Sekarang & Selamanya

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Romantis
Lolos moderasi pada: 12 June 2013

Fadjar mulai menjelang, mentari kian menari dari ufuk timur. Tak terasa hari telah berganti sedangkan diriku masih terbaring di atas tempat tidur, menyambut datangnya sinar yang menelusup dari balik tirai jendela. Mungkin inilah waktunya bergegas dari kamarku, hari ini adalah hari sabtu dan seperti biasa yang ada dalam otaku hanyalah dia “tiara” kekasihku yang sangat berharga dalam hidupku. Ku raih ponsel dan segera mengirimkan sebuah sms kepadanya
“selamat pagi tiara sayang… happy weekend.. miss u n love u”
Beberapa menit kemudian, aku mendapat balasan darinya

“pagi.. sayang love n miss u too Aldy.. sayang, Hari ini kita jadi jalan berdua kan?” tanyanya…

“iya sayang… tentu saja, siap-siap ya nanti aku jemput jam 9, tunggu aku.. sayang” kata ku semangat sambil mengetik sms

“ok, aku tunggu.. breakfastnya jangan lupa sayang… obatnya di minum” pintanya yang perhatian

“iya sayang, siap! :)”

Aku mencintainya, tak ada yang lain di hatiku selain dirinya. Aku telah berjanji dengan diriku sendiri, aku takkan pernah ingin kehilanganya dan aku takkan pernah melepaskanya dari hidupku. Jam telah menunjukan pukul 8, diriku bergerak cepat ke kamar mandi dengan hati yang berbunga bunga. Seusai mandi serta berdandan, ku ambil sebuah kunci motor yang telah ku siapkan untuk pergi bersamanya tanpa basa basi dan tanpa mempedulikan perintah bunda, yang bertriak dari arah dapur

“Aldy… makan dulu sayang, obatnya di minum.. al…” sahut bunda berteriak memanggil diriku

“iya bunda… aldy nggak lapar nanti saja makan di luar” jawabku dengan sibuk menyalakan motor

“aldy… tapi obatnya sayang?”

“bunda… aldy berangkat.. assalamualaikum” seruku yang sudah menaiki sepeda motor dan berjalan menjauh dari pintu pagar rumah
Motorku terpacu dengan cepat, hatiku tak sabar bertemu untuk melihat wajahnya dan senyum yang selalu terbingkai manis. Karena telah 4 hari kita berdua di sibukan oleh rutinitas, tiara sibuk kuliah, casting dan modelling. Aku sendiri harus kerja dari pagi hingga malam. Rasa rindu semakin kuat terasa saat perjalanan jakarta menuju bandung untuk bertemu denganya.

Satu setengah jam sudah. Ku tempuh jarak yang memisahkan antara aku dan tiara, akhirnya sampailah di kota bandung dan tak sengaja melewati toko bunga. Aku berhenti sejenak dan membeli setangkai bunga mawar yang indah untuk tiara.
Setibanya di kost tiara, dia telah terlihat menanti kedatanganku di depan kostnya dan menyambutku dengan senyum yang selalu mengagumkan

“subhanallah… sungguh indah ciptaan Tuhan yg ada di hadapanku saat ini” berkata dalam hati dan terfokus menatap kedua matanya

“sayang… kenapa? Kok malah bengong? Yuk kita berangkat” kata tiara yang sedikit bingung melihatku diam terpaku melihatnya

“iya.. sayang maaf, aku hanya merasa tenang akhirnya bisa bertemu dengan tiara sayang lagi” kataku seraya memeluknya dengan erat membebaskan segenap kerinduanku
“tiara cinta aldy” bisiknya dalam peluk ku

Cinta dunia akhirat, begitulah rasa cinta ku dengan tiara. Tak mudah di ungkapkan dengan kata tak bertepi dilukiskan dengan perasaan. Detik hidupku hanya ingin memilikinya, menit nafasku menjadikan saksi cinta ini berpihak, Jam tak berbatas waktu sebagai takdir langkah kita berdua menuju keabadian. Singgasana surga yang menjanjikan akan terajut sempurna bersama cinta kita. Dunia inginku, akhirat mauku.

Ku mengajaknya berkeliling bandung. meski cuaca mendung dan sayup angin mengiringi perjalanan, tapi… itu semua sungguh membuat kita termanjakan oleh rasa cinta. Melewati jalan yang bertanjak, kiri kanan hanya tebing serta jurang yang curam. Berdiri pohon pohon dan bunga liar, menikmati keindahan semesta dengan tiara bagiku adalah kenikmatan yang sangat indah sepanjang hidupku.

tangan tiara tak henti mendekap tubuhku. Dari dekapan lembutnya aku dapat merasakan betapa hatiku dan hatinya menyatu, tak terasa waktupun berlalu. Setelah lelah menghabiskan waktu di atas motor akhirnya matahari senja mengantar kita pada tempat indah bernuansa romantis yang membuat hati seolah berpujangga puitis dan hanya ada kita berdua, ya… tempat itu adalah sebuah bukit yang letaknya berada di utara kota bandung, aku dan tiara memiliki sebutan khusus untuk bukit itu. Kita namakan sebagai “Bukit Bintang” bukit yang selalu berhiaskan bintang kala malam, bukit yang menjadi saksi cinta, mimpi dan angan antara aku dan tiara. Suara gemercik air dari lembah sungai dengan sedikit aroma api unggun, ku genggam erat tangan tiara

“sayang… aldy harap, jangan pernah tinggalin aldy yah” pintaku kepadanya yang sedang nyaman bersandar di bahuku sontak matanya memandangi wajah dan menatap wajahku

“tiara ngga punya alasan buat ninggalin kamu sampai kapanpun… tiara milik aldy”
Jawabnya meyakinkanku yang mungkin membuatku berfikir bahwa aku harus percaya semua ini pasti abadi. Tapi… bagaimana bila tiba saatnya nanti? Entahlah… (suaraku dalam hati)

Angin malam berhembus mesra menciptakan alunan-alunan melodi yang kian tertanam dalam hati. Bulan enggan menampakan sinarnya, hanya terlihat awan hitam tergantung di langit malam. Waktu mengantar kita tepat pada pukul 9, akhirnya aku dan tiara bergegas untuk pulang.
Udara sang gelap menusuk tulangku, ku hempaskan segala rindu serta hasrat ku kala itu. Hanya rasa lelah bercampur bahagia yang terasa, tiara memelukku erat dalam lelapnya. Hujanpun turun di sepanjang perjalanan, Aku berusaha memakaikan jaket ku ke tubuh tiara. Ku takkan membiarkan air hujan menyentuhnya

“sayang… nanti kamu kehujanan nanti kamu sakit sayang.. kamu aja yang pake jaketnya ya sayang” kata tiara yang cemas dengan nada sedikit memaksa

“sayang… jangan khawatir yah, aldy sudah biasa kehujanan yang terpenting adalah kamu tiara sayang” kataku seraya memegang kedua pundaknya dan menatap kedua matanya

“tapi sayang?” sahut tiara yang ku tahu sedang gelisah sontak dirinya memelukku di bawah lampu kota remang redup pinggir trotoar yang mulai sepi dari lalu lalang
“ssst… percayalah denganku, aku pasti baik baik saja sayang.. aldy akan menjaga mu” bisiku di peluknya menenangkan hatinya dari gundah saat itu

Ke esokan hari nya diriku merasakan sakit, seolah membuatku tak berdaya karena teramat sangat sakit. Ponsel ku berdering tanpa henti “Tiara My Sunshine” itulah yang aku lihat dalam layar ponselku, tiaralah yang menghubungiku. Aku tak bisa berbuat apa-apa, apalagi hingga mengangkat panggilanya. Rintihanku begitu kejam untuk diperdengarkanya dan aku tak ingin biarkan dia mendengar, setiap tetes air matanya adalah lukaku setiap rasa kesedihanya adalah kehampaan abadi untuku.
new message from tiara my sunshine (notifikasi dalam ponselku)

“sayang.. kemana saja? Kenapa tidak angkat telfon tiara… sayang baik-baik saja kan? Jangan lupa sholat dan makan teratur ya sayang. Miss u honey”

Entah mengapa hatiku tersentak saat membaca pesan darinya, ingin ku membalas dan mengatakan bahwa diriku sangat sangat merindukan dan mengharapkan dirinya ada di samping ku saat ini. Tak sanggup menahan rasa rindu ku.

Malam tiba menjemput sepi, tak ada bintang yang tertampak tak ada desir angin yg berhembus. Hanya kesunyian hati serta rasa sakit kepalaku yang menemani, bayangan tiara selalu ada dalam lamunanku. Mendekap ku penuh cinta dan kebahagiaan namun ku sadar itu semua hanya bayang-bayang semu. Terdapat 20 pesan lebih yang telah tiara kirimkan di ponselku, semakin hampa ku merasakan semua ini. Tak ada lagi yang buatku tersenyum selain kehadiran tiara
Kudapati hari berikutnya yang semakin senyap, sang mentari meredupkan kilaunya di balik awan seakan mengerti apa yang ku rasakan sehingga hari menjadi mendung tak terhangatkan.

Beberapa jam kemudian ponselku berdering, tiara menelponku berulang kali. Rindu ini ingin sekali mendengar bisik lisanya, antara bimbang dan gelisah ku beranikan untuk mengangkat telfon darinya

“helo… selamat siang.. sayang? Sayang disitu bukan? Helo… helo sayang? Tolong bicaralah sayang… sayang.. sayang…?” tut… tut… tut.. (tulalit)

Aku terbisu tak ada sepatah katapun yang aku ucapkan, bibirku seolah kelu mendengar suara tiara. Rasa takut tiara akan mengetahui penderitaanku terlalu besar hingga ku relakan membuatnya bertanya-tanya daripada membiarkan ia terpukul atas rasa sakitku. Ku jalani sepekan tanpa aktivitas apapun, bersahabat dengan mimpi indahku bersamanya membuatku seakan tak sadar bila mimpi bukanlah kenyataan. Merangkai masa depan penuh bahagia bersama khayal, ku torehkan darah yang senantiasa mengalir dari dalam rongga hidungku pada tembok kamarku. Ku ungkapkan kata demi kata ke dinding kamar yang mungkin bisa menguatkan hari-hariku tanpanya, 3 hari berlalu…
Ku mendengar bunda mengetuk pintu kamarku
“al… bunda boleh masuk ke dalam?” tanya bunda

“iya bunda… masuk saja pintunya tidak terkunci” sahutku..
Dengan perlahan, bunda membuka pintu kamarku. Memandangi setiap sudut dinding kamarku, entah.. bunda hanya berdiri saja menatap dengan serius seakan enggan berkomentar apapun. Beberapa saat ku lihat mata bunda berubah berkaca-kaca dan kedua matanya beralih menatapku penuh batin. Sesaat bunda mulai mendekatiku, duduk di depanku sambil membelai rambutku.
“kamu tak perlu melakukan ini semua.. al sudah beberapa hari mengurung diri di kamar” kata bunda seraya menyentuh dan mengusap wajah ku yang pucat pasi

“aldy hanya ingin menyendiri, berteman dengan rasa sakit aldy mungkin hal itu dapat membuat aldy dan penyakit aldy lebih bersahabat.. bun” kataku yang tak bisa menyembunyikan apa-apa lagi selain sakit ku, air mata ku menetes saatku tatap bunda. Kemudian bunda memeluku, semakin deras air mata ini di peluknya seakan takut takkan bisa lagi merasakan kebersamaan dengan orang yang berarti dalam hidupku

“kamu harus kuat.. sayang kamu harus bertahan, bunda tau putra bunda anak yang kuat” kata bunda dalam peluku yang ku tahu sedang menangisi keadaanku

“aldy janji akan bertahan.. bertahan untuk bunda dan bidadari aldy yang senantiasa menunggu aldy di sana”

“bangkitlah al… jangan seperti ini, jangan hentikan hidup hanya karena sakit nak” tukas bunda melepas peluknya dariku dan meyakinkan aku.

Hangat sang mentari telah kembali, rupanya pagi menyapa dengan nirwana. Meski rindu ini pada tiara masih menyiksa tapi diriku bersyukur karena aku masih di beri kesempatan oleh Tuhan untuk merasakan dalamnya cinta dengan tiara. Entah.. rasanya pikiranku ingin selalu menuliskan bait-bait puisi untuk tiara terkasih, aku tahu diriku bukan seorang pujangga aku juga bukan penyair yang pandai merangkai kata cinta. Diriku hanyalah seorang manusia biasa yang memiliki cinta apa adanya, ku ambil pena dan ku ambil sebuah diary hati

Lirikku pada suasana yang tak terbantah
Sesekali terpaku pada tunduknya nestapa yang merebah
Ketika tanya menyeruak pikir pada banyaknya kisah
Tak menyadar tatapan ibarat kosong tak bertingkah

Khayalku pernah berkata…
jika tak dapat raga berjalan
kukan terbang saja menuju langit
Jika tak berdaya suara tuk menjerit
mungkin jiwa tengah rasakan sakit

Tatapan ke arah suara yang hilang
Terapung makna saat terbentur pada gelombang
Masih terdiam pada satu bintang
Tak bergeming meski akhirku nanti tlah datang…

To : Tiara “My Sunshine”

Hari itu ku dengar kabar dari salah seorang teman kampus tiara, hari sabtu nanti tiara akan mengikuti kontes modeling. Maksud hati ingin sekali bertemu tiara dan hadir di event yang telah ia impikan selama ini. Aku bahagia namun di sisi lain ada rasa sedih tersendiri yang kurasakan, pikiranku kacau seketika tak tahu harus bagaimana. Ingin ku buang segala deritaku dan memeluk tiara sekarang juga dengan tenang dan bahagia. Aku sendiri yang berjanji takkan pernah meninggalkanya, kenyataan berbicara aku sendirilah yang mengingkarinya. Pada pijakan takdir yang memaksa, keharusan itu kurasa pahit. Inilah kekalahanku, kalah akan hebatnya penderitaanku.

Satu setengah bulan sudah, ku tanggalkan semua harapan, kulepas segala langkah tentang tiara. Membebaskan ia dari hidupku salah satu bagian terhampa di penjuru jiwa ini, aku hanya ingin lalui detik akhir tanpa membuatnya terluka. Tiga minggu belakangan ini merasa jenuh. Betapa Tidak? hanya ku habiskan menatap sekotak ruang putih pasi dan sebuah infus beserta selang juga monitor yang melukiskan setiap detak jantugku, Hari itu para sahabatku datang mengunjungiku di RS tempat aku di rawat.

“hey hey hey… al!!!” sapa ketiga sahabatku

ku hela nafas sejenak dan membingkai senyumku “kalian ini bisa aja kalo bikin gue kaget.. masuk enggak ketuk pintu dulu” kataku…

“kalo ngetuk pintu itu bukan surprise namanya, gimana keadaan lo al? temen kerja banyak yang nanyain lo” ucap Alvin sahabat baiku yang juga sepekerjaan denganku

“sudah berapa lama di rs? Pasti sudah lama deh.. nape sih al, lo kaga kabarin kita-kita” sahut vino yang mungkin sedikit kecewa karena sikapku yang tertutup akan sakitku

“kita ini satu sahabat al.. jadi kalo lo ada apa-apa, cerita aja sama Alvin, vino or gue. Kita siap bantuin lo.. jangan ngerasa ngerepootin. Ok” pungkas Joe dengan semangat yang mengerti keadaan kala itu

“nih ada surat dari tiara, kasian dia al.. cari-cari alamat lo, pindah rumah nggak bilang-bilang” kata vino sambil mengulurkan tangan ke arahku yang terdapat secarik surat dari seorang tiara yang ku cinta

Vino menepuk pundak kananku mendadak seolah tanda memberikan semangat untuku saat keadaan yang mulai menyendu “sudah al.. lo yang kuat ya, gue vino and jo selalu berdo’a buat kesembuhan lo” ucap alvin sobatku itu. “oke makasih banyak dari gue vin buat kalian yang baik banget sama gue, tiara gimana? Kabar dia baik kan?” tanyaku serius yang ingin tahu apa saja yang terjadi denganya saat aku tak lagi dalam kehidupan tiara

Mereka tertegun sejenak tanpa ada sepatah kalimat yang dapat mereka lontarkan seperti seseorang yang berpikir terlihat jelas dari wajah ketiga sahabatku tersebut “sebelumnya gue minta maaf al, gue baru bisa kasi tau ke lo.. sebulan lalu tiara berangkat ke new york, dia ada kontrak show disana 2 tahun” Ujar Alvin kepadaku
Hening.. pikiranku seolah baru saja trsambar kerasnya petir, hancur lebur sudah perasaanku. Yang aku tahu 2 tahun bukanlah waktu yang singkat. Batas goyangan prahara jiwa tak kunjung surut Seperti tak bertepi Tak bisa berhenti Kegoncangan diri yang terus berkecamuk Terbakar dan tersulut jubah ketakutan

“kita pamit dulu al… salam buat bunda lo.. tetep semangat ya friend” Pamit mereka yang segera bergegas meninggalkan ruang rawatku. Kini tinggalah aku sendiri dalam balutan sepi. Lembaranku putih tak bernoda seutas tali kuikat di pergelanganku Mengikat erat janji setiaku pada satu Hati, dan satu rasa yang ku beri, Ku memilihmu karena tak sedikitpun nurani menemaniku. Suara nyanyianya untukku masih teringat di sela
sela kesunyian ini, Bisik canda tawanya masih ku kenang dalam benak ini, Hari hariku mulai tanpa adanya dirinya. Aku terlalu cinta Tiara, akhirnya ku beranikan untuk membuka surat dari tiara dan ku putuskan membacanya

From : Tiara
To : Aldy –beloved-
Mei, 27/2013

Air mata tak lagi perlu dicari dengan sendirinya ia datang bersama Isak yang tertahan.. simbah peluh yang membuatnya riuh, dikejar keluh dan kelu. Melayang menuruti rindu sampai ke ujung angkasa…
Kecup demi kecup menjejak, meski telah sekian pekan berlalu. Kini dinding kamar kita yang terus menggemakan lagu kesukaanmu, masih menunggumu yang biasa dengan telinga terbuka.. mata terpejam bersama mimpi-mimpi indah
Dengar bisiku, kau.. yang nan jauh, apa jg lihat bintang kejora yg kita suka? Bulan sepotong cantik yg membuat kita selalu enggan meninggalkanya sendirian.
Dia menggantung di raya sana, kita berdua di beranda.
Setetes demi tetes rinduku jatuh, menantimu dari merah hingga maron. Sampai rindu menjelma haru…
Apa kabar sayang? Mengapa kau meninggalkan aku bersama berjuta janji yang telah kau ucap dengan pasti… adakah jawaban dari seutas harapan yang ku damba bersamamu dahulu? Baiklah.. dengan mencintaimu cukup bagiku “Aldy”
Baik baiklah kau di sana.. dimanapun engkau berada dimanapun aku berada “Cinta ini selalu setia”

Cintamu “Tiara”

Air mata mengiringi setiap bait kalimat kalimatnya, bercak darah menetes jatuh pada selembar kertas putih itu. Kini surat itu telah bernoda merah semerah dalamnya cinta ku untuk tiara. Dalam gerimis di kota hujan sepasang mata menatap tanpa asa langkah bisu tak berpangkal selusuri cahya suram Wahai sang putri sanggupkah kau berjalan seiring nada tanpa cinta, senandung batinku. Aku adalah ombak semuderamu yang lari datang bagimu, hujan yang berkilat dan berguruh di mendungmu. Aku adalah wangi bungamu, Luka berdarah-darah durimu, Semilir bagai badai anginmu.

Suara geser pintu ku dengar, ku lihat bunda yang membuka pintu dan berjalan mendekati baringanku “bingkisan dari siapa ini al? siapa yang datang tadi?”
Tanya bunda. Berlama lama aku menjawab pertanyaan bunda seakan tak ingin berbicara sepatah katapun seusai ku membaca surat dari tiara. Ok, aku akan menjawab karena tidak sopan juga bila aku tak merespon bunda sendiri “Alvin, vino sama joe.. bun”
seruku tanpa gairah sedikitpun.
“oh.. kamu kenapa al, tiba tiba murung seperti ini nak atau kamu belum makan dan minum obatnya?” Tanya bunda yang enggan aku jawab seraya membelai wajah pucatku
“Tidak bunda.. aldy baik baik saja kok, bunda jangan khawatir ya” tegasku kepada bunda membebaskan segala rasa khawatirnya.

Malampun menjelang dengan tega, kulukiskan sebuah bisikan hati. Mutiara hati
Di lebat mendung ini jinggamu tak dapat kau tebarkan lagi hanya di kejap pelupukku kau menanggalkan puisi. Semoga kepedihanmu tak kau sertakan di sunyiku nanti malam
Biarkan puisi-puisi bersenggama dalam rinai sunyi agar menyatu hangat paruh rindu di setapak jalan menuju sejukmu. Dalam hening yang berkuasa Aku diam bertekuk lutut Pada sebuah rindu yg terpaut.
Ketika raga ini terlalu lelah dengan infus serta selang yang membuatku terpasung di tempat ini, saat itupun pikiranku tergerak ingin merangkak sejauh mungkin dari apa yang mengharuskan diriku terpaku. Lepas infus, cabut semua selang yang ada pada tubuhku. Aku segera keluar dari tempat yang menyesakan batinku itu, Tak ada tujuan tak tahu haru kemana aku berjalan. Entahlah.. langkah ini kosong penuh kelu dalam sorot takdir, pijaku bertungku pada sebuah tempat. Tempat yang biasa aku dan tiara bersama merangkai kata cinta “Bukit Bintang” itulah rumahku, rumah kesetiaanku dengan tiara. Karena hidupku akan terus berjalan, merenung untuk menyadari kekeliruan. Agar jangan takut mencoba berjalan sendiri tanpa tiara lagi Biarkan cintaku yang dewasa memberi kesempatan menimbang cintanya. Agar pagi berikut dia akan terbangun di tempat yang tepat Di samping orang yang sebenar-benarnya ia cintai.
Cukuplah aku dan Tuhan yang tahu apa yang terjadi, sepenuhnya ku takkan pernah hilangkan rasa cintaku hingga maut.

“Maafku untukmu bunda” sebuah sms yang ku kirimkan kepada bunda. Setelah itu ku nonaktifkan ponsel seketika, aku tak ingin satu orangpun menemaniku disini. Benaku Hanya mengiijinkan bayang tiara yang menyanding mesra di dekatku malam itu dengan sedikit alunan syair pujangga teristimewa yang ku persembahkan kepadanya. Tak akan ada mampu merubah percintaan kita di kemudian harinya, Cintaku yang terlahir kala mentari menyapa hari. Sinarnya mungkin sama dengan cahaya yang menyinari cintamu, juga menerangi sukmaku. Kuterangi hatimu dan kuhapus segala gundahmu Tiaraku. Kukirimkan kehangatan cinta untukmu selalu, Cintaku sehangat sinar mentari
Yang hangatnya menghidupkan bumi.
Subuh telah menjemput, ragaku seakan kaku. Nafas ini berhembus seperti terantai denyut nadi yang tak mudah mengalir bersama dingin pekat kabut menyelimuti. Mata terpejam dan ku enggan membukanya kembali. Inilah singgasanaku, istana keabadian yang telah ku jadikan sebagai tempat terakhirku. Disinilah pusara jasadku sekarang dan selamanya

3 Tahun kemudian…
Tiara terlihat datang mengunjungi “Bukit Bintang” meratapi kenangan antara dia dan aldy yang mulai pudar terkikis laut ingatan, Pohon Cintanya dengan aldy masih berdiri kuat sekuat rasa cinta keduanya. Pohon yang dulu menjadi tempat bersandar aldy dan ia kala bersama, tiara menemukan sebuah botol kaca yang berisi selembar kertas tepat di bawah pohon cinta. Tanpa sabar tiara lekas membukanya yang ternyata tak lain dan tak bukan adalah sepenggal surat dari cintanya yang telah tenang di surga “Aldy”
Only you “Tiara My Sunshine”

Ini adalah lembar surat untuknya yang disampaikan angin,
sedang aku tak sempat menyampaikan padanya. “Entah, entahlah…” Aku enggan gundah, biarkan aku mengadu ihklas pada desah nafas yang kau hembuskan. Biarkan aku terpaku membawa lembaran risalah yang tak bisa engkau maknai.
Aku hanyalah sesosok bayang yang datang atas nama rindu, ketika perih meracuni sekujur jiwaku. Lantas, cinta itu datang tiba-tiba, yang di antara kita tak pernah berencana akan itu. Kemudian aku wakilkan sejarah nyata di atas tiap-tiap lembar berdarah, tiap detik-detik tak tersisa, sepanjang siang dan malam.

Aku mencintaimu, sebagaimana yang kau tahu dan memahaminya dari setiap kelebihan dan kekurangan. Aku tetap menunggumu di sini sehingga kepulanganku di sana: Menemuimu, seperti yang kita ikrarkan bersama, yang hanya Tuhan saja yang tahu atas isi hati kita. Kita pernah bermandikan air mata, kita juga pernah bercanda tawa bersama, lantas aku dan kamu hadir dalam mimpi, mimpi yang sukar kita mengerti, mimpi yang lebih nyata dari pandangan serta pendengaran. Dia adalah Mu “Tiara” ku, yang terlahir dari kelopak impian. Dia sang pujaan yang menguntum di tebing hati yang semerbak aroma kerinduan. Bagiku, air matanya adalah gumpalan rasa yang tependam, melukiskan sejuta kisah impian. Aku dan dia menjadi satu cerita, merangkai berjuta makna di antara senyum yang berduka, diam dalam renung. Dia, sesimpul bait syair yang tak luruh pada musim, aksara yang melantunkan gejolak hati dan kehidupan, dia adalah sang pujaan cinta di tahta kerinduan, bagiku.

Lantas, aku kembali termenung. Menggerus seluruh tinta di seraut hamparan hati yang gundah, pada sepi dan kerinduan.
Tiaraku… lewat selembar surat ini, saksikanlah kesungguhan yang dikatakan hati. Kata maaf tak dapat ku sampaikan langsung dihadapmu, Maafkan aku yang pergi meninggalkanmu, dengarlah aku Bahwa langitku kini enggan berbintang dan takdir yang kusampaikan hanya untukmu disana. Aku enggan menutup jendela, biarlah petualang ini sejauh sosokmu berada, namun ia selalu berselimut sunyi.

Kali ini biarkan ku cerita soal kupu kupu yang hinggap di kelambu ranjangmu, dia juga rindu pada persua’an yang menggebu. Juga tentang cakrawala yang memujamu, dia tak ingin kehilangan senyumanmu
“DIA” itulah aku “U’re Beloved Aldy”

END

Cerpen Karangan: Raffa Gerraldy
Facebook : Raffa Katak Kodok (Facebook/raffapangeran.katak)

Cerpen Sekarang & Selamanya merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Bukan Benci tapi Cinta

Oleh:
Andin, itulah nama panggilanku di sekolah. Dulu aku dan dia begitu dekat bahkan mirip orang pacaran karena kami memang satu kelas. Dia adalah Evan. Tapi semua itu hanya kenangan

Pelangi Setelah Hujan

Oleh:
Namaku Fadara Anastasha. Semua orang sering memanggilku Dara. Aku ditakdirkan menjadi wanita yang memiliki kekurangan. Aku Lumpuh sejak lahir dan tidak akan bisa berjalan selamanya. Entah kenapa aku sangat

Penghapus Perih

Oleh:
Ku tatap langit sore hari itu. Warna jingga disertai mentari yang bulat kehitaman mulai untuk terbenam. Yah, sunset pun tiba. Angin membelai tubuhku begitu indah. Kupejamkan mataku sejenak menikmati

Cinta Terlarang

Oleh:
BRAKKK!!! Rabu pagi yang cerah itu dikejutkan dengan suara ribut-ribut dari kantinnya Bu Asih. Suasana kantin yang asalnya riuh rendah, penuh dengan celotehan anak-anak SMA 3 Palangka Raya tiba-tiba

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Sekarang & Selamanya”

  1. aiu says:

    bacanya sambil pegangan tisu mulu.cuma inget z sama abi ku tersayang yg slalu sabar menemaniku.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *