Sebatas

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Galau, Cerpen Patah Hati
Lolos moderasi pada: 23 July 2021

Disapunya rambut Velia yang berserakan, setelah ia meminta ibunya untuk memotong pendek rambutnya. Setelah sekian lama rambut panjangnya tergerai akhirnya pendek juga setelah Velia putus dengan mantannya, Fathir. Beberapa saran dari temannya bahwa memotong rambut bisa membuat pikiran menjadi lebih enteng, dan tentunya move on lebih cepat.

Sore itu Velia menghubungi salah satu sahabatnya melalui via chat.
“Adlin, akhirnya aku potong rambut, legaa yaa.. (mengirim foto)”
“Wahh bagus, cepat move on ya. Kata orang, kalau sehabis putus terus potong rambut hubungan itu ga akan balik lagi”
“Eh serius? Ya sudah berarti memang harus ikhlas”

Untuk sekian kalinya Velia menangis lagi, ia takut Fathir tidak benar kembali. Padahal harapan Velia ingin cepat melupakannya, tapi disisi lain Velia juga ingin Fathir kembali. Apa yang ia rasakan juga membuat dirinya bingung, bertahan dalam hubungan membuat ia sakit dan terus menangis, saat putus pun ia merasakan hal yang sama. Tak ada bedanya putus atau tidak, fikirnya. Dadanya sakit, matanya sembab dan bantalnya basah ditumpahi air mata, Velia tidak bisa melepas Fathir dari fikirnya, perasaannya pun masih sama dan tak berubah. Lantas mengapa Velia yang mengakhiri hubungan kalau memang ia masih mencintai Fathir, memangnya sehebat apa Fathir hingga membuat Velia seperti orang yang setengah waras, seharusnya kalau memang Fathir benar mencintai, tak mungkin Velia merasa sakit dan sedih.

“Loh kok nangis lagi… kan sudah janji ga mau galauin lagi” ujar Adlin melalui telepon.
“Apa aku salah yah? Apa seharusnya aku menunggu dia berubah?, sepertinya aku terlalu cepat mengambil keputusan” tanya Velia dengan suara isaknya.
“Ya jelas tidak Velia, kamu sudah mengambil keputusan yang tepat. Untuk apa kamu bertahan kalu sudah tak dihargai..”
“Adlin…. aku masih sayang banget sama Fathir… bahkan setiap membaca ulang pesan dia seperti masih mengobrol dengannya” tangisan Velia semakin menjadi.
“Ya ampun… kamu masih saja membaca ulang pesan dia. Hapus sekarang, itu juga yang membuat move on mu lebih lama”

Velia tak sanggup lagi menanggapi ucapan sahabatnya itu. Ia langsung menutup telepon dengan tangisannya yang tak bersuara. Mana mungkin menghapus pesan-pesan dengan sang mantan, karena membaca ulang pesan adalah jalan satu-satunya untuk menebus rindu.

5 bulan terbiasa sudah Velia dengan kesendirian. Ia sudah jarang menangis, ia sudah mulai tertawa bahkan menertawai dirinya yang dulu menangisi laki-laki yang sudah tak mengharapkannya lagi. Velia pun beranjak menghapus beberapa foto dan video bersama Fathir.

Saat semuanya sudah dihapus, nada dering yang tak asing berbunyi.
“Kamu dimana?” pesan singkat Fathir.
Sial, satu notif sudah mematahkan perjuangan Velia. Berdebar saat ingin membalasnya, apa sebaiknya dibalas singkat atau perlu panjang lebar, tanya Velia pada dirinya sendiri.

“Di rumah” jawab Velia singkat.
“Oalah.”
“Kenapa memangnya?”
“Gapapa kok”
“Kenapa?!!” tanya paksa Velia ingin tahu.
“Aku kangen”

Seketika kupu-kupu banyak mengelilingi hati Velia, bibir tipisnya yang melengkung manis tak henti di depan layar handphone, tangannya geram memukul-mukul bantal yang biasa ia tiduri dengan air mata kini ia hantam dengan kebahagiaan yang ia dapat dari sebuah pesan bahwa Fathir merindukannya. Rasa ingin berteriak kencang untuk melepas semuanya, namun takut mengganggu adiknya yang tidur ia hanya mondar-mandir kesana kemari.

“Emm, iya aku juga”
“Kalau begitu besok malam kita jalan ya?!” tegas Fathir mengajak Velia pergi.
“Okay Fathir”

Ajakan Fathir akhirnya berhasil membuat teriakan Velia lepas dari mulutnya. Adiknya yang terbangun dan menangis tak membuat Velia iba, rasa bahagianya di siang itu menutupi semua rasa sakit hatinya pada waktu itu, hilang sudah di benaknya perilaku-perilaku Fathir yang menyebalkan, ucapan-ucapan Fathir yang menyakitkan, seakan Fathir adalah pangeran berkuda putih yang baru saja melamarnya.

Setelah 5 bulan tidak bertemu, akhirnya mereka kembali berboncengan bak sepasang kekasih malam mingguan, padahal mereka hanya sebatas mantan kekasih yang masih berteman.

“Kuliah kamu gimana?” obrolan pembuka Fathir.
“Lancar-lancar aja kok, kalau kamu gimana?, jadi berangkat ke Bogor?” tanya Velia.
“Kuliahku aman-aman aja, berangkat ke Bogor setelah bulan Juni nanti”

Bercanda dan tertawa bersama diatas kendaraan berplat B 150 cc, mengelilingi kota dengan gemerlap lampu yang menyala, mereka bernostalgia pada hubungan lama. Tak dapat dipungkiri, Velia masih memeluk Fathir dan tangan mereka yang masih saling menggenggam. Hangat yang dirasa ternyata hanya sementara, tak tahu juga apakah ini benar menjadi pertemuan terakhir mereka.

“Terimakasih yah sudah ajak jalan, semoga nanti pacar kamu lebih baik dari aku”
“Aku yang terimakasih cantik… sudah mau jalan bersamaku lagi, iyaa semoga kamu juga yah” jawab Fathir sambil mencium tangan Velia.

Senang dan sedih yang dirasa sehabis berdua, Velia takut Fathir benar-benar menemukan pengganti dirinya. Velia terlalu gengsi untuk mengakui kalau ia masih menyayangi Fathir, tapi yang benar dirasanya ialah ia tak mau kembali bersama hanya untuk mengulang luka, tapi ia juga tak mau kalau Fathir memulai cerita baru dengan wanita lain. Keegoisannya juga membantu dirinya agar tak tersakiti lagi. Tapi tak mungkin Velia berlama-lama dengan perasaan yang membingungkan ini, ucapannya tadi yang mengatakan bahwa semoga Fathir cepat menemukan pengganti memang disengaja agar hatinya semakin pedih, agar semakin benci dan cepat melupakan. Mungkin nanti perasaannya hilang, tapi kenangannya tak mungkin mati. Semua memori bersama Fathir masih tertancap kokoh di hatinya, suara Fathir masih bernada lembut di telinganya, sulit memang kalau cinta pertama dihapus bak tak pernah ada.

Velia kembali menghubungi sahabatnya.
“Terus gimana?, kamu diajak balikan pas jalan kemarin?” tanya Adlin penasaran.
“Yaa enggak..”
“Tuh kan, dia ga mungkin ajak kamu balikan Velia… dia cuma kesepian dan kebetulan kangen sama kamu. Kalo kamu meladeni terus yang ada kamu tambah sakit hati”
“Yaa gimana ya aku masih sayang makanya aku meladeni dia”
“Udah stop ya aku bilangin kamu, ga usah ladenin lagi nanti dia keenakan, karena dia tau kalau datang ke kamu ga mungkin ditolak”
“Iya iya ga akan”

Hilang, kali ini Fathir sudah nyata hilang. Kedatangannya kemarin hanya sebatas pelipur lara sementara. Setiap malam lagu yang sama diputar bersama segala kenangan, janji yang diucapkan pada dirinya sendiri untuk tidak mengulang tangisan diingkari dan bantalnya kembali basah dengan air mata. Bagaimana jadinya kalau Fathir benar menemukan pengganti yang lebih daripada Velia, mungkin tersiksa batinnya, tumbang harapannya. Tapi dirinya juga bingung akan keinginannya untuk kembali, ia tak yakin Fathir berubah dan bisa memperbaiki.

Air mata pun dipaksa untuk mengering, semua kenangan dikubur dalam-dalam tanpa mau mengingat sedikit pun. Hari demi hari keterpaksaan itu menjadi keikhlasan yang selama ini dinanti, walaupun dengan hati yang sedikit kurang teguh, namun Velia yakin bahwa ia sudah ikhlas melepas Fathir. Kabar soal Fathir juga sudah jarang ia dengar, pesan lama juga sudah tak dibaca ulang, Velia benar-benar damai.

Kini ia sudah tau, dalam hidup memang sudah biasa ada yang datang dan pergi. Tak selamanya yang datang untuk menetap, tak selamanya pula yang menetap itu selamanya. Fathir hanya sebatas tokoh yang memberi banyak pelajaran dan sekejap kisah kasih. Berdamai dengan berbagai lara dan dan segenap pilu membuat Velia memiliki jiwa yang baru dan hati yang lebih teguh. Bersama Fathir hanya sebatas cerita usang yang mungkin nanti akan dikenang tanpa ada pedih dan tangis lagi.

Cerpen Karangan: Vi Alarta Nashville R
Blog / Facebook: Vivill

Cerpen ini dimoderasi oleh Moderator N Cerpenmu pada 23 Juli 2021 dan dipublikasikan di situs Cerpenmu.com

Cerpen Sebatas merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Hanya Kamu

Oleh:
Saat kulangkahkan kakiku menuju ke mobil yang sudah disiapkan buat aku, tiba-tiba terdengar orang yang memanggil aku. Sontak aku mencari asal suara tersebut. Ternyata Alva. “oh, hei va. Ada

Sahabatku Cintaku

Oleh:
Dulu waktu pertama kali gue masuk sekolah ke jenjang yang lebih tinggi, Gue mulai mengenal teman-teman gue yang baru, di antara teman-teman sekelas gue, gue paling gak suka sama

Harapan

Oleh:
Aku terbangun. Dari tidurku. Aku merasa di sebuah tempat yang sangat asing. Di padang rumput yang sangat luas dan cuacanya sangat cerah. “adit.. Kesini dong..” terdengar suara perempuan memanggilku.

Catatan Akhir Agustus

Oleh:
Malam yang tak begitu cerah bagiku. Langit yang mendung tanpa ada bintang yang menghiasi tanpa bulan yang tersenyum, seperti hati ini, hati yang diselimuti dengan luka yang mendalam tanpa

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Sebatas”

  1. moderator says:

    Bebal kalo dikasi tau emang orang kalo lagi bucin kronis…

    ~ Mod N

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *