidak tahu terimakasih.” Lirihku menyalahkan diriku sendiri. Goo-Hyung hanya menatapku sendu. Aku masih terdiam menyesal atas segala yang ku lakukan pada Appa hari itu. Aku menyesal …
“Sudah Hyun-Ae, aku akan menginap dirumahmu malam ini.” Ucapnya sambil tersenyum padaku. Akupun tersenyum mendengar ucapannya.
“Mari kita lakukan pesta bantal.”

Sudah satu minggu aku bekerja di restoran itu. Rasanya nyaman sekali. Walau aku hanya bekerja dari pukul 11 sampai pukul 7 malam.
“Sreett.”
“Anyyeong haseyo.” Aku menunduk kepada seseorang disana sambil tersenyum. Terlihat dia cuek-cuek saja terhadapku. Siapa dia ya? Mengapa juga tak ada Nyonya Ri-Chan disini?
“Hey kau! Kau mau berdiri atau makan!” Tiba-tiba dia membentakku. Menyebalkan sekali pria ini.
“Mianhae, aku hanya mencari Nyonya Ri-Chan, kemana dia hari ini?” Tanyaku dengan wajah polosku.
“Oh jadi kau gadis yang dibicarakan Ajumma. Dia pergi ke Jepang. Waeyo?”
“Ani, aku hanya..” Belum sempat aku selesai bicara dia sudah menyela.
“Sudah jangan banyak bicara! Kerja!” Bentaknya padaku. Ihh menyebalkan sekali Namja (pria) ini. Belum kenal juga sudah jutek begitu. Menjengkelkan.
‘Kenapa Nyonya Ri-Chan punya keponakan seperti dia, padahal Nyonya Ri-Chan baik. Berbeda dengannya. ‘ Bisikku dalam hati sambil mengelap meja di depanku. Sesekali ku pandangi pria itu, lalu mengembalikan pandanganku ke meja. Di lihat Namja itu lucu juga, tapi terlihat sudah berumuran.
Ketika aku memperhatikannya, tiba-tiba saja dia melirikku heran. OMO (OMG), Eotteokhae (Bagaimana)?
Langsungku palingkan wajah tak memandangnya lagi. Tiba-tiba dia menghampiriku. Dag dig dug.. Apa yang akan dia lakukan?
Dia duduk di sebelahku lalu memandangiku. Aduh, tak enak sekali aku. Dia terus memandangiku. Waeyo dia?
Terpaksa sekali aku memalingkan wajahku padanya, ku lihat dia memasang senyum. Untung saja dia tak marah padaku. Aku membalas senyumnya, tapi kini dia malah mengerutkan senyumnya.
“Plakk”
“Kau ini mau bekerja atau memandangi orang lain! Kerja yang benar! Kamu di gaji disini!” Dia membentak sekaligus menepuk keras punggungku. Rasanya sedikit sakit. Aku hanya membungkuk padanya.
“Mianhae, mianhae, tak akan ku ulangi.” Ucapku. Dia hanya memandangku ketus lalu beranjak menuju ruang pribadinya. Aku terus menatapnya benci sampai dia hilang di balik pintu.
‘Dasar pria kejam!’

Ku berjalan lunglai menuju rumah. Aku sangat lelah. Di tambah Namja menyebalkan tadi, huhhh..
Hari ini benar-benar hari ke sialanku.
Ku lihat, pagar rumahku sedikit terlihat. Tinggal beberapa puluh meter lagi. Ingin rasanya cepat sampai ke rumah dan langsung ku hempaskan tubuh ke kasurku. Rasanya enak.
Tapi tunggu, ada orang di depan rumahku? Siapa dia? Sepertinya dia.. Tunggu, dia? Ya, dia Nam-Bi. Pacar Appa dulu.
Ku lihat dia membawa jinjingan putih yang isinya cukup penuh. Entah berapa lama dia mematung disana? Sepertinya sudah cukup lama.
Dia menunduk lemas. Mungkin mulai bosan. Seketika dia melihatku, wajah kusamnya berubah ceria. Dia tersenyum ke arahku, namun aku hanya memandangnya jutek dan membuka pintu gerbang rumahku. Terlihat dia membuntutiku. Aku hanya tetap diam lalu merogoh kunci di sakuku dan mulai memasukannya ke lobang dipintuku. Terlihat dia terdiam dibelakangku. Aku tak menghiraukannya.
Seketika aku masuk, diapun ikut masuk.
“Apakah kau yang membereskan rumah ini? Bahkan rumah ini terlihat lebih rapi dari sebelumnya.” Ucapnya manis padaku. Aku memalingkan wajah dengan ketus ke arahnya. Dia bilang lebih rapi dari sebelumnya? Kapan dia datang kesini?
“Kau bilang lebih rapi dari sebelumnya? Kapan kau datang ke rumahku?”
“Aku sering mendatangi rumah ini, kau saja yang tak tahu.” Dia berucap seraya tersenyum. Melihat senyumnya rasanya mual sekali.
“Kau datang ke rumahku tanpa pengetahuanku? Itukah sopan santun tamu yang baik?” Ujarku sambil menunjukan ekspresi benci padanya.
“Masihkah kau menganggap aku sebagai orang lain? Aku sudah menganggapmu sebagai anakku Hyun-Ae.”
“Anakmu? Aku tak akan pernah mempunyai Eomma lagi. Dan asal kau tahu aku tak pernah menyukaimu. Aku membencimu! Kau bisa mendengar itu? Aku harap iya, agar aku tak akan mengulanginya lagi!” Sahutku sambil pergi meninggalkannya menuju dapur. Aku benci Yeoja itu.
“Hyun-Ae, kau sudah makan? Aku khawatir denganmu. Jika belum, aku membawakanmu bahan makanan. Kau bisa memasaknya kan? Jika tak, aku bisa memasakannya untukmu.” Diapun pergi keluar dan menyimpan bungkusan putih itu di atas meja makan. Aku benar-benar benci padanya.
Segera ku ambil bungkusan itu, lalu beranjak keluar.
“Saya bukan pengemis Nyonya, jadi mohon. Saya bisa mencari uang dan makanan sendiri tanpa bantuan Nyonya. Jadi Nyonya tak usah repot-repot membawakan aku makanan ini!” Ujarku seraya menjatuhkan bungkusan itu di depan pintu rumahku.
“Jadi kau bekerja? Karena itu kau baru pulang? Mengapa kau melakukan ini? Aku bisa membiayaimu.”
“Saya bilang ‘SAYA BUKAN PENGEMIS’. Saya sudah dewasa. Umur saya sudah cukup. Saya berumur 17 tahun. Mohon Nyonya pergi dan bawa bungkusan ini.” Aku meninggikan nada suaraku. Dia terlihat cemas.
“Aku mohon terima bungkusan itu. Aku khawatir kau tak bisa makan. Aku mohon Hyun-Ae.” Dia memelas. Aku tak pernah merasa kasihan padanya.
“Aku akan membawanya lalu membuangnya.” Akupun mengambil bungkusan itu dan pergi ke belakang. Aku akan membuangnya.
“Hyun-Ae, Jangan buang Hyun-Ae. Aku mohon.” Lirihnya sambil membungkuk dan bersujud di depanku. Apakah aku akan tetap seegois ini?
“Arraseo (Aku mengerti), aku akan menerimanya asalkan kau pergi dari sini. Kajja (Pergi)!” Mendengar ucapanku itu, tampaknya seulas senyum terukir diwajahnya. Dia langsung berdiri dan membungkuk didepanku.
“Baiklah aku akan pergi.”

Malam ini aku tak bisa tidur. Hujan dan halilintar masih menderu-deru di ujung kupingku. Biasanya malam hujan-hujan begini Appa akan membuatkan sup daging sapi. Aku merindukannya. Apakah aku masih bisa melakukannya berdua? Mungkin bisa, tapi tanpa kata berdua. Hmm..
Masih terdengar gemericik air gerimis malam ini. Halilintar sudah tak dapat ku dengar lagi. Mungkin sudah berlari ke tempat lain dan memahami malam ini akan semakin menyedihkan bagiku dengan kehadirannya.
Ku tatap jam dinding itu, jarum panjangnya menunjukan angka 4 dan jarum pendeknya menunjukan angka 10. Hampir pukul setengah sebelas malam. Aku belum bisa juga merapatkan mataku dan beranjak menuju alam mimpi. Aku rindu buaian Appa. Aku rindu nyanyian Appa.
“Jreng.. Jreng.. Jreng..” Tiba-tiba aku mendengar suara petikan gitar dari kamar Appa. Tunggu petikan gitar? Siapa yang memainkan gitar malam ini?
Bukankah dirumahku hanya ada aku sendirian?
Beribu pertanyaan berkeliaraan di otakku. Mereka tampak berlalu lalang dan membuatku bingung plus heran.
“Gom Semariga
Han chibe isseo
Appa gom
Eomma gom
Aegi gom
Appa gomeun ttung ttung hae
Eomma gomeun nalshin nae
Aegi gomeun neomu gwieowo
Eusseuk eusseuk jalhan da”
“Gom Se Ma Ri?” Aku mendesah sendiri mendengar lagu itu. Lagu Gom Se Ma Ri. Lagu yang artinya 3 beruang. Beruang itu adalah seorang Appa, Eomma dan Aegi (Bayi). Sang Appa gemuk sekali. Sang Eomma langsing. Dan bayi sangat lucu. Mereka hidup serumah dan bahagia. Bahagia.
“Gom Semariga..” Lagi-lagi aku mendengar kembali alunan lagu itu. Aku terheran. Orang yang menyanyikan lagu itu adalah seorang Yeoja dan Namja. Siapa dia? Hmm satu yang bisa menjawabnya. Cari asal suara itu.

Mulai ku cari dimana asal suara itu. Aku mulai menghampiri pintu kamar Appa. Perlahan aku mulai meletakan kupingku dibenda panjang berwarna putih itu. Aku jelas bisa mendengar suara nyanyian dari sana.
Jelas sekali. Mulai aku membuka pintu kamar Appa perlahan. Seketika aku buka, aku melihat layar putih disana. Terlihat disana seperti sebuah drama kehidupanku yang diputar dilayar ini. Aku benar-benar dapat melihat sebuah mobil melaju kencang dengan didalamnya seorang pria dan wanita muda dengan seorang anak perempuan yang terduduk dipangkuannya. Apakah ini masa depanku atau masa laluku?
Aku dapat melihat mereka menyanyikan lagu Gom Se Ma Ri dengan riang. Aku sedikit tersenyum melihatnya. Mereka bernyanyi sambil bertepuk tangan. Ku lihat anak itu terus bernyanyi dan menggerak-gerakkan kepalanya ke kiri dan ke kanan. Sungguh keluarga yang tepat dengan lagu yang dinyanyikannya. Aku tersenyum semakin lebar. Aku tertawa-tawa melihat tingkah lucu anak itu yang sungguh menggemaskan. Ku lihat, ketika mobil sedang enak-enaknya melaju, tiba-tiba seorang anak laki-laki berlari sambil membawa bola melintas dihadapan mobil itu. Sontak semua yang di dalam mobil tersebut kaget dan membantingkan setir ke arah samping agar tak menabrak anak tadi. Namun, keadaan semakin tegang ketika sebuah truk melaju dihadapan mobil tersebut dan..
“Hyun-Ae, bangun sayang Hyun-Ae.” Pria itu tersadar dari sebuah kecelakaan yang dihadapinya. Dia membangun-bangunkan anak dan istrinya yang tengah terlelap di mobil dengan darah. Pria itu menyentuh keningnya.
“Awww..” Dia merasakan sedikit sakit menyentuhnya.
“Appa..” Tiba-tiba anak kecil itu terbangun dan memanggil Appanya.
“Hyun-Ae, Jal jinaeyyo (Kau baik-baik saja)?” Ucap pria itu. Hyun-Ae, apakah, apakah anak itu adalah aku?
“Jal jinaeyyo Appa, Eomma, Eomma.. Eomma bangun Eomma… Eomma.. Eommaaaaa.”
“Eommaaaa..” Aku berteriak memanggi Eommaku. Baru saja aku terbangun dari mimpi masa laluku. Mimpi yang mengharukan. Mungkin seperti itulah tragedi aku kehilangan Eommaku. Hal yang paling menyedihkan dihidupku waktu itu.

Disini aku masih terdiam duduk dikasurku sambil memasang tatapan kosong. Entah apa yang ku tatap.
Namun, mimpi semalam masih meninggalkan bekas kesedihan yang mendalam bagiku.
“Eomma, Appa..” Aku mendesah memanggil-manggil mereka. Namun yang ku dapat hanyalah suara gema dari sudut ruangan.
“EOMMA! APPA!” Aku berteriak sehingga sedikit membuat gema yang lebih keras. Tak terasa buliran hangat jatuh dari kedua ujung mataku. Aku menangis.
Aku menangis meratapi nasibku yang buruk ini. Aku tak dapat menahan semua kesedihan, seakan-akan aku menumpahkan semuanya saat ini.

Ku perlahan bangun dan berjalan gontai berkaca-kaca menuju ke dapur. Aku tak minat bersekolah hari ini. Lagi pula, jika aku berangkat aku sudah terlambat. Sekarang pukul 08:00. Lebih baik langsung bekerja saja pukul 10 nanti.
Perlahan ku buka pintu kulkasku dan nampak masih ada sup rumput laut semalam yang ku masak. Aku tak doyan makan sup sedang sedih seperti ini. Sup adalah makanan kesukaan Appa, sup apapun itu Appa suka. Lebih baik ku buang dan memasak yang lain saja. Kimchi goreng sepertinya enak. Sudah lama aku tak memakannya.
Tunggu, aku ingat perkataan Appa, aku harus mandi dulu sebelum sarapan. Melihat tubuhku yang kusut ini, jadi tak mau makan. Aku akan menuruti perintah Appa. Aku janji.

“Kau datang satu jam lebih awal dari kemarin.” Ujarnya sambil melihat angka yang terdapat di sebuah benda yang terikat ditangannya. Dasar Namja aneh, aku datang awal diomelin apalagi kalau telat.
“Waeyo (Kenapa)? Aku salah datang awal?” Aku sedikit memurungkan bibirku padanya. Dia hanya membelalakkan matanya.
“Bukan begitu! Kau pasti tak sekolah!” Ucapnya sedikit membentak padaku.
“Aku memang tak bersekolah hari ini. Aku bangun kesiangan.”
“Siapa yang bertanya mengapa kamu tak sekolah. Sudah cepat jangan banyak tingkah. Kau kesini mau kerja atau debat. Ahh repot.” Bentaknya padaku.
Siapa juga yang mengomeli terlebih dahulu. Dasar bos kasar tak tahu diri. Kalau biasanyapun aku pulang pukul sepuluh siang dari sekolah. Hanya saja aku berjalan, jadi 1 jam cukup untuk perjalananku pulang. Ihh menyebalkan.
Aku mulai masuk ke dapur. Dan disana sudah terdapat Ajumma Jin-Hae, dia koki disini.
“Anyyeong haseyo Hyun-Ae, tak biasa kau datang awal.” Sapanya padaku sambil memasak bulgogi. Emm..
“Anyyeong Ajumma(bibi), hari ini aku kesiangan dan tak masuk sekolah.” Ucapku membalas sapaannya lalu meraih sarung tangan merah muda dan hendak mencuci piring-piring dan gelas. Sambil mencuci, sedikit ku alihkan padangan pada bos sialan itu. Aku memerhatikan gerak-geriknya yang sedang duduk dimeja kasir sambil membaca koran pagi. Ajumma Jin-Hae sedikit tertawa melihat tingkah konyolku.
“Kau memperhatikan Tn. Sun-Ho?” Tanyanya padaku yang berposisi saling membelakangi.
“Oh jadi Tn. Sialan itu bernama Sun-Ho. Dasar tak tahu diri.” Aku berucap sambil membersihkan piring-piring itu sedikit keras menahan emosi.
“Dia memang begitu Hyun-Ae, Tn. Cha Sun-Ho memang orang yang sedikit cuek dan tak mudah bergaul. Dia sangat sensitif. Maklum saja dan semoga kau bisa memahaminya.” Ucap Ajumma sedikit menoleh ke arahku. Aku sendiri masih terus sibuk dengan pekerjaanku.
“Hyun-Ae!” Tiba-tiba Tn. Sialan itu memanggilku. Ada apa?
“Mwoeyyo Tuan?” Ujarku sambil membungkuk dan menghadap ke arahnya.
“Kemari kau! Kerja atau ngerumpi?” Ujarnya. Omo (Ya ampun) dia tahu aku membicarakannya.
“Siapa yang ngerumpi?”
“Ah sudah kau banyak bicara. Aku bilang kesini!” Ucapnya sedikit meninggi sambil sedikit menatapku ketus. Akupun berjalan menghampirinya sambil menunduk.
“Ayo ikut aku!” Perintahnya. Akupun mulai membuntutinya dari belakang. Ku lihat dia masuk kedalam ruang pribadinya. Akupun ikut masuk kesana. Seketika pintu dibuka, ternyata disana hanya ada tangga. Aku baru tahu ada tangga menuju bawah tanah disini.
“Kau akan mengajakku menuju bawah tanah?” Ucapku polos padanya. Mendengar itu, dia malah tertawa-tawa.
“Hahaha, tidak ada bawah tanah Babo (bodoh)!” Ejeknya. Ihh dasar tuan menyebalkan.”Lalu kita pergi kemana?” Tanyaku polos lagi.
“Ke ruang pribadiku. Sekaligus rumahku.”
“Tapi aku tak menanyakan rumahmu atau bukan.” Ucapku ketus. Dia hanya memalingkan wajahnya ke arahku dengan murung lalu kembali ke posisi awal. Disana aku tersenyum sinis.
‘Aku menang!’ Batinku. Seketika aku sampai di ruang pribadinya. Dia menyuruhku untuk diam disana selagi dia pergi ke rumahnya. Menuju rumahnya hanya tinggal menaiki tangga dan sampai. Berbelit-belit sekali ruangan ini.
Seketika dia datang lagi, dia telah membawa sebuah kotak yang tak terlalu besar. Aku memandangnya yang sedang menuruni tangga. Dia membalas pandanganku dengan tatapan mual. Sadis sekali orang ini.
“Mwoeyyo?”
“Gwaenchanayo (Tidak apa-apa), GR sekali kau! Aku hanya ingin tahu, apa yang kau ambil itu?” Tanyaku padanya. Diapun duduk didepanku dan membuka kotak itu.
“Ini! Kau pakai seragam dan sepatunya!” Perintahnya padaku. Aku dapat melihat disana ada kemeja putih bertangan panjang, rok hitam kirai-kira menutupi lutut, dasi hitam kupu-kupu dan sepatu high heels yang tinggi haknya kurang lebih 8 cm.
“Kau lihat sepatu ini terlalu tinggi untukku! Aku tak mau memakainya.” Tolakku padanya. Dia malah menggelengkan kepalanya.
“Kau masih mau menawar? Ayo pakali cepat!” Dia membentak. Ih sedikit-sedikit marah dia.
“Kau jangan marah-marah terus! Cepat tua nanti! Lagipula dari pada pakai sepatu itu lebih baik aku pakai sepatu flatku.” Ucapku sekenanya, dia malah memandangku lalu melemparkan buku pada mejanya.
“Arrasseo (baiklah) Tuan.” Akupun langsung pergi ke ruang ganti disana. Aku benar-benar terkejut melihatnya marah. Masih muda, kaya, tampan tapi kalau sifatnya seperti dia, mana ada gadis yang mau bersamanya. Maunya menang sendiri saja. Ihh TUAN SIALAN DIA!
Mulai ku rapikan baju yang dia pakai, lalu memakai sepatu hak tinggi itu, aarggh.. Aku tak bisa. Tapi tak apalah, aku bisa-bisakan saja.
Ku mulai berjalan keluar perlahan dengan memakai sepatu tersebut. Ahh aku tak bisa seimbang. Ketika keluar, dia memandangku. Aku merasa mual melihat tatapannya.
“Waeyyo?” Dia bertanya padaku. Kenapa dia yang bertanya, seharusnya aku bukan?
“Aniyo (Tidak ada), apakah aku keren?” Tanyaku padanya sambil tersenyum.
“Hahah kau bilang sebagai seorang karyawanku keren? Hahah.” Dia tertawa-tawa, ihh aku ingin sekali marah didepannya.
“Kau akan terlihat keren jika rambutmu di ikat dua. Dan jangan lupa, pakai topi ini. Bagus.” Ucapnya. Akupun sedikit terdiam. Terlihat dia pergi meninggalkan ruangannya itu. Akupun segera meraih topi itu. Apakah aku akan keren ya?

“Ahh” Aku mendesah sendiri sambil membawa nampan berisi kopi disana. Aku sedikit kehilangan keseimbangan gara-gara sepatu ini. Sial sekali! Ku coba berjalan normal namun tampaknya aku tak bisa. Bagian kanan ditubuhku tak bisa seimbang karena aku membawa kopi. Aduhh apakah aku akan terjatuh lalu di pecat.
“Ini mbak.” Aku mulai mengambil satu kopi dinampan itu. Namun ketika aku hendak mengambil kopi kedua….
“Prankkk”
“Ahhh” Gadis itu berteriak ketika kopi panas menyembur tubuhnya. Dapat ku lihat dia sedikit kepanasan. Aku segera meraih tisu lalu mengusap baju dan lehernya yang tersembur kopi. Mendengar hal ini, Tuan sialan itu langsung terkejut.
“Mianhae, mianhae, aku tak sengaja.” Ucapku pada gadis itu. Sementara gadis tersebut masih meniup-niup dadanya yang panas dan memerah menahan sakit.
“Mianhae, ada apa?” Tuan Sialan itu tiba-tiba datang dengan wajah heran. Aku langsung berdiri lalu menunduk. Seketika itu Tuan sialan menolehku lalu menarik bajuku kasar. Sakit! Dasar Tuan Sialan!
“Pelan-pelan Tuan! Ini sakit!” Aku memelas padanya. Sadis sekali dia, menarik tanpa etika.
“Keluar! Kamu di pecat!” Ujarnya seketika. Mataku langsung terbelalak, bibirku menciut. Ini semua gara-gara Tuan SIALAN!
“Kau memecatku? Asal kau tahu! Aku terjatuh karena sepatu yang kau berikan itu. Sebelumnya aku sudah bilang bukan? Jika aku TAK MAU MEMAKAINYA karena aku TAK BISA! Sekarang mengapa malah aku yang kau salahkan?” Aku memandangnya ketus. Sun-Ho hanya terdiam membelalakan matanya. Dia benar-benar TUAN SIALAN.
“Aku benarkan? Aku sudah bilang padamu jika aku tak mau. Aku ingin memakai sepatu flatku saja bukan? Ayo! Siapa yang salah?” Aku membela diriku sendiri. Dia memang tak adil.
“Arrgghh kau ini! Sudah aku bilang kau di pecat! Keluar! Tak peduli siapa yang salah sekarang keluar!” Dia malah membentak sambil menunjuk pintu keluar. Enak saja!
“Shireo (Tidak mau)!” Bantahku. Dia semakin memanas.
“Cepat keluar! Kau sudah bukan karyawanku lagi! KELUAARRR!”
“Aku bilang SHIREO! Apakah itu kurang jelas untukmu!” Bantahku ulang. Sepertinya sekarang wajahnya sudah matang. Amarahnya sudah sampai puncak. Dia memukul meja keras lalu mendorong-dorongku menuju keluar.
“Cepat! Cepat keluar! Jika tak mau aku akan mengeluarkanmu!” Ujarnya sambil mendorong-dorongku.
“Lakukan saja bila kau bisa!” Tantangku padanya. Dia malah terdiam sejenak lalu langsung meraih tubuhku. Aku melotot. Gila sekali tingkah Tuan Sialan ini.
“Lepaskan aku! Lepaskan Tuan Gila!” Aku meronta-ronta diapun menurunkanku di luar.
“Sudah pergi sana! Aku sudah mengeluarkanmu bukan?” Ucapnya sambil berlalu masuk menuju restoran. Akupun mengikutinya dari belakang. Sudah ku lihat, dia sedang duduk di kasir.
“Kau mau kemana? Bukankah kau sudah ku pecat?” Tanyanya padaku. Ku abaikan pertanyaannya itu lalu pergi mengambil lap untuk mengelap meja yang kotor. Terlihat Tuan Sialan itu melihatku heran. Apa yang dia herankan?
“Heh kau! Kau sudah dipecat! Untuk apa kau datang dan membantuku disini? Aku tak akan menggajimu!” Ucapnya menghampiriku. Akupun menggeserkan bola mataku kearahnya.
“Aku bisa melaporkannya pada polisi atas tindakanmu yang kriminal itu! Lalu pelecehan seksual, lalu menyakiti perasaan orang lain, lalu memecatku tanpa sebab, kekerasan…”
“Sudah cukup! Aku bilang keluar!” Tiba-tiba saja dia menyela. Aku benci dia.
“Kau tidak sopan sekali memotong pembicaraan orang lain! SHIREO (Tak mau)!” Aku terus membantahnya. Dia malah terus mendesakku untuk keluar. Akukan sudah bilang tak mau! Tak punya kupingkah dia?
“Kajja! Kajja!” Dia terus menarik-narik tangan kiriku. Aku masih sibuk mengelap meja kotor yang ada di depanku. Aku masih terdiam dengan kelakuannya. Kekanak-kanakan sekali!
“Ih kau ini! Lepaskan tanganku! Lihat tanganku memerah!” Aku marah padanya. Ternyata lama kelamaan sakit juga. Dia menarik terlalu keras. Dasar tak beretika!
“Salah kau! Aku sudah bilang kau harus pergi sekarang!” Tuan itu berteriak sambil menunjuk pintu. Seketika itu, dia terkaget melihat semua wajah pelanggannya mengarah padanya. Saat itu juga dia memukul kepalanya lalu pergi ke ruang pribadinya lagi. Hahaha kau kalah TUAN SIALAN!

“Anyyeong haseyo Hyun-Ae!” Sapa Yeoja usia 30-an itu seraya tersenyum padaku. Wajahnya sudah tak asing bagiku. Dan tingkahkupun mungkin tak asing baginya. Setiap kali dia menyapaku hangat, pasti aku akan membalasnya dingin. Sudah biasa.
Aku terus berjalan tanpa menghiraukan wanita itu. Jika aku seperti ini, dia pasti selalu mengikutiku.
“Hyun-Ae, tak bisakah kau sedikit tersenyum padaku?” Dia tiba-tiba mendesah. Akupun membalikkan badanku dan tersenyum paksa padanya. Dia hanya menatapku kosong.
“Hyun-Ae, kau sangat berbeda sekali dengan Appamu! Setidaknya kau berikan sedikit senyum yang tulus untukku! Untuk calon Eommamu yang tak akan menjadi Eommamu!” Dia agak meninggi. Akupun menghentikan langkahku.
“Kau sudah datang kemari kemarin! Untuk apa kau datang lagi?” Ujarku sedikit ketus padanya sambil membelakanginya.
“Hyun-Ae, aku hanya khawatir padamu. Appamu selalu menghawatirkanmu. Dia ingin sekali kau baik-baik saja. Dia sangat menyayangimu Hyun-Ae. Dia bilang kau adalah satu-satunya hal yang paling berharga baginya. Karena itu, aku ingin melanjutkan segala hal yang belum dia capai untukmu. Dan aku berniat seperti itu.” Serunya padaku. Aku masih terdiam sambil menahan bendungan buliran di mataku. Aku tahu Appa menyayangiku. Tapi, mengapa dia begitu tahu?
“Sebenarnya sudah sejak kapan?” Aku bertanya padanya seraya menyeka bulir hangat di pipiku. Dia hanya sedikit keheranan.
“Mwoeyyo (Apa)?”
“Sejak kapan? Sejak kapan kalian menyembunyikan hubungan kalian dariku? Sejak kapan? Sehingga kau lebih tahu segalanya yang Appa inginkan dari pada yang aku tahu! Marhaebwa (Katakan)!” Aku berucap setengah berteriak menahan segala yang terhambat dihatiku. Dia, Nam-Bi hanya terdiam saja. Aku sangat benci saja padanya.
“Selamat! Selamat kau telah menjadi seseorang yang berharga di hati Appa! Selamat aku MEMBENCIMU!” Aku meninggikan suaraku, lalu ku beranjak menuju pintu rumahku dan merogoh kunci.
Aku masih dapat sedikit melihatnya.
“Hyun-Ae, aku kira Hyun-Ae yang selalu dibicarakan Appamu tak seperti ini. Ternyata dia lebih kejam dan jauh dari perdugaanku. Walaupun masih kelas 2 SMA, Ternyata perkataannya sangat tajam sekali. Sikapnya juga dingin sekali! Sekali! Kau memang egois Hyun-Ae! Jika bukan karena Appamu, aku tak pernah berniat menyukaimu! Bahkan menyayangimu! Sekarang, semua niatku sudah memudar dan telah menjadi kebencian! Aku membencimu Hyun-Ae!” Dia berteriak lalu pergi mengangkat kaki dari tanah rumahku. Aku sangat benci dia! Sangat!

Langsung ku lajukan langkahku menuju kamar Appa. Aku terduduk di samping kasur Appa. Aku menangis sambil memandang dan mengusap-usap bingkai foto tersebut. Terlihat Appa sangat bahagia. Seketika aku memundurkan kakiku,
“Srtt.” Suara datang dari kolong ranjang Appa. Entah apa yang baru saja aku senggol? Akupun segera memeriksa apa yang ada di bawah ranjang Appa. Seketika ku lihat, disana terdapat kotak besar berwarna hitam yang sedikit berdebu.
“Kotak Apa ini? Perasaan Appa tak pernah memberitahukannya padaku.” Aku mendesah sendiri. Seketika, akupun membuka tutup kotak itu dan ku lihat…
‘Bukankah ini seperti foto Nam-Bi?’ Aku bertanya-tanya dihatiku. Disana terdapat gambar yang jelas mirip dengan Yeoja itu, Nam-Bi. Ku lihat satu per satu. Disana terdapat foto Nam-Bi. Banyak sekali. Akupun mulai sedikit kecewa pada Appa. Ternyata selama ini, dia menyimpan banyak foto-fotonya.
Sejenak ku sedang melihat-lihat, tiba-tiba aku melihat sebuah kotak merah yang berukuran tak terlalu kecil. Akupun mulai meraihnya dan berniat memeriksa isinya. Sejenak setelah ku buka, air mataku berlelehan dipipiku. Aku kecewa, sangat kecewa sekali pada Appa. Ku lihat di dalam adalah sebuah foto Appa bersama Nam-Bi dan satu lagi yang membuatku sangat kecewa, ada 2 cincin disana. Pasti Appa akan menikahinya. Aku semakin BENCI!
Seketika aku melihat foto Appa yang sedang tersenyum manis itu. Akupun meraihnya lalu melemparkannya!
“AKU BENCI APPA! AKU BENCI NAM-BI!” Aku berteriak-teriak sambil merangkul lutut dan menangis. Dapat ku lihat, bingkai foto itu rusak. Namun, Appa tetap tersenyum disana.

2 bulan aku bekerja di restoran itu. Aku cukup bisa melupakan hal-hal sedih disana. Setiap bekerja, pasti selalu saja ada hal konyol yang Tuan SIALAN itu lakukan padaku. Walau sebenarnya menjengkelkan, tapi aku rasa dia telah sedikit mengahapus kesedihan yang terlukis dibatinku ini. Kadang, dia terlihat nyaman dan special untukku. Namun terkadang juga, dia sangat menjengkelkan dan buruk bagiku. Aku selalu merasa sedikit aneh ketika Tuan Sialan itu menatapku. Apakah aku menyukainya? Argghh.. Kau meniru drama-drama saja. Seorang bos bercinta dan menikah dengan karyawannya. Itu lucu sekali.

Saat ini, aku sedang berjalan menuju restoran tempat kerjaku itu. Tempat dimana aku bisa tertawa dan bercanda. Aku bahagia disana.
Aku berjalan sambil membawa sebuah tas kecil yang tak lain berisi sebuah surat, uang, ponsel dan seragam kerjaku. Mengingat kejadian 2 bulan lalu, waktu aku menjatuhkan kopi pada pelanggan gara-gara sepatu high heels itu, Tuan Sialan menyadari kesalahannya. Hahahah. Dia membelikanku sepatu flatku yang baru dan terlihat sangat bagus. Aku sendiri yang memilihnya untuk ku pakai di tempat kerja. Aku memilih sebuah sepatu flat warna hitam polos namun bentuknya mengagumkan. Dia juga menyuruhku untuk memilih sepasang sepatu lagi. Entah kenapa dia menyuruhku untuk memilih satu lagi. Tapi, aku menolaknya. Tiba-tiba diapun menyondorkan sebuah sepatu flat warna putih bintik-bintik coklat dengan pita warna yang sama dibagian depannya. Dia memaksaku untuk mecobanya. Dan itu pas sekali.
Dia bilang kakiku sangat cantik, kulitku juga mulus dan serasi dengan sepatu itu. Tentu saja, Appa yang mengajarkanku bagaimana merawat kulit yang baik. Dan hasilnya, benar sekali.

Aku masih memakai sepatu flat putih coklat itu. Seketika aku masuk, aku sudah melihat Tuan Sun-Ho sudah terduduk dengan tumpang kaki di meja kasir dan seperti biasa. Koran.
“Plukk” Aku memukulkan lipatan kertas itu dihadapannya yang sedang tenang membaca koran. Dia hanya memindahkan posisi koran menjadi di atas meja.
“Surat apa ini? Surat pengunduran diri?” Tanyanya heran padaku.
“Jika kau ingin tahu, buka saja apa susahnya!” Ucapku sedikit ketus padanya lalu beranjak ke ruang ganti. Aku hendak mengganti pakaianku ini dengan seragam kerjaku. Masa saja aku harus memakai seragam kerjaku sejak dari rumah? Hahaha.
Seketika aku keluar dari ruang ganti, dia sudah berdiri di ujung pintu. Aku sedikit terkaget.
“Apa maksudmu cuti satu minggu itu?” Tanyanya ketus padaku. Aku hanya sedikit tersenyum padanya.
“Kau tahu, akukan baru anak SMA, Minggu depan aku akan menjalani ulangan semesterku untuk kenaikan ke kelas 3. Jika aku sudah lulus, aku bisakan bekerja penuh disini. Jadi aku minta cuti, agar aku bisa naik kelas. Tapi, aku minta bayarannya. Gajiku harus tetap ada walau aku cuti.” Ucapku sekenanya pada dia. Ku lihat wajahnya mulai sedikit matang. Aku memang ingin berdebat dengannya.
“Tak tahu diri kau! Tak kerjapun masih minta upah. Tak punya harga dirikah?!” Pekiknya padaku. Apa dia bilang? Tak punya harga diri?
“Aku punya harga diri! Kau saja! Jika kau jadi diriku, apa yang akan kau lakukan?” Tanyaku ketus padanya. Dia hanya menyeringai.
“Aku tak akan jadi kau, tahu!” Ucapnya sambil menunjukku dengan telunjuknya.
“Ya sudah, aku pergi saja dari sini!” Ucapku sambil murung padanya. Sementara dia tersenyum sinis.
“Kajja (Pergilah)! Cari toko dan restoran yang mau menerimamu! Adakah yang mau!? Akupun terpaksa menerimamu bekerja disini!” Ujarnya. Akupun mematung. Benar juga perkataannya. Lalu aku harus bagaimana?
“Hah, kalah kau!” Lanjutnya lagi. Akupun hanya menunduk malu. Aku yang bermaksud mengajaknya debat karena percaya akan menang ternyata… dia lebih hebat dariku.

Akupun berniat untuk melayani pelanggan terlebih dahulu. Dari pada aku masih berdiri menahan malu disini. Ketika aku hendak mengantarkan makanan pada pelanggan, tiba-tiba ada yang memanggilku. Tuan Sialan.
“Ada apa? Tak kau lihatkah aku sedang bekerja?” Ucapku ketus padanya.
“Sini, biar aku antarkan! Kau urus pelanggan disana! Katanya dia ingin kau yang mengurusnya!” Ucapnya sambil menghampiri dan mengambil nampan yang sedari tadi ku pegang. Akupun segera menghampiri pelanggan yang dia maksud. Pelanggan itu, ahh pria berbadan kekar. Rambutnya gondrong di ikat. Dia memakai jaket hitam tebal. Wajahnya garang sekali. Mengapa dia ingin aku yang melayaninya? Sedikit takut aku melihatnya.
“Anyyeong haseyo Tuan. Anda mau pesan apa Tuan?” Ucapku manis padanya. Terlihat dia tersenyum padaku, ku balas sedikit senyumannya walau sedikit sebal melihatnya.
“Kimchi.” Jawabnya singkat. Akupun langsung membungkuk padanya dan pergi ke dapur berniat untuk memenuhi pesanan pria kekar itu.
“Pria disana memesan Kimchi. Aku sedikit takut melihatnya.” Ucapku pada Ajumma Jin-Hae. Diapun sedikit melongo ke arah pria itu duduk. Dia sedikit mengernyitkan dahi. Aku sedikit heran melihat Ajumma.
“Mwoeyo (Ada apa)?” Aku mengkerungkan keningku. Bingung dengan kelakuan Ajumma.
“Sepertinya aku pernah melihatnya. Tadi dia berbicara dengan Tuan Sun-Ho. Hati-hati jebakan Tuan. Arraesso (Mengerti)?” Ucapnya padaku. Aku hanya mengangguk-angguk seperti orang mengerti. Diapun segera menuangkan Kimchi yang ia masak ke dalam sebuah piring dan meletakkannya di atas nampan. Akupun segera pergi mengantarkan kimchi itu pada pria yang tengah terduduk menunggu pesanannya datang itu. Seketika, aku sajikan Kimchi itu padanya.
“Selamat makan.” Ucapku seraya membungkuk lalu mendekap nampan. Dan aku mulai menekan sesuatu yang ada di dalam saku rokku. Tapi seketika aku akan pergi, tiba-tiba pria itu memanggiku.
“Hyun-Ae.”
“Ne (ya), apa ada yang kurang?” Ucapku manis padanya. Aku memang akan berucap manis pada semua pelanggan. Walah rasanya sedikit muak.
“Kau tak membawakanku minuman.” Ucapnya menjawab pertanyaanku. Tak membawakannya minum? Bukankah dia yang tak memesan?
“Tapi tadi Anda tak memesannya.”
“Tadi aku sudah memesan. Kau saja yang tak dengar.” Ucapnya setengah memaksa. Dasar, salah dia sendiri tak mau mengakui.
“Sekarang Tuan mau minum apa?” Tanyaku manis lagi padanya. Argghhh.. andaikan aku bukan karyawan disini, sudah ku telan bulat-bulat wajahnya itu.
“Tadi aku pesan teh. Sekarang soju saja. Tapi aku ingin makanannya menjadi bulgogi. Aku tak suka memakan Kimchi bersama soju. Dan ini ambil. Aku tak mau membayar ini.” Dia berseru sambil mendorong mangkuk berisi kimchi itu. Memang jika dia tak mau makan kimchi dengan soju, apa peduliku?
“Tapi Tuan harus membayarnya. Tuan sudah memesannya. Pesanan yang dipesan Tuan tidak bisa ditukar. Di sini bukan tempat makan gratis.” Ucapku memberitahukannya. Seketika itu, dia tiba-tiba berdiri.
“Aku belum menyentuhnya sama sekali. Itu tidak apa-apa bukan? Sudah, aku ingin bulgogi cepat!”
“Tapi Tuan harus mem…” Tak selesai aku bicara, Tuan Sialan itu datang dan langsung menyela.
“Ada ribut apa di sini?” Tanyanya pura-pura heran. Aku sudah yakin dia berpura-pura. Kau kira aku tak tahu rencana licikmu TUAN JAHAT?
“Ada pelanggan yang ingin ditukar makanannya. Dan dia tak ingin membayar makanan yang dia pesan sebelumnya.”
“Lalu?” Tanyanya lagi. Akupun mulai kesal dengan dia.
“Dia tak mau membayar. Harusnya dia membayar dua kali untuk pesanan pertama dan keduanya. Tapi dia hanya akan membayar pesanan kedua.” Jelasku lagi padanya. Dia sedikit terdiam.
“Ya sini, biar aku makan saja. Berikan dia pesanan kedua. Dan biarkan dia membayar pesanan kedua saja.” Sahutnya, lalu mengambil Kimchi dan memakannya sambil berjalan menuju kasir. Dasar! Bos kurang ajar!
Akupun melirik ke arah pria tadi. Dia hanya tersenyum sinis. Gilaa ..

Akupun beranjak menuju dapur sambil marah-marah tak jelas. Tapi aku rasa jelas alasannya karena mereka. Arrggghh.
“Ajumma, cepat masak bulgogi! Tak seperti biasa Tuan SIALAN baik pada pelanggannya. Sepertinya kau benar aku sedang dijailinya. Ah.” Ucapku sambil merajuk sendiri pada Jin-Hae Ajumma. Dia hanya sedikit tersenyum.
“Bukankah kau telah punya rencana?” Tanyanya ramah padaku. Dia sedikit melongo ke arahku. Akupun mengangguk pelan.
“Ini, cepat antarkan bulgoginya.” Perintahnya padaku. Akupun langsung menuju ke arahnya dan mengambil bulgogi itu. Aku ingin cepat mengantarkannya. Tak mau lagi ku lihat wajahnya. Uh!
“Ini, silahkan makan. Ini Sojunya.” Segera ku sajikan pesanannya dan berlalu. Tak ingin lagi aku melayaninya.
“Tunggu!” Tukasnya cepat sebelum aku benar-benar berlalu dari pandangannya.
“Ada perlu apa lagi Tuan?” Ucapku sedikit kesal padanya.
“Aku ingin kau menyuapiku.” Seketika mendengar ucapannya, sontak aku terkaget dengan sebelah alis menganggkat. Dasar sama-sama SIALAN.
“Mwoeyo (Apa)? Kau pikir aku akan menyuapimu. Dimana aku simpan wajahku?!” Ucapku sedikit menyentaknya. Lagi-lagi TUAN SIALAN datang menambah kekacauan.
“Ada apa lagi?” Ulangnya berpura-pura tak tahu. Dasar WAJAH TANPA DOSA!!
“Dia selalu berminta hal aneh-aneh saja.” Aku memasang wajah sebal di hadapan mereka. Aku memang benar-benar sebal pada mereka SANGATTT!
“Apa lagi yang dia perlukan?” Tuan Sialan berucap layaknya orang tak tahu apa-apa. Munafik.
“Tanya saja pada orangnya.” Seketika aku memurungkan bibirku, dia melirik pelanggan tadi. Terlihat dia mengatupkan jari tangannya lalu kelima jarinya menujuk bulgogi, setelah itu mulutnya. Dia melakukannya sebanyak tiga kali. Aku sudah paham apa yang di isyaratkannya.
“Oh, suapi saja. Apapun yang pelanggan inginkan, demi kebaikan mereka, kami selaku karyawan di restoran ini, senantiasa memenuhi segala yang pelanggan kami minta. Terimakasih.” Seketika setelah berucap, diapun pergi meninggalkanku dengan mulut menganga. Dasar Tuan SIALAN paling SIALAN.
Ku lihat, pria di depanku ini tersenyum sinis padaku. Argghh apakah aku harus menyuapinya?

Hari ini hari paling menyebalkan. Menyebalkan!
Ini semua gara-gara TUAN SIALAN GILA itu! Awas saja. Aku akan membalas semuanya. Dia kira aku Yeoja (Gadis) bodoh apa?
Seketika, aku langsung merogoh kunci gembok gerbang rumahku dan segera masuk membuka kunci pintu rumah. Setelah itu, langsung ku rebahkan tubuhku di atas kasur tempat biasa aku tidur. Hari ini, Goo-Hyung tak datang. Dia sudah bilang tadi, dia akan pergi ke rumah neneknya untuk menyambut Neneknya datang dari Jepang. Senang sekali jadi dia. Dia punya keluarga yang utuh, diapun cantik, pintar, baik, kaya. Hmm.. Andai aku bisa menjadi sepertinya. Lengkap sudah sempurna hidupku.
Kapan aku bisa seperti mereka? Huhh!
Ku tatap foto Appa yang terpampang di meja kecil di samping ranjangku. Foto itu berpigura baru. Karena waktu itu aku melemparnya hingga piguranya rusak. Dalam foto itu, dia tersenyum bahagia. Walau senyumnya itu hanyalah sebuah kebohongan yang dia buat agar bisa bahagia. Maafkan aku Appa.
Akupun mulai memejamkan mataku sambil memeluk foto Appa. Dan tak terasa, aku menangis.

“Hyun-Ae, hahaha.” Dapat ku lihat anak itu. Anak yang waktu itu membuat kecelakaan mobil kami. Aku menatapnya kesal. Aku berjanji akan membencinya. Di sana, dia masih bermain dengan bolanya. Aku dapat melihat jelas, bola itu sekarang menggelinding ke arahku. Akupun meraih bola itu. Di sana terdapat lirik lagu Gom Se Ma Ri. Dan ada sedikit sobekan pada bola itu. Sepertinya sobekan itu adalah namanya. Aku tak terlalu dapat melihatnya jelas.
Tiba-tiba anak itu tersenyum sambil meminta bola yang aku pegang untuk diberikan padanya. Akupun melemparkannya dengan keras pada tubuhnya. Bukannya sakit, dia malah tertawa-tawa. Semakin ku membencinya.
“Hyun-Ae,” Tiba-tiba sebuah suara yang tak asing di telingaku merambat di sela-sela kupingku. Aku masih dapat jelas menebak siapa dia. Orang yang aku rindukan. Appa.
Akupun berbalik berniat memenuhi panggilannya. Terlihat, seulas senyum mewarnai wajahnya.
“Appa,” Aku memanggil dan langsung menyambarnya. Aku langsung memeluknya erat-erat. Sangat erat. Sementara dia, dia hanya dia saja sambil tetap memasang senyum di wajahnya. Seketika itu, bahunya basah karena buliran hangat dari ujung mataku. Ya, aku menangis. Aku menangis karena sangat rindunya pada Appa.
“Appa, bogoshiepo (aku merindukanmu), mengapa kau baru datang sekarang?” Aku terisak sambil memeluk Appa. Ku lihat dia melepaskan pelukanku dan menatapku dengan mata berbinar-binar.
“Maafkan Appa, setelah kepergian Appa, kau jadi sering menangis seperti ini. Appa hanya menyiksamu.”
“Aniyo (Tidak) Appa, itu tak penting. Lebih baik kita pergi ke suatu tempat. Aku ingin bermain bersamamu lagi, Appa.” Pintaku padanya. Dia hanya tetap tersenyum.
“Tak bisa.” Jawabnya singkat.
“Lalu, apa yang Appa inginkan?”
“Yang Appa inginkan, Appa hanya ingin melihat satu-satunya hal yang paling berharga bagi Appa bahagia.”
“Lalu, apa hal paling berharga bagi Appa?”
“Hal paling berharga bagi Appa adalah, adalah dirimu Hyun-Ae. Appa tak punya lagi. Appa baru sadar. Appa belum bisa membahagiakanmu. Maafkan Appa.” Ucapnya sedikit sendu. Dia memegang kedua tanganku.
“Appa..” Desahku menahan bendungan air mata yang sudah menggunung ini. Aku tak pernah berfikir. Betapa sayangnya Appa terhadapku.
“Lalu apa hal yang paling bahagia untuk Appa, apapun itu, akan ku lakukan demi kebahagiaan Appa.” Aku menggenggam erat tangannya. Aku sedikit terisak. Dia masih tersenyum, walau ada sedikit kesedihan menyapa hatinya.
“Hal yang paling bahagia bagi Appa adalah, bisa menikah dengan Eommamu dan melihatmu terlahir. Appa sangat bahagia melihatmu terlahir sebagai gadis yang cantik, pintar, dan baik sepertimu. Tak ada gadis yang sepertimu Hyun-Ae, kau anak Appa yang terbaik. Appa bangga memiliki anak sepertimu.” Ucapnya. Dia bilang dia bangga? Aku tak percaya padanya. Aku sering membuatnya kecewa. Bahkan terlalu sering. Appa, kau masih membanggakan anakmu kejam ini?
“Tapi Appa sangat sedih saat ini. Saat Appa harus berpisah dengan orang yang sangat Appa sayangi.” Lanjutnya lagi. Aku hanya menatapnya nanar saja. Aku tak dapat menahan segerombolan air di pelupuk mataku. Aku tak pernah sadar. Appa menyayangiku lebih dari yang kau tahu.
“Hyun-Ae, kau jangan menangis lagi. Appa akan bahagia jika kau bahagia. Kau tahu, kita adalah sepasang Appa dan anak yang hebat.” Ucapnya lagi. Ku lihat, dia tersenyum manis padaku. Akupun segera memeluknya. Rasanya aku tak akan pernah merasakan ini seumur hidupku lagi. Hanya ini terakhir kali. Ya, hanya ini.
“Hyun-Ae,”
Braakkk. Tiba-tiba semua mimpi itu lenyap seiring sebuah suara mengagetkanku. Goo-Hyung, datang tanpa permisi, pulang tanpa izin. Begitulah dia. Seketika dia melihatku, saat itu juga dia terkejut.
“Kau menangis Hyun-Ae?”

“Aku ingin pesan Kimchi.” Ucapku pada Tuan Sialan itu. Awas saja, hari ini aku akan membalas semua yang sudah dia lakukan padaku. Awas saja!
“Enak saja, bukannya kau bekerja, ini malah makan. Enak saja kau!” Dia membangkang. Awas akan ku tunjukan padanya.
“Hey! Aku sudah bilang, aku cuti seminggu ini. Berarti aku kesini datang sebagai pelanggan bukan karyawan. Cepat buatkan Kimchi dan Bulgogi, tapi aku hanya akan membayar harga Kimchi saja. Jangan lupa, aku ingin minuman paling enak dan special disini. Tapi aku ingin gratis.” Ucapku sekenanya. Dan seperti biasa, wajahnya MATANG.
“Enak saja kau! Kau pikir aku siapa hah? Aku bosmu, tahu!”
“Ya, bos! Kau pernah bilang begini bukan ‘Kami selaku karyawan di restoran ini, senantiasa memenuhi segala yang pelanggan kami minta. Terimakasih.’ Itu suaramu bukan?” Tanyaku sambil berbunga-bunga dalam hati. Aku merasa sekarang menang. Tentu saja dia dapat mengelabuiku. Tapi sekarang hahaha. Aku sudah merekam semua perkataannya. Kalian tahu? Apa yang aku tekan saat itu? Aku menekan tombol ‘OK’ untuk merekam suara disana. Hahahaa.
“Tapi.. Ta.. Tapi..” Tiba-tiba saja Tuan Sialan tergagap. Baru sekarang aku melihatnya tergagap seperti ini. Lucu sekali. Hahahha.
“Tapi apa Tuan? Ayolah, akukan pelangganmu.” Ucapku sambil tertawa sinis padanya. Tiba-tiba saja dia menggandeng tanganku dan menariknya keluar restoran. Omo (Ya Tuhan), apakah aku akan dipecatnya lagi?
“Stoppp! Kau akan membawaku kemana?” Aku berucap sambil sedikit meronta-ronta padanya. Dia malah semakin keras menggenggam tanganku dan membawaku masuk ke mobilnya. Seketika aku bingung dengan apa yang dilakukannya. Diapun segera menyalakan mesin mobilnya dan mulai menancap gas. Aku masih bingung dengan yang dilakukannya. Perlahan, tenggorokkanku hendak mengeluarkan kalimat. Aku sudah bersiap dengan mulut sedikit mengaga. Tiba-tiba saja dia menyela.
“Sudah, jangan bicara! Aku sudah tahu apa yang akan kau ucapkan. Sekarang kau diam saja! Cukup duduk disini dan ikuti aku.” Jelasnya ketus. Dasar, masih saja kurang ajar dia.
Sedikit demi sedikit, aku mulai sedikit menatapnya. Dapat ku lihat dia yang sibuk sendiri menyetir sedari tadi. Aneh, semakin ku tatap wajahnya, semakin cepat jantung ini memompa darah. Tiba-tiba saja, jantung ini berkembang-kempis 500 kali per menit. Hyun-Ae, tenang. Kenapa kau menjadi grogi seperti ini?
Sejenak, diapun melirik sedikit ke arahku yang sedang mencoba menenangkan diri. Dia tersenyum kecil melihatku. Aku hanya tertunduk.
“Ckkttt” Tiba-tiba dia menginjak rem secara mendadak. Spontan aku langsung kaget. Jantungku semakin kecang saja, hampir 1000 kali per menit.
“Tak bisakah kau tak menginjak remnya secara mendadak? Hampir-hampir jatuh jantungku ini. Untung saja aku tak punya pe..” Belum sempat ku selesaikan bicara, dia sudah beranjak keluar. Akupun membisu sambil terus duduk di dalam mobil. Aku tak akan keluar.
Diapun menatapku dari luar, aku hanya memasang wajah marah padanya. Matanyapun berputar melihatku. Ihh menjengkelkan sekali dia!
“Cepat keluar! Aku sudah bilang padamu. Kau tinggal duduk dan ikuti aku. Sekarang masa dudukmu sudah selesai! Ikuti aku!” Ucapnya setengah berteriak. Aku hanya memalingkan wajahku. Diapun langsung menghampiri pintu mobil sebelahku. Dia mulai membukanya.
“Cepat keluar!” Perintahnya padaku. Akupun segera keluar dari mobilnya. Diapun berlalu masuk ke sebuah restoran sepertinya. Ya, restoran. Seketika dia berjalan, aku masih mematung di samping mobilnya.
“Kau manja sekali!” Diapun membalikkan badannya dan berjalan ke arahku. Dia menarik tanganku masuk menuju ruangan itu. Aku, aku hanya terdiam seribu bahasa dan mengikutinya saja.
“Duduk disini!” Diapun mendudukkanku disebuah kursi di hadapannya. Aku masih terdiam. Tunggu, tak biasa aku terdiam seperti ini.
“Heh, kau diam melulu! Apa yang salah hari ini? Apakah kau shock karena tiba-tiba saja orang tampan dan kaya sepertiku mengajakmu makan bersamanya? Hah?” Ucapnya terlalu percaya diri. Euhh.. Siapa yang mau makan bersama bos super galak dan menyebalkan seperti dia?
“Siapa juga yang mau makan bersamamu! Lebih baik aku pulang saja! Besok hari terakhir aku melaksanakan ujian. Aku belum menghafal!”
“Nah, kenapa kau datang ke restoranku tadi?” Pertanyaan yang sungguh tak nyambung dengan perkataanku. Dasar Pabo (Bodoh)!
“Aku lapar.”
“Makanlah di sini. Aku akan memesankanmu Bulgogi.” Ucap Tuan Sialan itu. Tiba-tiba seorang pelayan menghampiri kami. Tuan Sialan langsung memesan bulgogi sebagai makanannya dan teh sebagai minumannya. Teh, minuman kesukaan Appa.
“Kau tahu, mengapa aku mengajakmu makan bersama?” Ujarnya padaku. Aku hanya menggeleng saja. Dia sedikit memperhatikanku. Apa yang dia perhatikan.
“Sudahlah, cepat katakan apa maksudmu mengajakku kesini!” Ucapku ketus lagi. Diapun sedikit terseyum padaku. Tak biasanya senyumnya tulus sekali.
“Aku kasihan padamu ingin makan.” Ucapnya lagi. Seketika Bulgogi yang kami pesanpun datang bersama sepasang teh. Pelayan itu dengan perlahan menurunkan apa yang dia pegang di nampannya dengan sangat hati-hati. Setelah selesai, dia memeluk nampannya seraya berucap,
“Selamat makan.” Diapun pergi meninggalkanku bersama Tuan Sialan itu. Sementara Tuan Sialan, dia masih menatapku.
“Jika ada masalah, katakan saja. Tak usah segan.” Ucapnya sambil perlahan menyedot teh di dalam gelas. Mulai ku perhatikan teh itu. Gelasnya mulai mengeluarkan embun karena dinginnya teh di dalam gelas. Airnya sedikit berasap saking dinginnya. Aku terus memperhatikan gelas berisi teh itu. Dan tanpa terasa, aku menangis.
“Kau menangis? Waeyo? Apa karena gelas ini?” Ucapnya seraya melihat gelas lalu melihatku kembali. Sementara aku hanya terdiam. Aku teringat Appa. Begitulah keadaan setiap teh yang dia minum. Aku selalu memperhatikannya setiap Appa akan meminum teh itu. Dia memang sedikit aneh. Tapi, mengapa Tuan Sialan itu suka teh juga?
“Aniyo, kau suka teh?” Tanyaku padanya. Diapun sedikit memalingkan pandangannya pada teh itu.
“Tentu saja, aku suka sekali. Dari pada aku minum Soju atau yang lainnya, aku lebih baik minum teh. Entah mengapa. Aku selalu merasa cocok jika memakan apapun, dan minumannya adalah teh. Itu seperti cocok sekali.” Ucapnya sedikit panjang. Akupun hanya mengangguk mengerti lalu meraih sumpit dan mulai memakan Bulgogi itu. Terlihat dia menatap ke arahku.
“Memang mengapa kau bertanya seperti itu?” Tanyanya heran padaku. Aku yang sedang menunduk sambil memakan lahap bulgogi itu karena laparnya sedikit mengangkat kepalaku, dengan mulut dan bibir yang penuh dengan kecap manis, asin dan pedas itu.
“Hmm.” Terdengar suaraku menelan makanan. Akupun sedikit terdiam. Ku lihat, dia mengambil secarik tisu lalu mengusap mulutku yang berlepotan kecap.
“Kau seperti anak kecil saja.” Komentarnya padaku sambil terus mengusap sekitar mulut dan pipiku. Akupun meraih tangannya. Dan menahannya. Memberi Isyarat untuk berhenti mengusap mulutku.
“Melihat gelas itu, aku jadi ingat pada seseorang yang special untukku.” Ucapku sedikit sendu padanya. Dia menatapku nanar. Sesaat, dia memandangku serius.
“Nugu (Siapa)?”
“Aku bisa menangis menceritakannya padamu.”
“Aku tak peduli kau mau menangis atau bagaimanapun.” Ucapnya sekenanya padaku. Aku hanya mengerutkan bibir dan memurungkan wajah. Diapun tiba-tiba tersenyum padaku. Argghh senyum lagi.
“Marhaebwa, aku akan menghapus air matamu jika kau menangis.”
“Geurae (Baiklah), begini ceritanya…”

Hari ini aku akan membereskan kamar Appa. Tapi, aku tak yakin ketika melihat cincin yang Appa simpan untuk Nam-Bi. Haruskah aku memberikannya? Tapi, aku membencinya. Appa memang mengajarkanku untuk tak membenci orang lain. Tapi, bagaimana lagi. Ya sudahlah, aku simpan saja dulu.

“Aku ingin mengajakmu menemui Kakakku. Kau maukan?” Tuan Sialan itu akhir-akhir ini mendadak baik padaku. Entah karena apa? Mungkin, dia terkesima olehku. Hahaha.
“Geurae (Baiklah), kapan?” Tanyaku.
“Jigeum (Sekarang), Kajja!” Diupun menarikku menujunya, aku hanya mengikutinya dari belakang. Tampaknya dia akan mengajakku ke ruang pribadinya.
“Kita pergi ke rumahku.” Ucapnya. Akupun terus mengikutinya. Dia hampir sampai di rumahnya.
“Nonna (Kakak), dialah orangnya.” Seru Sun-Ho pada wanita yang tengah memasak di dapur. Wanita itu pun segera menemuiku dan Sun-Ho. Seketika, aku terkaget.
“Nam-Bi?” Ucapku. Sun-Ho sedikit bingung mendengarku mengucapkan nama kakaknya.
“Kak, dialah orang yang aku sukai.” Bisik Sun-Ho padanya. Seketika, Nam-Bipun mendorongku hingga jatuh. Sun-Ho kaget.
“Ada apa Kak?”
“Nyonya Nam-Bi, maafkan aku.” UCapku.
“Kau tahu? Bagaimana rasanya tak direstui, pergi pergi!” Suruhnya padaku. Akupun berdiri dan bersujud di kakinya. Sementara Nam-Bi hanya diam dan Sun-Ho bingung.
“Aku mohon maafkan aku. Aku bermaksud memberikan ini padamu. Ini dari Appa. Ini.” Aku menyondorkan kotak berisi cinicn padanya. Lalu akupun pergi.
“Aku pergi.”
“Tunggu..” Sun-Ho menarikku hingga aku menendang sebuah kotak di sana. Kotak itu berisi bola. Akupun sedikit penasaran, sepertinya aku kenal bola itu.
“Ini punyamu Sun-Ho?” Tanyaku, aku dapat melihat bola itu sama seperti anak yang telah membuat celaka orang tuaku.
“Itu masa kecilku.”
“Lalu mengapa ini sobek?” Tanyaku.
“Aku terserempet mobil.” Jelasnya.
“Apa? Jadi kau yang telah menjadi penyebab kecelakaan orang tuaku?”
Seketika, Sun-Ho kaget.
“Jadi…” Dia terbata, akupun hampir menangis.
“Aku tak menyangka, aku membencimu!”
“Maafkan aku Hyun-Ae..” Lirihnya.
“Maaf? Kau tahu? Ibuku meninggal dalam insiden itu!” Akupun hampir berlalu namun nam-bi memanggilku.
“Hyun-Ae..” Akupun terhenti.
“Maafkalah dia dan jadilah pendampingnya.” Pinta Nam-Bi. Akupun hanya terdiam tak bergeming. Aku tak percaya. Orang yang aku sayangilah yang telah membuat kecelakaan itu.
“Ayoo..”
“Tidak” Akupu berlari dan meninggalkan mereka. Hatiku sungguh tak menentu, aku mencintainya, tapi aku tak mampu memaafkannya.

Cerpen Karangan: Selmi Fiqhi
Facebook: http://facebook.com/selmifiqhikhoiriah
Twitter: @SelmiFiqhi

Cerpen Saranghae Appa (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Bahagiaku Adalah Bahagiamu

Oleh:
Kring.. kring.. kring bunyi handphone di saku kananku, Aku tidak berani membukanya meski tak seorang pun mengawasiku di ruangan ini tapi tetap ada CCTV di setiap sudut ruangan tengah

Aku Ingin Mati

Oleh:
Rintik-rintik hujan mulai menjatuhkan dirinya ke bumi. Cuaca sekitar terlihat mendung. Mataharipun mulai menyembunyikan dirinya, hanya seberkas sinar yang tersembur di langit yang mulai menggelap. Rintik-rintik hujan itupun berubah

Biola Hitam

Oleh:
Nisa menyusuri trotoar menuju halte bus. Terik matahari menyoroti wajah Nisa yang putih bening. Nisa melihat sepanjang tempat duduk di halte, penuh tidak memungkinkan untuk duduk, dengan terpaksa dia

Kado Untuk Mama

Oleh:
‘Ah gimana nih?’ Batin Putri, Putri sedang memikirkan kado apa yang pas untuk mamanya karena sebentar lagi adalah hari ibu, ia ingin memberi kado yang biasa saja tapi berkesan

Gantung

Oleh:
Malam yang ramai, ratusan orang memadati sebuah SMAN favorit di Kabupaten Temanggung. Mulai dari gerbang, lapangan, hingga kelas-kelas semuanya dipadati dengan kehadiran orang-orang, meskipun hujan tetapi tetap tidak menyurutkan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *