Satu Jam Untuk Selamanya

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Kristen
Lolos moderasi pada: 27 September 2017

Kisah ini antara aku, dia dan satu jam saja. Entah mengapa manusia selalu merasakan yang namanya alfa dan omega, bahagia dan sakit hati dan semua dijadikan berpasangan. Awal kisahku ini terjadi oleh perasaan sakit hati yang berakhir pula dengan sakit hati dalam manisnya garam cinta walau satu jam saja. Bertapa dalamnya cinta membuat setiap orang tak ingin melupakannya. Namun dalamnya cinta juga membuat orang merasakan bahagia bahkan sakit hati yang mendalam seperti yang kurasakan. Aku terlahir oleh cinta, hidup dan bertumbuh oleh cinta ini pula. Cinta memberiku sebuah anugerah. Akulah sang penakluk cinta. Setiap orang yang menatapku terlebih lawan jenis feminimku akan terbuai melihat gelapnya kehidupanku yang terlukis dalam bola mataku. Mereka akan berusaha menyelaminya dan akan terus mencari harta karun terindah dalam surga yang ada pada diriku yang adalah neraka terjahat dalam cinta.

Kisahku berawal dari kerinduanku kepadanya yang menelantarkan cintaku di ujung jalan ke Timor. Namun pesona dan keindahan cintanya masih kurasakan dan membuatku tegar menghadapi semua ini. Meski aku dibuang bagai pengemis di negeri cintanya namun aku tetap mencintainya. Bahkan aku pernah disangkal bahwa aku bukan miliknya, namun aku masih tetap mencintainya.

Akulah Naga seorang siswa kelas 11 SMA 1 di Timor. Lahir dari orangtua yang berkecukupan namun sederhana-sederhana saja. Aku anaknya simple. Tidak suka mengagung-angungkan sesuatu dan merendah-rendahkan sesuatu. Aku mempunyai seorang kekasih. Denise akrab tersapa oleh aku dan mereka. Kisah kami boleh dibilang sangat berbeda dengan semua pasangan kekasih. Kami berdua orangnya sama-sama sanguinis. Kata Fr. Never sih, sanguinis love sanguinis tidak akan berjalan lama. Banyak argument yang membuktikan itu dari sikap kami. Namun aku sih tak peduli, sebab kami sudah menjalani ini semua dan melewati masa lebih dari cukup. Hari-hari kami lewati bersama. Hanya kami. Teman-teman kami pun sama-sama mendukung cinta kami. Bahkan cinta kami terbawa hingga ke dalam keluarga kedua belah pihak. Dan mereka pun setuju-setuju saja “asalkan suka sama suka” ujar mereka. Kami sudah saling mengerti dan terbiasa.

Namun semakin lama kisah cinta kami ini bejalan, aku mulai merasa kata-kata Fr mulai ada benarnya. Dua bulan terakhir ini aku merasakan kelaparan, kekeringan singkatnya kemiskinan cinta yang sangat dalam. Denise yang adalah kekasih sekaligus kakak kelasku di sekolahku. Ia memilih membiarkan cinta kami digantungkan untuk kebebasannya dalam belajar menghadapi ujian akhir nanti. Aku yang tidak terbiasa menghadapi ini semua, dibuatnya gila. Aku serasa tidak punya gairah untuk hidup lagi. Akhirnya pelarian cintaku kulampiaskan ke dalam miras dan pergaulan malam. Meski itu buruk namun aku merasa sedikit nyaman dibuatnya. Setiap hari kuhabiskan tenaga dan materialku untuk semua hal yang sia-sia itu.

Denise semakin menjadi-jadi. Semakin menjauhiku. Bahkan ingin mengakhri hubungan kami. Namun selalu ada sedikit penghambat yang membuatnya masih mempertahankanku. Aku tak tau jalan pulang. Aku di dalam hatiku selalu menjerit tiap malam kepada botol-botol kaca ini dan api-api kecil ini. “Bawa aku pulang. Bawa aku pulang ke dalam kedamaian cintanya”. Sampai pada akhirnya aku terbaring dengan sendirinya secara tidak wajar pada pembaringan yang tak layak di emperan-emperan jalanan bersama anak-anak malam. Di sekolahku, banyak yang berbeda dariku. Aku yang dianggap anak yang pintar, rajin, aktif dan baik kini terbalik menjadi anak yang malas tahu dengan pelajaran, malas omong, sensitf dan suka marah-marah.

Di suatu malam aku dipertemukan dengan ibuku. Ibuku menanyakan kabar Denise yang sudah lama tidak kedengaran. Aku pun tertunduk dengan bibir dan tubuh kaku. Ibuku memegang tanganku dan menggenggamkanku segerombol biji-biji suci yang akhirnya membuatku keluar dari kemiskinan cintaku. Tiga hari kucoba mati raga. Bersama Agung sahabatku yang menemaniku menyelesaikan semua itu. Waktu tepat jam dua belas malam yang ditutup dengan menyapa seorang Permaisuri dan Rajanya di sebuah pondok suci di bukit surga Maol. Aku pun mendapat kekuatan baru diawal bulan baru ini, dengan visi dan misi hidupku yang pasti yang menjaminku tak akan mengalami krisis cinta Denise lagi.

Di sini awal bulan baru, awal aku mengenal Tuhan, sahabat dan cinta. Aku berjanji akan tekun mengunjungi Permaisuri itu selama aku diberi kesempatan di tanah Timor ini. Sebab Permaisyuri itu menjamu dan menghantarkan aku pada Raja yang maha kuasa. Karna-Nya aku mulai menjalankan kehidupan ku tanpa gelas-gelas kaca dan api-api kecil itu, walau sesekali masih mencobanya. Hidupku semakin terarah menuju kemajuan. Belajar, saling membantu, sederhana, terbuka kepada semua orang dan yang pastinya tanpa kemiskinan cinta Denise.

Tak disadari sikap Denise itu sengaja dibuatnya agar aku marah padanya dan rasa cintaku berkurang. Karena dia tahu dia akan segera pergi meninggalkanku dan akan menetap di luar negeri bersama ayahnya. Tanpa kata-kata perpisahan denganku, dia pun pergi meninggalkanku secara diam-diam. Saat itu aku rasa-rasa ingin mengakhiri hidupku. Namun Permaisuri dan Rajanya memberikanku penawar racun atas racun sakit hati ini. Berbulan-bulan aku menderita.

Dalam pergulatanku menghadapi semua itu, disitulah aku mengenal dia. Dialah wanita yang penuh warna, penuh visi misi dan perhatian yang ingin mencari tau dunia di dalam bola mataku. Dia sudah terbuai dengan tatapan-tatapanku yang membuatnya terkagum pada hidupku. Ya, ya, ya, dialah Biskuit yang kusapa dengan manja. Aku ada untuk satu jam kedepan bukan untuk selamanya.

“Dalam nama Bapa, dan Putra dan Roh Kudus.”
“AMIN.” Semua menjawab dengan penuh suka cita termasuk aku.

Hari ini, hari pertamaku masuk organisasi keagamaan. Hari ini aku diperkenankan untuk memperkenalkan nama layaknya aku seorang anggota baru.
“Baik namaku NAGGA. Anak kelas XI Bahasa. Status cinta: dalam masa rumit.”
Sekian perkenalan dari saya ini yang memicu Biskuit mencari tahu kebenaran dalam kesalahan di dalam bola mataku. Aku yang terkesima melihat tingkah lakunya yang seperti ingin mencari tahu tentang diriku, sejenak tak sadar melupakan Denise dan mencoba ingin menaklukan mata dan hatinya. Setelah selesai kegiatan organisasi berakhir, tak lupa aku sempatkan mampirkan tanganku pada tangannya. Kami saling menatap dan membiarkan cinta terlarut dalam pandangan tanpa kata-kata mutiara cinta yang banyak omong kosong belaka. Tak sadar Kiky memisahkan pelukan cinta kami dalam empat bola mata kami. “Nagga… Yuk kita pulang… sore kan kamu harus pergi mensurvei lokasi ziarah?” ujar Kiky. Aku pun kemudian sadar bahwa aku harus buru-buru pulang sebab aku ditugaskan dalam organisasi untuk mensurvei lokasi ziarah nanti sore. Kami pun berpisah dengan senyuman penuh kebahagiaan dan penasaran. Tak ada sepatah kata dua yang sempat kami ucapkan.

Tapi rasa ini tidak pernah salah. Meski hanya satu jam bersama tatapan dan senyumannya itu, tanpa sepatah kata dua yang keluar dari mulut kami berdua. Tapi aku merasa dia telah ditunjuk sebagai pengganti Denise. Karena dia orang setelan Denise yang telah melihat ganasnya tatapan mata ini. Lebih cepat dari Denise yakni satu jam saja. Aku yakin suatu saat dia dapat merasakan seperti yang Denise rasakan.

Cerpen Karangan: Ambrosius Putranto Mau
Facebook: Ambrozy Putrant
Ambrosius Putranto… Seorang yang gila mempertaruhkan masa depanya memilih menyelesaikan SMA-nya selama 4 tahun karena cinta akan bahasa dan sastra Indonesia, ketimbang masuk kelas alam.

Cerpen Satu Jam Untuk Selamanya merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Ternyata Aku Salah Mencintaimu

Oleh:
Tepat pukul 07:00 jam deringku berbunyi, rasanya sangat malas sekali untuk membuka mata, tapi sangat tidak mungkin jika aku melanjutkan tidurku, karena aku juga harus beraktivitas pagi ini. Dengan

Kasih yang Terpendam

Oleh:
Berawal dari kisah ku 5 tahun yg lalu, waktu aku masih menduduki kelas 1 SMP. Aku mengenal seseorang lewat mimpi, ntah pertanda apa mimpi itu, hingga suatu hari aku

Aku Benci Bulan

Oleh:
Langit malam ini terlihat begitu indah, bintang bertaburan di atas langit gelap yang membentang. Terlihat sangat indah karena tak ada bulan di atas sana. Aneh ya, tak ada bulan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *