Sekelumit Kisah Masa Lalu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Keluarga
Lolos moderasi pada: 3 January 2017

Dulu, setiap kali aku menonton sinetron atau film yang alur ceritanya rumit, aku selalu berkata, kelak aku tidak mau menjalani kehidupan seperti itu. Kelak aku harus bisa menjalani hidup dengan bahagia, dengan sedikit masalah dan sempurna. Hidup ini hanya sekali, dan aku harus menyelesaikannya dengan baik.

Sepertinya obsesiku dengan kehidupan seperti itu perlahan mulai terwujud. Aku berhasil menyelesaikan tahap demi tahap usiaku dengan baik. Setelah lulus dari salah satu SMA favorit di kotaku, aku melanjutkan ke tingkat yang lebih tinggi. Di usiaku yang ke 21 aku berhasil menyelesaikan studyku di bidang bisnis dengan nilai cumlaude.

Bermodal keluarga yang cukup berada, juga sahabat-sahabat yang baik hatinya, aku mencoba peruntungan dengan membuka usaha katering. Atas bantuan mereka, tak butuh waktu lama usahaku pun sukses.

Hidup bahagiaku semakin lengkap ketika Aldo, lelaki tampan pengusaha otomotif meminangku. Perkenalanku dengan Aldo sebenarnya relatif singkat. Hanya tiga bulan kami berpacaran. Awalnya karyawankulah yang mengenalkanku padanya. Saat itu karyawanku memenagkan tender katering untuk grand opening showroom mobilnya. Aldo orangnya baik dan perhatian. Keluarganya juga baik. Tapi yang pasti Aldo sangat mencintaiku.

Sekarang usia pernikahanku memasuki delapan tahun dan sudah dikaruniai dua anak laki-laki yang lucu dan tampan. Selama ini pernikahanku selalu dalam titik aman. Kalaupun ada masalah, aku dan Aldo selalu bisa menyelesaikannya dengan baik dan selalu ada jalan keluar yang tepat Sayangnya, kebahagiaan hidup yang sudah kurajut selama 29 tahun ini secara tiba-tiba diterpa badai.

Bermula dari malam itu. Aldo pulang ke rumah bersama seorang perempuan. Kira-kira usianya sama denganku. Perawakannya kurus tinggi. Wajahnya kusam tidak terawat. Berbeda 100% denganku yang setiap bulan rajin ke salon.

“Malam semuanya.” sapa Aldo.
Semua orang menatap Aldo. Begitu juga aku. Malam itu rumahku memang sedang ramai oleh keluarga besarku dan Aldo. Aku baru saja menyelenggarakan pengajian hari Jum’at.
“Ini Rani.” kata Aldo kemudian. Perempuan bernama Rani itu tersenyum lalu mengangguk. Cantik sebenarnya. Akan lebih cantik kalau dia dipoles make up.
Ibu mertuaku mendekati perempuan itu. “Kenapa kamu muncul lagi?” tanyanya penuh emosi. Perempuan itu diam. “Kenapa?” suara Ibu mertuaku meninggi. Kali ini kedua tangannya menarik baju perempuan itu hingga perempuan yang sepertinya tidak berdaya itu hampir terjatuh. Aku segera menghampiri Ibu dan menenangkannya. Semua orang yang ada di ruangan itu ikut menenangkan.
“Apa maksud semua ini?” sekarang Ayah mertuaku yang ganti bertanya pada Aldo.
Aku sendiri sebenarnya masih bingung ada masalah apa ini. Kenapa ruangan ini tiba-tiba mencekam. Bahkan Aldo meminta Alim, adik iparku membawa kedua anakku untuk menyingkir. Setelah itu mulailah ramai celotehan dan umpatan dari saudara-saudara Aldo yang ditujukan untuk Rani

“Ayah, Ibu, saya bisa menjelaskan semuanya.” suara Aldo pelan. “Saya menemukan keberadaan Rani satu tahun lalu. Saat itu saya belum terlalu yakin kalau dia Rani. Bulan demi bulan saya terus memata-matainya. Dan akhirnya setelah saya yakin kalau dia adalah Rani, saya memberanikan diri menemuinya. Nah, Ran, sekarang biacaralah pada keluargaku apa yang terjadi selama ini.”
Rani sedikit ketakutan, tapi dia tetap bicara. “Maaf Pak, Bu, mungkin kehadiran saya sekarang mengganggu kehidupan kalian.” Aku masih terus bertanya, siapa sebenarnya perempuan ini? Ada hubungan apa dengan keluarga Aldo? Aku berpikir kenapa seperti cerita sinetron yang sering aku lihat.

“Hari itu sepulang mengantar mas Aldo ke airport, dua orang yang mengaku suruhan papa saya mendekati saya. Mereka bilang papa sekarat dan masuk ICU. Saya tidak menyangka kalau kedua orang itu adalah penculik suruhan pak Iwan musuh papa. Saat itu saya dibawa ke suatu tempat yang asing. Dengan mata ditutup saya dianiaya lalu dibuang ke tengah hutan. Saya terbangun dan sudah berada di sebuah rumah pedesaan. Disana saya dirawat sepasang suami istri yang sudah renta. Saya bersyukur. Saya pikir saat itu saya sudah mati. Tetapi saya sangat sedih. Karena saya..” kalimat Rani terhenti. Tampak dia menyeka air matanya. Kata-katanya tertahan. “Sa-saya.. Tidak bisa menyelamatkan bayi saya.” sontak seisi ruangan melongo kaget.
“Bayi? Jadi saat itu kamu..?” selidik tante Dian sepupu Aldo.
“Iya, saya baru tau kalau ternyata saya hamil anak mas Aldo. Usianya kira-kira baru dua minggu. Maaf, saya tidak bisa menyelamatkannya.” air mata Rani menetes. Dan aku masih saja diam tidak mengerti. Begitu juga keluargaku. Aku melihat guratan tanya di kening mereka. Kejadian ini? Rani? Bayi? Apalagi?

“Saat itu saya ingin kembali ke Jakarta. Tapi saya mengurungkannya. Saya masih ingat kalimat yang diucapkan penculik itu. Mereka ingin membunuh saya karena anak pak Iwan sangat mencintai saya dan tidak bisa melupakan saya. Hingga pak Iwan tega melakukan ini pada saya agar anak pak Iwan tidak memikirkan saya lagi. Saat itu saya tidak bertindak apa-apa. Saya takut sesuatu terjadi pada orang-orang terdekat saya khususnya papa, mama dan mas Aldo. Saya minta maaf sudah merepotkan banyak orang untuk mencari keberadaan saya.”
“Dan sekarang kamu muncul untuk menghancurkan ketenangan keluarga kami? Setelah bertahun-tahun kamu menghilang tanpa kepastian?” gertak Ibu mertuaku.
“Oh, tidak, tidak, Ibu. Saya sangat menghormati keluarga ini. Saya hanya ingin meluruskan kesalahpahaman ini. Tujuan utama saya hanya ingin kembali kepada keluarga saya. Saya hanya ingin balas dendam pada pak Iwan atas ketidakadilan ini.”
“Ayah, Ibu, Rani tidak bersalah. Dia hanya korban dan kita seharusnya membantu dia. Sementara biarkan dia tinggal disini agar dia bisa tenang dalam menentukan sikapnya.” kata Aldo.
Apa? Tinggal disini? Rani? Tiba-tiba kepalaku pusing. Aku berlari ke kamar.

Di kamar aku menangis sendirian. Mengartikan setiap kata yang diucapkan Rani. Aku menyimpulkan satu hal, bahwa Aldo dan keluarganya telah membohongiku. Selama delapan tahun aku hidup dalam kebohongan mereka. Padahal aku menilai keluarga ini adalah keluarga baik-baik. Kenapa kisah hidupku seperti sinetron? Apakah akan indah pada akhirnya? Atau akan menjadi rumit dan tak berujung?

Aku menghapus air mata begitu Aldo hadir di hadapanku. Berulangkali dia minta maaf atas kejadian ini. Aldo menjelaskan kembali padaku kalau sebelum menikah denganku, dia pernah menikah secara siri dengan Rani. Itu karena Aldo saat itu akan segera bertolak ke luar negeri untuk melanjutkan kuliah. Setibanya di luar negeri, Aldo diberi kabar kalau istrinya hilang tanpa jejak. Pencarianpun dimulai namun hasilnya nihil. Dan sejak hari itu semua orang menganggap bahwa Rani telah meninggal. Apapun alasannya aku masih tidak terima. Mereka anggap apa aku ini? Apakah memang aku tidak pantas untuk mengetahui rahasia keluarga ini? Lalu buat apa saling terbuka kalau akhirnya tetap saja ada ketidakjujuran. Ada rasa sakit di hatiku menerima kenyataan bahwa suami yang aku cintai pernah mempunyai istri di masa lalunya. Dan parahnya aku tidak tahu itu. Lalu sekarang aku harus menerima kenyataan wanita itu ada di sini, di hadapanku.

Hari berlalu. Di dalam hatiku sebenarnya tidak ikhlas menerima kehadiran Rani, tapi di sudut hatiku hatiku yang lain aku harus mengikhlaskan kehadirannya. Aku mencoba berpikir positif. Mungkin Aldo punya alasan sendiri untuk memendam masa lalunya dariku dan hingga waktunya dia akan mengungkapkannya. Dan inilah saatnya.

Terus terang aku sangat cemburu melihat kedekatan Rani dan Aldo. Aku sadar Rani masih tetap istrinya karena Aldo belum menceraikannya. Namun saat kegalauanku dirasakan Aldo, dia selalu menenangkanku dan meyakinkanku bahwa hanya aku yang dicintainya sampai kapanpun. Hubungannya dengan Rani hanya sekedar partner untuk misi balas dendam Rani. Namun tak bisa dipungkiri masih terbesit rasa tidak mungkin kalau Aldo hanya mencintaiku. Rani datang lebih dulu di kehidupannya. Dulu dia sangat mencintainya. Masa iya rasa itu berlalu begitu saja setelah aku hadir? Tapi aku mencoba percaya karena selama ini aku tidak melihat gelagat aneh Aldo untuk menduakan aku.

Selama ini Rani sangat baik padaku. Sikapnya hangat. Kepada keluarga dan anak-anakku juga sama. Tapi entah kenapa aku masih saja berpikir negatif kepadanya. Jangan-jangan ini salah satu trik supaya bisa merebut kebahagiaanku.

Oh, Tuhan kenapa semua yang kupikirkan menjadi rumit? Membuat kepalaku hampir meledak. Dosa apa yang kuperbuat Tuhan? Aku harap ini cepat berlalu.

Satu tahun kemudian.
Sepucuk surat tergeletak di meja kerjaku. Surat dari Rani.
“Aku tahu perasaanmu, Sinta. Aku tidak menyangkal, rasa itu pasti ada di dirimu. Rasa khawatir, cemburu dan takut kehilangan. Tapi tenanglah Sin, ini hanya sekelumit masa lalu yang diungkap kembali sebagai salah satu proses pendewasaan kita. Aku tahu Sin, kamu orang baik. Bahkan mendekati sempurna. Aku bisa merasakan itu. Aku hadir tidak untuk merebut kebahagiaanmu. Aku hanya ingin menyelesaikan misi yang sudah bertahun-tahun kupikirkan. Terima kasih telah membantu melancarkan misi ini. Terimakasih untuk semua yang sudah kamu berikan. Terimkasih untuk keluarga besarmu yang sudah mau menerimaku kembali. Sekarang kurasa semua sudah selesai. Aku kembalikan lagi hakmu dan aku tidak akan meminta atau mengganggunya. Ketahuilah aku juga sudah tidak ada rasa apapun pada mas Aldo. Rasa itu sudah terlanjur terkikis oleh rasa dendam yang kurasakan pada orang lain. Sekarang dendam itu sudah terbalaskan dan aku juga sudah menyelesaikan hubunganku dengan mas Aldo. Aku sudah dicerai olehnya. Mulai sekarang semua akan berjalan dari nol lagi. Berbahagialah dengan mas Aldo dan keluargamu. Aku juga akan kembali pada keluargaku dan menjalani hidup di tempat lain dengan tenang. Kelak jika kita dipertemukan lagi anggaplah aku sebagai orang baru. Peluk hangat dan cinta dariku.. Rani.”

Tak terasa air mataku menetes. Aku sadar telah melakukan kesalahan pada Rani. Telah banyak berpikir buruk tentang dia. Padahal sebenarnya dia adalah orang yang baik budinya. Hanya saja dia tak seberuntung aku. Dia telah menjalani separuh kehidupannya dengan pahit. Oh, Tuhan, ampuni aku, inilah hikmah yang bisa aku petik, bahwa hidup tidaklah selalu lurus. Bahwa Engkau telah menunjukkan padaku kalau obsesi hidup bahagiaku terlalu tinggi tapi belum tentu bisa kuwujudkan.

Terima kasih Tuhan, engkau telah mengirimkan Rani dalam kisah hidupku agar aku bisa menjalani hidup dengan sempurna. Suatu saat jika aku dipertemukan lagi dengan Rani, aku tidak akan membiarkannya pergi dan tetaplah di sini Rani, bersamaku.

Cerpen Karangan: Diyah Ika Sari
Facebook: dyahdeeadalahsarikecil
Saya hanya seorang Ibu Rumah Tangga yang kebetulan mempunyai hobi menulis. Semoga salah satu karya saya ini bisa berkesan dan bisa diterima pembaca semua. Terima kasih.

Cerpen Sekelumit Kisah Masa Lalu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Batu di Balik Udang

Oleh:
“Felly! Ini berkas yang lo butuhin untuk stock barang dari para klien,” kata Riska dengan menyerahkan map berwarna biru. “Hmmmm.. tumben banget cepet kerjaannya. Biasanya, lo selalu molor kalau

Cinta Tanpa Syarat

Oleh:
“Astaga, Mir. Setiap hari aku pusing bener sama itu orang.” bentakku dari dalam kelas. Masalah yang ruwet sekali, setiap hari menggangguku. “Siapa yang kamu maksud itu? Jason?” Aku mengganggukkan

Sulut Kehidupan

Oleh:
Aku memulai pagi hari ini dengan senyum di wajah. Hari ini merupakan hari yang kunanti-nantikan sejak sepuluh tahun yang lalu. Sepuluh tahun bukan merupakan waktu yang singkat untuk dilewati,

Antara Cinta dan Persahabatan

Oleh:
Cinta adalah hal yang lumrah di kalangan manusia, bahkan karena cintalah kita berada di dunia. cinta itu adalah lima huruf yang bergandeng indah, tetapi ia tak selalu indah. banyak

Cinta yang Kembali Hadir!

Oleh:
“tuuut tuuut tuut”,,handphoneku berdering menandakan tanda pesan masuk,ku lihat nama kontak yang tertera ,,hati berdebar ada perasaan yang merasuk di dada, ku takut perasaan itu muncul kembali… merusak apa

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *