Sejuta Bintang

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 18 April 2015

Aku mengelap lensa kacamataku berulang-ulang sambil mengamati Frans. Dia masih saja mengetik di laptopnya. Dia begitu sibuk akhir-akhir ini, aku yakin kalau dia lupa aku masih ada di ruangan itu juga. Kami tinggal di satu apartemen, sebagai sahabat dekat, menuruti anggapan orang. Padahal aku ada alasan lebih. Aku memasang kembali kacamataku dan menyibukkan diri dengan tumpukan buku-buku kuliah. Kami sama-sama lenyap dalam dunia masing-masing.

Tampaknya Frans selesai juga dengan pekerjaannya, bagi editor baru seringkali harus mengerjakan beberapa garapan konyol yang ekstra banyak. Akhir-akhir ini hidupnya hanyalah makan dan mengetik, minum capucino, suplemen, rok*k, sedikit tidur, tak ada jalan-jalan, tak ada ngobrol panjang, bahkan dia hampir tidak pernah mandi, hmmmh bauu…

“The End..?” tanyaku dengan mimik penasaran begitu melihat dia menutup laptopnya dan mengembuskan nafas berat nan panjang, Frans menggeleng kaku, dia masih kelelahan dengan pekerjaan-pekerjaannya, “Sedikit lagi”. Tapi berusaha meredakan kekhawatiranku dengan senyum lembut. “Ehm…”
“Ada apa?” Frans sepertinya tahu aku ingin mengatakan sesuatu. Dia menunggu dengan sabar, menyeruput capucino buatanku, dia tersenyum lagi dan menghirup aroma uap dari cangkir merah muda di genggamannya. “Capucino bikinan kamu selalu enak.”
“Dasar tukang ngrayu, itu kan kemasan tinggal seduh sayaang…” kami pun tertawa bareng-bareng, senang rasanya bisa mendengar dia tertawa lagi. Aku akan memanggilnya seperti itu kalau sedang gemas dengan rayuannya, masalahnya aku seolah seperti istrinya di apartemen kami tinggal, dari urusan memasak –Frans paling bodoh menyangkut urusan ini bahkan mie instant sekalipun dibuatnya jadi bubur, mengurusi hal rumah – kadang mencuci pakainnya kecuali CD – ga mungkin kan, bayar cicilan apartemen – yeah kalau ini sudah pasti harus, karena ini apartemenku sendiri. Ya, ini apartemenku bukan bersama, tapi aku bilang ke semua orang, kami menyewa secara patungan. Sebenarnya Frans tidak keberatan kalau harus bayar, tapi dengan memakai jurus kepala batu plus muka cemberut dia pun terpaksa mau tinggal secara gratisan. Cuman dia sering beli kebutuhan sehari-hari kami pakai duitnya. Oke lah, biar gak bikin rikuh Frans.

Sayangnya, tidak semua orang menganggap kebaikanku itu suatu amal mulia. Satu orang saja, Irvan, kakakku. Dia selalu memprotes. Tapi memang dasarnya dari dulu kami tidak pernah akur. Setiap ketemu pasti akhirnya bertengkar, apa saja bisa jadi bahan adu mulut. Termasuk dia tidak setuju membiarkan aku mengajak Frans tinggal bareng. Ya, soalnya dia jadi gak bisa nginep bebas kayak dulu.
“Vin, kamu tuh gak pernah deket sama siapapun. Tapi kenapa sama si Frans yang ngebosenin ini kamu betah sih?!”
“Dia ganteng banget… puas?” jawabku singkat sambil mendelik dan meninggalkannya turun di jalanan malam-malam. Rasanya muak terus meladeni pertanyaan tak masuk akalnya, hampir semua penjelasanku selalu dibantah. Dan ternyata jawabanku ini berhasil menyelesaikan masalah. Tapi Irvan jadi aneh kalau mampir ke apartemen selalu bawaannya kikuk, buru-buru, dan merasa gak aman. Hehehe… rasain…! untungnya Frans tak pernah merasakan perubahan itu, atau bisa jadi dia tidak perduli.

Kami melakukan banyak hal berdua, mulai dari hunting buku, main game, jalan-jalan, dan satu hobi aneh kami, mencoba menghitung bintang dan membandingkannya satu sama lain berapa jumlah terhitung. Kami senang-senang bersama, nyewa film dan nonton bareng. Dia paling geli kalau nonton film hantu. Aku sangat penakut, pasti bajunya bakalan habis kugigit-gigit karena aku selalu sembunyi di belakang punggungnya dan ngintip-ngintip layar komputer dikit-dikit, habis itu dia habiskan semalaman untuk menakutiku. Hasilnya, aku tidak bisa tidur, tanganku berkeringat dingin dan tidak berani turun ranjang meski kebelet. Parah-parahnya, aku nangis, dan baru bisa tidur kalau Frans pindah ke ranjangku, tidur di samping, kayak kakak adik, sayang banget. Dielus-elusnya kepalaku, ditiup-tiup segala, “udah gak ada apa-apa, kan cuma film doang. Gak bakalan kemari tuh mbak kuntinya. Paling pocong doang kayak yang lagi ngegantung di pojok kamar kita itu tuh…,” bisiknya menggoda. Tapi aku tetap takut meski itu sekedar bualan Frans. Lalu kalau sudah kusodok-sodok pakai ujung sikutku, baru dia diam dan tidur.

Frans kembali menikmati Capucinonya dan mendekatiku sampai bisa kurasa hembusan nafasnya, dan dia bilang, “Serius, Capucino ini enak, aku suka…” Frans menatapku dalam-dalam, wajahnya mendekat membuatku curiga, nafas kami bertemu saling bertukar, “aku suka kamu Vin…” kemudian dia mengecup pipiku yang tanpa persiapan.
Jantungku tiba-tiba seperti habis ditendang, berhenti dan sekujur tubuhku jadi panas dingin, blank sampai hank. Aku menatap wajahnya lekat-lekat, apa dia sudah gila atau aku salah dengar, atau mungkin dia sedang menggodaku.
“Ha… ha… ha…!!!” Frans kabur sambil tertawa meledak-ledak. Aku langsung sadar, dia mengerjaiku. Haah… kejadian barusan rasanya menakutkan.
“Dasaar kau ini…” aku mengejarnya yang langsung kabur lari ke kamar. Dia menutup pintu dan menguncinya, aku gedor pintu itu sekuat tenaga. “Awas kamu Frans, sialan. Kamu pikir pipiku ini pipi kambing? Enak aja cium-cium. Najis tau…!!!” aku teriaki dia menyuruhnya membuka pintu, biar dia terima bogem mentahku ini. Sampai aku nyerah, kubiarkan dia di dalam kamar, “Oke… berarti hari ini gak ada makan malam… deal??!!!” seruku mengancam.
Rupanya gertakanku mempan, pintu terbuka pelan-pelan. Dia melangkah keluar kamar sambil bernyanyi, “happy birthday to you, happy birthday to you happy birthday happy birthday happy birthday Vino..!!” aku tertegun. Frans menyodorkan kue tart mini dengan sebuah lilin warna merah muda menyala siap ditiup. Lama kuresapi dalamnya arti kejutan Frans malam ini, pandanganku tak bisa teralihkan dari sosok Frans yang Innocent dan lembut.
“Hush,.. kok bengong. Cepat tiup lilinnya, make a wish dulu ya…” aku tiup nyala lilin yang menari-nari di depan mata, tanpa sebuah permintaan. Karena sudah lama aku berhenti meminta sesuatu sama Tuhan, aku belum siap jika harus kecewa.
“Thanks Frans…” aku memotong kue jadi dua. “First cakenya buat siapa ya…?” aku pura-pura celingak-celinguk seolah di situ banyak sekali tamu yang datang di pesta kejutan ini. “Okey, karna ternyata orang yang paling menyebalkan dan paling bikin Vino tegang otot tiap hari adalah Frans, ya terpaksa deh first cakenya buat Frans, my truly friend… ever after…!”
“Halaah gayamu… emang ada siapa lagi di sini… haaap…” Frans langsung melahap kue di tanganku, tanpa melewatkan kesempatan langsung kupenyet ke hidungnya. “Ouch…! berani bikin gara-gara yaa…” plop!!! Separuh kue sisanya dengan gesit bersarang di mukaku. Kami pun tertawa menggila di apartemen yang sudah semakin ngantuk terlarut suasana malam. Tapi sepertinya Frans masih belum mau ikutan ngantuk bersama malam.

“Ini dia…! aku punya kejutan lagi. Treng…” ditunjukkannya cover sebuah DVD. Aku mendelik, namun karena tak pakai kacamata aku kesulitan mengenali gambar dan judul filmnya.
“Film Jorok nih…?” aku mendekat, Frans lebih sigap. Menyembunyikannya di belakang punggung dan masuk ke kamar. Kuikuti dia, masak sih film begituan mau ditonton bareng, pikirku aneh. Memang sih aku tahu Frans lebih sering mandi kelamaan, dan curigaku dia lagi olahraga khas cowok di kamar mandi. Beberapa kali aku tahu dia ditengah malam melakukannya di ranjang, artinya di kamar yang sama denganku. Tapi apa mau dikata, pura-pura saja tidak tahu biar selamat.

Frans memutar film di PC ku. Ternyata bukan film seperti itu, sedikit kecewa juga rasanya, -berarti tadi ngarep dong. Tapi tunggu, sepertinya ini genre film keramat deh. “Ini film hantu Frans, brengsek kamu…” buru-buru aku lari ke belakang punggungnya.
“Yaah… kan belum muncul hantunya Vin…, parno banget sih…” aku masih mengintip dari bawah cuping telinga Frans. “Sini tangan kamu… biar gak ditarik sama setan dari belakang…”
“Sialan kamu, emang gak ada film lain apa di rental sana??!!” Frans melingkarkan kedua lenganku memeluk pinggangnya. Jadi terasa aneh, tapi mending, daripada ditarik setan dari belakang. Syeereeem…

Benar-benar film sialan, sepanjang malam aku terus kebayang sosok hantu yang tiba-tiba muncul di jendela dengan wujud yang mengerikan dan yang muncul keluar dari bak mandi dan menarik masuk pemainnya kemudian hilang dibawa ke rumah si hantu. Horror bangeet… mending nonton spiderman atau drama korea…
“Dipelukin nggak?” tawar Frans dari seberang kamar, kudiamkan saja dia, aku benar-benar ngeri ingat adegan-adegan di film. Dan pasti gak akan bisa tidur deh, padahal besok mesti ke rektorat jam delapan pagi… kutarik selimut menutupi kepala. Jantungku berdetak keras, telapak tanganku tidak bisa berhenti berkeringat. Dan tiba-tiba, “Aaarrrgh…!!!” aku langsung meringkuk seperti ulat, sepasang tangan merengkuhku dari belakang, memelukku dan menjerat merapat ke tubuhnya.
“Aaaah… kamu nih Frans, bikin mau mati aja…!!” protesku jengkel.
“Yaah nangis… masak nangis sih gara-gara film doang…” Frans mengusap bekas air mata di sudut-sudut mataku, “cup-cup sayang, masak nangis sih… udah, sekarang aku temenin tidur, yuk…” hehe bisikannya tambah lebih fantastis, lebih creepy dari film tadi… pasrah, daripada gak bisa tidur, celaka besok kalau gak bisa bangun pagi.

Paginya, aku bangun sesuai panggilan alarm yang kuseting jam setengah tujuh rucurrent tiap hari aktif. Bair hari minggu bisa molor sepanjang mimpi. Mau bangkit tapi tubuhku terasa berat dan terjerat, di depanku ada oh no…! “Hello… fajar pagi, you give me a lovely arm… kita kok pelukan ya Frans..?” kami terbaring berhadapan, dan dia memelukku, agak renggang sih. Dasar tukang iseng pikirku, aku meronta ingin lepas dan segera bangun. Tapi dicegahnya, “Sorry, aku gak ingin melupakan moment romantis kayak ini, be nice sweet heart…!” dia mempererat pelukannya, hingga aku meringkuk seperti bayi yang teramat dikasihi. Lagi mimpi apa nih orang, gila…!.
“Woy… bangun Frans, aku mau mandi neh…” tapi seperti tak hendak ingin bangun, Frans melenguh lirih dan membenarkan sebelah lengannya yang terlipat di bawah bantalku, lalu menekanku masuk semakin dalam ke pelukannya. Aku jadi canggung untuk kembali berontak, apa ini sebenarnya? Aku merasa tentram, adem dipeluk seperti ini. Hangat tubuh Frans mampu memenuhi kehampaan di dadaku sebelumnya, syahdunya pagi ini dengan sikap aneh Frans. Apa mungkin ini rangkaian kejutan darinya, “bodooh… gak mungkinlah Vin… nih orang pasti lagi mimpi ketemua sama kuntilanak idolanya, lalu pelukan di atas pohon kamboja di tengah kuburan angker bingtang lima… and hurry, wake up… now..!!” waah… aku jadi gila, pikiranku memaksa harus bangun, tapi tubuhku pasrah lemah di pelukan Frans, ini ke sekian kali dia tidur di sampingku, tapi sebelum ini tanpa ada ending pelukan di pagi hari. Tubuhku menerima, hatiku merasa, lengkap. Mataku melek merem mencerna dada bidang Frans yang menghadang pandanganku. Ini aneh, tapi aku menyukainya. Dan aku kembali terlelap, whatever gedung rektorat…

Mataku pun terbuka, dunia tampak silau terang benderang… aku sadar, terhenyak dari mimpi. Kuraba sisi-sisiku, kosong, tak ada siapapun. Ohhh… aku menggeliat bebas, ternyata hanya sebuah mimpi, kuteruskan menggeliat dan memutar tubuhku ke arah ranjang Frans, mungkin dia belum bangun. Tapi salah, Frans gak ada di sana, jadi??
“Haaarrrghh…”
“Aaaaargh…!!!” sosok putih menyembul tiba-tiba dari bawah ranjangku, menerkamku… “Kurang asem…” ternyata setelah kutarik, isinya adalah sosok bertelanjang dada Frans. Kemudian dia mengambil sesuatu dari meja di tengah kamar.
“Secangkir capucino buatanku…” Frans mengangkat bangga secangkir capucino yang sudah gak terlalu panas.
“Kok cuma satu sih… kamu mana?”
“Udah habis, kamu sih bangunnya siang bener… suer deh, Capucino buatan kamu tetap lebih enak… setidaknya menurutku…”
“Frans…” aku ragu-ragu, Frans menunggu kelanjutannnya…, “semalam kita tidur seranjang lagi ya?”
“Mmmh…” dia menggeleng dan tersenyum simpul. Berarti benar, memang hanya mimpi.

Aku segera bangun, pertama kali kulakukan adalah memeriksa PCku. Kucek DVD room, kosong. Recent play, ada. Ku enter, “…I don’t love you, like i did yesterday…” MCR, bukan film hantu thailand. “Ok, just a dream. Foolish dream.. yes…!” meloncat sambil meninju udara.
“Lagi kenapa Vin?” mimik penasaran dan syok tingkat tinggi memenuhi wajah Frans, hehehe…

Ke Rektorat juga pagi itu. Aku sudah mendekati hari kelulusan, tak ada kesibukan berarti. Tinggal mengurus ini itu untuk administrasi. Frans setia menemaniku mondar-mandir ke sana kemari. “Karena akhir-akhir ini kamu sudah cuekin aku dan memperlakukanku seperti pembantu, sekarang kamu harus jadi supirku. Titik.” Tuntutku di suatu cafe tempat kami makan malam Senin kemarin. Dan dia dengan senang hati kusuruh mengantarku tanpa pernah protes, termasuk menungguiku di TKP.

Membuat beberapa orang tergelitik melihat kami. “Cieee mesranya dianterin melulu sama suami… hehe” usil Nira teman seangkatan yang juga sedang ngurusin tetek bengek kelulusan ditemani pacarnya. Atau, “kapan nih undangannya disebar, kayaknya kesetiaannya gak perlu diuji lagi tuh…” seloroh Meirin, menunjuk Frans yang duduk menunggu di depan gedung sekretariat Mahasiswa sambil sesekali menguap ngantuk. Dan banyak lagi gangguan-ganggauan dari kecoak-kecoak itu. Tapi aku happy aja, santaiii…

“Nih, kamu pasti lupa makan kalau udah sibuk kaya gini…” Frans menyodorkan sebungkus burger jumbo.
“Apa nih, gede banget, porsi jumbo ya…?” aku sebal kalau Frans mulai memperlakukanku seperti bocah. Padahal dia yang sering lupa makan kalau lagi kerja.
“Udah, ayo makan, cepetan, keburu dingin ntar. Kamu gak suka burger dingin kan?” Frans mengambil tissue di dasboard mobil, mengarahkannya ke mukaku, dan terus mengusap keningku. Alah maaak… kutepis tangannya.
“Bikin merinding Frans, dilihat orang gak enak, dikirain kita hompimpa lagi…” Frans seperti kaget dengan teguranku.
“Kamu kalau kelelahan, pingsan kan?” Frans berkeras mengelap keningku dengan tissue lainnya. “Terserah orang mo bilang apa… aku gak mau terjadi sesuatu sama kamu.” Tubuhku seperti disiram minuman dingin sekaligus dengan lemari pendinginnya menyegarkan mendengar nasihat Frans yang mirip paksaan itu. Mau tidak mau kubiarkan diriku menerima paket pengelap otomatis bermerek Frans ini.
Untunglah kami sama-sama jomblo, jadi tidak pernah ada gangguan. Frans terakhir kali pacaran delapan bulan lalu sebelum memutuskan pindah ke tempatku. Aku, suer sambar gledek, belum pernah pacaran. “Aaah males gue sama yang manja-manjaan gitu, bikin ribet…” jawaban standardku ke semua orang yang penasaran. Pernah sekali ada adik kelas yang sampai nyamperin, “Kakak gak suka cewek?”
“Ngga…” jawabku singkat. Cewek itu melongo, ekspresi habis dipentung satpam. Kutinggal dia tanpa penjelasan tambahan.
“Suka, emang cewek itu dadar gulung apa, suka..?” curhatku sama Frans malam harinya, Frans langsung ngakak bebas lepas kendali mendengar curhatku.
“Coba lah sekali-kali ngedate, nanti pasti tahu cewek itu kayak dadar gulung atau kue mangkuk… ha.. ha… ha…?” Bletak, jitakan paket hemat mendarat di batok kepala Frans. Aku baru sadar, saharusnya aku tidak pakai perumpamaan dadar gulung, bikin bias dan mengundang pertanyaan nyleneh, jadi geli sendiri.

Frans, selalu memberi arti di hari-hariku. Dalam keseriusan dan ketidak seriusannya, kemanjaannya, perhatiannya, sadar atau tidak disadarinya, kesan istimewa perlahan tumbuh di hatiku.
Kami mesti belanja kebutuhan perut. Frans jadi supir, aku jadi ibu-ibu yang siap menjelajahi supermarket, melata di antara rak-rak besar, memelototi per merk barang-barang yang akan diambil. Frans, dengan sabar mengikutiku sambil mendorong kereta barang di belakangku. Lucu… selesai sudah tugas belanja. Aku ingin langsung pulang, capek nyetrika lantai supermarket.
“Temenin ya…” Frans menunjukkan kantung plastik hitam, pasti isinya kaset film yang mau dikembalikan. Sampai di lokasi, aku ikut masuk ke dalam, sambil baca-baca judul film mungkin ada yang menarik. Tampaknya, Frans sedikit ribut dengan pemilik rental, biasa nego denda sewa, sudah keseringan Frans telat balikin kaset, kalau dikumpul-kumpul denda sewa udah bisa buat pinjam puluhan kaset lagi. Huffff dasar pemalas.

Selesai urusan, Frans langsung ngibrit keluar. Aku menyusul, tapi tunggu, ada sesuatu yang tiba-tiba pengen kulakuin. Aku samperin pemilik rental, “tadi yang dibalikin Frans apa aja Mam?”
“Ini…” dia menggelar beberapa keping film, aah film gituan semua… memang c*bul tuh orang.
“Ok, makasih Mam…”
“Tunggu… ini ada satu masih ketinggal di dalam plastik…” si Mami Rental menunjukkannya kepadaku, seketika mataku terbeliak setengah gak percaya sekaligus heran. Film hantu thailand, persis seperti malam ulang tahunku seminggu yang lalu. Aku memiliki kesimpulan bulat sekarang.

Malam minggu setelah aku wisuda, kami jalan-jalan merayakan kelulusanku. Dan sangat tidak menyenangkan karena harus turun hujan. Tubuhku menggigil, tubuhku mudah sekali kedinginan, tadi kukira hari akan cerah dan kuputuskan cukup pakai T-Shirt. “Ini, pakai ini…” Frans meminjamkan syalnya dan melilitkannya sendiri ke leherku sebelum sempat aku menolak, dia juga mau memasangkan jaketnya sekalian, tapi aku berkeras syalnya saja sudah cukup hangat. “Romantis ya..” Frans nyegir sambil mendekap dan mengusap kepalaku, sambil bergaya seolah kami sepasang kekasih. Memang seperti di film, kami duduk di halte berdua menunggu hujan reda. Berduaan seperti lagi pacaran, pikiranku jadi gak konsen, kemana-mana. Tapi segera kutepis dan menggantinya dengan ngobrol ngalor ngidul. Kami tertawa riang dengan segala cerita lucu, menguar bersaing dengan suasana dingin dan basah yang semakin mencekam. Namun Frans tetap tak sekalipun membiarkan dekapannya melemah.
“Bisa agak santai dikit gak Frans?” aku tolak tubuhnya.
“Nggak…!” tandas Frans tegas, “aku gak mau terjadi sesuatu sama kamu..” tatapan matanya menangkap basah kegugupanku. “Hmmmm… tenang aja… gak ada orang yang liat, hujannya lebat tuh…” dia tersenyum menenangkan seolah aku ini anak ingusan yang baru sekolah.
Frans menatap langit, mengamati dengan serius. “Coba ya Vin, ada bintang. Bisa kita hitung sama-sama. Eh aku punya cerita nih… mau dengerin ga?” aku mengangguk antusias. Mendengarkan ceritanya, memandangi raut wajahnya, gerak bibirnya, senyumnya, malam ini Frans terlihat begitu sempurna.
Saat itulah entah apa yang sedari tadi mondar mandir di sekelilingku tiba-tiba hinggap. Dan dia memberi perintah tanpa aku bisa hindari atau lawan. Tapi aku masih bertanya-tanya, benarkah momen istimewa seperti ini, sekarang Tuhan hadiahkan khusus buatku? Suasana yang romantis, menghanyutkan, sentimentil, lembab dan penuh haru biru ini telah mengantarku pada satu kekuatan. Aku merasa yakin siap mengungkapkan perasaan terpendamku selama ini, yang sudah tumbuh dan indah di hati. Hatiku pun saat itu menjadi lantang dan siap akan resiko manapun yang bisa kudapati setelah ini. Sampailah waktunya, aku, serta merta mencium bibir Frans, “I Love You, Prince..”
Wow, Unbelieveable. Hujan tambah deras hampir kusangka langit telah runtuh, petir dan gemuruh menyesaki angkasa. Pelan-pelan kulepaskan pandangan dari Frans yang tercengang sehingga kaku seperti mayat tenggelam. Aku menunduk dan hanya bisa bilang, “Sorry”. Jantung, ruang dan waktu seketika sesaat berhenti berdenyut, mereka tidak percaya apa yang akhirnya kulakukan. Celakanya, Frans seperti tidak menyangkanya, dan dia tidak bisa menerima. Game over…!
Tidak, bisiknya di telingaku, “I love you too.. my baby…”. Hangat segera merebak rimbun, yang mampu mengusir gundah merek apa saja. Aku balas menatapnya. Frans memelukku. Rerangkulan. Kami terhanyut dalam pusaran bintang-bintang baru, penuh energi untuk tumbuh menjadi bintang besar yang mampu memberi terang pada dunia. Mengajak semua tenggelam merasakan indahnya cinta sederhana kami ini.

Cerpen Karangan: Tobias Bobi
Facebook: Tobias Bobi

Cerpen Sejuta Bintang merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cinta Masa SMA

Oleh:
Ana menatap layar Handphone miliknya dengan derai air mata. Hatinya sedih dan kecewa membaca sebuah pesan singkat yang dikirim oleh seseorang yang sangat ia kenal. “Bukankah sudah ku peringatkan

Last Love

Oleh:
Kring!!! suara jam membangunkan Zahra, yang sebenarnya masih ingin tidur, matahari menembus jendela kamarnya, dengan malas dia mengambil handuknya dan segera mandi. Hari pertamanya sekolah, karena dia baru saja

Bertepuk Sebelah Tangan (Part 1)

Oleh:
Malam minggu di sebuah caffe… “Begini nasib jadi bujangan. Kemana-mana, asalkan suka. Tiada orang yang melarang. Hati senang walaupun tak punya uang, ooh. Hati senang walaupun tak punya uang,”

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *