Sedihku Musnah

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 3 May 2019

Rintik air hujan mulai turun pukul 3 sore, membawa pesan dari matahari yang perlahan mulai tak nampak keberadaannya. Aku tidak tahu apa yang membuat hujan itu turun sore ini. Aku hanya ingin menikmati kesedihanku ini untuk menghabiskan senja hari ini. Entah ini baik atau tidak untukku karena terlalu larut dalam kesedihan. Karena yang aku tahu hanyalah mencoba memahami kesedihan ini bersama hujan yang turun hari ini.

“Apa hanya aku saja seorang gadis yang menikmati hari minggu ini dengan penuh kesedihan?” batinku
“Aku ingin mengabdi dan berharap air mataku memberi kenyamanan padaku setelah ini, dan aku bisa menghapus kesedihanku seperti air mataku yang jatuh ke pasir dan kemudian mengering” ucapku

Pohon yang kokoh yang mana manusia pun tidak tahu bagaimana pohon itu selalu berdiri tegak dan bisa menerima sandaran dari tubuhku.
“Jika saja ada orang lain yang mampu menerimaku untuk bersandar di tubuhnya, aku sangat berharap untuk itu.” Ucapku
“Kamu bisa menjadikan kesedihanmu sebagai kekuatanmu tha.” Suara pria yang tiba tiba datang dan menghancurkan lamunanku
“Ah, kak Rio, sejak kapan kakak di sini?” tanyaku
Rio adalah senior di sekolahku dan dialah yang membuatku sampai mengenal kesedihan seperti ini.

“Pertanyaan sejak kapan aku di sini akan selalu terucap darimu tha, aku sudah lama melihatmu di sini, dan kenapa kamu berteduh dan bersandar di samping pohon sambil melamun seperti ini?” tanya Rio
“Dia tidak perlu tahu bahwa aku begini karenanya.” batinku
“Aku hanya ingin mendapatkan kesedihan lalu bisa mengambil hikmahnya kak.” Jawabku lemas
“Jangan bicara seperti itu, aku tahu kamu adalah anak yang pintar dalam pendidikan, namun pendidikan tidak pernah bisa menyelesaikan masalah cowok tha.”
“Kenapa Rio bisa tahu kalau ini masalah cowok dan lebih jelasnya lagi karenanya.” Batinku
“Kenapa kamu bisa tahu kalau ini masalah cowok yang aku sayangi kak?” tanyaku
“Tidak ada seorang wanita remaja yang bersedih selain karena masalah pria, semua itu sudah ada di pikiran pria itu sendiri dan aku tinggal menebaknya tha, kamu adalah juniorku di sekolah tapi diluar itu kamu adalah temanku.” Jawab Rio
“Kenapa bisa begitu?” tanyaku
“Kalau tidak begitu kamu akan menyembunyikan kesedihanmu padaku, dan jika kamu temanku, kamu harus memberitahu masalahmu padaku, dan apa sebenarnya masalahmu?” yang Rio
Aku gugup untuk menjelaskannya, karena yang menanyakannya adalah orang sebagai sumber kesedihanku

“Jika aku sumber kesedihanmu maka katakanlah tha.”
Kenapa tembakannya selalu saja benar dan hampir tembakannya mencoba membunuh otakku untuk tidak bisa berpikir lagi.

“Aku bersedih karenamu Senior Rio.” Jawabku dengan lantang
“Kenapa denganku atha? Apa yang kulakukan sehingga wanita sepertimu bersedih karenaku?” tanya Rio
“Simple answer, kamu telah membuatku untuk mempunyai niat mencintaimu Rio.” Jawabku penuh rasa yakin
“Kamu mencintai seniormu ini Atha? Seberapa besar keberanianmu untuk mencintaiku? Apa kamu tidak pernah tahu bahwa aku mengajarkan pada juniorku untuk tidak mencintai lawan jenis di usia muda?” jawab Rio dengan marah
“Aku tidak pernah berpikir untuk bisa mencintaimu, tapi aku hanya ingin suatu saat memilikimu tanpa aku harus mencintaimu sekarang.” Ucapku
“Kamu harus berusaha untuk itu.” Jawab Rio
Aku pergi meninggalkannya sambil menundukkan kepalaku tanpa sepatah kata apapun yang kuucapkan untuknya.

“Aku bisa saja menghapus kesedihanmu itu jika kamu mau.” Teriak Rio
Kubalikkan badanku dan membuka mataku lebar-lebar untuk melihatnya. Aku menghampirinya dengan penuh keberanian, aku bayangkan dia bukanlah seniorku.
“Apa yang kamu maksud?” tanyaku
“Aku akan mencintaimu seperti kamu mencintaiku.” Jawab Rio
“Tapi kenapa? Apa kamu terpaksa berbicara seperti itu agar hilang kesedihanku? Dan apakah..”
Pertanyaan yang akan kusampaikan kepada Rio akhirnya terhenti, karena bibirnya yang manis melekat ke bibirku.

“Jika pohon ini memang kokoh, maka dia tidak akan bisa dipatahkan untuk selamanya, bahhkan oleh perbuatan manusia sekalipun.” Jawab Rio
“Apa maksudmu kak?” tanyaku
“Kamu akan memilikiku dan aku akan mencintaimu, karena aku tahu sumber kesedihanmu adalah aku, dan aku tidak terlahir sebagai sumber kesedihan orang lain.” Jawab Rio
“Lalu apa yang kamu sebut bahwa kamu tidak mengajarkan juniormu untuk mencintai lawan jenis, tapi kamu sendiri mengatakan hal itu?” tanyaku
“Karena yang kubutuhkan hanyalah masa depan yang mana aku bisa membangunnya dari sekarang, yaitu mencintaimu dan bersamamulah aku akan menghapus kesedihanmu itu.” Jawab Rio
“Tapi apakah masa depan yang kamu bangun dari sekarang, dengan mengatakan kamu mencintaiku apa bisa meyakinkanku untuk itu?” tanyaku
“Aku sendiri yang membuatmu yakin untuk itu.” Jawab Rio

Setelah kejadian itu aku dan Rio masih menjadi senior dan junior seperti biasanya, karena ini hanyalah jembatan yang kemudian akan kita lewati bersama untuk masa depan yang terbebas dari pendidikan.

Cerpen Karangan: Roy Widya
Blog / Facebook: Roy Widya
Dont Worry untuk menjatuhkan tinta ke sebuah buku, karena karyamu di mulai dari rasa penuh khawatir.
Nama: Roy Widya Pratama

Cerpen Sedihku Musnah merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cinta 3 Hari

Oleh:
“Jomblo? gak level yaaa” begitulah kata-kata anak jaman sekarang. itu sangat sangat gak bener. Menurut gue, jomblo itu indah. Jomblo itu sangatlah menyenangkan, disaat semua sibuk pacaran, jomblo bisa

Sepupuku Idolaku

Oleh:
“Suci.. Suci..” Suara itu terdengar keras di telingaku. Dengan kesal aku membuka mataku dan menemukan Ibuku sedang menatapku. “Apa sudah pagi?” Tanyaku pada Ibu. “Ini masih sore, masih pukul

Rasa Tabu Bersamamu

Oleh:
Suasana pagi yang cerah, telah menyelimuti desa Rajun Pasongsongan Sumenep. Mulai termusiki kokok ayam tetangga yang memenuhi gendang telingaku. Orang-orang kesana kemari merangkul cangkul membawa celurit dan bekal terbungkus

Jam Weker Sialan

Oleh:
Kring… Kring… Kring… Berisik alarm dari jam weker yang mungkin tak lama lagi umurnya itu terdengar nyaring di telingaku. “Hooaam” protesku pada jam weker bentuk burung hantu yang selalu

Cinta Tulusku

Oleh:
Hembusan angin yang semilir pagi ini membuat tubuhku merasa sedikit kedinginan. “Dingin…” ujarku dalam hati sambil kupeluk tubuhku sendiri. Aku yang saat ini sedang duduk di bawah pohon depan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *