Sebatas Mimpi

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 6 January 2016

Kau berbicara banyak kata hari ini, yang bahkan aku pun tak memikirkannya sama sekali. Kita masih berdua, hingga malam datang dan langit terang berganti gelap. Kau mengantarkanku sampai tepat setengah meter dari pintu rumahku. Kau mencium tangan ayahku dengan takzim setelah pintu dibukakan olehnya lalu kau menyuruhku segera masuk agar tak semakin lama terkena udara malam. Setibaku di kamar, pesan bbm darimu sudah muncul “Selamat malam. Mimpi yang baik. Doa jangan lupa.” Ku sibak tirai jendela kamarku dan terlihatlah punggungmu yang perlahan menghilang di perempatan depan. Senyum melengkung dari bibirku hingga entah tiba-tiba aku mendengar alarmku berbunyi.

Siang-siang pesan bbm darimu masuk. “Aku di perempatan.” Aku terkejut. Kita memang punya janji, tapi itu nanti sore bukan siang ini. Dengan cepat aku ke luar dan berlari ke perempatan. Tak sulit mencarimu, karena warna biru selalu menjadi warna terbaikmu. Kau terlihat asyik duduk di atas motor dan menatap layar hp. Ku datangi dirimu dan ku ketuk helm-mu, “Kenapa datang sekarang? Janjinya kan nanti sore!” Teriakku dengan wajah yang pasti tak enak dilihat. Kau hanya tersenyum dan dengan santainya berkata, “Masa iya aku bawa kamu nggak pamitan dulu? Emang apaan langsung bawa kabur. Aku ngobrol sama orangtuamu kayak biasanya, kamu siap-siap. Beres kan?” Aku terdiam mendengar jawabannya.

Ah, kau selalu saja punya alasan yang masuk akal dan meluluhkanku. Akhirnya aku pun berjalan ke rumah dan diikutinya dari belakang. Saat masuk rumah, ayahku sedang makan sedangkan ibu sedang membereskan ruang tengah yang langsung ku datangi. “Bu, ada yang nyari njenengan (anda). Aku tak masuk dulu ya. Orangnya di ruang tamu.” Aku terburu-buru pergi ke kamar dan bersiap-siap. “Bodo amat dia ngobrol apa, salah siapa dateng jam segini,” batinku.

Setelah ku rasa siap untuk pergi aku ke luar dari kamar dan pergi ke ruang tamu. Ku lihat dia sedang berbincang akrab dengan ayahku, seperti biasa. Lalu dia pun menyudahi obrolan saat mengetahuiku sudah berdiri di sebelah ayahku. Aku pun berpamitan dan mengeluarkan motorku tepat pukul 3 sore.

“Hari ini ada acara?” tanyanya lewat pesan bbm pagi ini.
“Enggak, kenapa?” jawabku yang notabene sedang free hari ini. Dia pun mengajak ke luar, jalan-jalan sore katanya. Aku pun mengiyakan, toh apa yang salah dengan jalan sore?
“Tapi aku bawa motor sendiri ya?” pintaku. Dia pun seperti biasa mengiyakannya. Obrolan berakhir dan tinggal menunggu nanti sore saat dia datang.

Dingin masih terasa menusuk. Langit belum terang seperti biasanya saat pagi datang. Suara hewan malam masih terdengar meski lamat-lamat. Ah, aku tersadar. Ku lirik jam di sebelahku. “Masih pukul 3 dini hari, pantas saja,” batinku. Aku baru saja terbangun. Berarti semua hanya sebatas mimpi. Aku pun tersenyum getir. Lalu ku buka bbm-ku, ku lihat obrolan kita. Di situ masih tetap sama, pesan yang ku kirimkan 7 hari yang lalu dengan huruf R di pojoknya. Aku pun menarik selimutku dan pergi ke kamar mandi.

Cerpen Karangan: Chaliafi Aini Robby
Facebook: Chaliafi Aini Robby

Cerpen Sebatas Mimpi merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Hujan

Oleh:
Gadis itu menatap langit yang mendung ini dengan hampa. Hembusan dingin yang mengenai tubuhnya membuatnya sedikit kedinginan. Dia kembali melangkahkan kakinya menuju rumahnya. Hingga, setetes demi tetes mengenai rambut

Kenanganku Bersamanya

Oleh:
Pagi itu terasa sangat melelahkan padahal hari minggu, dan di hari itu juga aku mengenal wanita yang baru dihidupku, maklum aku masih duduk di bangku SMP kelas 8, aku

Think of You

Oleh:
Kriiing… Kriiing… Aku lirik layar hpku, hanya nomor tak dikenal yang ada di layar ponselku. Kebiasaanku untuk tidak mengangkat telepon dari nomor yang tidak kukenal. Kriing… Kriing… Dengan nomor

Cinta Terbungkus Mimpi

Oleh:
Mentari menyapa di ufuk timur pertanda hari baru segera dimulai seperti biasa aku masih malas bangkit dari tempat tidur, masih asik dengan lembutnya bantal guling dan hangatnya selimut. Hari

After The Darkness

Oleh:
Hogwarts tahun ke tujuh, setelah perang. “Kau… Mengapa kau selalu saja memperburuk hariku Malfoy. Kau ferret-pirang-silan!” Hermione menatapnya nyalang. Beberapa gulungan perkamen dan empat buah buku tebal berserakan di

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *