Sebuah Ikatan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Patah Hati
Lolos moderasi pada: 3 February 2016

Moodku hilang. Berubah seketika ketika kau ucapkan hubungan kita tak akan berujung. Selama ini? Aku membuang waktuku denganmu. Menanti pagi, bermain dengan siang hingga senja, lantas berpisah ketika malam. Berputar seperti itu setiap minggunya. Inilah kisah panjang, panjang jarak karena antara Madura dan Surabaya itu terhalang laut. Tetapi kita berusaha memegang komitmen ini sebagai wujud penumpukan rindu dan doa-doa baik bagi hubungan kita. Menyedihkan. Menyakitkan memang, semuanya berakhir begitu saja. “Penantianku?” ahh… isakan tangisku tak boleh terdengar sampai ke luar.

Siapa sangka, memang rasa ini awalnya tumbuh di hatiku secara diam-diam ketika kau masih bersama perempuanmu saat itu. Aku dan sekuat hatiku selalu berusaha menutupinya, dan berharap kelak kau akan putus darinya dan bersamaku. Terlihat akulah sosok antagonis yang mengganggu hubungan kalian, tetapi aku selalu berusaha meredamnya. Andai kau ingat, sebuah waktu yang pernah ku minta darimu untuk sekedar meminta film Raditya Dika kala itu, itu hanya sebuah alasan bagiku yang merindukan kekasih orang sepertimu. Itu hanya sebuah alasanku agar bisa melihat matamu yang ku rindukan. Maaf, sungguh benar maaf. Gedung Cakra pernah membuat sebuah pertemuan singkat, pertemuanku denganmu.

Masih ku ingat betul saat pertama kita bertemu, tepat di sudut gedung cakra itu. Setelah siang berbincang, dan pertemuan pertama kita di malam itu. Aku belum pernah seperti ini, aku yang kala itu masih semester 1 dengan bawaan SMA di daerahku yang masih sangat erat. Mungkin kau bebas tertawa, karena kau jauh di atasku. Mungkin kau berhasil menipuku atau bahkan membohongi anak kecil sepertiku. Entahlah, tapi setelah malam itu seperti desiran angin, menyeruap menjadi rasa yang tak ku ingini. Aku tak pernah percaya cinta, karena cinta hanya untuk mereka yang memiliki hati. Sedang aku, tak ingin sedikit pun memilikinya karena yang ku tahu cinta itu menyakitkan. Sudahlah, jangan lagi ingat kakak itu.

Aku terjerat. Aku gagal. Dalam sebuah hubungan yang tak berujung. Sebuah hubungan yang tak harus aku lanjutkan. Maafkan aku, dia kekasih orang, tapi aku berharap padanya. Dari tutur kata yang mampu meluluhkan hati, dari pandangan mata yang tak mampu ku lupa. Apalagi ini? Sebuah senyum manis yang tak bisa ku tepis. Awalnya aku kira kau masih sendiri, tetapi aku tahu mengapa sebegitu lamanya kau tak kunjung mengucapkan sayang padaku. Karena kita hanya teman, dan tak akan pernah berubah. Hampir satu semester lamanya. Inilah hubungan pertemanan kita. Kau dan dia serta aku yang selalu berharap. Kau tak pernah mengenalkan kekasihmu padaku, entahlah mungkin kau menjaga perasaanku dan diam-diam kau tahu tentang cinta diamku.

Saat itu, Maret 2014 selamat atas gelar Sarjana Teknologi Pertanianmu, semoga bukan hanya gelar di belakang nama, tetapi juga mampu menjadi kualitas baru yang lebih baik bagimu. Amin. Maaf, aku tak bisa hadir dalam acara pentingmu, acara istimewamu itu. Aku tahu pasti kau senang sekali memakai toga di atas kepalamu, memakai baju yang aku yakin pasti kebesaran. Hahaha…. Setelah ini, aku yakin aku akan melupakanmu dengan bebas. Karena kita tak akan pernah bertemu. Kau tentu ingat kata-kataku malam itu. “Kak, setelah lulus bekerjalah di sini, atau di Surabaya.” Kau hanya tersenyum malam itu.

Dan apa-apaan aku ini, memalukan. Itu bagian harapan agar aku tetap bisa bertemu denganmu. Tapi apa yang ku rasa saat itu adalah sakit menyayangimu dalam diam. Biarlah yang ku rasa hanya aku dan Tuhan yang tahu, atau bahkan diam-diam kau tahu semuanya. Saat ini aku hanya ingin mengubah rasa ini menjadi rasaku kepada kakakku. Aku akan berusaha. Entah berapa bulan lamanya kita tak bertemu. Memang benar kita berpisah. Dan satu-satunya media yang mempertemukan kita adalah Blackberry Messenger. Dan aku dengar kini kau bukan lagi bersama perempuanmu saat itu. Ada ucapan selamat dariku, tetapi katamu dia temanmu. Bahkan aku sempat berpikir, kau pemberi harapan palsu.

Tapi sudahlah, sudah berapa lamanya ini, rasaku juga sudah biasa padamu. Juga bukan urusanku. Mungkin pernah ada, seseorang yang dekat denganku, tapi tak berakhir lama. Masih cukup lama ketika aku menyimpan rasa ini untukmu, tapi sudahlah. Ku dengar benar kau hanya bekerja di Surabaya saat ini. Tetapi kau tak menemuiku. Jadi memang benar, bertepuk sebelah tangan dari awal. Hingga sebuah pertemuan baru itu datang, dan tiba-tiba kau ingin aku menjadi kekasihmu. Kau katakan kau tahu semua rasa dalam diamku.

“Peluk aku atau lupakan aku,” katamu memaksa. Ini pertemuan pertama kita setelah sekian lama. Kau terlihat tetap kurus, namun kini aku tahu kau telah bekerja. Penampilanmu semakin lumayan oke, aku suka. “Lantas perempuan yang kemarin di profilmu?” tanyaku heran. “Dia temanku. Memang kita dekat, tetapi aku tak mungkin bersamanya, dia terlalu jauh,” katanya meyakinkan.

Entahlah ku kira dia kesurupan. Dia bercerita panjang lebar tentang kekasihnya yang dulu, Nia. Aku tahu dari tatapan matanya dia membenci Nia, tetapi dia menyayanginya sangat karena hubungannya yang begitu berumur lama. Nia pergi begitu saja katanya. Dari awal aku sudah mampu membaca bahwa Nia bukan sosok yang baik untuknya, tapi apa boleh dikata nasi sudah menjadi bubur. Dia juga bercerita tentang temannya yang jauh itu, di Bandung. Apakah aku akan menjadi bahan pelampiasannya saja saat ini? lantas dimana rasaku yang luar biasa besar padanya dulu? Hatiku masih tetap berkecamuk. “Pikirkan baik-baik, aku tak akan meminta untuk yang kedua kalinya,” katanya.

Itulah sifatnya, egois, menang sendiri, dan bahkan tak mau tahu. Kasar dan keras dialah kepala batu. Ku coba dampingi dirinya saat ini, mengumpulkan sisa-sisa sayangku yang terpendam dulu, kini terbalas. Bahagia atau terharu, entahlah. Pelukan pertama itu, saat aku merasa dia yang ku harapkan dulu kini ku peluk erat. Dia bukan tipe romantis, yang setiap hari mengumbar sayangnya padaku, tetapi selalu ada perhatian di sela kesibukannya, bahkan setiap minggunya dia datang menemuiku di kosanku. Beberapa minggu terakhir ini, dia tak lagi terlihat. Kesibukan akhir tahun menyibukkannya hingga melupakanku begitu saja. Bahkan tahun baru pun ia berkencan dengan pekerjaannya. Tak mengapa bagiku, asal dia tak berbuat macam-macam di kejauhan sana.

Hingga liburan semester tiba, ia tak lagi terlihat di depan mataku. Sama seperti dulu, dia menghilang dan datang sesuka hatinya lantas memaksaku menjadi kekasihnya. Kini dia menghilang, dan akhirnya berkata bahwa ayah ibunya tak menginginkan jodoh yang jauh. Aku seolah tak percaya, dulu kau yang memaksaku dan meyakinkanku bahwa Blitar bukanlah jarak yang jauh. Iya memang saat itu perbandingan jarak Blitar memang lebih dekat dibandingkan dengan Bandung, tempat tinggal perempuan yang kau anggap temanmu itu. Sudahlah, seperti tiada hasrat untuk mencintai siapa pun, biarkan Tuhan yang mengatur pertemuanku dengan orang yang benar-benar tepat. Sampai akhirnya kelak tak ada lagi kuncup mekar yang kering karena menanti, ataupun mekar dengan harapan kosong seperti ini.

Kau tak akan pernah mendapat kesempatan lagi untuk sebuah ikatan cinta. Isakan tangisku tak boleh terdengar sampai ke luar. Jika benar sayang, mengapa tak kau upayakan aku? Apa memang rasa bosan karena harus memainkan jarak adalah penyebab ini semua? Kau tahu bukan, patah itu seperti apa? Kau tahu bukan, sakit itu bagaimana? Berusaha menyayangimu dari jauh, menantimu sekian waktu, dan kini kandas begitu saja. Izinkan aku menangis di pelukmu Ibu, saat setiap lelaki di luar sana adalah duri yang menyakitkan bagiku.

Cerpen Karangan: Ulul Albabiyatul Husna
Facebook: Ulul A. Husna

Cerpen Sebuah Ikatan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sendu Di Ujung Jalan

Oleh:
Aku kembali. Dalam naungan langit senja, aku berdiri di atas trotoar sebuah kota tua di bawah cabang-cabang ranting dengan kelopak kuning. Ku tatap jauh jalan di depanku, memutar ingatanku

Happy Birthday

Oleh:
“Besok Mr. anu ulang tahun”. “Yeahhh!” Aku menyebutnya Mr. anu, ya.. Dia adalah orang yang ku sukai lebih dari dua tahun ini tapi cinta ku masih saja jadi cinta

Cinta 24 Jam

Oleh:
Di malam itu, di sebuah ruangan kamar kost, di atas sebuah kasur terbaring seorang lelaki bernama Sam, dengan mata memandangi televisi yang sedang menyala di hadapannya. Sesekali terlihat melihat

The Magic of Time (Part 2)

Oleh:
Pagi mulai menusuk tulang-tulangku, aku terbangun dan aku terlambat. “Oh tidak, mereka semua sudah bangun dan aku, ouuh!” Ucapku menggerutu. Aku langsung bergegas ke luar tenda dan semua menatapku.

Cinta Terpendam

Oleh:
Cinta tak harus memiliki karena dia memang bukan jodoh kita. Tak apa meski ini sangat menyakiti, dan begitu melukai. Namun itulah garis terbaiknya untuk kita sebagai hamba-Nya yang harus

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *