Secret Revealed

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 4 September 2017

Akhirnya rahasia itu terungkapkan sekian lama aku menunggu jawaban dari lelaki misterius itu. Rahasia yang terungkapkan selama 6 bulan aku menunggunya. Oh tidak, aku sangat sayang padamu. Siapapun dirimu, dirimu yang dulu atau yang sekarang aku tetap mencintaimu. Tak akan berubah sifatmu yang menonjolkan siapa dirimu. Aku mengenalimu selalu.

Hai, aku adalah seorang penulis yang baru-baru ini karyaku diterbitkan. Lumayan booming karyaku ini. Entahlah, apa yang menarik dari bukuku itu yang jelas sudah banyak penggemarku dari luar kota asalku. Oh iya, perkenalkan namaku Alicia Elvira. Panggilanku Alice. Cita-citaku menjadi seorang penulis terkenal. Seperti yang kubilang baru-baru ini buku karyaku diterbitkan. Kebetulan bukuku itu adalah kisahku sendiri.
Aku mencari lelaki yang sangat kucintai. Kami sudah pacaran sejak SMP. Aku sudah berpisah dengannya sejak 1 tahun lamanya. Sejak perpisahan SMP itu. Aku rindu sekali dengannya sehingga aku membuat buku tentangnya. Entahlah, apa dia merasakan atau tidak. Kami menjalin hubungan dari kelas 3 SMP. Sampai sekarang tidak ada kata ‘putus’ di antara kami berdua. Tapi entahlah, apa dia masih mengingatku lagi atau tidak. Semoga saja masih ya, Aminn. Oke, aku menceritakan kisahku bertemu lagi dengan kekasihku yang hilang lewat bukuku.

‘Hoaamm’ Aku bangun sambil mengucek-ngucek mataku. Aku melihat di jendela terpancar bayangan cahaya matahari di luar sana. Aku buka tirai kamarku dan menikmati cerahnya pagi hari ini. Aku keluar sambil menggoyang-goyangkan tubuhku. Aku melihat di depan rumahku mobil dan motor berlalu-lalang. Aku melihat jam di tanganku. ‘Hei! Ini hari yang gue tunggu. Semoga aja dia ada yaa.’ Aku sangat gembira dan akupun memulai aktivitas.

Saat aku memulai aktivitas tiba-tiba datang pria misterius memakai jaket abu-abu, di atas kepalanya terpasang tudung jaket, memakai sepatu sports bermerk, pria ini cukup tinggi. Ia berhenti di depan rumah dan melihat-lihat ke dalam rumahku. Aku melihatnya, dan ia memanggilku. “Heii” Sambil melambaikan tangannya kepadaku. Aku menghampirinya dan menyapanya “Heii, siapa ya? Ada perlu apa?” Tanyaku kepada pria misterius ini. Ia melihatku dengan tersenyum. “Masa’ gak kenal sama gue? Lo Alice kan? Penulis itu.” Aku memandangnya dengan bingung. “Iya. Lo siapa? Kok lo bisa tau alamat rumah gue?” Aku memandangnya lagi dengan heran. Ia menjawab dengan santai “Tau dong.” Aku menanyakannya sekali lagi dengan heran “Lo dapat dari mana alamat gue? Gue kan ngerahasiain alamat rumah gue dari siapapun.” Ia menjawab sambil tertawa “Hahaa, gampang banget. Gue kan berteman sama lo di Facebook wajar dong gue tau. Kan bisa lewat GPS rumah lo ini. Jangankan alamat rumah lo. Tentang keluarga lo, siapa mantan lo, siapa pacar lo, sahabat lo waktu SD, SMP, di mana lo tinggal sebelumnya, kapan terakhir kali lo jadian, tanggal lo jadian sama cowo terakhir lo. Gue tau semua tentang lo.” Dia mengucapkannya seakan-akan aku ini sudah akrab lama dengannya.

“Siapa lo? Lo tau semua tentang gue? Apa yang lo mau dari gue?” Aku melirik pria misterius ini. Dengan wajah yang betul-betul heran. “Yang gue mau cuman jawaban dari lo yang gue bakalan pertanyakan sama lo.” Ia menatapku dalam sekali. “Jawab pertanyaan dari lo? Gimana gue bisa jawab? Coba kalo pertanyaan lo pertanyaan pribadi. Gue sama sekali gak kenal lo. Jadi gue gak bisa jawab apapun pertanyaan dari lo” Aku hampir berpaling darinya. Tetapi ia menahan tanganku “Kalau gitu kita kenalan aja.” Sambil menatapku dengan senyuman manisnya. “Oke, nama gue Alicia Elvira. Biasa dipanggil Alice. Lo?” Aku berbalik menanyakan padanya sambil menjulurkan tangan “Ummm…” Ia berpikir sejenak. Setelah ia berpikir ia membalas juluran tanganku “Dhani Aliansyah. Biasa dipanggil Ian. Gimana? Siap jawab pertanyaan gue? Kan udah kenal.” Ia bertanya kepadaku. “Lo bukan wartawan kan?” Aku menanyakan kepadanya dengan curiga. Ia tertawa. “Hahaa. Kalo gue wartawan, gue pasti bawa catatan dong. Buktinya? Gue gak bawa apa-apa kan?” Ia menjawabnya dengan akrab sekali. “Oke oke. Silahkan” Aku mempersilahkannya.

“Oke. Gue mulai. Lo jawab jujur. Apa bener buku lo itu sebenarnya menceritakan kisah hidup lo?” Aku menjawabnya “Ummm, Iyaa” Aku berpikir sejenak. “Apa bener yang diceritakan itu Pacar lo yang hilang?” Ia bertanya lagi. “Iya” Singkatku. “Apa benar lo dan pacar lo gak ada kata putus di antara kalian?” Tanyanya lagi. “Iya.” Ujarku. “Oke, ini yang terakhir. Apa bener lo masih sayang dengan Al? Alvino Andrean?” Ia bertanya untuk terakhir kali. “Lo mata-mata ya? Atau lo penculik Al? Buat apa lo kayak gini?” Ia tertawa lagi “Lo ini bodoh ya. Kalau gue mata-mata, gak mungkin gue nanya langsung sama lo. Pasti gue cari tau sendiri. Gue penculik? Nanya sama orang terdekat Al? Heii, sama aja gue nyeblosin diri gue. Gue nyebutin nama gue. Haha. Lucu banget sih lo” Aku menatapnya dengan heran. “Nama? Gue yakin nama yang lo sebutin tadi palsu! Nampak banget dari gerak-gerik lo yang mikir dulu baru jawab. Gak mungkin orang nyebutin nama mikir dulu. Pasti langsung jawab.” Ujarku. “Lo punya naluri Detektif ya? Tau aja kalo itu nama palsu. Haha” Iya tertawa untuk kesekian kalinya. “Siapa lo? Kenapa lo mau tau tentang gue?” Aku mentapnya dengan sinis “Gak perlu lo tau siapa gue. Gue bakalan jelasin siapa gue kalo lo jawab apa yang gue tanyain tadi.” Ia menjawab dengan santai “Gue gak bodoh ya. Mau ngejawab pertanyaan kayak gitu.” Aku tersenyum sinis.

“Lo masih sayang kan? Haha, nampak dari raut wajah lo. Kalo orang yang gak sayang lagi pasti gak bertele-tele gini.” Ia tertawa (lagi). “Gak usah banyak omong deh. Pergi deh lo. Kenal aja cuma nama doang. Mau nanyain hal pribadi kayak gitu lagi” Aku sedikit kesal dengannya. “Gak usah marah-marah. Ntar cepet tua lho” Ia mengejekku. “Udah lo pergi deh. Empet gue ngeliat lo” Aku memandangnya dengan sinis. “Oke gue pergi. Tapi suatu saat kita bakalan ketemu lagi. Byee!” Ia tersenyum “Pergi deh lo! Jangan harap lo bisa ketemu gue!” Ia hanya memandangku dengan senyuman yang begitu manis. Sehingga membuat dia semakin tampan saja. Aku berpaling dan masuk ke dalam rumah.

Hari-hari itu berlalu setelah aku bertemu dengan pria misterius itu. Hari ini aku jalan-jalan. Ya, hobiku planning. Terkadang aku mencoba hal-hal yang baru. Pergi ke cafe baru. Ya, walaupun aku pergi menggunakan bus. Aku bersiap-siap untuk jalan ke toko buku. Aku memakai kemeja kotak-kotak, dengan memakai jeans berwarna abu-abu, dan memakai sneakers. Aku hampir siap, aku mengambil sisir dan ikat rambut di atas meja rias kamarku. Aku mengikat rambutku beserta poniku. Setelah itu, aku mengambil tas, dompet, dan gadgetku. Aku memasukkan dompet dan gadgetku ke dalam tas. Aku berangkat dan berpamitan dengan mamaku. “Maa, Alice pergi ya.” Aku sambil menyalaminya “Hati-hati ya nak. Jangan pulang terlalu sore.” Sambil tersenyum kepadaku. “Iyaa mama. Assalamualaikum”. “Waalaikumsalam” Mamaku menjawab.

Aku berjalan menuju halte. Sambil berjalan aku memainkan gadgetku. Dan tiba-tiba ada air menetes di atas tanganku. Aku melihat keatas. Hujan semakin deras. Aku berlari menuju halte. Badanku setengah basah. “OMG, Pake acara hujan lagi.” Aku merutuk sambil membersihkan bajuku.

Datang mobil sports berwarna abu-abu. Ia berhenti di depanku. Seseorang membuka kaca mobil. “Ayo, naik. Hujan tuh.” Aku menatapnya. ‘Hei, pria ini lagi.’ Aku berkata dalam hati. Aku hanya bisa diam. “Ayo naik, gak akan ada bus lewat.” Ia menyuruhku untuk masuk kemobil. “Umm, ngerepotin?” Aku bertanya kepada pria ini. “Enggak, Masuk aja. Jangan malu. Tenang gue orang baik-baik kok. Gue gak mau nyulik lo kok.” Aku meliriknya dan berkata “Oke, gue masuk. Tapi, kalo lo apa-apain gue awas ya!” Ancamku. “Iya cantik” Pujinya. Aku menarik pegangan mobil dan membukanya serta memasukki mobil pria itu. Ia menjalankan mobilnya.

“Lo mau ke mana?” Tanya pria ini sambil menyetir mobil dan menoleh kearahku beberapa detik. “Ummm, ke toko buku.” Ujarku sambil menolehnya. “Kebetulan gue juga mau ketoko buku. Ada yang mau gue cari” Jawab pria ini. “Oh, makasih tumpangannya.” Ucapku. “Sama-sama cantik” Jawabnya sambil memujiku. Aku hanya terdiam dan menoleh ke luar sembari senyum. Tetapi aku menutupinya agar dia tidak terlalu kege-eran. Ia memasukki mobil ke tempat parkir dan keluar dari mobil sembari membuka pintu mobil untukku. “Makasih” Singkatku. “Sama-sama. Ayo masuk” Ajaknya sambil menarik tanganku.

Aku dengannya masuk ke dalam toko buku. Di sana penuh dengan buku. Aku mencari salah satu buku dan iapun juga mencari apa yang dia cari. 30 menit berlangsung aku mendapatkan buku yang kucari. “Sudah?” Tanyanya dengan singkat. “Sudah. Yuk” Aku menjawab dan menariknya kekasir. Aku membayar semua buku tetapi ia menyambarnya dengan cepat dan menaruh uangku ke tanganku. “Gue aja yang bayar” Ia tersenyum padaku. “Hei? Gak papa kali. Gue yang bayar. Sebagai ucapan tanda terima kasih gue” Ujarku. “Lo senyum aja udah jadi tanda terima kasih. Yuk.” Ia tersenyum lagi dan menarik tanganku. Dengan cepat aku ambil kantong buku-buku yang ada di meja kasir. “Makan yuk? Pasti laper kan?” Ajaknya. “Yuk, tapi kali ini gue yang bayar” Kataku. “Iya iya” Jawabnya sambil tersenyum. Aku membalas senyumannya dengan manis. Ia menyambar tanganku dan mengajakku ke sebuah restoran.

Aku dan pria ini memasukki restoran ini. Kami mencari meja yang kosong. Setelah mendapatkannya ia menarikku dan mempersilahkanku duduk. “Silahkan duduk cantik” Ia tersenyum manis padaku. “Makasih. Cantik? Kayak panggilan sayang”. Ujarku. “Hehee” Iya menunjukkan senyuman lebarnya. Ia duduk di kursi tepat di hadapanku. “Pesan apa?” Tanya pria ini. “Sama kayak lo” Singkatku. Ia memanggil pramusaji dan memesan makanan. “Hei, gue lupa nama lo. Nama lo siapa ya?” Tanyaku. “Dhani Aliansyah. Panggilannya Ian.” Jelasnya. “Oh, lo tau kan nama gue?” Tanyaku lagi. “Tau dong. Nama lo Alicia Elvira. Panggilannya Alice. Blablabla” Ia menjelaskan dengan panjang. “Udah, udah. Lo emang kayak dukun ya. Tau semua tentang gue.” Aku memandangnya dengan wajah yang datar. “Hehee. Penggemar berat sih” Ia tersenyum lagi.
Lama sekali aku bercakap-cakap dengannya. Ya, kata pria ini sih dia sudah mengenalku lama sekali. Tau semua tentangku. Ia seperti sudah akrab lama padaku. Tetapi aku tidak mengenalinya. Sebelumnya aku juga tidak pernah mengenali nama Dhani Aliansyah. Ia selalu menutupi kepalanya dengan tudung jaket yang dipakainya. Selalu saja memakai jaket berwarna abu-abu itu. Memakai jeans dan sepatu sports. Entahlah, ia tidak pernah menunjukkan wajahnya tanpa tudung jaket. Aku penasaran dan menanyakan kepadanya.

“Kenapa sih lo selalu aja nutupin kepala lo dengan jaket itu? Buka kek. Bosen gue liat lo gitu-gitu aja penampilannya.” Tanyaku kepada pria ini. “Ya, gak papa lah. Gue suka aja kayak gini” Ia memandangku. “Buka kek. Gue mau liat muka lo” Aku hampir menyentuh tudung jaketnya. Tetapi ia mengelak dan berkata “Jangan buka.” Larangnya. “Kenapa sih?” Tanyaku dengan heran. “Ram, rambut gue acak-acakan.” Ia menjawabnya dengan terbata-bata. “Oh. Ya udah deh kalo lo gak mau” Jawabku dengan wajah manyun. “Heii. Jangan manyun dong. Nanti cantiknya ilang loh.” Gombalnya. Aku tersenyum malu “Apaan sih lo.”

Sekitar 7 bulan aku dekat dengan Ian. Entahlah, aku merasa sudah akrab sekali dengannya. Dan pada bulan November ia mengundangku ke acara 17 tahunan. Tepat pada harinya aku datang ke acaranya. Aku memakai gaun berwarna pink dan rambutku ikal gantung. Warna gaunku sepadan dengannya. Ia memakai jas putih. Tetapi tetap saja ia memakai kupluk di kepalanya. Entah untuk apa aku tidak tahu.
“Ngapain sih pake kupluk segala dikepala lo. Udah bagus juga baju lo.” Tanyaku. “Gak papa. Ntar juga lo tau kenapa gue pake ini.” Jawabnya.

Tiba saatnya Ian untuk meniup lilin. Semua orang yang ada diacara tersebut berbentuk melingkar dan bertepuk tangan sambil menyanyi lagu ulang tahun untuk Ian. Aku ikut serta. Semua bertepuk tangan setelah Ian meniup lilin itu. Ia langsung mengajakku keatas panggung dan menyanyikan sebuah lagu. Aku terpaku saat memahami lagu apa yang ia nyanyikan. Aku teringat sesuatu. Sesuatu dimasa laluku. Ia menyambutku untuk menyanyi. Aku pun menyanyi dengan perasaan sangat heran. Wajahku tidak tersenyum. Dan ia menunduk sedikit. Seolah mengisyaratkanku untuk membuka benda yang ada di kepalanya. Dengan ragu aku membukanya. Hatiku mulai berdegup sangat kencang. Saat aku sudah memegang kupluknya pandangannya masih menunduk. Aku menyuruhnya untuk mengangkat wajahnya. Aku ingin melihat wajah sebenarnya. Ia mengangkat wajahnya seperti yang aku minta. Aku melihatnya baik-baik. Dan aku mulai terpaku. Aku sungguh tidak menyangka. “Al, al? Alvino?” Aku menyebut namanya dengan terbata-bata. “Iya Alice. Aku Al. Orang yang kamu cari selama ini.” Ia tersenyum kepadaku. “Ke, kenapa kamu merahasiakan? Aku, aku cari kamu selama ini. Sampai aku harus buat buku tentang kita. Kenapa kamu harus bohong sama aku?” Air mataku mulai tergenang di mataku. Aku menahannya agar tidak menetes. Tapi tetap air mataku jatuh dan mengalir. Aku melangkah mundur. Seolah aku tidak percaya dengan ini semua. “Kamu gak inget? Dari mana aku bisa dapat ide-ide ini? Dari karangan kamu.” Ia menjawab lagi. “Hah?!” Aku kaget mendengarnya. Ia hanya tersenyum dan mulai mengingatkanku pada satu lagu. Ia menyanyikan sambil menarik tanganku. Aku hanya memasang wajah tersenyum paksa. Ia menyuruhku untuk melanjutkannya. Tetapi aku tidak bisa. Dan ia melanjutkan nyanyian itu.

Aku melepaskan gandengan tangannya dan melangkah mundur. “Liz, jangan kamu sia-siakan cerita ini. Ini sudah halaman ketiga paling akhir. Apa kamu mau pergi meninggalkan cerita yang sudah kita buat bersama?” Tanyanya. Aku berhenti melangkah. Dan ia melangkah kearahku. Ia memelukku sangat erat. Aku terdiam sejenak. Beberapa detik ia memelukku, aku membalas pelukannya. Dan ia berkata “Aku kangen kamu liz. Aku masih terus sayang sama kamu.” Ia membisikkan di telingaku. Aku tidak menjawab. Tidak bisa kukeluarkan satu kata pun dari mulutku. Ia melepaskan pelukan begitu juga denganku. Dan ia bertanya “Kamu gak kangen sama aku? Kamu lupa sama aku? Sama kenangan kita yang dulu? Novel yang kamu buat? Apa kamu udah gak sayang lagi sama aku?” Ia memberikan pertanyaan bertubi-tubi sehingga aku hanya bisa diam dan tidak membuka mulutku. “Ya udahlah. Kalau kamu emang udah lupa sama aku.” Ia tersenyum kecewa dan hampir beranjak dariku. “Aku kangen banget sama kamu. Aku masih inget kok sama kamu. Sama kenangan kita yang dulu. Novel yang aku buat. Aku inget semuanya dan gak akan aku lupakan.” Aku tersenyum dan ia berbalik badan memandangku. Aku membalas pandangannya dengan senyuman manisku. Ia memelukku lagi. “Semuanya udah aku jawab kan?” Bisikku. “Cuma satu yang belum kamu jawab. Apa kamu udah gak sayang lagi sama aku?” Aku melepaskan pelukan dan menunduk. Aku tidak bisa menjawab apa-apa. Dan ia mengejutkanku. “Liz? Kamu masih sayang kan sama aku?” Tanyanya sambil memandangku. Aku melanggak dan berkata. “Aku sayang kamu. Aku selalu sayang kamu. Aku gak peduli. Kamu yang dulu atau yang sekarang. Yang jelas aku sayang kamu.” Aku tersenyum dan memeluknya lagi. Ia menangis gembira. Semua orang memandangku dengan Al berpelukkan dan bersorak gembira.

Bunda Al dan Mamaku keluar. Bunda Al menghampiriku dan berkata. “Jaga Al baik-baik ya.” Bunda Al tersenyum dan memelukku. Begitu juga sebaliknya. Mamaku menghampiri Al dan berkata “Jaga Alice baik-baik ya” Mamaku juga melakukan hal yang sama dan memeluk Al.

Setelah 1 minggu dari hari itu. Keluargaku dan keluarga Al sepakat melangsungkan pertunangan. Dan kami pun bertunangan.
‘Aku tidak peduli siapapun kamu. Kamu yang dulu ataupun sekarang. Tetap aja kamu sama dan tetap aja aku sayang kamu’

Cerpen Karangan: Siti Nurmirani
Facebook: Siti Nurmiraani
Kalo kalian pengen aku upload cerpen lagi, Add Facebook aku: Siti Nurmiraani chat aja yaaa. Tinggal minta aja tema apa ntar aku bikinin …
Thankyou for reading

Cerpen Secret Revealed merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kisah Ini Terlalu Nyata

Oleh:
Amanda, cewek manis yang awalnya aku pikir dia itu Tiara. Hari itu aku benar-benar frustasi, tidak ada lagi hasrat untuk hidup yang melekat di dalam jiwa, hari-hari bagaikan jurang

Cinta Dalam Satu Alamat

Oleh:
Namaku adalah Abdul Pradana dan Aku ini tinggal di rumah baruku di sebuah perkotaan di Jakarta. Namun, kenapa aku pindah rumah? Karena ayahku diterima di tempat kerjanya di jakarta

Menjemput Sunset di Ujung Dermaga

Oleh:
Matahari hampir saja tenggelam dari peradabannya, suasana yang tadinya memancar, perlahan tertutup oleh cahaya berwarna jingga dari sang Sunset. Terlihat seorang gadis indigo berambut sepanjang 10 cm di bawah

Kamu Selamanya

Oleh:
Mentari pagi menerpaku dari jendela kamarku, sorotnya yang tajam membangunkanku dari mimpi indahku, ku lihat di sekelilingku dan ku lihat jam weker di samping tempat tidurku. “Ha.. Jam setengah

Kata Kata Bintang

Oleh:
Apakah kau pernah merasakan? Saat kau ingin berteriak tapi kau tau tak seorang pun di dunia ini kan mendengar… Saat kau ingin bercerita tapi kau tau rasanya seperti tertahan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *