Sebuah Kisah

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Fantasi (Fiksi)
Lolos moderasi pada: 28 December 2015

Tanganku meraba-raba sekitar. Basah. Perlahan, aku menyadari aroma yang menguar dari tempatku berada. Daun. Kelopak mataku terbuka. Pupil mataku mulai menyesuaikan diri dengan cahaya sang surya yang masuk. Setelah terbuka sepenuhnya, aku terduduk dan menatap sekitar. Padang rumput. Aku bangkit berdiri dan mulai berjalan mengikuti ke mana pun kakiku melangkah. Aku mulai memasuki hutan yang rimbun. Seulas senyuman lebar mengembang di wajahku. Kakiku melompat ringan diiringi suara kicauan burung yang terbang di sekitarku. Aku berhenti sebentar kala menyadari ada suara yang sedikit gaduh dari atas kepalaku. Perlahan, aku mendongakkan kepala seiring pupil mataku yang membesar. Terbelalak.

“Awass!!”
“Aww,” Aku meringis pelan menyadari seseorang menubrukku dari atas pohon. Mataku terbuka dan terbelalak kala iris cokelatku bertemu dengan iris biru laut. Dia pun juga sama.
“Huaa!!!” Aku mendorong orang itu dan orang itu juga langsung merangkak mundur sambil masih terkaget. Aku masih memperhatikan lelaki berambut perak itu. Iris biru laut. Pakaiannya membuatku melongo. Semacam pakaian kuno yang ada di dongeng-dongeng.

“Aw!” Aku lalu menyadari sesuatu. Tangan kanannya mengeluarkan cairan berwarna merah pekat.
Aku terdiam sebentar dan akhirnya mengeluarkan suara, setelah melihatnya hanya meringis tanpa melakukan apapun.
“Umm, apa mau ku obati?” Tawarku akhirnya. Dia menoleh menatapku selidik.
“Hey, aku hanya ingin membantu.” Risih dengan tatapan tajamnya. Dia menghela napas sebentar dan bergerak maju menyodorkan tangannya yang terluka.
“Terima kasih.” Ujarnya singkat padat. Aku menggelengkan kepalaku dan menerima uluran tangannya itu.

“Jadi, apa yang kau lakukan di atas pohon tadi? Itu aneh,” Aku berusaha membuka percakapan setelah mengobati tangannya. Lelaki itu duduk bersandar pada pohon besar dua meter dariku.
Dia menatapku lagi dengan tatapan yang membuatku risih dan membuka suara. “Hanya beristirahat sejenak.” Aku menaikkan alis mendengar jawabannya. Suasana menjadi hening karena aku juga tidak berniat untuk membuat percakapan dengan lelaki cuek ini. Dia bangkit dari duduknya dan terdiam sebentar di tempatnya. Seperti ingin berbicara sesuatu.

“Sekali lagi… terima kasih.” Ujarnya lalu langsung berbalik dan berjalan memunggungiku.
Aku hanya menatap punggung yang perlahan menjauh dan tersenyum tipis.

Suasana kota yang ku temukan di luar hutan membuatku terperangah. Sangat ramai, tentunya. Orang-orang berkuda berlalu lalang dengan kegiatan mereka masing-masing. Aku berjalan menyusuri keramaian dan melihat kumpulan orang yang tengah mengerumuni sesuatu. Karena tubuhku cukup mungil, aku berhasil menerobos dan melihat apa yang orang-orang tengah lihat. Selebaran pengumuman dari Kerajaan?

Untuk rakyat Clarines
Dicari, Pengawal Keluarga Kerajaan.
Dengan ketentuan:
Pria/Wanita
Berusia di bawah 40 tahun
Mampu beladiri baik dengan tangan kosong maupun dengan senjata
Bagi rakyat Clarines yang berminat, seleksi akan diadakan pada minggu depan, di hari yang sama dengan hari ini.
-Panglima Kerajaan, Dendez Welzeinkeil-
Catatan: harap tidak memaksakan diri bagi yang tidak mampu mengikuti seleksi.

Senyumku terukir kala membaca selebaran itu. Dan tentu saja aku sudah tahu apa yang akan ku lakukan sekarang. Sepatu boots putih sebetisku menapaki lantai marmer Lorong Istana dengan mantap. Dengan gesit, aku melewati kerumunan manusia di sekitarku yang tengah berbondong-bondong memasuki Aula Istana.

“Peserta nomor 307,” Seorang pria dengan armor besi berteriak yang membuatku merengsek maju.
“Itu aku!” Ujarku cepat. Prajurit itu menatapku sebentar seolah terperangah melihat satu-satunya wanita yang ikut Seleksi. Dan kau mungkin sudah tahu hasilnya.

Tok!
Tok!
Tok!

“Masuklah.”

Seulas senyuman terukir kala membuka pintu dengan ukiran emas di sekelilingnya. Mata cokelatnya langsung menangkap seseorang yang tengah duduk dengan tumpukan kertas di sampingnya. Di sebelah orang itu, seorang wanita berumur kisaran hampir kepala tiga menatap seksama ke arah pintu. Orang yang tengah sibuk berurusan dengan kertas juga mendongakkan kepalanya untuk melihat ke arah yang sama dengan wanita di sebelahnya. Sedikit terkejut, orang itu menatap selidik pada gadis di depan pintu.

“Selamat siang, Yang Mulia. Namaku Afsheen Myeesa. Pengawal baru untuk anda.” Gadis berambut hitam sepunggung itu membungkuk hormat pada lelaki yang mulai menyingkirkan kertas-kertas di hadapannya. Lelaki berambut perak itu menghela napas dan mengatur ekspresinya agar tetap terlihat datar. Wanita di sebelah lelaki itu angkat suara.
“Baiklah, Afsheen. Aku Kaylie Rutherford. Penasihat Kerajaan Clarines. Mulai sekarang, kau adalah pengawal Pangeran Raveen Clarvord. Ini seragam untukmu dan kita bertemu lagi di halaman Istana.” Wanita bernama Kaylie itu menyodorkan baju berwarna putih tulang yang segera ku ambil dengan senang hati. Aku memberi senyum terbaikku dan membungkuk hormat -lagi- sebelum menghilang di balik pintu.

Pakaian ini cukup nyaman. Semacam kemeja semi formal lengan panjang dengan jubah di bagian belakang sepanjang lutut. Dan jangan lupa dengan lambang Kerajaan Clarines di bagian lengan kanan. Ukurannya juga sangat pas di tubuhku. Setelah selesai, aku melesat ke halaman Istana yang sudah ada dua ekor kuda putih yang salah satunya sudah ditunggangi seorang lelaki berambut perak. Senyumku mengembang menatap Kaylie yang terlihat menungguku.

“Nona Afsheen, ini kuda yang akan kau pakai dan ini adalah agenda kegiatan Pangeran. Selain bertugas sebagai pengawal, yang menjaga Pangeran, kau juga sudah tahu bukan tugas lain selain itu?” Aku mengangguk cepat.
“Ya. Mengawasi kegiatan Pangeran termasuk seluruh kegiatan yang dilakukannya. Seperti sekarang ini.” Aku membaca cepat perkamen yang diberikan Kaylie.
Kaylie mengangguk puas dan meninggalkan kami setelah memberitahuku hal-hal yang harus ku lakukan. Setelah menaiki kudaku sendiri, Pangeran Raveen langsung melesat dengan kudanya yang ku ikuti dengan sigap.

‘Sebuah danau?’ Batinku ketika kuda Pangeran Raveen berhenti tepat di bibir danau. Aku ikut turun dari kudaku dan mengikat talinya di sebuah pohon.
“Um, Yang Mulia, bukankah kita akan pergi berburu?” Tanyaku langsung.
Lelaki itu berbalik padaku dan menatapku serius. “Panggil aku Raveen. Aku tidak suka disebut seperti itu.” Ujarnya datar.

Aku sedikit kikuk dipandangnya tajam. Dengan cepat kepalaku mengangguk patuh dan Raveen berbalik lagi dan duduk di pinggir danau. Aku ikut duduk di dekatnya, tetapi tidak terlalu dekat. Dapat ku lihat, dia mencelupkan tangannya ke dalam air yang jernih. Danau ini cukup dalam sehingga aku tidak bisa melihat sampai ke dasarnya.
“Sebenarnya, siapa kau?” Tiba-tiba, Raveen menatapku langsung.
“Huh?” Aku menatapnya seolah ia melontarkan pertanyaan paling tabu yang pernah ada.
Raveen mendekat yang membuatku langsung beringsut mundur. “Aku… mencium aroma yang aneh dari dirimu.” Ujar Raveen sambil menatapku intens.
Aku mengernyit heran.

“Mungkin, itu hanya pewangi yang ku guna–”
“Tidak!” Raveen memotong perkataanku yang membuatku terkejut.
Dia lalu menyadari apa yang sudah dilakukannya. Raveen menunduk menatap rumput di bibir danau.
“Maaf, aku hany–”
“Awas!” Aku menubruk Raveen saat sebuah anak panah berlumur cairan ungu melesat ke arahnya. Untungnya, aku cukup cepat sehingga anak panah itu melewati Raveen yang berada di bawahku. Iris mata cokelat dan biru lagi-lagi bertemu. Menyadari posisi kami yang sedikit canggung, aku segera berdiri dan berbalik. Mengawasi sekitar.

“Maaf untuk yang tadi.” Ujarku cepat dengan mata tetap waspada.

Sekelebat bayangan hitam bergerak di antara pepohonan. Aku menghela napas perlahan dan ketika aku menggerakkan tangan kananku, sebuah busur dengan panah api muncul di genggamanku. Aku bisa merasakan Raveen yang menatap punggungku. “Siapa kau sebenarnya?” Bisik Raveen.
Telingaku menangkap suara aneh dari pepohonan, mengabaikan bisikan lelaki yang sekarang berdiri di sampingku dengan pedangnya.

“Kau harus menjelaskan semua ini padaku, Afsheen Myeesa.”
“Baiklah, Yang Mulia.”

Dan puluhan anak panah yang sama seperti sebelumnya menyerang Raveen melesat ke arah kami. Seketika, sebuah dinding penghalang yang hampir transparan muncul dan melindungi kami. Aku meluncurkan sebuah anak panah yang langsung membakar pepohonan. Seiring dengan pohon yang terbakar, beberapa orang muncul dari sana. Pemberontak. Aku bisa mendengar Raveen menggerutu di sampingku yang juga mengeluarkan sebuah perisai besi yang baru ku sadari ada di dekatnya.

“Rupanya ini hari keberuntungan kami,” Seorang pria botak dengan pedang di tangannya tertawa diikuti sekitar 8 orang di belakangnya.
Aku menatap mereka semua datar. “Justru ini adalah hari tersial kalian, bung.”

Para pemberontak yang sekarang sudah berwajah lebam-lebam dengan luka-luka di sekujur tubuh mereka terikat dengan tali tambang yang ternyata ada di dalam kantong di bagian badan kuda milik Raveen. Aku menghempaskan tubuh ke atas rumput. Raveen berdiri di sampingku yang membuatku mendongak menatapnya.

“Lebih baik kau jelaskan siapa dirimu, Afsheen Myeesa.” Pedang Raveen teracung ke arah leherku. Tapi aku tidak takut sama sekali, aku hanya melirik pedang itu sekilas dan menghembuskan napas jengah. Dengan santai, aku menyentuh pedang itu dan menyingkirkannya dari hadapanku.
“Baiklah, Yang Mulia.” Aku bangkit dan mulai menggulung lengan bajuku. Terlihat sebuah tanda di sekujur lengan bawahku. Aku menatap ekspresi Raveen yang terlihat serius.

“Sudah ku duga. Seorang penyihir.” Gumam Raveen yang masih dapat ku dengar. “Lalu, apa tujuanmu yang sebenarnya? Aku yakin kau punya maksud tertentu.” Raveen kembali menodongkan pedangnya padaku. Aku mengulas senyuman manis, semanis kalimat yang ku keluarkan kepada Raveen.
“Tenang saja, Yang Mulia. Aku tidak sejahat yang anda pikirkan. Aku datang untuk membantumu.” Raveen menatapku selidik. Seperti saat pertama kali kami bertemu.
“Aku tidak percaya.”
‘Sesuai perkiraanku’
“Dan apa yang kau maksud dengan membantuku? Aku tidak membutuhkan bantuan apapun darimu. Apalagi dari seorang penyihir sepertimu.” Lanjut Raveen yang membuatku menaikkan alis.
Aku tersenyum dan kembali menyingkirkan pedang Raveen. Kali ini aku mendekat yang membuat Raveen sedikit mundur tetapi ia terlihat tegar.

‘Aw, anak kucing yang manis.’

Aku mendekat lagi sampai iris cokelat milikku dan iris biru miliknya bertemu.
“Yah, aku tahu persis tentang kutukan itu, Pangeran,”
“Dan tentu saja, tidak ada yang gratis di dunia ini.”
Percayalah, kalau di relung hati terdalam setiap insan, selalu ada setitik keinginan untuk menjadi tokoh antagonis.
Ekspresi Raveen sesuai kalkulasiku. Yah, kau tahu ekspresi tipe orang yang dingin lalu pupil matanya membesar? Ya, itulah dia.

“Bagaimana…”
“Mudah saja, aku seorang penyihir.” Ujarku santai sambil mengeluarkan bunga es dari tangan kananku dan menembakkannya ke langit. Sedetik kemudian, turun butir-butir es di sekitarku. Pandangan Raveen menjadi lunak dan memasukkan pedangnya ke dalam sarungnya.
“Apa jaminannya? Dan apa yang harus ku bayar untuk ini?” Raveen berujar.
Aku menyunggingkan senyuman. “Kau boleh menjadikan leherku sebagai jaminannya. Dan apa yang harus kau bayar akan ku katakan setelah ini berhasil.” Aku mengulurkan tanganku.

Raveen terlihat menimbang-nimbang sejenak tetapi aku tahu, dia tidak akan melihat kebohongan dari iris cokelat milikku.
“Baiklah. Aku tunggu ramuan apapun itu.”
Dan kami saling berjabat tangan.

‘Satu buah plum’
‘3 tetes air mata Gargoyle’
‘Bulu dari sayap Valxrye’
Dan selesai sudah. Aku menimang-nimang sebuah botol yang berisi cairan ungu tua. Seulas senyuman penuh makna terpampang di wajahku.

“Kau yakin ini aman?” Raveen menatap lekat pada botol mungil di tanganku. Aku mengangguk meyakinkannya. Dengan sedikit enggan, Raveen menerima botol itu dan membuka sumbatnya. Cairan itu dengan cepat meluncur dari dalam botol menuju kerongkongan Raveen. Setelah tetes terakhir dari cairan itu ke luar, Raveen mengembalikan botolku dengan sedikit terhuyung.

Bruk!

Aku berusaha menahan tubuh Raveen yang cukup berat. Mata Raveen sudah terpejam. Dengan hati-hati, aku membaringkan Raveen di pangkuanku. Jari-jari kurusku perlahan menyusuri tulang wajah Raveen yang tegas. Hembusan napasnya dengan teratur menerpa tanganku. ‘Akhirnya…’ Aku tersenyum senang seiring dengan rambut perak Raveen yang perlahan berubah menjadi cokelat tua. Kelopak mataku terasa sulit untuk dibuka. Secercah cahaya mulai melesak masuk ke dalam pupilku. Sesosok wajah sedikit demi sedikit terlihat jelas. Cantik. Adalah kata pertama yang muncul saat sosok itu sudah terlihat jelas. Rambut hitam legam sepunggungnya membuatku terdiam.

“Sudah bangun, eh?” Suaranya terdengar sangat merdu di telingaku.

Aku perlahan bangun yang dibantu olehnya. Rasanya wajah cantik itu terlihat familiar tetapi entah kenapa aku tidak dapat menemukannya di ingatanku. Gadis itu memiringkan kepalanya.
“Ada apa, Raveen?” Tanyanya manis yang membuatku ingin mencubiti pipinya yang menggemaskan.
“T-tidak ada apa-apa.” Ujarku sedikit gugup. Gadis itu tersenyum manis.
“U-um, ngomong-ngomong, kau ini siapa?” Tanyaku pada akhirnya. Gadis itu terlihat sedikit terkejut tetapi langsung tertawa. Bahkan suara tawanya terdengar indah di telingaku.
“Oh, astaga, aku lupa memberitahumu. Aku hanyalah seorang pengawalmu, Yang Mulia.”
Pengawal? Yang benar saja, gadis secantik dia adalah pengawalku? Tanganku terasa bergerak dengan sendirinya dan tak ku sangka, aku menggenggam kedua tangan mungilnya. Hangat.

Lagi-lagi dia terlihat terkejut.
“U-uh, Yang Mulia?” Dia menatapku penasaran.
“Yang benar saja kalau kau adalah pengawalku.”
Dan yang aku tahu selanjutnya, tubuh mungilnya sudah berada dalam rengkuhanku. Yang aku tidak tahu adalah, gadis itu mengulum senyum menatap ke langit biru di balik jendela kamarku.

Tamat

Cerpen Karangan: Annisa Salsabila
Facebook: Annisa Salsabila
Annisa salsabila. 15 tahun

Cerpen Sebuah Kisah merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


5 Bulan Menghilang Aku Sendiri

Oleh:
Ku pandangi sebuah rumah yang tak berpenghuni itu dengan tatapan hampa, seharian aku menunggu. Di depan rumah itu, berharap ada seseorang yang membukakan pintu, terkadang aku tertidur di depan

Petualangan Kita

Oleh:
“Annabelle bangun, kita bisa terlambat”, teriak Calista tepat di samping telinganya. Setelah itu, mobil jemputan kami datang kupu-kupu raksasa yang sangat cantik. Ini memang transportasi negeri ini. Negeri Threelo,

Pelangi

Oleh:
‘Jangan kembali, jika untuk pergi lagi’ “Cha, ada kabar menarik!” Teriak Debby tepat di telingaku. “Aduuuh, apaan sih Deb. Lama lama aku pergi ke THT nih.” Gerutuku sambil memegangi

Move On!

Oleh:
Dira datang dengan tergesa-gesa menghampiriku yang sedang duduk sendirian di kantin, sedang menghabiskan sarapan pagiku. “Eh nyet, tumben amat lo jam segini udah ke kampus?” Ujarku begitu dia menyambangi

Confused (Part 1)

Oleh:
Cowok keren yang satu ini ialah Rendy Ferdinant yang merupakan seorang mahasiswa fakultas kedokteran semester tiga di salah satu perguruan tinggi di Bogor, Jawa Barat. Ia juga seorang mahasiswa

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *