Saranghae

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Cinta Romantis, Cerpen Korea
Lolos moderasi pada: 13 June 2013

Bentangan canvas biru indah di udara yang tertutup kegelapan malam terindahkan dengan sorotan indah purnama bulan. Malam itu angin malam berhembus tenang membiarkan helai demi helai rambut hitam panjang ini tersapu lembut ke udara hingga ku terhanyut ke dalam kesyahduan indah malam itu.

“Berhati-hatilah ketika berjalan, jika tidak bukan hanya diriku yang akan kau tabrak malam ini.”

Hentakan seorang pria bertopi yang membuatku tersadar itu memecahkan ketenanganku.

“Maaf, maafkan aku!” ucapku sambil menundukkan kepalaku.

Seketika ku angkat kepalaku, berusaha menatap wajah itu untuk meyakinkan bahwa ia memaafkanku. Tetapi wajah itu, aku mengenal wajah itu. Yah sebuah wajah yang tak asing bagiku.

“Rio” kata itu keluar begitu saja dari bibir mungil ini.

Namun pria itu tak menghiraukanku dan langsung pergi meninggalkanku di depan kincir angin taman hiburan ini. Namun rasa menggebu di dalam hatiku terus saja berkecambuk seakan terus saja memikirkan sosok laki-laki yang ku temui tadi. Sungguh aku mengenal sosok itu, tetapi topi yang ia gunakan membuatku tak bisa melihat jelas wajah pria itu dan perasaan itu sungguh mengganggu kerja otakku.

Akhirnya akupun memutuskan untuk pulang, sebelum pikiranku semakin kacau dan sebelum semakin banyak orang yang akan ku tabrak lagi malam ini. Lagi pula arloji merah di tangan mungil ini sudah menunjukkan pukul 00.56 yang mengartikan bahwa sekarang sudah larut malam dan taman hiburan ini akan segera di tutup.

Sore itu ku tatap lagi canvas biru di atas kepalaku.

“Hey langit, kenapa kau berwarna gelap? Kenapa kau tak seindah hari kemarin, apakah hatimu sedang bersedih hingga kau mengganti warna cerahmu dengan kegelapan itu? Ayo katakanlah padaku.”

Akupun mulai melangkahkan kakiku untuk berkeliling pusat kota, walau ku tahu bahwa sore itu cuaca kota sedang mendung. Dan ketika kaki ku terlangkah di sudut taman kota, butir-butir keindahan itupun terjatuh satu demi satu di atas kepalaku.

“Hujaaaaan” ucapku sambil menegakkan kepalaku ke langit.

Lalu akupun memutuskan untuk masuk ke dalam taman kota yang dalam keadaan tidak terlalu ramai itu. Yaah, mungkin karena cuaca sore ini sedang tidak bagus hingga tempat ini terasa sepi.

Akupun melangkahkan kakiku sambil menghitung petak demi petak lapisan marmer yang menghiasi lantai taman ini.

“Satu.. duaa.. tigaa.. empaat.. limaa..”

Akupun terus menghitung petak demi petak rangkaian marmer tersebut hingga pada hitungan kedua puluh langkah ku pun terhenti,

“Sembilan belas.. Dua pu-luuh..”

Akupun mengangkat kepalaku, terlihat sebuah ayunan tua di hadapanku. Tanpa pikir pajang akupun membiarkan tubuhku terayun di atas ayunan tua ini. Aku memejamkan mata dan menyandarkan kepalaku di besi ayunan. Pikiranku terhanyut kembali pada kenangan 10 tahun yang lalu. Tempat ini, di taman ini dan di ayunan tua inilah, tempat dimana aku dan Rio biasa menghabiskan waktu kami berdua. 10 tahun yang lalu, kenangan tentang sebuah persahabatan indah menghanyutkan kembali anganku hinga membuat ku tak sadar membiarkan butiran-butiran bola kristal itu mengalir dari mata kecil ini.

“Hei, bukankah besok adalah hari ulang tahunmu? Apakah kau tak merindukanku?” teriakku.

Akupun menyeka air mataku dan memilih untuk menikmati keindahan hujan kala itu. Ku ayun kencang ayunanku tanpa perduli seberapa deras hujan kala itu, yang ku tahu aku menyukai saat ini. Aku mengigit kecil bibirku dan memejamkan mataku sambil menikmati butiran-butiran air yang berjatuhan di atas wajahku.

Di sudut taman, ada sesosok pria bertopi yang mengamatiku dari kejahuan tanpa ku sadari. Sosok berparas tampan, berbadan tinggi dengan jaket hujan berwarna biru tua dan tak lupa topi yang selalu ia pakai yang begitu menghalangiku untuk melihat wajah pria itu ia terus saja mengamatiku.

“Hey nona, apakah kau sudah gila mengayunkan ayunan dengan sekencang itu di saat hujan deras begini?” Bentaknya

Aku menatapnya kaget. Yaa benar, dia pria bertopi yang hampir ku tabrak di taman hiburan tadi malam.

“Kau?” tanyaku mencoba menyakinkan diri

“Pakailah jaket dan payung ini. Lalu segeralah pulang, jangan lagi melakukan hal bodoh seperti ini. Kalau tidak kau akan sakit dan bertambah gila.” Ucapnya dan kemudian melangkah pergi meninggalkanku.

“Hey pria angkuh, berhenti!” Ucapku

Pria itupun menghentikan langkahnya meskipun ia tetap berada dalam posisi membelakangiku.

“Terima kasih banyak untuk payung dan jaket ini, tetapi ambillah saja ini. Aku tak membutuhkannya”

“Berhentilah menyakiti dirimu, kau bukanlah seorang wanita kecil seperti 10 tahun yan lalu.” Ucapnya, lalu kembali melanjutkan langkah kakinya

“Kau..?” ucapku terdiam sambil terus memandangi kepergiannya.

“Hujan ini benar benar membuat badanku mengigil “Kataku dalam hati sambil merapatkan jaket tebal milik pria itu.

Akupun berjalan menuju pusat kota. Pandanganku tertuju pada sebuah cafe coffee di sebrangku. Sebuah meja kecil berhiaskan tulisan “saranghae” di atas meja kecil cafe itu berhasil menarik perhatianku. Aku duduk di dekat jendela kaca agar ku bisa menikmati hidangan coffee dan hujan saat itu.

“Cappucino bubble satu” Kataku pada seorang pelayan.

Tak lama kemudian pesananku datang,
“Cappucino bubble special dari cafe saranghae, silakan dinikmati” Kata seorang pelayan bertopi sambil membungkukan badannya mempersilakan aku untuk meminumnya.

“Terimakasih” balasku sambil tersenyum.

Sesaat setelah aku menikmati coffe hangat ini, pikirankupun tersadar.
Topi itu? bukankah dia adalah pria itu? Pelayan ituu..

“Hey lelaki angkuh, berhenti!” teriakku yang membuat semua orang berbalik menatapku. Tetapi pria itu tak meperdulikanku sama sekali dan tetap berjalan pergi meninggalkanku.

Akupun bergegas melangkah berusaha mencari-cari pria itu lagi.

“Permisi, boleh aku bertanya?” ucapku pada seorang pelayan wanita di caffe itu.

“Iya nona, apakah ada yang bisa saya bantu?”

“Apakah anda melihat seorang pelayan bertopi yang telah mengantarkan pesanan kemeja ku tadi?”

“Ohh, pria itu. Bukankah dia adalah tunanganmu nona. Ia meminjam sebuah seragam milik pegawai di caffe ini, katanya ia ingin memberikan sebuah kejutan kepada kekasihnya.”

“Tunanganku? Lalu dimana pria itu sekarang?”

“Dia hanya menitipkan sebuah surat ini untuk nona”

*Kincir angin, pukul 00.00 malam nanti
Jangan lupa membawa kado untukku, kau mengerti?*

“Nona, anda baik-baik saja?” ucap pelayan itu yang memecah lamunanku.

“Yaah, aku baik-baik saja. Terimakasih.” balasku

Hujanpun berangsung mereda, waktu sudah menunjukkan pukul 23.40 malam saat itu. Dan pikiranku masih saja dibingunggkan dengan sebuah catatan kecil di surat ini.

“Kincir angin, malam nanti? Membawa kado? Apa maksud pria ini? Dimana kincir angin dapat ditemukan di kota ini? Lalu untuk apa aku membawa kado untunya?” lamunku.

“Hey nona, hati-hati. Kau hampir saja menabrakku.” Ucap seorang pria yang hampir tertabrak oleh ku.

“Kincir angin? Malam itu.. berarti. Lalu kado, Rio..? Laki-laki itu. Akankah..” Seketika akupun tersadar dengan semua ini.

Alrloji kupun telah menunjukkan pukul 00.00 tepat malam ini,

“Tidak, aku harus cepat!”

Akupun langsung menghentikan sebuah taksi dan mengarahkan pengemudi itu menuju taman hiburan tempat aku dan pria itu bertemu malam kemarin,

“Tuan, bisakah kau mempercepat laju mobilmu?” ucapku sambil menatap arlojiku yang sudah menunjukkan pukul 00.20 malam itu.

“Baiklah nona.”

Tak lama kemudian mobil taksi yang ku tumpangi ini pun terhenti, tetapi ini bukanlah tempat yang ku tuju.

“Ada apa tuan? Kenapa kau berhenti?” tanyaku

“Ada kecelakaan di depan nona, jadi kita harus memutar lagi jalurnya. Jika tidak kita akan tejebak kemacetan yang cukup lama disini.”

Hatikupun semakin aruk-arukan tak menentu,

Pukul 01.00 tengah malam, gerbang taman hiburan ini pun telah terkunci yang menandakan bahwa taman hiburan ini telah di tutup.

“Tidaaak!” Aku harus masuuk, seseoraang tolong bukakan gerbang ini.” Teriakku kesal.

Akupun duduk tertungkup, sambil menangis. Dan kemudian tiba-tiba,

“Hey gadis bodoh, kenapa kau menangis?” Ucap seorang pria dari arah belakangku.

Tanpa pikir panjang akupun langsung berlari dan memeluknya, karena suara ituu. Yaah, aku mengenali suara itu. Itu adalah suara Rio.

“Aku merindukanmu.” Ucapku sambil tetap memeluknya.

“Gadis bodoh! kau kira aku tak merindukanmu” ucapnya sambil tertawa kecil

“Dasar kau!” ucapku sambil tertawa dan tetap memeluknya

“Hey nona, apakah kau akan memelukku hingga pagi nanti. Aku tak bisa bernafas dengan normal karena pelukanmu ini.”

Akupun melepaskan pelukanku, dan memukul kepala Rio.

“Dasar bodoh.”

“Hey, bukankah itu kata-kata milikku?” ucap Rio yang kemudian berlari mengejarku yang telah duluan berlari meninggalkannya.

“Hey, apakah kau masih akan terus berlari?” Teriak Rio padaku yang sudah berlari duluan didepannya.

“Ikuti saja aku.” Jawab ku.

Kami terus berlari, hingga akhirnya langkah kaki ku pun terhenti di hadapan dua ayunan tua di dalam taman kota.

“Ternyata kesini kau membawaku.” Ucap Rio sambil tertawa.

Lalu Rio pun duduk di ayunan tua disebelahku, persis seperti kenangan 10 tahun yang lalu. Lalu kamipun mengayunkan ayunan kami dengan sekencang-kencangnya, membiarkan tubuh kami terhanyut bersama hembusan angin malam sambil menghadap ke canvas bertabur cahaya bintang.

Akupun menghentikan ayuanan besi tua milikku,

“Apakah kau akan kembali lagi ke Jerman?” Apakah itu artinya kau akan meninggalkanku lagi?” tanya ku

Riopun hanya diam dan tetap memandang langit seraya menikmati ayunan pelan besi tua itu. Lalu akupun tertunduk, rasanya semua kebahagiaan yang baru saja kurasakan terhapus ketika aku mengetahui bahwa Rio akan kembali meninggalkanku.

“Hey, kenapa kau bersedih?” ucap Rio yang entah kapan sudah berlutut dihadapanku.

“Apakah kau akan kembali?”

Rio tak menjawabnya,

“Apakah kau akan kembali?” tanyaku sekali lagi

Rio tak menjawabnya, ia hanya mencium keningku.

Lalu ia pun berjalan ke arah belakang ayunan milikku dan mengayunkan ayunanku dengan sekencang-kencangnya,

“Aku tak akan meninggalkanmu lagi, karena aku mencintaimu bodooh.” Ucap Rio.

THE END

Cerpen Karangan: Dwi Amalia Rahmadani
Blog: http://amaliarahmadhani.blogspot.com/

Cerpen Saranghae merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Pacaran? Enggak deh!

Oleh:
“Cie Shila liatin siapa tuh?” ejek Rini dan yang lainnya. “Ih apaan sih Rin, orang gak liatin siapa-siapa” Ketusku sambil pergi meninggalkan mereka. Gak mungkirin juga sih suatu saat

Masa Yang Panjang

Oleh:
Pertama aku melihatnya di teras halaman depan rumahnya, mataku seperti terkunci hanya untuk melihat wajahnya. Maklum aku baru datang di kota ini karena aku baru pindah sore ini ke

Cinta di Surga

Oleh:
Aku tidak tahu Aku berada di mana kulihat semua tempat ini tampak putih dan dari kejauhan kulihat ada seorang wanita cantik menghampiriku. “Putra” sapa wanita itu “Kamu siapa?” jawabku

Cinta Akhir Sekolah

Oleh:
Cinta, aku mau menunggu Apakah kamu masih mencintai pria yang sudah bertahun-tahun tak meresponmu itu? Ya, aku tidak pernah merasa bosan menunggunya, aku benar-benar terpikat olehnya. Terkadang aku terlalu

My First and Last Love

Oleh:
Selama 15 tahun hidupku ini, aku hanya pernah sekali jatuh cinta, sekali mencintai, sekali punya pacar, hanya satu kali, benar-benar hanya satu kali dan itu pun pada satu orang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Saranghae”

  1. Syabity Al-adzummah says:

    Romance story…..
    I like it!!!
    Lebih baik lagi yaa berkreasinya? hihi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *