Seharusnya Bertanya

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 19 May 2018

Untukmu yang kini membenciku, ku ucapkan beribu maaf untuk pengkhianatanku sebagaimana kau sangka, namun seharusnya kau bertanya bukan?
Bukan kepada mereka, mereka tau apa tentangku, bukankah kau juga pernah mengatakan hal ini?

Seharusnya kau bertanya siapa dia di mataku? Siapa aku di matanya? Dan siapa Kamu di hatiku?

Aku tak ingin beradu Argumen denganmu, kuucapkan terimakasih atas semua kata yang tertulis dalam 50 pesanmu, PENGKHIANAT, PEMBOHONG, BERSANDIWARA, KEJAM, karena memang setiap kesalahan orang lain akan selalu jelas dalam mata.

Seperti yang kau ucapkan, aku memang pandai memutar kata, namun aku tak pandai memendam rasa, aku mencintaimu lebih dalam dari rasa bencimu.

Kupersilahkan engkau menghitung semua salahku, lalu izinkan aku menghitung semua kesalahanmu.

Iya, memang dia sahabatmu, namun bukankah dia adalah Saudaraku sekaligus Guruku?
Lalu siapa yang lebih kejam?
Dan kata yang pernah kau ucap kepadaku malam itu, juga kau ucap kepadanya, lalu siapa yang pandai bersandiwara?

Dan pasal tentang aku pergi darimu, bukan karena dia, mereka atau siapapun yang kau sangka, namun itu karenamu, karena aku ingin mewujudkan permintaanmu siang itu, dan aku ingin mengejutkanmu pada saat itu. Tiga bulan lagi hal ini akan terwujud, namun sepertinya percuma saja aku memperjuangkannya. Ah, seharusnya aku tak mengatakannya.

Seharusnya bertanya, Aku dengannya, sama halnya kau dengan orang yang menyukainya, Kau bertanya kepadanya tentangku, dan aku bertanya kepadanya tentangmu. Tak lebih dari itu.

Menyelamlah sedalam rasa benci itu, bawalah semua amarahmu, pergilah sejauh engkau mau, aku takkan lagi mengejarmu.

Tak perlu kau khawatirkan lagi siapa di belakangmu, teruslah berlari bersama dunia barumu, Aku akan diam.

Namun taukah kamu?
Aku ingin memperjuangkan, jika tak ada kepercayaan apa gunanya sebuah perjuangan?

Taukah kamu?
Aku menemukan dunia baru, dengan pelangi yang mewarnai, aku merasa nyaman di dalamnya, jadi bagaimana mungkin aku akan mengganti dengan sebuah dunia baru yang tak pernah kutempuh sebelumnya?

Bagaimanapun kamu, sepahit apapun keadaanku, seperih apapun rasa ini, namun mengingatmu saja adalah penawar segalanya.

Aku takkan menjelaskan apa lagi setelah ini, jika engkau ingin labih dari ini, silahkan cari saja sendiri.

Dan saat aku tak lagi menulis tentangmu maka saat itulah kau tak akan lagi menemukanku.

Cerpen Karangan: Badrus Syamsi
Facebook: Badrus Syamsi

Cerpen Seharusnya Bertanya merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Fine Mapple Drops

Oleh:
Ini bukan kisah seromantis cinta Jack dan Rose di kapal Titanic, juga bukan kisah setragis Romeo dan Juliette yang sama-sama memilih mati demi cinta mereka. Tidak. Ini hanya sebuah

Dia Yang Selalu Ada (Part 3)

Oleh:
Setelah sampai Shintia mengajaknya untuk mampir dulu dan Raka tidak menolaknya. “Kamu mau aku buatin minum?” “Boleh, aku mau jus aja.” Ucap Raka. “Okey.” Ucapnya seraya pergi meninggalkan Raka

Aku Dan Ibal (Part 1)

Oleh:
“Hoi. Ngapain lo? Tumben di perpus?” Aku menoleh pada sumber suara. “Eh lo Bal. Gue cuma lagi pusing aja sama ini pr. Kadang di perpus ada jawabannya. Ternyata gak.”

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *