Sebuah Cerita dari Sepasang Mata

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Keluarga
Lolos moderasi pada: 7 January 2017

Merah pada tangkup bibirnya boleh jadi tiada bergeming. Namun kelopak retinanya, lihatlah. Atau lebih tepatnya, dengarlah. Ia tengah bercerita. Tengah mengibaratkan dirinya sebagai sepasang kekasih. Dalam hal ini mungkin aku dan engkau. Iya kah? Tentu saja tidak. Sebab kita bukan kekasih, seperti kata anakmu. Namun tetap paksalah kepalamu untuk mengangguk, demi sedikit meletakkan rasa bahagia pada sepasang mata yang lain, mataku. Sekali ini saja di hari pernikahanku. Dengan adikmu; Han.

Adikmu yang pendiam dan memiliki hati yang lembut ini juga memiliki sepasang mata yang tengah bercerita dengan ceritanya sendiri. Hanya saja telingaku tak menjangkau suara dalam sepasang matanya. Ada sekat di sana. Namun sebagaimana aku, aku tetap masih bisa menyimpulkan sesuatu dari beberapa tafsiran. Barangkali lelaki yang hari ini telah resmi jadi suamiku ini tengah bercerita lewat kedua matanya tentang kebahagiaannya telah menikahi perempuan yang begitu dicintainya; aku. Atau barangkali tentang rasa ketidakenakan dalam debar jantungnya saat melihat sepasang mata kakaknya yang duduk khidmat di kursi tamu bersama Lui, anaknya yang kini berusia lima tahun. Tentang kecemasan yang boleh jadi akan kambuh di tengah-tengah pernikahan kita dan tentang sedih yang lebih mirip perasaan sesal tiada akhir telah menikahi mantan kekasih kakaknya sendiri. Atau tentang pertanyaan panjang lebar yang memenuhi ruang kepalanya mengenai apakah kelak aku akan mencintainya juga? Barangkali. Aku tersenyum. Sebuah ekspresi yang memang paling pantas dipasang pada mempelai pengantin yang tengah dipajang. Bukankah begitu? Di situ akan timbul pertanyaan baru, kepada siapakah aku tersenyum. Semua orang mungkin tidak akan melontarkan pertanyaan semacam itu karena mereka tahu aku tengah tersenyum dengan pernikahanku, dengan bayangan masa depan rumah tanggaku. Dengan suamiku. Namun kau pasti membatinnya diam-diam. Begitu yang kutangkap dari pembicaraan sepasang matamu. Ia bercerita dengan nada sedikit meliuk, nada orang bertanya. Apakah benar dia tersenyum padaku? Setidaknya itu amat kelihatan dari caramu membalas senyumku dengan sungging yang ragu-ragu. Ah … Bi, kau tampak lucu dengan gelagat seperti itu. Mengingatkanku dengan peristiwa dua belas tahun lalu saat kita masih duduk di bangku SMP. Kau dengan kacamatamu begitu gelagapan jika mendapatiku menanyakanmu membawa pulpen berapa biji sebab aku hendak meminjam. Kau gagap mengangguk. Tergesa mengambil pulpen dalam tas punggungmu dan gemetar memberikannya padaku. Yubi … jika aku mengingatkannya padamu pasti kau akan tertawa geli. Mengganggap begitu mengerikannya dirimu jika berhadapan dengan perempuan saat sekolah dulu.

Setidaknya begitulah ekspresimu saat tujuh tahun setelah lulus SMP kita berjumpa kembali di sebuah seminar pada kampus kita. Ah, betapa yang paling mengagumkan adalah karena kita baru tahu kuliah dalam satu tempat yang sama setelah bertahun-tahun kita berada di sana. Tidak apa-apalah. Jodoh masih meluangkan dirinya untuk kita sedikit bercerita satu sama lain.

Jodoh?

Aku sempat berharap engkau menjadi jodohku. Namun belum saja harapan itu menjadi bulat, sebuah nama sudah terang-terangan menyingkirkanku dari harapan konyol itu. Aku tak jadi berharap. Tapi tak apa-apa. Sebab sudah kubilang, itu belum bulat. Harapanku masih dalam bentuk permainan tebak-tebakan antara kepalaku dan kertas-kertas dalam diari. Sungguh, ketika kau bilang kau hendak menikah dengan Sauma dalam waktu dekat, aku tidak merasa patah hati. Malah cenderung hampir meloncat karena saking girangnya mendengar kabar itu. Perasaanku bercampur-aduk dengan kegelian saat mengingat aku hampir berencana untuk mencintaimu.

Kejadian ngerinya berlangsung setelah aku berjumpa lagi denganmu, lima tahun setelah kau menikah. Saat itu di sebuah taman kanak-kanak. Tempat Lui belajar di sana. Kau bermaksud menjemput Lui. Tanpa sengaja bertemu denganku yang kebetulan sebagai guru Lui. Kalau kau perempuan mungkin aku sudah memelukmu, Bi. Tapi kau lelaki, dan aku harus menjaga perasaan Lui dan anak didikku yang lain.

“Jadi kau Papa Lui, Bi?”
“Jadi kau Guru Lui, Fah?”
“Hahaa.” Kita tergelak kompak.
Berpasang-pasang mata anak didikku mecuatkan pertanyaan. Segera aku mengerti, aku langsung bungkam dan menyuruhmu ikut bungkam. Tapi kita terus tertawa setelahnya. Sampai aku tak sadar sudah berada dalam rumahmu dan merasakan ada yang ganjil di sana.

“Istrimu kemana, Bi?”
Belum kau menjawab, Lui yang kala itu berada di sampingku langsung terbirit menuju kamarnya. Ada apa sebenarnya?

“Sauma meninggal tujuh bulan lalu,” aku hendak bertanya kenapa, namun urung.
Aku tak tega menatap wajahmu yang lusuh mendadak begitu. Tapi kau malah menjawab pertanyaanku yang tak terdengar.

“Sauma terjatuh di kamar mandi. Ia keguguran anak kedua kami yang berusia lima bulan sudah. Namun darahnya kelewat banyak yang keluar karena lambat dapat pertolongan. Seutuhnya salahku. Waktu itu aku tidak ada di rumah. Ketika pulang aku mendengar Lui menangis histeris sambil terus berteriak darah. Aku–” Cukup, Bi. Cukup.
Aku menghentikannya karena kutahu kau tak pernah sanggup melakukannya. Aku menatapnya lekat-lekat lantas memeluknya begitu erat. Aku sudah tak peduli jika pada kenyataannya Yubi adalah lelaki. Sebab yang kutahu, dia adalah seorang teman yang sedang membutuhkan ketenangan. Maka aku melakukannya. Aku pun melepaskan pelukanku dengan hati-hati begitu mengingat Lui sedang meringkuk dalam kamarnya. Aku segera berlari. Dan pemandangan yang kulihat adalah Lui sedang pulas tertidur sambil memeluk boneka koala sebesar dirinya.

“Itu pemberian Sauma di hari ulang tahunnya satu minggu sebelum ia pergi.” Ujar Yubi di belakangku.
Sebagai seorang guru, aku bisa memahami bagaimana perasaan Lui. Aku pun mendekatinya dan mulai mengusap-usap rambutnya. Mengusap air matanya yang sudah kering di kedua pipi merahnya.

Lima bulan kemudian Lui ulang tahun. Ia merayakan pestanya di rumahnya, sangat sederhana. Hanya aku, Yubi, Han. Hanya empat orang di sana. Namun Lui begitu haru dan bahagia. Ia memeluk kami. Ia meniup lilin lalu makan kue pelangi. Lui cantik sekali saat itu. Dengan kostum peri warna putih. Yubi sebagai papa Lui berkata akan memberi kejutan kepada Lui. Lui menunggu sangat antusias. Dan jauh yang dibayangkan, Lui ternyata tak menyukai kejutan itu. Ia sangat marah dan membanting kue ulang tahunnya. Ia menangis dan berlari keluar pintu. Ke luar rumah. Ke jalan raya. Kami bertiga spontan mengejarnya, namun segalanya sudah terlambat. Sebuah bus menabraknya semata-mata. Kami lemas seketika sedang truk yang menabrak melaju tanpa peduli. Yubi panik dan menyuruh Han memanaskan mobil. Kami segera menuju rumah sakit. UGD. Syukur, Lui masih dapat diselamatkan. Tidak parah juga. Hanya ada pembengkokan tulang pada kaki kirinya. Memaksanya untuk diperban.

Genap dua hari, Lui siuman. Ia tersenyum melihat pamannya; Han. Juga saat melihat papanya. Namun ketika melihatku, rona kemarahannya masih tampak. Lui memang tampak sudah terlalu bernalar di usianya saat ini. Ia bersungut. Menarik Yubi dan membisikan sesuatu di telinganya. Aku dan Han masih bisa dengar tapi.

“Kejutan papa kemarin buat paman Han saja, Pa. Lui sayang Bu guru tapi Lui juga sayang mama. Lui tidak mau mama sedih di sana. Lui sayang Papa.”

Bu guru buat paman Han saja. Bagaimana bisa? Kalau aku tak dapat menikahi Yubi, yah sudah! Aku tak akan menikahinya apalagi menikahi adiknya. Tidak mungkin. Tapi, tapi, apa kabar bayi dalam perutku? Ia memang masih lima minggu, tapi bulan-bulan akan tetap berganti sampai sembilan bulan nanti. Perutku akan tumbuh dan tanpa seorang suami. Aku merasa ngeri. Memang kesalahan besar telah melakukan hubungan gila tanpa sebuah ikatan. Tapi semua telah terjadi. Berkali-kali. Bagaimana?

Sepasang mata di kursi tamu itu terus bercerita. Meski samar dan cenderung tidak jelas. Tapi aku masih bisa dengar. Ia berbinar dengan kilau yang retak. Aku mengerti, pemilik sepasang mata itu masih menyimpan cinta yang besar kepada perempuan yang telah mendahuluinya terbang ke langit. Namun ia juga mencintaiku, sebesar mencintai bayi dalam kandunganku, sebesar mencintai Lui yang berada di sebelahnya, sebesar mencintai Sauma. Aku mengerti, sebab sepasang mata itu telah menceritakan segalanya. Aku juga mencintai, sejak lama. Sejak kau masih lugu dengan seragam putih biru. Sejak kita berjumpa lagi di acara seminar itu, sejak kau berjanji akan menikahiku dan memberi nama bayi yang kukandung Ihbi. Maknanya Ihfah dan Yubi. Bisa untuk perempuan atau lelaki. Tapi, apa kabar dengan Han? Aku juga harus menjaga perasaannya seperti aku menjaga seluruh perasaan murid-muridku yang berjumlah tiga belas. Terlebih dia begitu pendiam, begitu lembut. Terlebih dia sudah secara terang-terangan mau bersumpah menerimaku sebagaimana adanya. Aku yang tengah hamil anak kakaknya sendiri. Han mencintaiku, sejak SMP juga. Dia lembut sampai tidak ada murid lelaki yang segan bermain dengannya. Dia mengagumiku sejak aku menjadi Pengurus OSIS di SMP yang mengaturnya dan adik kelas lain saat sedang latihan baris berbaris, saat pramuka. Dia menganggapku satu-satunya orang baik yang dikirim Tuhan untuk mengajaknya bermain. Dia mengikutiku hingga ke SMA. Hingga kuliah. Han menyimpan semuanya dengan rapi dalam lemari bernama hatinya. Hingga kemarin, di waktu Lui menjodohkan kami, Han ikut meyakinkanku. Ia berkata bahwa ia masih normal. Walau pendiam begitu tapi ia masih lelaki. Bisa melindungiku dan mengayomiku. Menjadi pemimpin dan menanam benih-benih dalam perutku. Ia meyakinkan dengan sepasang matanya. Aku harus mencintainya bagaimana pun. Cinta Han yang sedemikian itu padaku sejatinya sangat nisbi di dunia. Maka pelan-pelan, sepelan bagaimana pun, aku harus belajar mencintainya.
.
Pelan-pelan, Bi. Semoga kau akan menemukan Sauma baru yang bisa kau, sekaligus Lui mencintainya. Sampai kalian terbang ke langit menyusul Sauma kelak. Kelak, Bi.

Cerpen Karangan: Retno Kurnia N. A.
Facebook: Retno Kurnia NA
Kelahiran 13 Maret 1998 di dusun kecil bernama Suwiyu, desa Loning, kecamatan Petarukan, Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah. Perempuan yang dalam hidupnya erat berkaitan dengan ranting-ranting, pohon-pohon turi, kelopak-kelopak kering dan melati.

Cerpen Sebuah Cerita dari Sepasang Mata merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Air Mata Ke Seribu

Oleh:
Kabar pernikahanmu sudah sampai padaku, sayang. Undangan merah jambu dengan motif bunga-bunga kecil terasa manis menghiasi pinggiran kertas. Tak terasa sudah 25 tahun sejak hari itu. Bahkan aku tidak

Kedai Ronde Cinta

Oleh:
Pagi yang begitu cerah, cahaya mentari yang menerangi jalan ini. Terlihat sesosok wanita cantik yang sedang berjalan menuju arahnya keindahan. Dia adalah Vera, gadis cantik yang sangat berhati mulia.

Seminya Bunga

Oleh:
Semilir hawa malam bersama taburan bintang. Terdengar gerak deru kapal berdebur ombak yang memecah udara malam hari. Di lantai bawah, Felly bersama dengan segerombolan taruna kapal bernyanyi dengan irama.

Kenangan Hidup

Oleh:
Tangan yang biasa menggenggam erat tanganku serasa masih hinggap dan siap untuk memelukku , kata kata lembutmu masih terdengar oleh telingaku , bahkan wajah amarahmu katakata itu yang membuat

Ayahku Yang Lain

Oleh:
Seorang pria terus memandang ke arah gerbang sekolah memandangi setiap orang berpakian putih abu yang ke luar dari gerbang itu. Mata pria itu bertemu dengan mataku, dia menatapku begitu

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *