Sekolah


Share

Cerpen Karangan:
Lolos moderasi pada: 6 April 2013

SEKOLAH… sebagian besar disini aku belajar hidup. Mencari teman, mendapatkan sahabat, menemukan cinta, dan memiliki pengajar yang emosional atau selera humor yang beragam. Tiap pagi, ku ikat tali sepatuku sesaat setelah sarapan dengan keluargaku (lebih tepatnya terburu-buru). Berjalan menyusuri jalan yang ramai menuju sekolah. Kala itu aku masih kelas 1 SMP dan memiliki jaringan pertemanan yang luas karena sifatku yang apa adanya dengan suara cempreng dan wajah ceria. Dari pertemanan itu, aku mampu menemukan kawan yang cocok untukku, mereka 4 orang sahabatku (Anti, Ririn, Nia dan Wana). Mereka bukan lagi teman biasa bagiku, mereka saudaraku yang tak sedarah, tak serupa, dan tak sesifat tapi kami cocok. Tiap hari kami bertemu, sampai orang tua kami risih. Di sekolah, pulang sekolah, siang hari sampai sore hari kami selalu bertemu. Kadang kami juga tak langsung pulang, sering sekali kami sengaja makan siang di salah satu rumah teman. Bahagia? Jelas…! Siapa anak yang tidak ingin memiliki sahabat karib? Semua mau. Namun, tak ada sesuatu yang berjalan mulus. Di antara kami (seringnya aku sih) sering bertengkar, saling menuduh, saling diam, tapi itulah sifat.. beruntunglah kami memiliki seorang Nia, yang paling sabar, tak pernah ambil pusing, lucu, bisa selalu mencairkan suasana.

Masa SMP kami lalui dengan banyak rasa. Setelah lulus kami melanjutkan ke Sekolah Menengah Atas. Kami tak lagi satu sekolah. Aku, Anti, dan Wana masuk SMA sedangkan Ririn dan Nia lebih memilih SMK. Tapi sekolah kami sangat dekat, jaraknya hanya 10 meter di seberang jalan. Seperti sebelumnya, kami selalu bertemu sepulang sekolah. Jika di tanya, BOSAN? Tidak, kami tak pernah merasa bosan dengan kebiasaan ini. Kebanyakan orang mengatakan kami aneh, tapi inilah SAHABAT. Tak ada rasa aneh dengan kami. Hanya mereka yang tak memiliki sahabat saja yang mengatakan seperti itu. Inilah fase dimana perasaan cinta dengan laki-laki mulai tumbuh. Kelas 2 SMA aku sudah mengenal perasaan cinta. Aku tidak tau ini terlambat atau terlalu cepat, tapi ini adalah hal wajar bagi anak muda seperti kami. Namanya Ditya, dia senior tapi beda sekolah (tepatnya dia satu sekolahan dengan Nia dan Ririn). Pertemuan kami di sengaja oleh satu teman perempuannya. Kami dekat 3 bulan, lalu jadian. Dia adalah tipe lelaki yang baik, dia selalu mengalah, sangat sangat jujur, cemburu yang besar, dan lebih sering merepotkan aku. Tapi aku menikmatinya, hehehehe. Di mata teman-teman juga kami cocok. Tapi beda lagi di mata kakak laki-laki ku. Ditya tipe laki-laki yang terlalu baik untuk aku, aku sangat sering membuatnya menangis dan kakakku benci aku begitu pada Ditya. Bagi dia, aku tidak cocok dengan orang yang sesabar itu. Tapi aku tetap menyukai Ditya, aku merasa cocok dengannya. Tiap pagi, kami pergi dan pulang sekolah bersama. Kami bahagia. Sampai 11 bulan kami bersama akhirnya dipisahkan oleh rasa kebosananku dengan sikap terlalu sabarnya. Lagi-lagi perpisahan ini membuat dia menangis, aduuh.

Ditya adalah cinta pertama sekaligus pacar pertamaku. Selama putus, kami tak pernah lagi bertemu. Meskipun dia memaksa ingin bertemu. Setelah lulusnya, dia kuliah di kota dan kami benar-benar tak memiliki hubungan apapun lagi. LUPAKAN. Aku berniat tak mencintai lagi.

Kelas 3 SMA. Inilah fase dimana siswa memaksa untuk serius belajar.. (hehehe lebih tepatnya kami, selalu menomor duakan pelajaran). Kami telah mencapai ujung perjuangan di putih abu-abu. Jika gagal, wah BAHAYA. Ujian nasional sudah di depan mata. Belajar, belajar, dan belajar. Sampai saat itu tiba, kami akhirnya LULUS juga. Seperti kebanyakan siswa jika lulus, melukis di baju seragam. Hmmmm heheh.

PERGURUAN TINGGI… Kami masih terus bersahabat, walau kami tak satu universitas, setidaknya kami masih sering sekali bertemu bahkan menginap bersama. Sampai semester 3, kami kuliah sebagaimana anak kuliahan. Dan tak pernah kusangka, aku dan Ditya kembali bertemu di suatu taman kampus. Hmmm tapi kali ini dia dengan seorang kekasih, sementara aku tidak dengan seorangpun, ada rasa aneh dari perasaanku. Aaah ada apa ini? Apakah aku cemburu? Semoga bukan. Selang pertemuan itu, dia menelfonku, kami berbincang-bincang dan saling menanyakan kabar. “Mengapa dulu kau meninggalkanku?” pertanyaan yang tak pernah bisa aku jawab. Aku menanyakan tentang dirinya dan juga pacarnya. Muncul rasa aneh selama bertahun-tahun yang tak pernah kurasakan lagi yaitu “cemburu” iya, aku cemburu. Walau kedengarannya sangat terlambat.

Cerpen Karangan: Ippasadega
Blog: senyumkacci.blogspot.com
Facebook: nama saya ippa
my twitter: @ippasadega
contacus: 082335557566
MAKASSAR :)

Ini merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya di: untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatan penulis, jangan lupa juga untuk menandai Penulis cerpen Favoritmu di Cerpenmu.com!
Cerpen ini masuk dalam kategori: Cerpen Cinta Cerpen Persahabatan

Baca Juga Cerpen Lainnya!



“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Ribuan penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply