Sebuah Cinta Yang Tak Terduga (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 8 January 2016

Waktu istirahat Dimas menghampiriku tapi aku malah menjauh dari dia. Dimas pun heran dengan sifatku yang sekarang karena dia tidak tahu permasalahan awalnya penyebab aku menjauhi dia. Sudah seminggu aku menjauh dari Dimas setiap dia telepon atau pun sms gak pernah aku angkat ataupun aku balas sampai akhirnya Dimas tahu permasalahannya itu terjadi karena Tania Dimas langsung menemui Tania dan marah padanya.

“heh Tan apa yang kamu lakukan pada Tika sampai ngebuat dia menjauh dariku?” ucap Dimas pada Tania.
“gak ngelakuin apa-apa aku cuma bilang sama dia buat ngejauhin kamu karena kamu milikku” ucap Tania enteng.
“kita gak ada hubungan apa-apa lagi ya Tan. Hubungan kita udah berakhir kamu gak berhak buat ikut campur urusan aku, dan kamu jangan pernah sakiti Tika lagi ngerti kamu?!” ucap Dimas kesal pada Tania dan langsung meninggalkannya Dimas langsung menemuiku untuk menjelaskan masalah ini.

Tania terdiam dia sangat kesal dengan perkataan Dimas padanya. Dan dia ingin merusak hubunganku dengan Dimas. Dimas sudah sampai di rumahku dia pun menjelaskan semuanya padaku. “Tika kamu jangan salah paham ya, aku sama Tania sudah gak ada hubungan apa-apa lagi.” ucap Dimas meyakinkanku karena dia tidak mau aku marah padanya.
“aku gak apa-apa kok Dim aku kayak gini cuma gak mau dibilang perusak hubungan orang aja jadi ya aku lebih baik mundur.” ucapku.

Tak terasa air mataku pun menetes lagi dengan cepat Dimas menghapus air mataku karena dia enggak tega melihat perempuan menangis. “kamu kenapa nangis Tika udah dong. Aku gak bisa lihat kamu nangis. Aku udah kasih peringatan pada Tania biar dia gak ganggu kamu lagi. Udah ya jangan nangis lagi senyum dong” ucap Dimas sambil mengembangkan senyumku dengan jarinya. Aku pun tersenyum tipis.

“nah gitu dong kan cantik kalau senyum gak kayak tadi jelek kamu nangis” ledek Dimas padaku.
“ih apa sih rese ya” ucapku kesal pada Dimas dan langsung mencubiti tangan Dimas.
“aduuh sakit tahu aku gelitiki nih” ucap Dimas padaku.
“Jangan Dim geli tahu.” ucapku Dimas tidak mempedulikan perkataanku dia langsung menggelitikiku aku pun tak tahan menahan tawa.

“hahaha sudah dong Dim cape tahu.” ucapku tak berhenti tertawa.
“ya udah deh aku berhenti gelitiki kamu tapi kamu janji jangan sedih lagi.” ucap Dimas.
“ya aku janji tapi jangan gelitiki aku lagi” pintaku padanya.
“gini dong ketawa kan tambah cantik” gombal Dimas padaku.
“ih apaan gombal banget deh entar aku ngambek lagi loh.” ucapku pada Dimas.

Memang gak bisa disembunyikan hatiku sangat senang karena sudah hampir seminggu tidak ada komunikasi sama Dimas. Dan akhirnya sekarang aku bisa tersenyum karenanya tapi aku gak tahu apa perasaan Dimas sama denganku aku hanya bisa menunggu. “eh jangan ngambek lagi dong kan gak enak kamu diamin aku selama seminggu aku sedih tahu” ucap Dimas membuatku tambah senang hari ini. Tapi aku gak tahu itu perkataan jujur dari hatinya atau tidak. Aku pun pulang bersama Dimas. Di rumahku ada Dinda dan Kak Aldo memang mereka sudah jadian aku pun menggoda mereka.

“ciiiieeee.. berduaan terus kayak perangko.” ucapku pada Dinda dan Kak Aldo.
“apaan sih dek, iri ya? hahaha” tawa kakakku.
“apaan sih Kak aku gak iri kok” ucapku.
“makanya Tik cepetan tuh suruh sih Dimas ungkapin perasaannya.” ucap Dinda.
“perasaan apa? kan belum tentu dia punya perasaan yang sama denganku.” ucapku lirih.
“tapi aku rasa sih Dimas juga ada perasaan sama kamu Tik.” ucap Dinda.
“semoga deh Din.” ucapku pada Dinda.

Sorenya aku dan Dimas pergi ke taman karena Dimas yang menggajakku ke sana entahlah apa yang direncanakan sama Dimas. Tapi sebelumnya di sekolah ternyata Tania mendengar rencana Dimas dan aku entahlah apa yang bakal dilakukan Tania padaku dan Dimas. Dimas sudah ada di depan rumahku aku ke luar memakai Dress warna biru selutut dan rambutku ku biarkan terurai biar kelihatan lebih simpel. Dimas melihatku pun terdiam tak berkedip.

“hei kamu kenapa?” tanyaku heran.
“kamu cantik banget” ucap Dimas tetap melihatku.
Aku pun tersenyum melihat tingkahnya, “udah yuk kita langsung pergi aja nanti malah kesorean lagi.” ucapku karena takut kemalaman perginya.
Di sana pun aku dilihat banyak orang membuat aku gak pede.

“Dim lihat deh mereka lihatin aku terus apa ada yang salah ya denganku?” ucapku tak pede.
“gak kok gak ada yang salah sama kamu orang-orang ngelihatin kamu itu karena kamu cantik makanya semuanya ngelihatin kamu” ucap Dimas.
“iihh Dimas aku serius tahu, kamu mah malah bercanda” ucapku yang menganggap perkataan Dimas tadi candaan.
“siapa yang bercanda orang serius kok kamu itu cantik banget. Udah deh ya kamu gak usah mikir yang macam-macam mereka itu ngelihatin kamu karena kamu cantik.”

Seketika hening Dimas seperti ingin menyampaikan sesuatu padaku.
“kamu kenapa Dim?” tanyaku pada Dimas.
“oh gak apa-apa, Tika aku boleh ngomong sesuatu gak ke kamu?” ucap Dimas.
“boleh emang kamu mau ngomong apa kok kayaknya serius banget.” tanyaku polos karena gak tahu Dimas mau ngomong apa. “aku suka sama kamu, kamu mau gak jadi pacar aku?” ucap Dimas cepat. Mataku seketika membola mendengar perkataan Dimas padaku.

“hah? kamu bercanda ya Dim? haha lucu kamu” ucapku menganggap perkataan Dimas hanya sekedar lelucon.
“gak kok aku serius. Tika aku sayang sama kamu, aku nyaman sama kamu. Dari awal kita ketemu aku udah suka sama kamu Tika. Jadi gimana kamu mau? kalau kamu nolak juga gak apa-apa kok.” tanya Dimas memastikan.
“iya aku mau” jawabku.
“beneran?” ucap Dimas meyakinkan ucapanku.
“iya dim.”

Di sisi lain ada seseorang yang mengintip kami. Orang itu ialah Tania yang tadi di sekolah mendengar percakapanku dengan Dimas. “kalian boleh senang dulu entar aku bakalan hancurin hubangan kalian!” ucap Tania tersenyum sinis. Aku dan Dimas pun menuju suatu tempat yang telah Dimas siapkan untukku. Tempat itu sangat indah dan di sana ada taburan bunga yang berbentuk hati. Aku senang banget seketika air mataku menetes. Aku menangis bahagia karena penantianku selama ini berujung bahagia.

“kamu kenapa nangis Tika? gak suka ya dengan kejutan ini? maaf deh kalau kamu mau aku bakalan hancurin ini semua.” ucap Dimas yang ingin menghancurkan taburan bunga itu.
“eh jangan dong Dim! aku nangis bukan karena ini gak bagus malah aku suka banget dengan ini semua. Aku nangis bahagia Dim karena aku bisa bersatu sama kamu sesuai yang aku harapkan.” ucapku pada Dimas.
“syukur deh aku kira kamu gak suka dengan kejutan ini. Aku juga bahagia banget karena akhirnya aku bisa ungkapin perasaan aku ke kamu setelah 5 bulan aku pendam.” ucap Dimas.
“udah mau malam nih pulang yuk aku takut dicariin sama orangtuaku” ucapku pada Dimas.

Kami pun segera meninggalkan tempat itu dan pulang ke rumah. Sampai di rumah aku masih tersenyum ternyata ada kakakku. Dia curiga kenapa aku tersenyum seperti itu karena gak biasanya aku bertingkah seperti itu, dia pun bertanya padaku. “kenapa kamu dek? bahagia banget kayaknya.” tanya kakakku.
“hehe gak ada kok Kak” ucapku.
“hayoo ngaku ada apa? jangan rahasia-rahasiaan sama Kakak atau jangan-jangan kamu udah jadian ya sama Dimas?” ucap kakakku.
“ih enggak kok.” ucapku.

“udah deh gak usah bohong jujur aja sama Kakak. Tapi ingat ya si Dimas jangan sampai nyakiti kamu, kalau dia berani nyakiti kamu Kakak bakalan habisi dia.” ucap kakakku yang gak mau adik kesayangannya itu tersakiti.
“iya deh Kak gak mungkinlah Dimas nyakiti aku, dia baik kok Kakak tenang aja ya.” ucapku pada kakakku itu dan langsung pergi ke kamar. Di sana aku langsung lompat-lompat kegirangan karena akhirnya aku dan Dimas pun resmi jadiaan.

Seketika waktu aku sedang jalan sama Dimas tiba-tiba ada mobil lewat di hadapanku dengan cepat Dimas mendorong tubuhku. Dan akhirnya dia yang ditabrak mobil. Semua badan Dimas sudah dilumuri darah. Aku pun menangis tak kuat melihat Dimas seperti itu. Aku segera membawanya ke rumah sakit untung aku cepat membawanya ke rumah sakit kalau tidak bisa-bisa dia udah tak sadarkan diri.

Di sisi lain pun ada yang sedang gelisah karena sasaran yang dia tabrak tadi itu salah dan malah mengenai orang yang dia cintai. Ya ternyata orang itu adalah Tania dia yang rencanai semuanya. Aku setia menunggu Dimas di rumah sakit karena sudah 10 hari Dimas tak sadarkan diri. Aku pun menangis. “kenapa sih harus kamu yang ditabrak kenapa gak aku aja Dim? aku gak kuat dim lihat kondisi kamu seperti ini” ucapku tak kuasa menahan air mata. Setelah lama Dimas koma akhirnya dia sadarkan diri Dimas tersenyum melihatku yang setia menunggunya.

“Dimas kamu udah sadar?” ucapku mengeluarkan air mata.
“iya sayang aku udah sadar kamu jangan nangis ya aku gak apa-apa kok” ucap Dimas menghiburku.
“gak Dim gara-gara aku kamu kayak gini seharusnya biarin aja kemarin aku yang ketabrak.” tangisku semakin memecah.

“ini bukan salah kamu ini sudah kewajiban aku menjaga kamu. Aku rela seperti ini karena aku sayang sama kamu, aku gak mau kamu kenapa-kenapa. Lebih baik aku yang menderita daripada aku harus melihat orang yang aku cintai menderita itu lebih sakit.” ucap Dimas perlahan menggenggam tanganku.
“tapi aku gak tega lihat kamu seperti ini dim, hiks..” ucapku menangis tersedu.

Dokter pun masuk ke ruangan Dimas untuk memeriksa kesehatan Dimas.
“gimana keadaan anak saya dok?” ucap bundanya Dimas yang baru saja datang.
“anak Ibu kondisinya mulai membaik tapi tetap belum boleh pulang karena kondisinya belum begitu stabil.” ucap dokter. Mendengar perkataan dokter itu perasaanku sedikit lega.
“Tika kamu sebaiknya pulang dulu ya istirahat. Kasihan kamu menjaga Dimas selama 10 hari ini kamu pasti lelah.” Ucap bunda Dimas padaku.

“gak kok Bun, aku masih mau ngejagain Dimas.” ucapku tak mau pulang.
“sayang benar tuh kata Bunda lebih baik kamu istirahat ya, entar kamu sakit. Aku gak mau kamu sakit kan masih ada Bunda di sini yang jagain aku” ucap Dimas padaku yang menyuruhku pulang karena memang dari awal Dimas sakit sampai sekarang aku belum ada pulang ke rumah. Paling pulang hanya sekedar ambil baju ganti dan langsung pergi ke rumah sakit lagi. “ya udah aku pulang tapi nanti aku janji bakalan kembali lagi” ucapku dan langsung pulang ke rumah.

Keesokan harinya Dimas sudah diizinkan pulang oleh dokter karena Dimas sudah lumayan membaik. Aku ikut mengantarnya pulang. Aku mengantarkannya ke kamar.
“Tika aku suntuk nih kita ke danau yuk” ajak Dimas padaku.
“gak Dim kamu kan baru sembuh nanti kamu kecapean lagi, malah tambah sakit. Udahlah di sini aja kalau kamu udah sembuh baru kita ke danaunya” ucapku melarang Dimas.
“yah kamu gak kasihan sama aku udah lama aku gak ke luar. Aku ingin hirup udara segar Tik, sebentar aja janji deh gak lama” ucap Dimas.
“ya udah deh ayo tapi janji ya gak lama sebentar aja” ucapku dan langsung pergi ke danau. Di sana aku sangat menikmati udara yang sangat sejuk aku pun tersenyum begitu pun dengan Dimas dia sangat bahagia.

“aku bahagia Tika akhirnya aku bisa bersama kamu lagi dan aku bersyukur aku bisa melewati masa kritisku. Dan aku gak mau kehilangan kamu tik aku sayang banget sama kamu” ucap Dimas padaku. “iya Dim aku juga bahagia banget kamu bisa sembuh aku juga gak mau kehilangan kamu Dim” ucapku.
“aku janji aku gak akan pernah ninggalin kamu.” ucap Dimas.
“iya Dim aku juga janji gak akan pernah ninggalin kamu.” ucapku.
Akhirnya semua pun bahagia tanpa ada orang yang menggangu. Dan Tania dia sudah dipenjara dan tidak ada lagi yang bisa merusak hubungan kita berdua.

Cerpen Karangan: Wicha Alvionita
Facebook: Wicha Alvionita

Cerpen Sebuah Cinta Yang Tak Terduga (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kenyataan Buat Tarin

Oleh:
“Sudah lama menungguku?“ tanyaku yang baru saja sampai di halte tempat bus yang akan membawa aku dan Dika ke kampus. “Tidak kok, Tarin. Ayo naik, tuh bisnya sudah hampir

The End (Part 4)

Oleh:
Keesokan pagi, di sekolah, lantai tiga tempat ruangan kelas mereka, Richard sedang berdiri di pinggir pembatas sambil memandangi ke bawah. Tiba-tiba Leon datang mengejutkannya. “Heyy?!” Leon setengah berteriak sambil

Buah Kesabaran

Oleh:
Secara tak sengaja Angkasa melihat Embun sedang jalan berdua dengan seorang pria yang seumuran dengannya di sebuah pusat perbelanjaan. Beberapa kali ia mengucek matanya hanya untuk meyakinkan bahwa ia

Janji Sang Pejuang Cinta

Oleh:
Pagi itu untuk sekian kalinya orang-orang bekerja keras mencari nafkah demi sesuap nasi. Rata-rata mereka bekerja sebagai petani, pedagang, dan nelayan di desa terpencil di Lombok. Desa ini memang

Rasa Tabu Bersamamu

Oleh:
Suasana pagi yang cerah, telah menyelimuti desa Rajun Pasongsongan Sumenep. Mulai termusiki kokok ayam tetangga yang memenuhi gendang telingaku. Orang-orang kesana kemari merangkul cangkul membawa celurit dan bekal terbungkus

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *