Sebuah Kado Untuk Mu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 9 October 2015

Jangan tagih cerpenku lagi setelah ini, teruntuk engkau yang lahir pada tanggal 05 Mei 1993 silam, kini usiamu menginjak kepala dua. Semoga kau menjadi diri yang lebih baik lagi. Maaf, tak ada yang sempurna untukku sajikan di umurmu yang sekarang ini, karena aku hanya bisa mengenal kesempurnaan itu dengan kamu. Malam itu, padang rumput layaknya sebuah rumah tanpa genteng, membentuk balkon tanpa pembatas. Di sana kita terbaring, menatap diam ke arah langit. Mungkin lelah itu membuat kita sama-sama membisu. Hujan kemarin sore telah membuat kita basah kuyup. Jelas aku kedinginan, perjalanan panjang telah membuat kita kembali kering. Tapi, bukan tentang itu yang ingin ku ceritakan.

Sepanjang perjalanan, apa kau memperhatikan rumput-rumput itu? pohon-pohon yang kita lewati, atau shop coffe yang baru kita tinggalkan beberapa menit lalu. Mereka semua mengucapkan selamat tinggal padamu, apa kau mendengarnya? ketika satu persatu dari mereka saling berbisik, menatapku agar ikut mengucapkan selamat tinggal padamu. Tepatnya, selamat tinggal untuk hari terakhirmu di umur ke-19 tahun. Mereka mengucapkan selamat tinggal dengan tersenyum. Cukup untuk membuatku mengerutkan kening. Tapi, nampaknya kau tidak memperhatikan mereka, bahkan kau juga tidak memperhatikanku, saat aku menatap gelisah dari jendela toko itu.

Bayangan lampu warna-warni dan rintik-rintik hujan yang menghiasi jendela, mungkin telah menyamarkan raut mukaku. Hingga kau tetap Nampak tenang dan tidak bertanya, “ada apa denganku?” Padang rumput tempat kita berbaring begitu luas, meski sangat dingin aku menyukainya. Hamparan langit yang tanpa bintang, lama–kelamaan terlihat lebih indah jika dibandingkan dengan langit yang dipenuhi bintang. Entah kenapa, dan lagi-lagi bukan itu yang ingin ku ceritakan.

Zal, aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan untukmu. Merayakan bertambahnya umur kamu atau menangisi sisa umur kamu yang sekarang telah berkurang. Itu yang telah aku gelisahkan dari tadi. Kenapa kau diam? apa kau memikirkan hal yang sama denganku? atau kau larut dalam lelahmu? atau mungkin kau kecewa denganku karena tak ada kue ulang tahun dan kejutan beruntun di umurmu yang sekarang. Maaf.. maafkan aku yang bingung dalam kegelisahanku.

Zal, aku tidak pernah mengerti kenapa waktu-waktu itu dibilang berjalan begitu cepat. Padahal yang aku tahu mereka hanya berdetak, bukan berjalan ataupun berlari. Bunyi detik-detiknya seakan senandung nyanyian untukku. “tik.. tik… tik..” kau mendengarnya? suara detik-detik itu? yah, hanya itu yang aku tahu tentang waktu. Suaranya berirama dengan detak nadi dan jantungku, sama-sama beraturan.

Lama aku melihatmu memejamkan mata. Aku kira kau terlelap di atas rumput malam ini. Rupanya kau hanya memejamkan mata untuk tetap berada pada ketenanganmu. Tiba-tiba waktu itu seakan berhenti seiring dengan berhentinya detak jantungku saat tangan dinginmu memegang erat tanganku. Kau menoleh, menatapku begitu dalam. Sial, kini giliranku yang terdiam setelah pikiranku yang mengoceh panjang lebar. Lama cukup lama kau menatapku, sampai akhirnya senyum simpul terukir dari bibirmu, memberiku efek helahan napas panjang dan membentuk seutas senyum balik untukmu. Malu.

Tanganmu menghangat, “kenapa?” itu Tanya sekaligus ucapan perdana yang kau ucapkan selama hampir satu jam terdiam menatap langit kosong. Dengan ucapan bismillah ku perlihatkan sebuah jam tangan untukmu. Menyuruhmu melihat waktu yang tertera dan memaksamu untuk mendengar suara detakan jarum jam dan nadi tanganmu sendiri secara bersamaan. Kau menurutiku, meski yang ku lihat kau nampak kerepotan, dan mungkin tak mengerti maksudku.

“Rozal Putra, waktumu telah habis untuk menikmati angka 19 tahunmu. Waktu itu akan terus berdetak seiring dengan detak nadi dan jantungmu. Maka, biarkan ia melingkar di pergelangan tanganmu, membentuk sebuah irama tersendiri, layaknya sebuah nada dan melodi dari petikan gitar yang sering kau mainkan.”

Kata-kata yang mengagetkan diriku sendiri begitu saja muncul seketika tanpa pikir panjang. Mungkin karena lama tersendat di tenggorokan, hingga akhirnya ia berani muncul ke luar melejit bagai rudal tanpa aba-aba. Jauh dari bayangan, ku kira kau akan marah. Nyatanya sebuah senyuman manis terlempar ke arahku, berbaur bersama pelukan hangat yang kau lakukan. “Terima kasih.. terima kasih sayang.. aku dengar.. aku melihatnya.” itu ucapanmu, sebuah kado balasan untukku.

Cerpen Karangan: Iis Taulyda
Blog: iis-taulyda.blogspot.com
Facebook: iistaulyda[-at-]facebook.com
Penulis adalah seseorang yang suka selingkuh dengan pena dan kertas. Saat nyata hanya sebuah kekakuan belaka. Ia akan mencari rasa fleksibel dalam tulisan.

Cerpen Sebuah Kado Untuk Mu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Menunggu Surat Wartini

Oleh:
Kulihat di depan rumahnya sudah terparkir sebuah mobil. Aku memasuki rumahnya. Terlihat Wartini sedang duduk di ruang tamu. Dia melihatku dan segera menghampiriku. Aku memandang wajahnya, nampak jelas sekali

Kirito san (Part 2)

Oleh:
Flashback on. “dasar wanita penggoda. Jangan coba-coba merayu senior laki-laki!” kata senior wanita yang aku tidak tahu namanya. Saat ini kami sedang berada di gedung yang ada di belakang

Bimbimbab Bulgogi

Oleh:
“Cincah!, njang! salamdeul-eun wae eojjaessdeun e naleul ttaleula ida?! ttohan sonsil, yeogi seong su issseubnida! jenjang jenjang! salamdeul-eun wae eojjaessdeun e naleul ttaleula ida?!,” hardiknya kepada dirinya sendiri sembari

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *