Selamanya Kita Kan Selalu Dekat

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Persahabatan, Cerpen Romantis
Lolos moderasi pada: 4 September 2013

Mei, 2012
“aku mencintaimu, Va!” aku merasa ingin tertawa.
“ha. ha.. ha, udah lah al! Jangan gitu” meski aku tertawa aku mengatur volume suaraku agar tak terdengar oleh dalam rumah.
“aku serius, Va! Hmm.. gimana?”
“aku suka punya sahabat kayak lu”
“ga bisa lebih, Va?”
“kita udah sahabatan semenjak 4 tahun yang lalu” ku atur suaraku agar tak menyakitinya.
“jadi, kamu menolak?”
“buat apa?, ini sudah lebih dari cukup, persahabatan kita gak akan pernah luntur, aku kamu Salwa Mawar Denov Awan, kita akan tetep bersama”
“hum, aku mengerti! oke, makasih untuk semuanya, aku balik dulu” wajah Alvin mendadak berubah pucat, tak ada keiklasan di baliknya, tak ada kehangatann persahabatan pertemuanku dengannya malam ini. Ku tutup pintu rapat-rapat.
“semoga, semuanya akan baik-baik saja, maafkan aku, Al” benakku. Seketika ingatanku melayang pada suatu kejadian yang sama.

Juni, 2008
“Ova! lihat sini” seseorang memanggilku dari jarak 5 meter, tepatnya selesai pesta di suatu acara pernikahan temanku.
“I LOVE YOU” sebuah balon merah hati bertuliskan kata I LOVE YOU muncul di hadapanku, dan tampak siluet wajah Alvin di balik balon itu.
“..” ku bengong sendiri.
“ayo, aku antar pulang”
“ehm, kagak usah, ntar ngrepotin” kataku masih polos.
“siapa bilang?, yuk!” tanpa persetujuan dariku, Alvin meraih tanganku menarikku untuk mengikuti langkahnya, tak ku sangka aku berada di dekatnya, teman baruku sekaligus kefairannya membuatnya melejit berubah status sebagai sahabat teman-temanku, sahabatku juga.
“Va!” dia menghempaskan lamunanku.
“iya kak, ada apa?”
“hem, aku suka sama kamu” tak dibatasi dengan alang-alang, kalimat tersebut membuat bujur ragaku terasa kaku. “aku sayang kamu, semenjak kita bertemu”
“ak.. aku gak tahu harus ngomong apa” suaraku terasa tercekik.
“aku tahu, mungkin aku terlalu lancang, hmm.. saat ini aku hanya ingin kamu tahu perasaanku”
“kak, aku ingin menjadi sahabat kamu, selamanya kita kan selalu dekat” tanpa ku sadari perkataan tersebut dengan lancarnya keluar dari mulutku, dia menatapku sesaat mencoba mencerna arti kataku.
“maksudnya apa, Va? Kamu tak mau memberi kesem..”
“kakak, udah ya.. makasih buat malam ini” aku langsung berlari menuju pintu rumahku, menghiraukannya, yang ku inginkan hanyalah sendiri untuk menenangkan detak jantungku yang tak ku ketahui arti semua ini, arti detak jantungku, aku tak tahu.

Juli, 2012
Suara jangkrik melengking menjadi backsound suasana malam ini, bertemakan 2 cangkir milk coffee di suatu meja bundar teras rumahku.
“oh ya, Naufa! Kemarin aku ketemu sama Alvin, hem tapi sayangnya dia gak ngelihat aku!” jantungku terasa berdegub kencang setelah mawar menyebut namanya, nama yang akhir-akhir ini sempat vakum di pikiranku. Tiba-tiba langsung menjalar setelah mawar mengatakan headline cerita yang masih rumpang. “Naufa! Haloo, kok nglamun sih!”
“eh, engak engak, memangnya ketemu dimana?” aku adalah Naufalia Ifhannada, panggilanku Naufa hanya saja Ova adalah panggilan khusus dari seseorang yang bernama Alvin, entah dari mana namaku bisa bermetamorfosis menjadi Ova.
“di rumah si Asep, tau kan tetangga aku itu, malahan gak cuma kemarin deh, hampir tiap hari Alvin nongkrong di sana, sampai malam-malam lagi, habis itu keluyuran entah kemana gitu, heran aku, Fa. Setahuku Alvin kan anak rumahan, kok suka keluyuran juga ya, hahaha” cerita Mawar ada benarnya, perubahan Alvin juga terasa bagiku, dia gak kayak dulu, sekarang dia lebih suka keluar malam, dia juga gak pernah gabung sama teman-teman kayak dulu, lebih tepatnya dia ngehilang di telan bumi belahan lain. Tiba-tiba hatiku terasa sesak, apa sebabnya dia berlaku seperti itu ngejauhin orang-orang di sekitarku, bahkan aku.

Akhir-akhir ini, aku disibukkan dengan fikiran yang tak lepas dari seoarang Alvin, batinku menggerakkanku untuk membuka kotak kado dari laci yang sempat terdiam di sana. Isinya masih sama, tak berubah seperti 3 tahun yang lalu, di dalam kotak itu terdapat sketsa wajahku karya Alvin dan sebuah buku novel yang di berikan Alvin kepadaku, mendadak perasaan bersalah yang amat besar berkecamuk di fikiranku dan aku masih tetap tak mengerti, apa arti semua ini.

November, 2012
Kali ini rencana teman-temanku untuk hang-out ke pantai akan terlaksana. Ketika mentari masih menyembul malu-malu, aku, Denov, Mawar, Awan dan Salwa sudah berkumpul di depan rumahku, semua tampak siap berangkat dengan berkendaraan bermotor.
“teman, ayo cap-cus sekarang, gak sabar nih!” ajakku dengan penuh semangat, setelah kurasa semuanya tampak siap, keeksotikan pantai pelang yang aku rindukan, oh!
“bentar, masih ada satu teman yang tertinggal nih, kita tunggu dulu yah!” ucapan Mawar membuatku bingung, satu teman siapa itu? Ku lirik semua teman-temanku, genap gak ada yang kurang.
“siapa Ma?” belum sempat pertanyaanku terjawab, seseorang bersepeda motor datang ke gerombolan kami. Postur tubuh yang tak asing lagi, seketika itu jantungku berdetak tidak normal.
“Alvin” desisku. “dia datang tak terduga yang justru membuatku tak siap untuk menata perasaanku yang sampai saat ini aku tak mengerti” desisku dalam hatiku.
“Naufa! Ayo” Awan melambaikan tangannya, memecah lamunanku, dan saat memulai perjalanan ini ku lihat Alvin yang membonceng Mawar, ahh!! perasaan apa lagi ini, dengan segera ku tepis semua perasaan burukku.

Dalam perjalanan 2,5 jam, pengliahatanku tak berhenti memperhatikan motor merah maroon di depanku yang dikendarai oleh Alvin. Ahh!! Andai aku yang di sana bersamanya, entah dari mana berasalnya, suatu energi muncul dari dalam jiwaku yang tak termunafikkan, aiish!! Apa-apa’an sih Nouf!! Berhenti berkhayal, semua adalah sahabat kamu, Nauf!! Gak ada yang lebih, semua sama. Dan tiba-tiba setitik air mata jatuh merembes di pipiku, Tuhan! Aku tetap tak mengerti apa maksud semua ini.

Pantai Pelang, November 2012
Waaw!! It’s a beautiful day! tempat yang selalu membuatku tenang dengan backsound debuaran ombak, sebuah instrumen yang paling aku sukai. Ku berjalan sendiri di bawah pohon kelapa di atas batu karang putih keperakan. Dan dari tempat itu, ku bisa melihat teman-teman berteriak bermain ombak, ahh! Aku hanya ingin sendiri di tempat ini.
“Ova” suara yang tak asing mengagetkanku, sontak terasa hawa menyedot seluruh tenagaku.
“aku boleh duduk di sini?” dia melangkahkan kakinya duduk di sampingku.
“instrumen yang paling indah” kata-kata Alvin membuatku tercekat tak mampu berkata apa-apa.
“ombak itu, rela menabrakkan dirinya ke karang, berguling-guling tanpa kenal lelah hanya ingin mereka tak mau menghentikan sebuah suara instrumen yang mampu membuat kedamaian di batin yang lelah” “ombak itu baik yah!” entah apakah Alvin ingin mengajakku ngobrol, atau hanya mencurahkan batinnya yang tak perlu suatu jawaban dan aku masih mampu mendengarnya saja, tanpa berkata sedikitpun.
“Ova”
“iya?”
“makasih ya, buat semua instrumentmu selama ini, maafkan aku”
“maksudnya apa? Aku ..aku gak mengerti”
“hmm” dia hanya menatapku penuh arti, tanpa ia menjawab pertanyaanku, ia sudah meninggalkanku sendiri, sebuah pertanyaan yang di ambang fikiranku.
Instrumen…
Maaf..
Apa maksud semua ini.

10 November 2012
Hapeku berdering, ketika ku bangkit dari tidur nyenyakku, sebuah pesan singkat muncul pada layar handphoneku.
“Alvin” sebuah nama yang pertama kali terjangkau penglihatanku pada layar handphone. Seketika ku membuka isi pesan Alvin.

From: Alvin
Ova, sedang apakah? Aku ingin mengajakmu satu hari ini saja, ada hal penting.

“ada apa ya kira-kira, hmm” langsung ku replay sms Alvin.

To: Alvin
Hari ini, aku free. Oke, gak masalah.

Tak lama kemudian, suara ketuk pintu terdengar bersahutan.
“Naufa! ada Alvin menunggumu di depan” suara Ibuku membuatku kaget, Alvin benar-benar datang.
“iya, Ibu. Tunggu bentar lagi” dengan cepat ku persiapkan diriku, dan setelah semuanya cukup, ku langsung menuju ruang depan.
“Alvin” sapaku dari belakang tubuh Alvin yang tampak berdiri melihat halaman depan rumah.
“hy Ova! Udah siap?”
“memang kita mau kemana?” tanyaku penasaran.
“sssttt… diam, udah yuk berangkat!” setelah ku dan Alvin berpamitan, ku mengikuti langkahnya menuju Honda Jazz biru yang terparkir di halaman rumahku, dengan cepat mobil itu langsung melesat.
“Alvin, memang kita mau kemana sih?”
“Hehehe, masih di Indonesia kok Va, panitia travel akan bertanggung jawab penuh atas penumpangnya. Jadi, gak usah khawatir, oke! Cuma 1 persyaratannya, kamu harus nurut” pidato pembukaan Alvin membuatku tercekat.
“ha? Aku makin bingung deh!”
“hehehehe!” tak lama kemudian mobil mencuat ke suatu daratan yang asing, mungkin ini daerah pegunungan. Dan tiba-tiba Alvin menghentikan mobilnya, mengambil sebuah sapu tangan dari dashboard.
“dan ini, merupakan bagian dari tata tertib persyaratan” Alvin memakaikan sapu tangan untuk menutupi kedua mataku.
“aduuh, apa-apaan sih ini” desisku mencoba melepas sapu tangan konyol ini tapi tanganku dicegah oleh Alvin.
“eits, harus nurut!”
“iya, deh”
“jangan sampai dibuka lo! Awas kalau curang!” tegas Alvin sekali lagi.
“siap boss!!” kataku sambil posisi menghormat ke depan, padahal Alvin berada di sampingku, terdengar suara tertawa kecil Alvin.

Mobil yang aku tumpangi serasa naik dan menuruni perbukitan, meleok-leok kadang gelap kemudian terang lagi akibat sinar menyengat tubuhku. Aku tak bisa menebak-nebak kemana tujuanku bersamanya.
Sekian lama perjalanan ini, akhirnya mobil terasa berhenti, sejenak aku tunggu perintah Alvin agar aku membolehkan membuka mataku, tetapi perintah itu tak kunjung datang.
“Alvin” sapaku.
“…” senyap.
“Alvin!” kataku setengah berteriak sambil meraba-raba jok sopir, tapi tak ada seorang pun. “Alvin, kamu dimana? Al..”
Tiba-tiba semilir angin menyibakku dari arah kiri, jendela depan terbuka. “Alvinn”
“nyonya Ova, silahkan turun” suara Alvin terdengar dari luar jendela, ku turuti perintah Alvin. “sekarang jalan, ya!”

Ku tertatih melangkah mengikuti langkah Alvin, angin yang menenangkanku, damai, tempat dimanakah ini? Seribu pertanyaan yang sama berkecamuk di fikiranku, tiba-tiba sandalku di lepas oleh Alvin, membiarkan kaki-kaki telanjangku merasakan tanah, dan pasir. Ku merasakan butiran pasir yang mulai menempel di telapak kakiku, dan sesaat sebuah air menyibakku dari arah depan menyentuh kakiku. Sayup-sayup instrumen mulai terdengar. Sejenak indraku berfungsi menebak indra perasaku.
“ombak!, ini suara deburan ombak, laut dan pasir putih” decakku hampir tak percaya dengan semua ini.
“sebuah instrumen yang paling indah” Alvin bersuara. “sekarang kamu boleh membuka mata kamu” seketika ku langsung melepas sapu tangan yang menutupi mataku. Dan, hamparang gunung, lautan lepas, pasir putih, burung-burung yang bertebangan bersamaan suara ombak semuanya indah. Pantai yang indah, penglihatanku tak henti-hentinya menyapu semua seluruh pemandangan indah di depanku ini, hanya ada aku dan Alvin di tengah-tengah luasnya hamparan pasir dan laut yang tak bertepi.
“Alvin, indah banget” suaraku parau hampir tak percaya.
“seindah persahabatan kita” dengan tenang, pernyataan Alvin membuatku terkejut. “laut yang memainkan instrumennya dengan deburan ombak-ombaknya sama seperti kamu yang memainkan instrumenmu dengan menjaga persahabatan kita” perkataan Alvin membuatku tersenyum.
“ini juga instrumenmu”
“tapi, kamu yang memainkannya”
“jadi?”
“aku bahagia punya sahabat kayak kamu” ucap Alvin.
“tunggu dulu, sa-ha-bat?” tanyaku untuk meyakinkan.
“iya, cinta jadi sahabat terus selalu dekat. Haha, bukan sahabat jadi cinta terus jadi musuhan deh”
“hahahhaa, makasih Alvin” jawabku terharu.
“seharusnya aku yang berterimakasih pada kamu” dengan lembut Alvin merengkuhku dengan hangat, sehangat angin semilir serta sinar matahari saat ini.
“kita akan jadi sahabat, selamanya kita akan selalu dekat” ucapku dan Alvin hampir bersamaan.
“hahahaha” kami tertawa bahagia menikmati indahnya persahabatan kami.

– end –

Cerpen Karangan: Nita Durotul Husna
Blog: nitadurotulhusna.blogspot.com
Facebook: Nietha Ssie’Cenat-cenut

Cerpen Selamanya Kita Kan Selalu Dekat merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Nining’s Story

Oleh:
Warga di Green City sudah tak asing lagi dengan seorang anak perempuan yang bernama Nining. Aningtyas Purnama, itulah namanya. Dia biasa di panggil “nining”. nining adalah anak terpintar di

Together Forever

Oleh:
Kringgg.. alarm jam berbunyi menunjukkan waktu tepat jam 07.15, Huam.. aku pun mencoba membuka mata dengan beratnya “WHAT…, Aku sudah telat nih, Pasti gerbang sekolah sudah ditutup dan hari

Nada Nada Cinta

Oleh:
Adnan dan Bayu yang memiliki kayakinan besar terhadam impiannya, untuk menjadi musisi besar sangatlah kuat. Mereka mencoba memperomosikan demo lagu mereka ke berbagai lebel rekaman, tapi tidak ada satu

Kisahku

Oleh:
Akhir tahun 2009 tepatnya bulan desember tanggal 15, aku menjalin cinta dengan seorang wanita yang bernama “Nuvi”. wanita yang aku sayangi ini wanita yang ku kenal baik, perhatian dan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *