Seharusnya Kau Rasakan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 23 May 2017

Seharusnya kau merasakan dan membiarkannya mengalir mengikuti pori-pori cintamu. Agar kau dapat menjadikannya sebagai temanmu dalam waktu apapun.

Mendung menutupi hampir setengah langit kota sore ini. Aku berlari kecil ke arah toko kue ‘BCake’ hendak membeli kue kesukaanku. Bau harum khas roti menyeruak memenuhi indera penciumanku. Lapar. Kuputuskan untuk memesan kopi sekaligus.

“Totalnya dua puluh lima ribu rupiah” ucap seorang wanita di meja kasir. Umurnya berkisar tiga puluhan. “Terimakasih, mbak” tukasku setelah membayar belanjaanku. Aku keluar dari toko kue tersebut sambil bersiul ringan. Sesekali kucicipi coffee cappucino yang tadi kubeli. Ah, udara sore ini sangat dingin. Komplek tempatku tinggal pun seolah merasakan dinginnya sore, terbukti hanya ada beberapa orang di luar rumah tanpa aktifitas yang sering mereka lakukan. Mungkin mereka hanya ingin melihat sekaligus menerka cuaca.

“Landy!” seru seseorang dari arah taman membuyarkan imajinasiku. Itu nama favoritku. Oh ayolah, bukankah tadi sudah kujelaskan bahwa tidak banyak orang yang terlihat sore ini apalagi di taman! Terpaksa aku harus menoleh demi mencari sumber suara tadi. Deg! Hanya Tuhan yang tahu, jantungku serasa akan melompat dari tempatnya. Aku yakin, mulutku pasti terbuka lebar. Ekspresi terjelekku ketika terkejut.

Januari 2012.
“Landy, kamu mau lanjut kuliah di mana?” tanya seorang gadis berkepang. “Aku belum mikir kesana” ucap Norland tanpa mengalihkan pandangannya dari warna magenta di atas sana. Mereka berdua, sepasang remaja itu sedang berbaring di atas rumput hijau tanah lapang. Menatap langit sore. “Besok masa putih abu-abu kita berakhir, aku mau ngomongin sesuatu” tegas Norlan. Tubuhnya telah duduk tegak. “Hm. Apa itu?” tanya si gadis tetap pada posisinya. “Aku menyukaimu” ucap Norlan. Suaranya benar-benar nyaring. Si gadis bangun dan memposisikan duduknya berhadapan dengan Norland. Mata mereka beradu untuk beberapa saat. Semilir angin sore telah memainkan anak rambut gadis itu. Norland kemudian menyematkannya dengan hati-hati di balik telinga si gadis. Mata coklatnya seakan terperangkap oleh iris abu milik si gadis. Terpaan cahaya sore menyemarakkan suasana hati kedua insan ini. “Kamu tidak perlu menjawabnya sekarang” ujar Norland. Si gadis menunduk sejenak kemudian menatap ke arah lain, menyembunyikan semburat merah di wajahnya. “Kamu tidak ingin mendengarnya sekarang, mengapa?” tanya si gadis, kembali menatap langit. “Aku ingin kau merasakannya. Rasakan saja, seolah hal itu adalah temanmu untuk selamanya” tukas Norland. Si gadis tersenyum lebar dan menatap wajah Norland untuk kesekian kalinya. Kemudian mereka tertawa bersama.

Januari, 2017
Mulutku mengatup ketika aku tersadar dari tingkah konyolku barusan. “Kamu tidak pernah berubah” ujar Kanita sambil nyengir lebar. Dia memelukku, dan hanya Tuhan yang tahu sebesar apa rasa bahagiaku bisa berjumpa dengan cinta masa remajaku ini. “Ini suamiku, Pram. Pram, ini Landy” ucapnya lagi mengenalkan kami. Aku menyambut uluran tangan laki-laki yang berhasil mengisi hidup Kanita itu. Banyak sekali yang ingin kutanyakan kepadanya tapi, aku menyadari posisiku sekarang.

Kami bertiga berjalan beriringan. “Jadi, mengapa kamu bisa ada di Lisse?” tanya Kanita. Tangannya ia sematkan dengan erat di lengan suaminya, Pram. “Mengejar hidup” jawabku singkat. “Kau persis seperti yang Kanita ceritakan” komentar suaminya. Kami pun tertawa. “Sendiri?” tanya Kanita lagi yang kujawab dengan anggukan. Kanita tersenyum lebar, suaminya pun begitu. Senyuman yang sama. Dulu, ketika dia memilih meninggalkanku karena tak pernah mencoba memperjelas hubungan kami, kupikir dia tidak akan bahagia. Sempat aku berdo’a seperti itu. Namun, Lisse ternyata membawa takdir bahagia seharum ladang tulip musim semi untuk Kanita. Dapat melihatnya tersenyum bahagia seperti ini menyadarkan aku bahwa cintaku kepadanya tidak benar-benar menyulitkan apalagi menyakiti hatinya. Karena dia masih bisa tersenyum dengan seseorang yang mencintainya dengan tulus.

Kami tiba di depan rumah mereka. Sebuah rumah bertekstur klasik. Impian Kanita terwujud. Aku memilih tidak mampir karena langit mulai gelap. “Lisse akan memberikanmu hidup yang indah” ucap Pram dengan merdu. Aku tersenyum kemudian pamit. “Cukup dirasakan” ujar Kanita. Kami tertawa seolah masih remaja. Aku melangkah meninggalkan pelataran hijau berpagar putih itu dengan rasa haru dan bahagia.

Cerpen Karangan: ALis W

Cerpen Seharusnya Kau Rasakan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Awal Yang Perih

Oleh:
Hai kenalin namaku Sasa, hari ini aku merasa senang karena aku pertama kali masuk sekolah, dengan ditemani kicauan burung dan pancaran sinar mentari semakin lengkap rasa senang ku untuk

Berawal Dari Perjodohan

Oleh:
Di sebuah kamar di rumah sakit ada 3 orang yang sedang berbincang, yaitu Arga, Andien dan Ayah Arga yang sedang sakit. “Arga, Ayah mohon kamu terima perjodohan ini nak”

Cinta Beda Usia

Oleh:
Cerita ini berawal dari waktu aku masih smp. Namaku Ririn Marika, teman-temanku biasa memanggilku Ririn atau Rika. Biasalah anak ABG biasanya kerjaannya cuma chattingan doang. Saat itu aku baru

Sahabat Jadi Cinta

Oleh:
Pagi yang cerah. Dimana terdapat burung-burung yang berkicau dengan merdunya. Ku terbangun dari tidur lelapku semalam dan mandi untuk bersiap-siap berangkat ke sekolah. Setelah mandi dan memakai seragam SMA-ku,

Dari Impian Menjadi Kenyataan

Oleh:
Hari itu, hari dimana awal aku bertemu denganmu, hari dimana aku mulai mengenalmu, mulai mencintaimu, pertemuan yang tak disengaja, yang menghadirkan cinta di antara kita. Bermula dari kesalahan yang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *