Satu Menit Pandangan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 11 February 2016

Udara pagi yang sejuk, membuatku semangat untuk menyambut hari yang bahagia ini. Setelah 3 minggu kita berlibur sekolah, meskipun libur sekolah kemarin bukanlah hari yang membahagiakan bagiku. Karena saat itu, adalah saat terakhir aku dan Fahri (mantan pacar terbaikku ). Dia sudah meninggalkan dunia untuk selamanya karena penyakit kanker yang dideritanya. Tapi… ya sudahlah, itu semua sudah takdir Tuhan. Dan mungkin itu juga yang terbaik baginya.

Sekarang aku sudah kelas 11, tepatnya di SMK Nusa Hati di kota Bogor jawa barat. “Nayla…” Begitulah teman-teman memanggilku. Teriakan Ani dan Gita dari kejauhan membuatku sontak terkejut. Mereka adalah sahabat terbaik yang aku punya. “Nayla, aku kangen banget sama kamu.” keluh Gita sembari memelukku. Beginilah kami bertiga, sahabat yang saling erat dan enggan untuk berpisah. Setelah lama kita saling kangen di depan gerbang sekolah, kita langsung menuju taman sekolah dekat parkir sepeda.

“Eh lihat deh, adik-adik kelas kita genit banget. Baru juga masuk sekolah, dandanannya udah kayak bintang pantura aja.” Kata Ani sambil nunjuk adik-adik kelas perempuan yang baru datang di sekolah. “Eh apaan sih An, ya biarin aja lah. Pengen tampil cantik mungkin.” Jawabku lirih.
“Ya tapi Nay. Kita dulu gak gitu-gitu amat. Lihat mereka bertiga, tampilannya udah ngalahin geng kita, 3 dara cantik,” Kata Ani sambil nunjuk anak-anak kelas 10 yang kebetulan mereka bertiga sedang cari perhatian di dekat kakak-kakak kelas 12.

“Ya udahlah, 3 dara cantik gak akan ada yang ngalahin. Daripada ngomongin mereka, lihat tuh adik-adik kelas kita yang laki-laki. Wuihh ganteng banget.” Jawab Gita sambil tersenyum.
“Yang mana?” tanya Ani. “Itu yang di deket ruang kelas 10 AK 2.” Jawab Gita. Pandangan kami bertiga pun tertuju pada 4 cowok anak kelas 10 yang dimaksud Gita tadi.
“Ah, biasa aja. Gitu kok dibilang ganteng,” kataku sinis. “Ya elah, lo mah. Tahu dah, lo kan lagi galau habis ditinggalin Fahri.” Kata Gita tanpa pikir panjang.
“Gita, diam dong.” jawab Ani. Saat itu aku jadi teringat Fahri, mantan terbaikku. Cowok yang udah ngerubah hidupku. Meskipun hanya sesaat.
Tiba-tiba, “Nisca…” suara cowok yang membuatku terkejut. Entah siapa yang mengatakan itu tadi. Sungguh, air mataku tak bisa lagi ku bendung. Nisca, itulah yang terakhir kali Fahri ucapkan padaku. Itulah panggilan sayang yang Fahri utarakan untukku.

“Nay, udah ya.. maaf banget tadi aku hanya bercanda.” kata Gita yang nampak merasa bersalah.
“Git, tadi kamu denger gak ada yang manggil aku Nisca. Kamu tahu gak siapa yang manggil aku tadi?” Tanyaku, dengan wajah lesu.
“Iya gue denger, jadi Nisca itu nama kamu. Tapi aku kok baru tahu.” Jawab Gita.
“Siapa tadi yang manggil aku Nisca?” Tanyaku sekali lagi.”
“Aku gak tahu Nay, aku cuma denger aja, kirain itu panggilan orang lain. Gak tahunya buat kamu.” kata Gita.
Tak lama kemudian bel masuk sekolah telah berbunyi. “Ya sudah kita masuk kelas yuk.” kataku dan langsung menuju ruang kelas kita, yaitu XI TKJ 3.

Awal pelajaran di kelas telah dimulai, Pak Ikhsan guru mata pelajaran Produktif telah memulai pembelajarannya. Namun, aku masih enggan untuk fokus dalam proses belajar kali ini. Pikiranku masih terlintas akan sapaan yang tertuju padaku, yaitu “Nisca”. Entah siapa yang memanggilku seperti itu. Dan bagaimana mungkin dia tahu akan panggilan sayang Kak Fahri, mantan terbaikku terhadapku. Waktu pun berlalu, hingga bel istirahat telah berbunyi.

“Nay, kita ke kantin yuk.” Ajak Ani kepadaku.
“Oh, iya kamu duluan saja, entar aku nyusul.” Jawabku sambil tersenyum.

Gita dan Ani sudah meninggalkanku. Mereka berdua menuju kantin sekolah. Satu menit aku masih berada dalam ruang kelas sendiri, tiba-tiba ada yang memanggilku Nisca lagi, sontak aku langsung ke luar kelas. Tapi yang aku dapatkan hanyalah keaadaan kosong, entah apakah aku salah dengar atau tidak. Untuk menenangkan pikiranku, aku hanya menanggapi bahwa ini hanyalah sebuah halusinasiku. Aku pun langsung menuju ke kantin, untuk menghampiri Gita dan Ani.

Dan lagi-lagi ketika aku melewati Perpustakaan, dari belakang aku mendengar sapaan nisca itu lagi. “Nisca…” suara seorang laki-laki yang bisa aku bayangkan bagaimana cara dia menyapaku dengan sebutan Nisca. Suaranya seakan menggambarkan bahwa dia ingin menghiburku, membuatku melepaskan kerinduan. Tapi aku juga masih belum tahu, siapa yang memanggilku dengan sapaan Nisca. Sampai di kantin, dan tiba-tiba tanpa sengaja aku menabrak anak laki-laki yang sedang membawa minuman dingin hingga tumpah mengenai seragam sekolahnya.

“Aduh maaf,” kataku sedikit panik.
“Oh, iya. Lain kali jangan jalan sambil bengong.” Katanya meninggalkanku.
“Nayla, makanya jangan bengong. Kalau kamu gak bisa fokus, nih aku ada Aqua,” Kata Gita sdikit mengejek.
“Iya iya.” Kataku lembut.

Waktu terus berlalu. Satu minggu ini, aku masih dibuat misterius oleh anak laki-laki yang memanggilku dengan sapaan Nisca. Bahkan aku masih belum bisa move on atas kepergian Fahri satu bulan yang lalu. Pagi ini pulang sekolah, kita ada kegiatan pramuka di sekolah. Dimana di sini jabatan aku adalah wakil ketua DA Dewi Sartika. Otomatis, aku ikut mengajar kegiatan ekstra wajib ini. Dan kegiatan ini hanya diikuti untuk adik-adik kelas 10. Untuk pembagian sangga, aku memilih mengajar sangga 4 yang beranggotakan 10 anak laki-laki. Bukan hanya aku sendiri, aku ditemani Ani dalam mengulang sangga 4 ini.

Untuk forum pertama, kita mulai memberikan materi mengenai “PRAMUKA”. Sedikit susah memang, harus menghadapi anak-anak cowok yang usianya gak jauh beda dengan kita. Hingga amarah kami pun memuncak, ketika keadaan sudah tak terkondisikan. Spontan aku pun mulai tegas, “Hei, kalian punya pikiran gak sih. Disuruh diam ramai, disuruh ngomong diam. Pikir!” Kataku dengan nada tinggi. Kemudian dari belakang ada yang menyahut, “DA-nya cuma bisa marah-marah.” Sontak hal itu membuat Ani segera bergegas menghampiri anak itu.

“Push up 10 kali. Cepet!” Suruh Ani terhadap anak itu.
“Push up aja sendiri,” Jawab anak itu. Perdebatan pun terjadi, keadaan semakin kacau. Aku pun mempertegas keadaan lagi dengan sedikit melontarkan ucapan mengancam.
“Kalau kalian gak bisa diam, lebih baik pulang. Gak usah ikut pramuka, biar kalian gak naik kelas. Percuma kakak DA di sini ngasih materi, kalau kalian ngomong sendiri. Bicara di depan itu susah, gak gampang.” Mendengar perkataanku semua anak sangga 4 diam, namun masih ada yang menyela.

“Kak, DA itu tegas bukan cuma bisanya marah-marah,” Kata anak laki-laki yang bernama Randy.
“Masih mau komentar, pulang aja. Tadi kakak perhatiin kamu yang banyak ngomong. Asal adek tahu, kamu itu yang jadi incarannya kakak-kakak DA, kalau kamu anak kelas 10 yang susah diatur.” Kataku spontan dan sedikit pedas. “Oke, aku pulang. Maaf kalau udah bikin kesel.” Kata Randy dan langsung meninggalkan lapangan sekolah.
“Nay, apa gak terlalu kejam kamu ngomong seperti itu. Kasihan Nay,” Kata Ani, yang kemudian terpotong oleh bel pulang sekolah atau selesai kegiatan ekstra. Kegiatan pramuka ini pun selesai. Semua anak kelas 10 pulang. Aku juga bersiap diri untuk pulang.

“An, menurut kamu tadi bagaimana. Aku tadi ngomongnya spontan?” Tanyaku pada Ani.
“Kamu marahnya kayak pidato Nay.” Kata Ani sedikit mengejek.
“Aku gak marah An, tadi aku cuma bersikap tegas.” Kataku.
“Gini Nay, kamu tadi itu bukan terlihat tegas. Tapi kelihatan marah. Dan amarah kamu tadi itu seakan hanya tertuju pada Randy.” Kata Ani mencoba menjelaskan. Kami berdua langsung pulang. Di rumah aku terus kepikiran, aku sedikit merasa bersalah karena tadi waktu ektra pramuka aku memarahi Randy. Dan aku juga bisa merasakan bagaimana perasaan Randy. Mungkin dia juga cukup kecewa. Tapi.. ya sudahlah.

Satu minggu ini aku sudah tidak lagi dihantui oleh orang misterius yang selalu memanggilku Nisca. Dan setelah kejadian aku memarahi Randy, entah kenapa aku terus kepikiran tentang dia. Rasanya aku ingin meminta maaf ke dia. Tapi, aku masih gengsi untuk meminta maaf ke dia. Satu bulan ini, selama kegiatan ekstra aku dan Ani masih tetap menjadi pemimpin sangga 4. Namun ada yang sedikit berbeda dari sangga ini, Yups!!! Randy, dia jadi pendiam. Bahkan sepatah kata pun tak dia ucapkan. Aku terus memandanginya, tapi dia tak pernah membalas tatapan mataku. Aku benar-benar masih dihantui rasa bersalah.

“Nay, kenapa mandangi Randy terus. Entar kamu suka Loh.” Kata Ani sedikit mengagetkanku.
“Apaan sih, orang aku gak mantengin dia.” Kataku mengelak.

Entah mengapa, sejak kejadian aku memarahi Randy aku terus memikirkannya. Hingga suatu ketika ada kegiatan bantara di sekolah, kami melaksanakan PERSAMI. Perkemahan sabtu malam minggu. Aku tetap menjadi pemimpin sangga 4, yakni sangganya Randy. Dengan sedikit ragu, aku meminta Randy untuk segera mendirikan tendanya dengan benar. Entah apa yang ada dalam pikiranku, ketika Randy mendirikan tenda ia nampak terlihat pandai dalam memimpin, dia mengkoordinasikan teman-temannya dengan baik dan tegas.

Saat itu dia memakai kemeja Merah. Meskipun hari sudah siang, panas mentari mulai menyengat ia terlihat sangat tampan. Ya mungkin karena kulitnya yang putih, serta memang wajahnya yang tampan. Ahh, ya sudahlah aku jadi terus memikirkannya. Selama kami kemah, aku dan Randy sudah lebih akur dan dekat selayaknya teman sebaya. Bahkan ia juga sering bercanda denganku. Dan sejak saat itulah aku mulai merasa nyaman berada di dekatnya. Meskipun posisiku di sini adalah sebagai kakak kelasnya. Sabtu sore, ketika jam istirahat aku memilih untuk menyendiri di taman belakang sekolah. Dan tiba-tiba Randy menghampiriku.

“Sendirian aja mbak?” Kata Randy mengagetkanku.
“Oh, kamu. Iya, lagi pengen sendiri,” kataku dengan senyum.
“Cape juga ya, kema dua hari ini. Tapi seru banget, berkesan lagi.” Kata Randy.
“Berkesannya di mana?” tanyaku penasaran. Tapi Randy tak menjawab.
Ia kemudian pergi dan berkata, “Aku pergi dulu ya Nisca.” Sontak aku terkejut, dan tak mampu berkata apa-apa, seakan ini adalah jawaban dari apa yang aku pikirkan selama ini. Ya, mungkin selama ini yang memanggilku Nisca adalah Randy. Aku benar-benar tak percaya, apakah tadi aku salah dengar, hanya kebetulan saja, atau memang dia benar-benar tahu akan sapaan itu. Yang pasti, aku yakin bahwa Randylah yang selama ini memanggilku Nisca.

Hari minggu sore pun tiba, saatnya kegiatan kami selesai. Ketika itu Randy yang sudah bersiap-siap untuk pulang begitupun aku, kita saling pandang. Seakan kami tak mau mengakhiri kegiatan persami ini. Dengan jarak yang cukup dekat, kurang lebih dua meter tanpa berkedip dia menatap ke arahku. Begitupun denganku, aku pun juga turut menatapnya, hingga kami pun saling pandang entah berapa lamanya, tapi aku sangat menikmati ini. Aku pun mengakuinya dalam hati bahwa memang, “Aku telah jatuh cinta dengannya.” Lusa, kelas 11 sudah melaksanakan kegiatan magang/PSG. Sekolah memberi waktu kami 3 bulan untuk PSG. Waktu ini aku gunakan untuk benar-benar fokus pada Pilihan kejuruanku yaitu Teknik jaringan Komputer.

Waktu terus berjalan hingga dua bulan kami kelas 11 harus menghentikan PSG kami selama 1 minggu uintuk mengikuti UTS. Sudah ku duga, aku satu ruang dengan Randy. Hanya saja kita tidak satu tempat duduk, jarak tempat duduk kami juga sedikit jauh. Selama UTS berlangsung, dia nampak serius mengerjakan soal UTS. Aku hanya memandanginya dari belakang, karena memang tempat duduk Randy berada di depan, sedangkan aku berada di belakang.

4 jam berjalan, UTS untuk hari pertama pun selesai. Aku pun segera mengumpulkan soal beserta jawaban Mapel UTS-ku kali ini. Dan aku pun segera ke luar kelas, dan tiba-tiba “Bruakk.” Aku terjatuh, semua buku pelajaran yang aku bawa terjatuh. Bersamaan dengan itu, hp orang yang aku tabrak juga terjatuh, untungnya hp-nya tidak pecah. Aku lihat walpaper di hp itu adalah foto “Rasty” adik kelasku yang cantik, pintar, dan yang sudah terpilih menjadi ketua OSIS sejak pemilihan Ketua OSIS 3 Bulan yang lalu. Namun, setelah ku melihat siapa yang telah menabrakku, RANDY. Ya, dia lah yang menabrakku tadi, ternyata Randy.

“Aduh, maaf Kak, tadi aku gak sengaja maaf ya.” Kata Randy sembari membantuku mengambil bukuku yang berceceran.
“Oh iya gak apa-apa.. nyantai aja.” Kataku dengan senyum.
“Oke, aku duluan ya Kak,” kata Randy yang langsung meninggalkanku, kemudian aku langsung meraih tangannya.
“Tunggu, Ran.” teriakku.
“Kenapa Kak?” tanya Randy penasaran.
“Aku mau tanya,” kataku dengan serius.
“tanya apa?” kata Randy.

“Ran, bagaimana bisa kamu tahu akan sapaan Nisca untukku. Sejak awal MOS yang menyapa aku dengan sapaan Nisca, kamu kan. Apa kamu tahu tentang latar belakang sapaan itu?” tanyaku dengan sangat serius. “Oh itu, nih..” kata Randy, seraya memberiku sebuah surat. Kemudian dia pergi meninggalkanku. Tanpa ku buka surat itu, aku pun segera pulang. Sampai di rumah, aku membuka surat itu, dan isinya ternyata adalah sebuah dairy yang pernah ku tulis sehari setelah kepergian Fahri. Dairy itu ku tulis di taman kota, ketika itu angin berhembus kencang, sehingga dairy itu tertiup angin dan mungkin dairy itu ditemukan oleh Randy, karena memang isi dairy itu lengkap dengan fotoku bersama Fahri yang isinya adalah…

“Dear Dairy, entah bagaimana aku harus menyikapi semua ini. Orang yang selalu ada buatku, membuatku selalu tersenyum, kini dia telah pergi dariku untukku selamanya. Panggilan sayang ‘Nisca’ untukku sudah tiada lagi. Kini dia telah bahagia berada di sisi Tuhan, sedang aku di sini sendiri merindukan dia. Entah sampai kapan aku akan menangisi kepergiannya, tapi aku yakin tak akan ada lagi pengganti dia di hatiku. Entah sampai kapan hatiku akan terbuka untuk orang lain.”

Sekarang aku sudah tahu, jadi selama ini yang memanggilku Nisca di sekolah adalah Randy, dan karena surat ini lah Randy tahu semuanya. Dan untuk sekarang aku tidak bisa berbohong akan perasaanku, aku, aku.. tengah jatuh cinta kepada Randy, ya aku benar-benar mencintai Randy. Tapi.. aku harus mundur karena Randy udah punya pacar. Dan aku harus tahu itu. Pagi ini di sekolah adalah hari kosong. Hanya diisi dengan kegiatan classmetting, tapi aku memilih untuk pergi ke taman belakang sekolah. Dan tiba-tiba, Randy datang. Ia duduk di sebelahku.

“Aku gak tahu sejak kapan aku memiliki perasaan senang, nyaman, damai, rindu, cinta, yang beradu jadi satu. Entahlah, tapi yang pasti hari ini aku akan menyampaikan isi hatiku untuk seseorang yang membuat aku penasaran untuk lebih mengenalnya.” Kata Randy, yang kemudian berlutut di hadapanku. “Nayla, I Love You. Aku cinta kamu. Entah kamu mau menjawabnya atau tidak tapi yang pasti hari ini aku sudah mengutarakan isi hatiku, bahwa aku benar-benar mencintaimu.” Aku benar-benar tidak habis pikir, aku bingung harus menjawab bagaimana.

“Randy, tapi bagaimana dengan Rasty? Apa kamu berniat, menjadikan aku sebagai selingkuhanmu?” tanyaku dengan serius. “Rasty. Maksud kamu apa? Rasty hanya sebatas teman aku.” Kata Randy.
“Lalu waktu aku menabrak kamu, dan aku lihat di wallpaper Hp kamu ada fotonya Rasty?” Kataku Penasaran lagi.
“Oh, itu Hp-nya Rasty waktu itu aku pinjam. Nayla, aku gak akan pernah mempermainkan perasaan. Apa yang aku katakan adalah kejujuran dari dalam hatiku.” Kata Randy yang kali ini dengan menatapku serius.”

“Apa kamu yakin dengan perasaan kamu itu.? Apa kamu gak risih kalau pacaran dengan kakak kelas?” tanyaku pada Randy. “I’m very certainly. Aku benar-benar cinta dan nyaman dengan kamu.” Sungguh aku masih merasakan bahwa ini hanyalah sebuah mimpi. Dengan yakin, aku pun menjawab perasaan Randy terhadapku. “Randy, sejak satu menit pandangan waktu itu, aku benar benar mencintai kamu. Dan aku merasa nyaman berada di dekat kamu. Ya aku juga mencintai kamu.” Jawabku dengan senyum. Randy pun memelukku dan ia memberikan sebuah cincin permata dengan ukiran huruf R dan N. Hari ini pun kami resmi jadian.

Cerpen Karangan: Nela Agustina Anggraini
Facebook: https://www.facebook.com/nela.agustin.37

Cerpen Satu Menit Pandangan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Rasa Risa (Orang Aneh)

Oleh:
Ya, Doni Alamsyah. Seorang siswa SMA yang begitu populer di sekolahnya. dia memiliki paras yang menawan, yang memungkinkan menghipnotis para siswi yang berada di sekitarnya. Karena ini pula lah

Cinta Yang Tak Pernah Diduga

Oleh:
Hari ini adalah hari yang sangat istimewa bagiku di saat diriku terpilih menjadi kandidat calon ketua OSIS tahun ini. Semua teman-temanku juga mendukungku. Tapi saat aku tahu bahwa sainganku

10 Menit

Oleh:
Grata Sampurna. Itu namanya, persis orangnya yang sempurna. Grata, lelaki manis yang selalu menjadi idaman siswi SMA Leksana Jambi. Mata yang memancarkan ketulusan. Keindahan wajahnya yang tak bisa diduakan.

Perempuan Di Seberang Taman

Oleh:
Bagaimana jika aku bisa memandangi dia dengan jarak hanya 30 cm? Apakah aku bisa menatap matanya? Wahai hati, apakah kau mampu memberanikannya? “Hey, ngelamun aja ga?” “kayanya tadi kekenyangan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *