Scratch Teens (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Persahabatan, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 24 July 2014

Inikah akhir kisah persahabatanku?
Berakhir dengan luka kebohongan
Persahabatan yang kami rajut sejak lama
Dengan mudah rusak karena kebohongan
Haruskah aku menyalah kan Diny? Atau kah Vina?
Kurasa tidak mungkin..
Disini aku yang salah
Aku yang membuat sahabat ku berpaling dari ku
Tuhan, kembalikan sahabatku..

Air mata Nias terus mengalir dengan derasnya, ia menutup buku hariannya dan memeluknya
“hiks, hiks” isak tangis Nias sangat terdengar
Tiba-tiba Hp Nias berbunyi pertanda ada panggilan masuk
Nias menghapus air matanya dengan kasar. Ia pun menggangkat telfonnya yang terdapat nama Rangga di layar ponselnya
“halo” ucap Rangga
“halo ngga.. ada apa?” jawab Nias
“sayang, kamu nangis? Kamu kenapa?” Tanya Rangga, Ia begitu panik saat mendengar suara Nias yang serak
“aku gak papa” dusta Nias
“jujur Nii, kamu kenapa?” Tanya Rangga lagi, semakin panik
“aku gak papa ngga” Nias
“kamu bohong.. aku ke rumah kamu sekarang” Rangga
“tapi…”
Tutt.. tut.. tut
Rangga langsung memutuskan sambungan telfon mereka..

Nias yakin Rangga benar-benar akan ke rumahnya. Nias pun segera ke kamar mandi untuk mencuci muka agar tak begitu terlihat kalau ia habis menangis

Nias yang merasa ada yang membunyikan bel rumahnya pun segera membukakan pintu, Nias memang sedang sendiri di Rumahnya
Krekkk.
“Nias..? tuh kan kamu abis nangis, kamu kenapa? cerita sama aku” cerocos rangga, walaupun Nias sudah mencuci muka tetapi tetap saja matanya terlihat sembab
“aku.. aku.. aku” gugup Nias,
“kenapa?” Tanya Rangga lagi
Nias tak mampu menceritakan semuanya, ia pun langsung memeluk Rangga dengan erat,
“Diny.. hiks.. hiks” Nias menangis di dalam pelukan Rangga
Rangga hanya mengusap rambut Nias, ia tak memaksakan Nias untuk bercerita sekarang, ia membiarkan Nias tenang Dulu.

“udah kamu jangan nangis lagi, suatu saat dia akan balik ke sisi kamu lagi” ucap Rangga menenangkan. Nias sudah menceritakan semuanya
Nias hanya mengangguk dan mencoba tersenyum
“kamu janji yah sama aku, gak akan seperti Diny” ucap Nias
“iya.. aku janji, aku akan selalu bersama kamu dalam keadaan apa pun” janji Rangga
“aku pegang janji kamu” Nias pun tersenyum. Setidaknya ia masih memunyai Rangga yang begitu sayang padanya

Hari-hari Nias berbeda dengan hari-hari biasanya, kini ia hanya ditemani Rangga, di antara Nias dan Diny tak ada yang bicara. Mereka hanya berdiam diri, di kelas pun Nias tak lagi sebangku dengan Diny, Diny sekarang lebih sering bersama Vina, mereka pun kini duduk sebangku.

Jam pelajaran pun telah usai, semua murid berhamburan untuk pulang ke rumahnya masing-masing.
“Nii, pulang bareng yuk?” ajak Rangga
“aku gak bisa ngga, papah ku jemput” tolak Nias. Kini mereka sedang berada di lapangan
“tuh papah ku.. lain kali aja ya” ucap Nias dan menunjuk ke arah papahnya yang sedang menunggu Nias di depan Mobil
“ya udah.. kalo udah pulang telfon aku” ucap rangga
“sip..” ucap Nias sambil mengacungkan ibu jarinya.
Nias pun menghampiri papahnya, Rangga hanya memperhatikan Nias yang semakin jauh
Rangga pun menuju parkiran

Vina sedari tadi menunggu taksi di depan sekolah tetapi tak kunjung datang.
Tiba-tiba ada sebuah mobil berhenti di hadapannya. Orang itu menurunkan kaca mobilnya
“Vin lagi nunngu taksi ya?” Tanya orang itu
“iya nih ngga.” Jawab Vina pada orang itu yang ternyata adalah Rangga
“bareng gue aja, lagian taksinya juga gak ada kan” tawar Rangga
“ehmm, gimana ya? Ntar gue ngerepotin lagi” Vina
“enggak lah, kalo ngerepotin ngapain gue nawarin lo” ucap Rangga
“beneran?” Vina
“iya” jawab Rangga
Vina pun masuk ke dalam mobil Rangga

“gue turun di depan situ aja” ucap Vina
“kenapa? Bukan nya lo bilang rumah lo masih jauh?” Rangga melirik Vina sekilas
“gue mau ke toko buku sebentar” Vina
“gue temenin ya?” pinta Rangga
“gak usah, gue bisa sendiri kok” tolak Vina disertai senyum
“udah gak papa. Lagian gue bete di rumah” Rangga
“ya udah deh” Vina

Nias pun sudah sampai di rumahnya, dia langsung ke kamarnya dan mengganti baju
Setelah selesai Nias langsung mengambil hp nya di kasur, dia berniat untuk menelfon Rangga seperti janjinya tadi
Tetapi saat Nias menelfon, tak ada jawaban.
Sedang apa Rangga? Tumben dia seperti itu.. batin Nias
“ah mungkin dia lagi sibuk” tukas Nias
Nias pun memutuskan untuk tidur siang

“hp gue mana? Bodo lah. Mungkin ketinggalan di mobil” batin Rangga
“kenapa ngga? “Tanya Vina.
“nggak papa kok” Rangga
Vina pun hanya mengangguk paham
Rangga benar-benar tak ingat dengan pesannya Pada Nias, ia malah sedang asik dengan Vina

Rangga baru saja sampai di rumahnya, hari yang sangat melelahkan menurutnya. Seketika senyumnya mengembang saat mengingat saat ia bersama Vina.
Rangga pun membuka hp nya. Matanya langsung melotot saat tertera ada 5 panggilan tak terjawab dari Nias
“kenapa gue bisa lupa sama Nias” gumam nya
Rangga pun menelfon Nias, tetapi tidak ada jawaban.
Apa dia marah?.. pikir Rangga
“besok aja lah gue jelasinnya” tenang Rangga
Biasanya Rangga sangat takut jika Nias marah, tetapi kali ini? Entahlah..

“Nias..” panggil Rangga saat melihat Nias sedang menuju kelasnya
Rangga berlari kecil menghampiri Nias
“iya” sahut Nias
“soal kemarin aku minta maaf ya..” Rangga menyentuh pipi kiri Nias
“iya gak pa-pa. aku juga minta maaf, kemaren aku ketiduran.. o iya, emang kemarin kamu lagi ngapain sih?” Nias
“emm.. itu, aku.. aku nganterin mamah belanja trus gak bawa hp, iya itu” gugup Rangga, Rangga tak mau jujur karena takut Nias marah besar
“oh” ucap Nias sambil mengangguk
“o iya, ntar pulang bareng gak?” Tanya Nias
“emm.. aku gak bisa, aku udah janji sama mamah ku mau nemenin dia” ucap Rangga
“ya udah deh” Nias. jujur Nias sangat kecewa, tetapi ia tidak mau egois,
“kamu marah?” Tanya Rangga
“enggak kok, masa iya aku marah gara gara kamu mau nemenin mamah kamu sendiri” kata Nias
“itu baru gadis ku” Rangga tersenyum dan mengacak-acak poni Nias

Nias begitu kesepian saat ini, ia sangat merindukan sahabatnya itu. Apalagi saat ini Rangga pun jarang ada waktu untuknya. Entah kenapa ada sesuatu hal yang mengganjal di hati Nias pada sikap Rangga saat ini, mereka jarang bertemu walaupun satu sekolah, tetapi Nias selalu menepis keganjalan itu. Ia sangat yakin bahwa Rangga memang sedang sibuk.

Ternyata gak enak yah seorang diri?
Aku merasa sangat kesepian
Tak ada kamu diny..
Dan kini Rangga pun tak ada waktu untuk ku
Diary..
Aku takut satu persatu orang yang aku sayangi menjauh
Cukup diny.. itu pun sangat sakit Rasanya

Nias menyudahi tulisannya. Kini ia menulis bukan di taman Rumahnya atau pun di bukit. Melainkan di perpus sekolahnya
Setiap istirahat ia selalu ke perpus. Seorang diri
“hufft.. bosen kayak gini terus.. serasa gak punya pacar” gumam Nias sambil menopang dagunya dengan tangannya
“kata siapa? Emang aku bukan pacar kamu” sahut rangga di belakang Nias
“rangga..” pekik Nias saat membalikan badannya
“maaf yah udah buat kamu jenuh” ucap Rangga sambil duduk di samping Nias
“iya” singkat Nias
“ih masih marah ya? Maafin Rangga nya dong. Gimana nanti sore kita ketemuan di taman biasa buat nebus kesalahan aku” pinta Rangga
“iya Rangga, udah gak marah kok.. jam berapa?” Tanya Nias
“jam 3 sore” Rangga
“ya udah..” Nias
“oke kalo gitu, aku ke kelas duluan ya” pamit Rangga
Nias Hanya mengangguk dan tersenyum

Kini Nias sedang menunggu Rangga di Taman, sekarang jam menunjukan pukul 15.5 wib..
senyum terus menghiasi wajah Nias, ia sangat senang saat ini. Akhirnya sebentar lagi ia akan bersama rangga untuk mngobati Rasa rindunya beberapa Hari ini.

Dua jam kemudian..

Nias tetap menunggu Rangga, walau sedikit ada rasa gelisah di hatinya.. walaupun ia sudah lama menungu rangga walau tak kunjung datang, ia tetap setia menunggu
Sepertinya cuaca saat ini tidak mendukung. Pasalnya awan begitu mendung seperti ingin turun hujan
“rangga.. kamu dimana?” gumam Nias
“aku yakin kamu pasti datang, aku akan tetap menunggu kamu” sambungnya lagi

Nasib baik tidak berpihak pada Nias saat ini.. hujan turun dengan derasnya
Nias tetap enggan beranjak, ia membiarkan hujan membasahi seluruh badannya
Badannya pun mulai menggigil.
Akhirnya ia memutuskan untuk pulang..

Baru saja ia berdiri, matanya menangkap sosok yang sangat iya kenal sedang asik berbincang, sesekali tawa menghiasi kebersamaan mereka di sebuah halte
“Rangga.. Vina..” lirih Nias, air matanya langsung menetes begitu saja walau tertutup air hujan.
Mata Nias semakin panas saat melihat Rangga yang merangkul Vina
Rangga begitu tega pada Nias, ia sedang asik bersama wanita lain sedangkan Nias menunggunya di bawah derasnya hujan berjam-jam.
Nias pun memberanikan diri menghampiri mereka
“rangga” panggil Nias begitu lirih saat sudah di hadapan mereka
“Nii. Nias.” kaget Rangga, Rangga pun langsung menjaga jarak pada Vina
“selamat ya.. sepertinya kalian jadian” ucap Nias sambil mencoba untuk tersenyum
“nias, maaf..” ucap Vina
“enggak perlu, ini bukan salah kamu.. kamu pantas kok mendapatkan mereka.. Diny dan Rangga,” Nias mencoba tegar di hadapan mereka
“nias, maaf.. ini salah aku..” ucap Rangga
“gak ada yang perlu disalahin.. aku gak papa kok, semoga kalian bahagia” Nias benar-benar sakit, dadanya begitu sesak
“tapi…” Rangga
“jangan khawatirkan ku.. aku akan baik-baik saja. Makasih ngga atas semua yang kamu berikan kepada ku.. kebahagiaan dan… Kekecewaan” lirih Nias
“untuk kedua kalinya vin, aku titip Rangga dan Diny. Kamu yang lebih pantas menggantikan posisi aku di hati mereka” Nias
“aku pergi…” dengan cepat, Nias langsung saja pergi dari hadapan mereka. Nias sudah tak sanggup lagi menerima kenyataan ini.. ia sangat berharap kalau ini hanyalah mimpi buruk dan Nias ingin segera bangun dari mimpinya

Nias duduk di bawah pohon besar di sebuah danau yang tak jauh dari taman
Hujan masih mengguyur di tempat itu, seakan ia mengerti kekecewaan yang Nias Rasakan. Ia menekuk kakinya dan menenggelamkan wajahnya
“hikss.. hikss.. Tuhan .. semua ketakutan ku menjadi kenyataan hiks.. aku tak kuat, aku tak mampu hiks.. Tuhan .. peluk aku sekarang, aku lelah dengan semua ini hiks” lirih Nias
“Nias..” ucap seseorang, Nias pun langsung mendongkakkan kepalanya
“dicky..” pekik Nias menatap wajah dicky dengan tatapan sayu, mungkin efek dari hujan yang membasahi dirinya, wajah Nias pun Terlihat sangat Pucat
“lo kenapa hujan-hujanan?” Tanya dicky begitu khawatir
“peduli apa lo sama gue” ucap Nias datar
“ya gue peduli lah.. karena lo temen gue” ucap dicky, ia berjongkok agar menyamai tinggi Nias
“temen? Ckck.. bulsh*tt.. gue gak percaya semua itu..” ucap Nias sedikit meremehkan
“sebenernya lo itu kenapa? Lo bisa cerita sama gue” kata dicky
“gue gak papa.. lebih baik lo pergi dari sini, gue lagi mau sendiri” liri Nias..
Kini hujan sedikit mereda, hanya gerimis
“gak.. mana mungkin gue ninggalin lo di saat lo seperti ini” tolak dicky
Sebenarnya ada apa dengan dicky? Bukan kah ia selalu jahil pada Nias? Tetapi kini sikapnya menjadi begitu lembut
“gak usah peduliin gue, gue emang pantes sendiri. Gue.. gue.. hikss” Nias menangis lagi, ia sangat tak bisa berpura-pura tegar. Pada kenyataannya ia kini sangat rapuh
Dicky pun menarik tubuh Nias agar memeluknya. Nias hanya diam, tak ada penolakan dari Nias. Memang kini ia sangat butuh seseorang untuk menjadi sandarannya
Kepala Nias sangat Terasa pusing.. tiba-tiba …
GELAP

“enggh” desah Nias, ia pun mulai membuka matanya
“gue di mana?.. aww shh” kepala Nias terasa pusing, ia memijat kepalanya sebentar agar lebih enakan
“Nias lo udah bangun?” Tanya dicky saat baru masuk sambil membawa susu
“lo? Gue dimana? Kenapa ada lo di sini?” Tanya Nias bertubi-tubi
“ini Rumah gue.. tadi lo pingsan dan gue bingung harus bawa lo kemana” tutur dicky
Nias mengedarkan pandangannya hingga melihat pakaiannya yang sudah terganti
“baju gue…”
“lo tenang aja. Tadi baju lo basah karena hujan, dan gue nyuruh pembantu gue buat gantiin pakaian lo” jelas Dicky sebelum Nias menduga yang tidak-tidak
Nias bernafas lega, tetapi ia mengingat kejadian tadi. Ternyata semua itu nyata
“oiya Nih gue buatin susu, biar badan lo lebih enakan” ucap Dicky dan memberikan segelas susu itu pada Nias
“thanks” ucap Nias sambil menerima susu itu
Nias pun meneguknya hingga tinggal setengah
“dicky..” panggil Nias
“ya..” singkat dicky
“makasih.. kenapa lo baik sama gue? Bukannya lo selalu jail sama gue?” Tanya Nias
“gue jailin lo bukan berarti gue benci sama lo” Dicky pun duduk di pinggir Ranjang
“terus karena apa?” Tanya Nias lagi
“gue suka aja jailin lo, abisnya lo itu lucu kalo lagi marah atau kesel” tutur Dicky sambil tersenyum
“ada-ada aja lo.. oiya sekarang jam berapa?” Nias
“jam 9 malem” jawab Dicky
“astaga.. udah semalem itu, gue mau pulang sekarang, pasti mamah sama papah khawatir” ucap Nias beranjak dari tempat tidur
“tunggu” dicky menahan tangan Nias
“ada apa?” Tanya Nias, ia begitu gelisah
“gue anter” tawar dicky
Nias hanya mengangguk

“sekali lagi makasih dicky” ucap Nias datar. Waktu di mobil pun Nias hanya melamun
Kini mereka sudah di depan rumah Nias
“sama-sama” balas dicky dan berlalu pergi

Nias masuk ke dalam rumahnya dan menutup kembali pintunya. Ia menyenderkan kepalanya sambil memejamkan mata, sesak kembali ia rasakan
“Nias..” panggil mamahnya
Nias pun membuka matanya
“apa mah?” Tanya Nias
“kamu dari mana aja sayang? Kok jam segini baru pulang?” Tanya Mamah nya
“aku.. aku dari rumah temen aku mah, maaf gak bilang-bilang dulu” jawab Nias
“ya udah kamu istirahat gih, kayaknya kamu capek banget” mamahnya pun mengusap rambut Nias
“iya mah” Nias pun langsung menuju kamarnya untuk istirahat

Cerpen Karangan: Aam Qoerniashy
Facebook: Aam Qoerniashy

Nama: Aam Kurniasih
alamat: jln. Kh Hasyim Ashari no.27 Gg.Dukuh2 kel.neroktog kec.pinang kota tangerang
asal sekolah: SMAN 10 Tangerang
“menulis adalah kegiatan yg sangat menyenangkan bagi saya. dengan menulis saya dapat menceritakan pengalaman pribadi saya atau orang lain di sekeliling saya.

Cerpen Scratch Teens (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kita Berbeda

Oleh:
Pertemuan singkat yang sangat mengesankan. Satelah pertemuan itu aku selalu memikirkanmu, entah kenapa bayanganmu selalu ada dalam pikiranku. Selalu terbayang senyummu yang membuatku terpana. Dan aku masih mengingatnya, saat

Sahabat Dalam Hujan

Oleh:
Namaku Riri Airin, ku mempunyai dua sahabat namanya Nasya Oktavia dan Febi Marsha, mereka berdua adalah kedua sahabatku waktu di SMA. Namun kini kami jarang bertemu, karena kami sudah

Karena Aku Tak Tahu

Oleh:
Malam ini malam Minggu, aku janjian makan malam dengan Luna di sebuah restoran di pinggir pantai yang lumayan jauh dari rumahku. Kami janjian pukul 7 malam. Aku sedang bersiap-siap.

Rencana Tuhan Itu Indah

Oleh:
Aku Ochy mempunyai teman bernama Bayu, kami berteman baik. Berawal dari hari Natal 2012 pertama kali kami bertemu ketika ia dan temannya berkunjung di rumahku, kami berbincang-bincang cukup lama.

Tak Bisakah Aku Seperti Mereka?

Oleh:
Mentari berlalu untuk menyinari dunia kini kegelapan malam mulai nampak hanya sinar rembulan yang begitu indah memancar di balik awan hitam. Hari ini tepat pada tanggal 30 September 2015

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *