Secangkir Teh Hangat (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Persahabatan, Cerpen Romantis
Lolos moderasi pada: 13 April 2014

Ini sudah kesekian kalinya gue menghirup aroma teh yang belakangan ini jadi most favorite drink gue sebelum mulai berhadapan dengan dokumen-dokumen menumpuk yang sempat bikin gue diam-diam menitikkan air mata. God, please, help me.. Entah apa yang Devina tambahkan ke dalam teh itu, sehingga rasanya menjadi extraordinary, nggak biasa. Padahal teh ini Cuma teh biasa dan gue yakin, secara logika, anak 5 tahun pun bisa bikin teh seperti ini. Tapi, seperti yang gue katakan tadi, ini beneran beda!

“Gimana rasanya?” Si pembuat teh bertanya penasaran, kedua sudut bibirnya tertarik, membuat bibirnya melengkung ke atas tanpa memperlihatkan gigi.
Gue berusaha bersikap biasa, menimbang-nimbangnya sebentar seokah-olah gue ini juri Master Chef yang lagi mikirin komentar apa buat masakan peserta lomba itu, meskipun dalam hati gue sudah nemu jawabannya. Bahkan disaat gue meneguk teh itu pertama kali, “Enakkk… Enakkk banget…”
Tapi, David Chandrakusuma tak mungkin berkata seperti itu pada pegawainya. Norak!
“Seperti biasa. Enak… Beda.. Manisnya pas.. Saya selalu suka teh ini.” Komentarku.
Devina tersipu malu. Dan, kalau nggak salah lihat, aku sempat melihat blush on merah-nya menyala. Sumpah… Dia terlihat makin manis. Tapi, tunggu dulu! Kalian jangan berpikiran yang aneh-aneh. Tadi, Aku hanya memuji, dan berkata jujur. Itu saja. Tidak kurang dan tidak lebih.
“Sepertinya, setiap pagi, saya harus membuatkan bapak teh supaya bisa lebih semangat untuk bekerja. Belakangan ini bapak terlihat sangat kelelahan.” Sahut Devina.
Memang itu yang saya harapkan, Dev
Begitu gue meneguk tetesan teh terakhir, gue menaruh lagi cangkir itu ke atas meja. Sudah habis. Kosong. Sangat disayangkan. “Akhir-akhir ini, saya memang sedang banyak kerjaan. Jadi, beberapa kali saya juga mesti lembur.”
Devina menganggukkan kepala. Tanda dia benar-benar memperhatikan keluh kesahku. Dia hampir saja mau mengatakan sesuatu sebelum akhirnya, orang yang sudah bersobat dengan gue sejak masuk dunia perkuliahan nyelonong masuk tanpa permisi. Biasanya, gue nggak pernah mempersoalkan hal itu dan malah gue akan langsung menyambutnya. Namun, entah kenapa, kali ini rasanya aku ingin mengusir dia pergi.
Alhasil, Devina pamit keluar ruangan. Dan, mata gue Cuma bisa mengekorinya sampai dia keluar dan gue langsung memberikan tatapan garang kepada sobat gue, yang kalau dipikir-pikirin lagi, kenapa dulu gue mau sobatan sama dia?

Oke, sebelumnya kenalin dulu, nama sobat gue, Bryan.
“Apa?” tanyanya cengengesan, tak merasa berdosa sama sekali. Malah dengan santainya dia duduk di kursi depan meja gue.
Gue pandangi penampilannya dari ujung kepala sampai ujung kaki. Benar-benar tidak berubah. Bryan selalu datang ke kantor gue dengan pakaian ala kadarnya. Kaos oblong dan celana santai. Dia selalu bergaya seakan nggak punya beban pekerjaan. Mengalir begitu saja. Dan, ajaibnya, dengan penampilan seperti itu, dia mampu membeli satu rumah super mewah dan 2 mobil Lamborghini, hanya dengan modal duduk di depan iMac, mikirin konsep desain, mendesain, kirim, kalau ada revisi tinggal direvisi dikit, kirim lagi, kalau oke uang langsung cair. Sialan, gue bener-bener iri sama kutu kupret satu ini.
“Lo udah berdosa sama gue, tapi lo masih nggak tahu dosa lo apa?” Tanya gue sengit.
Barulah, beberapa detik kemudian, dia mulai mengerti ‘dosa’-nya dia barusan itu apa, “Oh… Ini ada hubungannya sama cewek tadi kan? Si… Devina itu?” sergap Bryan nyengir.
Gue membelalak kaget. “Darimana lo tahu kalo namanya ‘Devina’?”
Bryan menaikkan kedua kakinya dengan santai di atas meja kebesaran gue. Tidak sopan! Kalau aja gue nggak inget dia sobat gue dikala susah maupun seneng, udah daritadi gue dorong dia jatuh dari lantai 10!
“Lo nggak nyadar, Bro? Kan, lo sendiri yang sering cerita tentang dia sama gue? Masa lo nggak ngerasa sih?”
Kali ini, giliran gue yang bingung, “Ah, masa sih? Perasaan gue nggak pernah tuh cerita tentang Devina ke elo.”
“Wah.. wah.. wah.. Parah lo! Orang hampir tiap kita ketemu lo ngomongin dia.”
Gue diem. Gak tahu harus menjawab apa. Meskipun Bryan celengekan, dia nggak pernah bohongin gue. Kalau bener, apa aja yang udah gue ceritain ke dia tentang Devina? Haduh.. kok gue mendadak ngerasa jadi kakek yang terjebak di dalam tubuh manager muda tampan gini?

Bryan kemudian menurunkan kakinya dari meja. Pindah ke sofa merah nan empuk dan langsung merebahkan dirinya disana. “Udahlah… Bilang aja ke dia kalau lo suka dan mau jadian sama dia. Beres kan?” seloroh Bryan sembari menguap panjang. Mohon diperhatikan, itu bukan karena dia tipe pekerja keras yang hobi bekerja sampai larut malam, dia begitu karena mempunyai penyakit. Namanya, penyakit kebo. Penyakitnya sering kambuh kalau udah ada di bawah AC, dan kena sesuatu yang empuk buat merebahkan badan.
Refleks. Gue melempar pensil ke arahnya. Sembarangan aja dia ngomong. Gue nggak mungkin suka sama pegawai kantor gue sendiri. “Gue nggak suka sama dia.”
“Tapi, lo suka tehnya kan?”
“Suka tehnya bukan berarti suka orangnya.”
“Tapi, lo bilang, like a tea, like teh maker. Itu berarti, secara tidak langsung, lo mau bilang kalo lo suka sama tehnya, berarti lo juga suka sama pembuatnya. Devina.”
“Kapan gue bilang?”
“Kemarin. Perlu bukti? Cek aja outbox lo.. Kalo belum lo hapus, gue jamin, pasti ada kata-kata itu.”
Sialan!
Gue terpojok sekarang. Ngapain sih gue pake bilang gitu segala? Apa.. Apa mungkin secara nggak sadar gue emang suka sama Devina?”
“Udahlah, Bro… Kalo lo emang suka sama dia. Tembak aja. Tunggu apa lagi? Lo ganteng, keren, macho, baik, setia,”
Gue senyum dan memanggut-manggutkan kepala. Kalau masalah itu emang nggak usah diragukan lagi.
Man, gue bakalan nraktir lo minum kopi sepuasnya di Starbucks!
“… dan lo itu tukang gombal, penjilat. Lo pasti bisa lah naklukin dia.”
Seketika, senyum gue memudar. Kalo yang lain sih okelah, tapi kalo masalah penjilat dan tukang gombal. Gue nggak gitu kok! Serius…
Sorry, lo baru aja ngelewatin kesempatan emas yang baru aja mau gue kasih ke elo!
“Tapi, masalahnya, gue GM! Gue atasannya. Masa gue nembak dia?”
Bryan nyengir. “Yaelah… Cinta itu nggak pandang jabatan. Sebatas cinta lo masih wajar, cowok suka cewek. Fine.. Fine aja. Cinta nggak kenal gengsi. Inget itu…”
Lagi, gue terdiam. Kali ini, gue rasa omongan Bryan ada benarnya juga. Gue memang harus nembak Devina karena sepertinya gue memang beneran suka sama dia.
CONGRATZ, Man… Lo dapetin lagi voucher gratis minum di Starbucks.
“Eh, Bro… Ngomong-ngomong yang di foto ini siapa? Dia keliatan lebih cakep dari lo…” Bryan menunjukkan foto yang dimaksud tinggi-tinggi supaya gue bisa melihatnya dengan jelas. Gue memfokuskan penglihatan dan.. oh.. Dia..
Si Bule. Gue lupa nama aslinya. Tapi, gue biasa manggil dia bule, karena dia memang mirip orang bule meski dia nggak ada darah bule. Dia sahabat gue dari kelas 1 SMP dan kehilangan kontak sama sekali sejak kami lulus SMA. Terakhir, gue denger, dia pindah ke Amerika. Dia memang lebih cakep dari gue, ya, gue akui itu. Dia… orangnya baik banget. Tiba-tiba, gue jadi kangen sama dia. Gimana kabarnya ya dia sekarang? Le, semoga kita bisa dipertemukan lagi..

Bersambung…

Cerpen Karangan: Chick-A-Dee
Facebook: www.facebook.com/evangelinatessiapricilla
Nama samarannya, Chick-A-Dee klo ditanya kenapa pilih ini jadi nama samaran… saya juga bingung mau jawab apa yang penting saya terinspirasi dari lagu Owl City – Honey and The Bee. Penulis novel yang sudah menerbitkan 7 buku dan semuanya bisa didapatkan di tokbuk seluruh Indo. Klo mau tahu saya lebih lanjut bisa kunjungi langsung blog saya di www.tessiablog.blogspot.com :))

Cerpen Secangkir Teh Hangat (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Ku Ingin Terseyum di Ujung Hidupku

Oleh:
Kenalin aku kirana, aku mahasiswa disebuah universitas, aku mempunyai penyakit kanker menurud dokter aku takkan bisa hidup lama tapi aku tetap berjuang untuk hidup, walau harus menjalani kemo terapi

Aku Tidak Punya Teman

Oleh:
Jam menunjukan pukul 06.55. Seorang gadis muda tampak berlari-lari dari arah barat. Hampir saja ia terjatuh ketika tersandung sebuah batu kecil. Ia terus berlari walau ia tahu bahwa jalanan

Temani Aku

Oleh:
Girls, sebagai perempuan rada terlalu risih kalau ke mana-mana cerita tentang cinta. Loves exist while breathing. Mungkin iya untuk perempuan hobi hang out, nongkrong, dsb. Artinya sebut saja kisah

I am Sorry

Oleh:
“Lo hari ini ada acara lagi, Fel?,” tanya Bram sewot. “Iya. Maaf guys!” “Tapi ini gimana?,” tanya Billy memelas sambil menunjukkan buku partitur musik karangan mereka yang setengah jadi.

Detik Terakhir

Oleh:
Kini aku duduk di bangku kelas XII IPA, kujalani hari di sekolah bersama dengan ketiga sahabatku fitri, nada dan yusuf, dan aku sendiri rey. kita berempat bersahabat sejak kita

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Secangkir Teh Hangat (Part 1)”

  1. Annisa Fitriani says:

    Istimewa……
    Crita’nya Bagus BANGETS
    TRIMS Y

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *