See You Soon

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 25 February 2016

Dengan senyum yang tidak mau hilang dari semalam, aku dengan semangat sudah berada di sini. Sekalipun matahari belum muncul, itu tetap tidak menghalangi niatku untuk datang ke sini. Stasiun kereta api. Aku merapatkan cardigan biru mudaku saat ku rasakan dinginnya angin yang melewatiku. Aku merogoh tasku dan mengambil handphone lalu menekan-nekannya sebentar.

“Hai!” Senyumku langsung semakin merekah ketika mendapati sapaan halo dari seberang. “Iya saya sudah di stasiun. Sepuluh menit lagi? Oke. Miss you too. Bye. See you.”

Yah benar. Tujuanku ke sini adalah untuk menjemputnya. Menjemput dia yang sangat ku rindukan. Menjemput dia yang akhirnya menyempatkan waktunya untuk pergi ke Jakarta dan menemuiku. Walaupun hanya sehari. Karena pekerjaannya yang sangat berharga itu mengharuskannya untuk segera masuk kerja. Tapi biarpun begitu, kami sudah sama-sama berjanji untuk menghabiskan waktu kami seharian ini berdua saja. Terserah entah itu hanya duduk di stasiun atau pergi ke restoran di sekitar stasiun. Yang penting seharian berdua dengannya. Menurutku itu sudah lebih dari cukup.

Belum apa-apa aku sudah senyum-senyum sendiri membayangkannya. Tidak sampai sepuluh menit setelah itu, suara khas kereta api terdengar. Disusul suara loncengnya yang menggema di stasiun yang lumayan sepi. Itu dia! Dia datang! Entah sudah berapa lama aku menunggu agar hari ini tiba. Aku melambaikan tanganku heboh saat melihat sosoknya ke luar dari gerbong 3 kereta api Kertajaya. Dia melihatku dan tersenyum lalu datang menghampiriku. Aku berlari dan memeluknya sementara dia menyambut pelukanku. Terserah jika kalian menganggap adegan tadi persis seperti di sinetron-sinetron karena memang begitulah kenyataannya.

“Long time no see.” Dia tersenyum. “Seperti yang saya tahu, kamu makin cantik.”
Aku hanya tersenyum. “Tapi kok kamu nggak makin ganteng ya?”
Dia terkekeh sebentar. “Sekarang kita mau ke mana?”
“Kereta kamu nanti sore jam berapa memangnya?”
Dia mengerutkan keningnya. Berusaha mengingat-ingat. “Jam delapan.”
“Cepat sekali,” kataku pelan.

“Hey, bahkan saya baru sampai sekarang.” Dia mencoba menghibur. “Ayo kita nikmati hari ini.”
“Mau ke mana?”
“Monas?” Dia mencoba memberi usul. “Saya belum pernah ke sana sebelumnya.”
“Memang di Surabaya tidak ada monas, kan?” Aku terkekeh. “Tidak ada apa-apa di monas. Kamu yakin?”
“Ayo!” Dia sudah menarikku ke luar dari stasiun Pasar Senen lalu menyetop bajaj yang ada dan mengatakan kepada sang supir untuk mengantarkan kami ke monas.

Di dalam bajaj sementara dia bercerita tentang perjalanannya semalam, aku sibuk memperhatikan penampilannya. Bohong kalau aku mengatakan dia tidak semakin ganteng dari pertemuan kami sebelumnya. Memang penampilannya tidak terlalu berbeda dengan sebelumnya. Rambutnya masih acak-acakan -seperti dulu- menimbulkan kesan cuek yang membuatku semakin menyukainya. Dia hanya membawa tas ransel hitam yang sepertinya tidak berisi. Lalu yang membuatku tidak bisa menahan senyum adalah dia mengenakan jaket MU kado ulang tahun pemberianku.

Oh ya, namanya Ario. Aku mengenalnya saat kami berdua tidak sengaja memenangkan hadiah tiket konser Maroon 5 dari salah satu akun twitter tiga tahun yang lalu. Sejak saat itulah kami mulai dekat. Mulai saling mengirimi chat dan mengabari setiap hari. Kami juga pernah bertemu tiga kali setelah konser itu. Waktu aku dapat proyek kerja di Surabaya, waktu kami sama-sama sedang liburan di Bandung dan waktu dia mengajakku mendaki gunung Papandayan. Dan satu hal lagi, dia bukan pacarku dan tidak akan pernah menjadi pacarku.

Perasaanku padanya, yah, seperti yang kalian tahu, aku menyukainya. Tapi aku tahu, sedalam apa pun perasanku padanya, dia tidak akan pernah menjadi milikku. Karena kalian tahu kan, aku di Jakarta dan dia jauh di Surabaya. Memang sih, ada yang bilang, distance means nothing when you’re my everthing, tapi kan, lebih mudah mengatakan teorinya daripada menjalaninya langsung. Lagi pula aku sudah pernah menjalin hubungan semacam itu sebelumnya. Tapi semuanya berakhir dengan ketidakjelasan di antara kami. Tiba-tiba saja dia menghilang begitu saja. Lagi pula, untuk kasus kali ini, Ario belum pernah menyatakan cintanya padaku.

Hari ini benar-benar menjadi hari yang meyenangkan. Kami naik motor matic mainan ketika monas masih sepi, pergi ke museum yang ada di bawah monas, mengantre masuk lift untuk naik ke atas monas, melihat kota jakarta dari puncak monas menggunakan teropong, lalu setelah lelah kami naik delman keliling monas. Sederhana saja sebetulnya, tapi entah mengapa aku tidak bisa berhenti tersenyum seharian ini. Ada saja lelucon yang dilontarkan olehnya. Atau memang dasarnya aku selalu senang saat dia ada di sampingku?

Tanpa terasa sore sudah tiba. Kami lalu ke luar dari arena monas dan bergegas kembali ke stasiun Pasar Senen. Padahal biasanya pada malam hari di monas diadakan pertunjukan air mancur. Pasti sangat romantis sekali jika kami menontonnya. Dia mengajakku makan dulu di restoran cepat saji yang ada di dekat stasiun. Aku sampai lupa kalau kami belum makan siang karena terlalu asyik bermain bersamanya sedari tadi. Sekarang sudah pukul tujuh malam. Aku membeli Peron agar dapat mengantarnya sampai masuk ke dalam kereta. Kereta yang ingin dinaikinya belum tiba. Jadi kami menunggu di tempat duduk di depan jalur 2 sesuai dengan yang tertera di tiket kereta miliknya.

“Kapan kita bisa bertemu lagi?” Aku membuka pembicaraan.
“Secepatnya.” Aku hanya mengangguk-angguk. “Bulan depan saya mau dipindahtugaskan ke Batam.”
Bohong kalau aku bilang aku tidak kecewa. Batam? Semakin jauh saja. “Kenapa tidak ke Jakarta?”
Dia hanya terkekeh pelan tanpa mau menanggapi. Ku rasa dia takut salah menjawab dan nantinya hanya akan melukai perasaanku.

“Saya ingin bisa bertemu kamu setiap hari,” aku jujur. Dia hanya menatapku penuh perhatian.
“Viona?” Aku meliriknya. Rasanya aneh setiap mendengar dia menyebutkan namaku.
Tapi aku selalu senang setiap kali dia melakukannya. “Ya?”
“Kamu sudah punya pacar?”
Aku rasa aku tahu ke mana arah pembicaraan ini. “Belum. Kenapa?”
“Jadi pacar saya ya?” Aduh, apa yang harus aku katakan?

Beruntungnya aku, tidak lama setelah itu, kereta yang akan dinaiki Ario tiba.
“Eh itu kereta kamu kan?” Kataku terlalu bersemangat.
“Iya.” Ario menjawab aneh. Seperti ingin mengatakan sesuatu lagi, tapi tidak ada yang dia ucapkan.
Aku berdiri mengangguk. “Sampai jumpa lagi!” Dia berdiri lalu mengacak-acak rambutku. “Ya. Sampai jumpa lagi.”
Aku hanya tersenyum samar. Dia tidak juga beranjak untuk masuk ke kereta. Aku mengamatinya cemas. Jangan sampai dia mengulangi pertanyaannya yang tadi.
“Ng, Viona?” Aku menatapnya takut-takut. “Tentang pertanyaan saya yang tadi?”

Aku menimbang-nimbang sebentar. Dia saat ini sedang menatap penuh harap kepadaku. Aku menghembuskan napas dalam-dalam lalu menjawab yakin. “Akan saya beritahu jawabannya saat kita bertemu lagi.” Dia tersenyum lalu berkata lebih yakin daripada kata-kataku barusan. “Kita pasti bertemu lagi.” Aku berusaha untuk tidak berteriak saat melihatnya pergi menjauh dan perlahan menghilang di balik gerbong kereta. Aku tidak kecewa. Aku tidak akan kecewa karena menolaknya. Karena saat kita bertemu lagi, jawaban yang ku berikan pastinya adalah ‘ya’.

Cerpen Karangan: Peggy Laras Purwatika
Wattpad: wattpad.com/plpurwatika

Cerpen See You Soon merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Pujangga Pukul Tujuh

Oleh:
Ia, si gadis bermata kecil menyorotkan pandangan menuju gerbang besi berwarna hitam, lalu lalang orang-orang lewat namun tak satu pun yang menjadi objek pemotretan untuk dikirim ke saraf otak

My Bestfriend And Boyfriend

Oleh:
“Rea!!!” Teriak seorang gadis di ujung lorong sekolah yang memang sudah sepi karena bel sekolah sudah berdering dari lima menit yang lalu. Gadis yang dipanggil Rea hanya membalikkan badan

Cinta jadi Sahabat

Oleh:
Dulu ku punya seseorang yang aku kagumi tanpa ku sadari dia juga mengagumiku, aku memang mengaguminya sjak prtama kali datang di depan kelasku utk berkenalan. Seiring brjalannya waktu, aku

My Sweet 17

Oleh:
‘h-30 menjelang ulang tahun gue nih. Kira-kira gue dapat apa ya. Duh gue masih jomblo lagi. Sedihnya..’ ngomong dalam hati Tiba-tiba dari kejauhan ditepuk oleh teman dari belakang. “Hayolo

Yang Bukan Segalanya

Oleh:
Bagaimana rasanya membenci sesuatu yang dicintai hampir semua orang? Dipuja mayoritas manusia? Bahkan sebagian orang dibutakan olehnya, rela mengorbankan segalanya. Sendiri melawan arus bukanlah hal yang mudah. Kau bisa

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

4 responses to “See You Soon”

  1. Dayu Kharisma says:

    saya udh baca semua cerpen2mu dan menurut saya pantes diterbitin jadi kumcer. terus berkarya!

  2. hamidha says:

    Bagus, tapi klu ada lanjutan x pasti lbh menarik!!!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *