Sebuah Pertanyaan (Part 3)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Romantis
Lolos moderasi pada: 24 June 2015

Acara akhirnya selesai ketika jam tangan biru safirku menunjukkan pukul 16.30. Semua peserta sudah pulang. Stand-stand ekstrakurikuler dan organisasi sudah dibongkar sejak satu jam yang lalu. Kini tinggalah aku dan rekan-rekan kerjaku yang lain untuk beres-beres tenda pleton dan panggung.

Aku sedang menumpuk kursi di tenda pleton juri ketika kulihat Mas Tyo sedang mengangkat tumpukan kursi ke pundaknya beberapa meter di samping kananku. Jantungku lagi-lagi bekerja abnormal. Tanpa kusadari, mataku tak bisa lepas dari sosok Mas Tyo selama beberapa detik. Insiden di basecamp kembali terekam dalam ingatanku. Emosiku kacau seketika.

Aku hirup nafas dalam-dalam untuk mengambil alih kontrol atas diriku. Setelah berkali-kali aku melakukannya dan mulai merasa tenang, aku lanjutkan lagi menumpuk kursi-kursi plastik. Mencapai tumpukan ke sepuluh, aku teringat sesuatu: pertanyaanku tadi pagi yang tak terjawab. Rasa penasaranku pun kembali membuncah. Refleks mataku mencari keberadaan sosok Mas Tyo. Namun, begitu sosoknya kutangkap, dirinya sudah jauh berjalan menuju gudang sarpras dengan tumpukkan kursi di pundak.

“Oh, jangan!” desahku gusar. Segera kuambil beberapa kursi yang telah kutumpuk untuk kuangkut. Lalu, dengan mengambil langkah seribu kususul Mas Tyo.

“Mas! Mas Tyo! Tunggu, mas!” panggilku dengan nafas terengah-engah.

Mas Tyo berhenti. Belum sempat ia menoleh, aku sudah berdiri di sampingnya dengan nafas terputus-putus. Dan saat Mas Tyo menoleh ke arahku, aku berusaha nyengir sebisaku. Mas Tyo terperanjat mendapati keberadaanku.

“Lho? Ade?” sahut Mas Tyo dengan jari telunjuk tertuju ke arahku. Ia menatapi aku-lapangan-aku-lapangan bergantian. “Nyusul kapan?”

“Baru saja, mas,” jawabku. Inginku segera langsung bertanya. Namun, begitu kulihat tumpukkan kursi yang begitu banyak di pundak Mas Tyo, niatku mengerut. “Lanjut jalan yuk, mas!”

Tanpa kata, kami pun melanjutkan perjalanan menuju gudang sarpras. Setelah menata kursi-kursi plastik di dalam gudang, kami kembali menuju lapangan dalam. Dan lagi, tanpa kata, kami angkut kursi-kursi plastik yang nganggur menuju gudang sarpras. Namun anehnya, kami selalu berdua, dan jarak kami tak pernah berubah. Aku tetap berada di posisiku. Begitu pula Mas Tyo.

Kursi telah habis kami angkut. Kini kami berdiri di bawah naungan tenda pleton juri yang kosong dan terbuka. Hening menyelimuti suasana senja yang tanggung turun di atas kepala kami.

“Pasti mau nagih yang tadi pagi,” ucap Mas Tyo mencairkan kebekuan di antara kami. “Iya kan, de?”

Aku yang semula menatap hampa area di depanku beralih tatap menuju Mas Tyo. Badanku mendadak kaku. Seketika saja tatapan Mas Tyo serasa menusuk ulu hatiku. Padahal, harusnya biasa saja.

“Yah, itu inget,” jawabku sambil mengalihkan pandangan, berusaha membuang perasaan aneh yang baru saja hinggap.

“Kita ke basecamp aja, yuk?” ajak Mas Tyo. “Kayaknya di sini rawan fitnah, deh…”

Aku menatap sekeliling. Benar saja. Lapangan telah kosong sama sekali. Panggung sudah roboh, hanya tinggal satu tenda pleton peserta dan satu tenda pleton juri yang terbuka dan melompong tempat kami bernaung. Senja makin menguzur. Rekan-rekan kerja yang lain sudah berada di basecamp. Tinggalah aku, Mas Tyo, dan angin senja yang mati melintasi ruang kosong di antara kami.

“Ya udah, deh,” jawabku. “Tapi sambil jalan ya, mas?”

Mas Tyo mengangguk setuju. “Oke!”

Kami berdua pun mulai beranjak meninggalkan tenda pleton. Aku berusaha menyamakan langkahku dengan langkah kaki Mas Tyo. Kakinya yang panjang membuatku agak susah untuk mengejarnya. Bukan apa-apa, aku hanya mengusahakan agar aku bisa mendengar suara Mas Tyo lebih jelas.

“Jadi,” aku memulai pembicaraan. “Sudah dapet jawabannya, mas?”

Mas Tyo tidak menatapku. Matanya melirik kanan-kiri tidak beraturan, kemudian tersenyum samar. “Tadi pagi si pertanyaannya apa aja ya, de?”

Aku menelan ludah. Kukira Mas Tyo diam berpikir tentang jawabannya. Ternyata, ia malah lupa soalnya.

“Mas ini gimana, si?” sahutku sewot. “Baru aja tadi pagi!”

“Ididih… sorry, de, sorry…” seketika Mas Tyo memelas. “Tadi mas sibuk ngurusin lomba GPRS, makanya nggak sempet mikirin pertanyaan apalagi jawaban buat ade. Sorry banget.. ya?”

Aku menghela nafas. Sebenarnya aku merasa agak malas untuk mengulang pertanyaanku tadi pagi. Tapi, demi terpenuhinya rasa penasaranku, aku berusaha untuk bersabar.

“Iya deh, aku maafin,” jawabku.

Mas Tyo tersenyum lebar. “Nah, gitu dong! Baru cakep!”

Aku hanya diam, tak berani menanggapi apa-apa. Entah kenapa dan bagaimana, darah di pembuluh nadiku serasa mendesir seperti air sungai.

“Jadi, apa pertanyaannya, de?” tanya Mas Tyo.

Aku seketika tersentak dari kediamanku. Kutatap Mas Tyo yang tengah menatapku pula.

“Ini,” aku mulai bertanya. “Mas kok bisa tau si kalo aku cadel? Padahal sebelum ini kita…”

Aku terdiam mendadak. Lidahku kelu. Hati kecilku seketika menyuruhku untuk berhenti bicara. Kepalaku tertunduk. Aku baru sadar, pertanyaan yang akan kulontarkan tadi terlalu vulgar.

“Oh, masalah itu,” Mas Tyo menggumam. Ia diam. Matanya menatap kosong langkah kakinya yang panjang. Kedua tangannya tergantung di balik pinggang. Aku hanya diam menatapnya, menanti rangkaian kata yang akan keluar dari bibirnya.

“Mas boleh jujur nggak, de?” tiba-tiba Mas Tyo berkata setelah lama diam. Matanya menatapku dalam.

Aku membeku sejenak. Rasa was-was akan apa yang akan dikatakan Mas Tyo seketika muncul dan menguasai suasana hatiku. Tapi aku berusaha agar tetap tenang.

“Boleh, kok…” jawabku canggung. Ternyata, sebesar apapun usahaku, aku tetap tak bisa mengontrol diri.

Mas Tyo diam menatapku, kemudian beralih menatap langit timur yang menua dan tersenyum dengan makna yang tidak kuketahui. Dan senyum itulah yang mengunci mataku untuk tetap menatapnya.

“Yah, mas harus jujur,” Mas Tyo mulai menjawab. “Sebenarnya, mas udah kenal ade sejak awal kamu masuk organisasi kelas X. Waktu interview kan mas ikut duduk di belakang para eksekutor. Nah, satu orang yang nyantol di ingatan mas ya kamu de, soalnya kamu yang ngomongnya paling aneh.”

Aku hanya diam, tak berani menyela dan tak ada ide untuk menyela. Aku menunduk. Pikiranku terus berusaha mencerna maksud perkataan Mas Tyo barusan. Ingatanku pun kemudian melayang menuju peristiwa 1 tahun lalu, dimana aku dan rekanku yang lain sedang diinterview untuk disaring siapa yang bisa masuk menjadi anggota organisasi PMR, meski pada kenyataannya ternyata semuanya bisa masuk. Aku mengingat-ingat siapa saja alumnus yang berada di belakang eksekutor. Sayangnya, ingatanku tak begitu kuat.

“Waktu itu mungkin ade nggak lihat mas, soalnya mas duduk di pojokan,” sambung Mas Tyo. “Tapi mas bisa ngeliat ade dengan jelas. Ade yang ngomongnya cadel plus blepotan nggak karuan tapi yang penampilannya paling kalem dari yang lain. Sejak saat itu, mas nyari tahu siapa ade. Dan, yah, mas ngaku selama ini mas nggak punya kesempatan dan keberanian buat ngomong sama kamu, de. Soalnya ya itu… selain kondisi, ade juga ngilang terus. Paling mas lihat ade lagi bawa barang ini, bikin itu, benerin anu, dan lain-lain.

“Sampai akhirnya semalam, mas dapet kesempatan buat bisa, seenggaknya ngomong ke ade. Tapi, sekali cemplong, mas malah bikin ade nggak enak hati. Makanya, mas berusaha buat ngebetulin sikap mas dengan ngajarin ade cara jadi MC yang baik. Sorry soal itu ya, de…”

Aku masih diam. Kepalaku benar-benar blank. Aku tak tahu sebenarnya perasaan macam apa yang Mas Tyo bicarakan. Karena tak bisa menemukan jawaban apa-apa, aku hanya mengangkat wajahku menantang langit dan tertawa kecil.

“Kok malah ketawa?” tanya Mas Tyo.

Aku menurunkan wajahku. Kutatap kembali Mas Tyo dengan ekspresi biasa. Dia menatapku dengan dahi berkerut.

“Apanya yang lucu sih, de?” tanya Mas Tyo penasaran.

“Ng… nggak ada sih…” jawabku kelimpungan sambil menggaruk kepalaku yang tak gatal. “Cuma ya… kok bisa mas… gitu…”

“Gitu?” Mas Tyo balik nanya. “Gitu gimana, de?”

Aku menghela nafas. Yah, setidaknya Mas Tyo tidak ada pikiran macam-macam seperti yang aku takutkan. Hanya saja, aku merasa masih tidak percaya.

“Yah…” aku mendesah lirih, berusaha mencari topik lain namun masih menyerempet keingintahuanku yang sebenarnya. “Mas kok bisa nggak judes, sih? Setahu aku… setiap kali aku ada kesempatan ada di satu ruangan atau satu tempat sama mas, mas selalu pasang muka jutek. Gaya bicara mas juga galak. Tapi sekarang…”

Mendadak Mas Tyo seperti tersumbat jalan nafasnya. Cepat-cepat ia palingkan muka dariku, menunduk, dan tersenyum samar. “Mas juga nggak tahu, de…”

Aku hanya diam menatap Mas Tyo dalam heran. Tapi, sejurus kemudian aku mendapat pertanyaan lain.

“Mas,” aku memanggil dengan lirih. “Boleh tanya lagi, nggak?”

Mas Tyo menghela nafas panjang, lalu menatapku dengan ekspresi datar. “Nanya apa lagi, de?”

Aku menelan ludah. Sepertinya Mas Tyo sudah terlanjur bete. Nyaliku seketika menciut.

“Nggak papa, nanya aja,” kata Mas Tyo sambil tersenyum hambar. “Mas lagi mendadak kena beban pikiran.”

Aku menunduk, menimbang-nimbang apakah aku harus lanjut bertanya setelah melihat ekspresi Mas Tyo yang demikian. Hingga akhirnya…

“Nggak jadi deh, mas!”

Mas Tyo tampak terkejut. “Kok nggak jadi?”

“Aku ngerasa nggak enak…” jawabku pelan. “Abis, kayaknya Mas Tyo udah capek gitu.”

Mendadak Mas Tyo mencekal tanganku. Ia menghadapkanku ke arahnya. Kemudian, Mas Tyo mundur beberapa langkah dan berdiri sambil melipat tangan di depan dada. Sementara aku malah celingukan. Bukan tanpa alasan aku bingung. Basecamp tinggal beberapa langkah lagi. Semua rekan kerja ada di luar ruangan. Dan entah untuk maksud apa Mas Tyo mencekalku di sini.

“Ayo,” kata Mas Tyo dengan ekspresi datar. “Sekarang mau tanya apa?”

Aku tatap sekeliling dengan ragu. Bisa kulihat berpasang-pasang mata yang sebelumnya asyik dengan kesibukan sendiri kini beralih menatap kami. Aku menelan ludah.

“Mas, serius?” tanyaku ragu.

“Ya iya dong,” jawab Mas Tyo, masih datar. “Kan ade udah minta sendiri tadi?”

Aku pun hirup nafas banyak-banyak, berusaha mengumpulkan keberanian sebanyak-banyaknya agar pertanyaan dalam benak ini bisa cepat keluar. Dan akhirnya…

“Aku penasaran, kok mas mau sih nyari informasi tentang aku setelah interview itu? Apa karena lidahku yang cadel atau gimana?”

Mendadak Mas Tyo berubah ekspresinya. Wajahnya menegang dan bibirnya memucat. Bola matanya mulai bergerak-gerak tak karuan. Tangannya mulai menggantung. Aku sendiri hanya diam menatapi tingkah Mas Tyo yang mencurigakan.

“Ngomong aja kalo kamu suka sama dia!” mendadak sebuah suara menyela.

Aku —dan mungkin— Mas Tyo sama-sama tersentak. Kami menoleh ke arah basecamp. Aku hampir terloncat kaget mendapati rombongan rekan-rekan kerjaku yang sudah berbaur menonton kami. Mas Galuh, Mas Abi, Mas Ari, Alya, dan semuanya. Seakan akan aku ini merupakan sebuah tv layar lebar yang tengah menayangkan pertandingan klub sepak bola favorit mereka.

“Eh?” Mas Tyo menyahut. “Apa-apaan, nih?”

“Mas tinggal ngomong aja…” Mas Ari angkat suara. “Aku masih inget lho…”

“Inget apaan?” Mas Tyo nanya lagi.

“Alah… nggak usah pura-pura…” Mas Galuh ikut menyahut. “Aku udah tahu kok…”

“Mas?!” Mas Tyo membentak.

“I… Ini maksudnya apa, sih?” giliran aku yang angkat bicara. Aku benar-benar bingung.

“Udahlah, tinggal omongin aja…” Mas Abi ikut ambil giliran. “Toh, kami udah mendukung. Ya kan, temen-temen?”

“Wuah! Tak lemparin sepatu inih!” sahut Mas Tyo galak. Tangannya sudah siap-siap melepas sepatu kanannya.

“Nggak usah gegabah kayak gitu!” balas Mas Abi sambil cengengesan. “Malu udah gede, di depan Irma lagi!”

Mas Abi menoleh ke arahku dan tersenyum dengan menyelipkan sebuah isyarat di matanya. Aku hanya diam, tak tahu bagaimana harus menanggapi. Aku pun melirik Mas Tyo. Ia menatap Mas Abi galak dengan wajah merah seperti kepiting rebus. Dan seketika aku ingat peristiwa saat makan siang: insiden basecamp. Aku gigit bibir.

Mendadak Mas Tyo beralih menatapku. Aku terkesiap. Badanku langsung berdiri tegak seperti ranting kaku. Matanya menatapku tajam, dan sekali lagi, dengan sinar mata yang tak bisa aku terjemahkan artinya.

Aku menelan ludah, berusaha agar tetap tenang. Aku atur kembali pikiranku agar tetap terfokus pada pertanyaanku semula.

“Bagaimana, mas?” tanyaku setengah bergetar. “Udah nemu jawabannya?”

Mas Tyo tampak memejamkan mata sesaat, kemudian menghirup nafas sebanyak-banyaknya, mengepal kedua tangannya di samping panggul, dan menatapku dengan tatapan menusuk.

“Mas suka sama kamu, de.”

Lagi, aku terhenyak. Suasana mendadak sunyi. Suara Mas Tyo yang mantap dengan ucapan yang tak terduga telah menyergap jiwaku. Rambut di tengkuk dan seluruh badanku meremang dengan aliran darah yang sedingin es. Aku mati berdiri. Aku tak mampu berpikir. Aku tak mampu bicara. Aku tak mampu bergerak. Bahkan hatiku kehilangan suaranya. Sementara itu, sepasang manik milik Mas Tyo seakan menahan badanku agar tak terkulai lemas.

Suasana sunyi entah untuk beberapa saat. Aku masih berdiri mematung menghadap Mas Tyo dalam keadaan shock tak terkira. Mas Tyo masih menatapku dalam diam, dengan mata yang lebih tajam daripada elang dan serigala. Dan rekan yang lain masih diam pula, menunggu sebuah rangkaian kalimat yang akan terlontarkan di antara kami.

“Mas suka sama kamu, de,” Mas Tyo mengulang dengan nada yang lebih lemah.

Aku menghela nafas panjang. Mataku memejam. Tak ada ide apapun melintasi pikiranku. Aku benar-benar tak tahu harus bagaimana.

“Mungkin ini terdengar konyol,” Mas Tyo melanjutkan. “Tapi, memang ini kenyataannya. Sejak mas nyari-nyari tahu soal kamu, mas kepikiran terus. Mas udah coba ngalihin perhatian mas ke hal yang lain. Tapi, tetep aja…”

Hening lagi untuk beberapa saat. Aku diam menatap Mas Tyo yang tampak lemas sambil menunggu kalimat selanjutnya yang akan ia ucapkan.

“Mas emang suka sama kamu, de, tapi jangan takut,” ucap Mas Tyo lagi. “Mas nggak minta ade buat jadi pacar, kok. Mas tau kamu masih terlalu kecil untuk hal itu. tapi ada satu hal…”

“Katanya nggak minta pacaran?” Alya menyahut. “Tapi ada satu hal. Gimana tuh?”

“Ssst!” sergah Mas Galuh.

Mas Tyo menghela nafas panjang. “Ade mau nggak, ta’aruf?”

Aku menelan ludah. Aku tahu ta’aruf dari pembahasan keputrian hari Jum’at lalu. Dan, ta’aruf merupakan sesuatu yang serius. Ini berarti, Mas Tyo tidak main-main mengenai perasaannya. Tanganku langsung mendingin.

“Tyo?” Mas Abi menyela. Matanya melebar. “Serius lu mau minta ta’aruf?”

Mas Tyo mengangguk pelan dan mantap.

“Tapi, dia masih terlalu kecil! Dia belum sampe saatnya!” sahut Mas Abi.

“Tapi dia sudah cukup matang untuk ta’aruf,” balas Mas Tyo. “Toh, dia muslim, mas!”

“Kamu nggak lagi korslet, kan?” tanya Mas Abi. “Ini masalah serius! Kamu mikir dulu, kira-kira dia siap nggak? Dia masih kelas 2 SMA!”

“Justru karena itu, mas,” balas Mas Tyo lagi. “Dengan ta’aruf aku bakal menjaga dan berusaha nggak merusak dia.”

Sementara yang lain beralih perhatian ke arah perdebatan antara Mas Abi dan Mas Tyo, aku masih diam di tempatku. Pikiranku terfokus pada ajakan Mas Tyo untuk ta’aruf. Ya, memang, aku masih kecil. Aku belum begitu dewasa. Tapi, aku tahu, ta’aruf memiliki 2 kemungkinan: lanjut, atau putus. Seperti pacaran, hanya saja ini lebih diperketat aturannya. Ta’aruf bisa berjalan kalau orang tuaku menyetujui. Itu berarti…

Aku berpikir ulang. Jika ta’aruf bisa menjagaku dari berbagai gangguan yang bersifat syahwati, aku pikir bisa-bisa saja. Untuk masalah kedepannya itulah. Tapi, kalau aku tak bisa menghadapi semua itu bagaimana? Aku berpikir keras.

Tapi, aku juga tak patut memikirkan apa yang terjadi di masa depan. Aku paham itu bukan kemampuanku. Aku meremas tanganku untuk menegaskan keputusan yang sudah aku dapat. Dan akhirnya…

“Aku mau, mas!” jawabku dengan lantang.

Mas Abi dan Mas Tyo berhenti berdebat mendadak. Semua perhatian teralih padaku. Mas Tyo menatapku dengan ekspresi terkejut. Mas Abi lebih-lebih. Begitu pula yang lainnya. Aku berusaha tersenyum sebisaku untuk membuang kecanggungan.

“Aku mau mas,” jawabku dengan nada lebih pelan. “Aku siap!”

Mas Tyo masih terdiam dengan kekagetannya. Begitu pula yang lain.

“Kamu serius, Irma?” tanya Mas Abi. “Kamu siap?”

Aku hanya mengangguk mantap. Kutatap Mas Tyo. Ekspresi wajahnya sudah tak keruan maknanya. Wajahnya pucat dan datar. Namun, sejurus kemudian, ia sudah bisa tersenyum. Senyum yang sangat lepas.

“Jadi, mas bisa ke rumah ade besok?” tanya Mas Tyo.

Aku mengernyit, lalu nyengir garing. “Kayaknya nggak bisa besok deh, mas. Bapakku masih di luar kota. Mereka juga belum tahu soal ini.”

“Oh,” Mas Tyo garuk kepala. “Gimana ya? Punya solusi, mas?”

“Huh! Dasar luh!” sahut Mas Abi. “Giliran mentok minta pendapat!”

Mas Tyo cengengesan.

“Ya gini aja, deh,” jawab Mas Abi. “Buat Irma nih, nanti kamu pulang, terus crita ke bapak ibu kamu. Kalau kiranya mereka udah setuju, kamu sms aku. Nomernya bisa minta ke Alya. Terus buat Tyo, entar kamu ngomong ke ayah sama ibu, trus tunggu konfirmasi dari aku tentang kapan kamu bisa ke rumahnya Irma.”

“Ya tapi ngomongnya jangan sendiri, lah!” sahut Mas Tyo. “Temenin!”

Kontan aku tertawa. yang lain pun begitu. Ternyata Mas Tyo bisa manja juga.

“Idih!” sembur Mas Abi. “Temenin Rendi aja sana! Aku banyak urusan!”

“Lah! Masa Rendi?” Mas Tyo cemberut. “Kalo dia tau, sekolah ini bisa heboh!”

Kami tertawa makin keras melihat ekspresi Mas Tyo yang cemberut. Wajahnya benar-benar seperti anak kecil.

“Tapi, ngomong-ngomong Rendi nggak sekelas sama kamu kan, de?” tanya Mas Tyo padaku.

Aku mengangguk sambil tutup mulut, berusaha menahan tawa. “Nggak sekelas sama aku, tapi sama Alya.”

Wajah Mas Tyo berubah lagi. Kali ini wajahnya parno, persis seperti Mr.Bean. Aku kontan tertawa terpingkal-pingkal. Yang lain pun tak kalah hebohnya.

“De! Serius!” bentak Mas Tyo.

Aku tak bisa menjawab dengan kata-kata. Perutku kaku. Aku hanya bisa menangkat jari telunjuk dan jari tengahku sambil membungkuk menahan tawa yang berlebihan.

“Ya nggak usah parno gitu kali, mas!” sahut Alya dengan mata berair dan wajah memerah karena lelah tertawa. “Aku bakal urus tu anak!”

“Beneran, ya?” tanya Mas Tyo meyakinkan.

“Iya, mas! Tenang aja!” jawab Alya.

“Oke, jadi sekarang fix,” lanjut Mas Tyo sambil menatapku.

Aku berhenti tertawa. kali ini aku berdiri menatap Mas Tyo. Wajahnya masih serius. Dan aku benar-benar kehilangan selera tertawaku.

“Fix bagaimana?” tanyaku tak mengerti.

“Yah,” jawab Mas Tyo. “Mas tunggu konfirmasinya…”

Aku hanya tersenyum dan mengangguk. Mas Tyo pula tersenyum menatapku. Dan entah apa namanya, sebuah perasaan terselip dalam benakku. Setidaknya, aku bisa melepas status jomblo abadi yang aku sandang selama 16 tahun terakhir ini. Dan semua itu berkat orang yang tak pernah aku duga akan kehadirannya selama ini.

Cerpen Karangan: Lisa T
Facebook: https://www.facebook.com/lisa.suryani.21

Cerpen Sebuah Pertanyaan (Part 3) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Jalan Untuk Kembali

Oleh:
Bintang-bintang di galaksi kian redup. Sang venus mulai terlihat jelas. Jauh di ufuk timur sana. Tapi, siapa yang tahu luka ini. Seredup bintang itukah kalutnya perasaanku. Semerah Venus-kah goresan

Garis Takdir

Oleh:
Hari ini, Luna memiliki sebuah janji yang dibuat bersama oleh kekasih—Atlas kerap Luna menyapanya. Niatnya, Atlas hendak menemui perempuan itu. Sekarang adalah waktunya. Luna menjalani rutinitasnya seperti biasa. Dengan

Hanya Ragaku Yang Mendua

Oleh:
Di bawah tangga jembatan layang aku duduk bersamanya. Di gelaran tikar usang yang sudah menipis dimakan waktu. Rasanya aku sekarang tidak duduk di atas tikar, tapi lebih tepatnya di

Kirito san (Part 1)

Oleh:
Aku berlari darinya yang mengejarku sekarang ini. Pedangnya yang mengkilat ditimpa cahaya bulan purnama menimbulkan suara bergesekan dengan lantai karena diseret oleh pemiliknya, membuat jantungku berdetak dengan sangat kencang.

Bom Waktu

Oleh:
Sepasang kekasih itu hanya terdiam dalam sebuah sedan mewah yang terparkir di depan pelataran gedung pencakar langit di jantung kota Jakarta. Ta ada sepatah katapun yang keluar dari bibir

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

2 responses to “Sebuah Pertanyaan (Part 3)”

  1. Lusi says:

    Cerpennya keren banget! aku baca dari part ke part.. seru waktu bacanya juga, pembaca kebawa suasana cerpen.. keren banget 🙂 terus berkarya!

  2. Lisa T says:

    Wah, lama nggak mampir, iseng2 dateng ada yang komen. Terimakasih apresiasinya, mba Lusi 🙂 semoga bisa menjadi inspirasi saya untuk berkarya lebih banyak dan lebih baik lagi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *