Selamat Tinggal

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Patah Hati, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 30 December 2017

Aku masih belum bisa memahami apa yang sebenarnya orang-orang pikirkan ketika akan menyatakan cinta kepada orang yang mereka kasihi, bagaimana mereka menekan rasa malu mereka dalam menyatakan hal seperti itu.

Siang itu aku sedang berbincang-bincang di ruang kelas dengan teman-temanku, hari itu guru agama tidak dapat mengajar dan itu membuat seisi kelas mulai gaduh dan mulai bercanda satu sama lain,
“Deni, tidakkah hanya kau yang belum pernah bercerita tentang gadis yang kau suka” tiba-tiba si Arif nyeletuk dengan wajah menggoda, aku ingat Arif pernah bercerita kalau dia menyukai seseorang dari kelas sebelah yang bernama Irma, teman-temanku pernah bercerita tentang orang yang mereka sukai meski hingga saat ini hanya Roby yang telah memiliki pacar, karena memang Roby adalah yang paling tampan dari kami bertiga, kami bertiga telah bersama sejak SD hingga kini beranjak SMA, dan sudah saling mengetahui rahasia masing-masing.

“kenapa harus sekarang?” tanyaku penuh sangsi
“karena kami sudah tak kuat menahan rasa penasaran” Roby berkata sembari tersenyum, senyum yang menaklukkan para wanita
“benar, aku hampir mati penasaran memikirkan hal itu” Arif masih memasang tampang konyol, karena Arif merupakan yang paling lucu dan sering membuat kami tertawa bahkan hingga sakit perut, namun kali ini dia tak dapat membuatku tertawa karena aku agak jengkel dengan pertanyaannya

“akan aku beri tahu kalau sudah waktunya” aku berusaha menenangkan kawan-kawanku
“tidak, aku mau sekarang, atau aku akan marah” kata Arif dengan serius dan aku melihat Roby yang menahan tawa, karena mengetahui Arif sedang bercanda
“ayolah, aku sangat ingin tahu”
mereka terus memaksaku hingga aku tak punya pilihan lain,
“aku akan memberitahukan kalian saat pulang nanti, sekarang banyak teman-teman sekelas, aku takut ada yang mendengar
“baiklah, aku sangat tak sabar menunggu jam pulang” Arif berkata sambil nyengir yang dibuat-buat dan membuat kami tertawa dan membuat seisi kelas melihat ke arah kami.

Bel pulang berbunyi, murid-murid bergegas meninggalkan kelas, aku masih merapikan bubu-bukuku ketika kulihat Arif dan Roby telah berdiri di depanku,
“ayo sekarang katakan, sudah tidak ada orang lagi di kelas” Roby yang memulai pembicaraan dengan wajah serius
“kalian tidak ada sabarnya sedikit, kalian tidak lihat aku sedang merapikan bukuku” kataku kesal, mereka pun terdiam dan itu membuatku lebih cepat merapikan buku-bukuku dan memasukkannya ke tas.

“ikut aku” kataku mendahului berjalan dan mereka mengikuti dari belakang seakan aku adalah pemimpin mereka, kami berjalan keluar kelas dan menuju ke sebuah lapangan voli
“duduk di sini, sebentar lagi dia datang” kataku pada mereka dan kami pun duduk di rerumputan yang mengarah ke lapangan voli tersebut, tak selang beberapa lama, beberapa gadis keluar dengan mengenakan seragam olahraga, mereka adalah anggota ekstrakulikuler Voli wanita, mereka pun mulai pemanasan

“lalu siapa dari mereka yang kau sukai?” tanya Arif
“kau lihat gadis yang tak terlalu tinggi itu dan rambutnya tak terlalu panjang itu” aku menunjuk seorang gadis dan teman-temanku memperhatikan gadis itu dari tanganku yang menunjuknya
“bukankah dia Rani kakak kelas kita” tak heran karena Roby mengenal hampir seluruh wanita di sekolah
“apakah dia sudah punya pacar?” tanyaku pada Roby yang bisa diandalkan hanya ketika itu adalah wanita
“setahuku belum” katanya
“wah lumayan cantik” kini giliran Arif nyeletuk

“kau sudah pernah berbicara dengannya?” lanjut Arif dengan sebuah pertanyaan
“aku pernah berbicara dengannya di perpustakaan, namun itu bukan hal yang penting karena hanya bertanya tentang buku” kataku dengan nada suara lemas
“kalau begitu kau harus lebih agresif” kata Roby
“benar, aku selalu mendukungmu” Roby menimpali
“terima kasih, meski itu tak banyak membantu” kataku dan kemudian bangkit dari dudukku
“baiklah kita pulang” ujarku mengajak mereka dan sebelum benar-benar meninggalkan sekolah aku memandang sejenak ke arah lapangan Voli.

Aku duduk sambil membaca buku yang terdapat di hadapanku, buku tentang sejarah dunia, aku sangat menyukai buku-buku seperti ini. Aku terduduk sendiri di ruangan yang sepi, hanya ada kami berdua di ruang perpustakaan siang itu, aku dan Rani, kakak kelas yang kusuka yang telah kuceritakan kemarin pada teman-temanku. Dia duduk di bangku sebelah hanya berjarak 2 meter, sesekali aku meliriknya yang sedang asyik dengan bacaannya.

Beberapa menit berlalu aku tak bisa fokus dengan buku yang kubaca, aku bahkan baru sekali membalikkan halaman buku itu. Aku melirik ke arahnya lagi dan kini agak lama bahkan bisa dibilang memandangi daripada melirik, ketika tiba-tiba ia melihat ke arahku dan pandangan kami bertemu, sontak hal tersebut membuatku salah tingkah, namun ia hanya tersenyum dan perlahan menghampiriku,
“gawat, dia pasti marah karena aku memandanginya dari tadi” gumamku

Rani pun duduk di kursi yang ada di depanku dan kini kami duduk berhadapan
“hey Deny” katanya
“i-iya” jawabku gugup, namun ada sesuatu yang membuatku lebih terkejut, dia mengetahui namaku,
“k-kau tau n-namaku?” tanyaku masih dengan gugup
Rani tersenyum mendengarku berbicara seperti orang yang ketakutan
“kau berbicara seperti itu seolah aku akan memakanmu” kini ia tertawa kecil dan itu membuatku sangat malu
“aku mengetahui namamu dari penjaga perpustakaan, dan namaku Rani” ujarnya dengan senyum yang manis
aku sudah tau namanya namun aku berpura-pura ini adalah pertama kalinya mendengar nama itu,
“oh kak Rani” kataku
“tak perlu pakai kak, panggil Rani saja, aku lebih suka seperti itu” ujarnya
“baiklah kak… eh Rani” aku menunduk karena malu

“begini Deny, boleh aku minta tolong?” Rani bertanya padaku yang masih menunduk, namun mendengar pertanyaannya aku mulai mengangkat kepalaku dan memandangnya
“kalau aku bisa membantu, apa yang harus kutolong?” aku sangat senang bisa mengobrol dengannya dan bisa membantunya melakukan sesuatu bahkan lebih menyenangkan bagiku,
“aku ada tugas tentang membuat makalah tentang sejarah dunia, aku melihatmu di sini sering sekali membaca buku tentang sejarah jadi aku kira kau bisa membantuku kira-kira buku apa saja yang harus kubaca” Rani mejelaskan yang harus kulakukan
“kau ingin menulis sejarah negara apa?” tanyaku
“menurutmu negara apa yang lebih bagus?” ia balik bertanya
“hmm.. mungkin lebih baik tentang sejarah negara China” aku menyarankan
“baiklah, aku mempercayai yang lebih ahli” Rani tersenyum menggoda yang membuatku sedikit malu

Aku pun melangkah menuju kesebuah rak buku dan Rani mengikutiku, aku memilih buku-buku yang kiranya banyak mengisahkan tentang sejarah China. Di tanganku ada empat buku dan aku pun menyerahkannya pada Rani,
“hanya empat namun kurasa ini adalah buku-buku yang paling bagus” kataku kemudian
“baiklah, aku ke penjaga perpustakaan dulu” Rani pun menuju ke penjaga perpustakaan untuk meminjam buku-buku tersebut, dan aku melangkah keluar karena bel tanda masuk kelas telah berbunyi.

Pagi itu tak seperti biasa aku agak telat datang ke sekolah meski pelajaran belum dimulai namun ini rekor buruk bagiku, ketika akan memasuki gerbang aku mendengar seseorang memanggilku.
“hey Deny, selamat pagi” itu adalah suara Arif, sahabatku yang lucu dan di belakangnya Roby mengikuti
“pagi juga, seperti biasa kalian selalu datang ke sekolah di jam segini” kataku pada mereka berdua
“ini adalah jam normal untuk datang ke sekolah, kau saja yang terlalu rajin” Arif mengeles
“benar sekali” Roby menimpali
“terserah kalian saja” kataku melangkah bergegas diikuti kedua sahabatku, dan saat melewati ruang kelas tiga, aku melihat sejenak ke ruang kelas itu, karena itu adalah kelas Rani namun tentu saja aku tak melihat apapun dari luar.

Kami pun hampir sampai di kelas ketika kulihat seseorang berdiri di luar kelas kami, ia adalah Rani yang menghampiri kami dengan tersenyum,
“Deny, terima kasih untuk kemarin, kemarin aku belum berterima kasih karena kau tiba-tiba telah pergi” ucapan itu tentu saja membuatku bahagia, mendengarnya dari wanita yang kusuka
“sama-sama, kalau Rani butuh bantuan lagi kau bisa memintanya padaku” ucapku dengan nada yang sangat mantap
“baiklah Deny, kalu kau juga butuh bantuan kau juga bisa minta tolong padaku”
Sku pun mengangguk dan kulihat Rani berjalan untuk menuju ke kelasnya.

Ketika kupandangi wajah sahabatku, mereka sedang terbengong-bengong dengan ekspresi yang lucu.
“hey, bagaimana bisa?” Arif mulai bertanya seperti dugaanku
“rahasia” kataku singkat lalu masuk ke kelas dengan perasaan bahagia

Di kelas tak henti-hentinya bertanya hingga aku tak kuat mendengar dan kuceritakan semua yang terjadi kemarin, setelah itu mereka terus-terusan menggodaku seperti yang sudah kuduga, terutama si Arif yang sangat menjengkelkan.
Hanya di tempat ini aku bisa tenang dari mereka berdua, kuambil sebuah buku lalu duduk di kursi dengan meja yang cukup panjang, siang itu seperti biasa aku pergi ke perpustakaan, tempat paling nyaman menurutku. Dan seperti biasa wanita itu muncul namun kini ia duduk di kursi yang ada di depanku tidak seperti biasanya yang duduk agak jauh, Rani tersenyum sebelum membuka bukunya

“seperti biasa Deny, kau selalu ada di sini” Rani memulai pembicaraan
“ini adalah tempat paling nyaman di sekolah” sahutku dan membalas senyumannya
“sama sepertiku” sahutnya singkat,
Kami pun melanjutkan mengobrol sesuatu yang menurut orang pasti sangat membosankan, tentang buku-buku yang telah dibaca dan lain-lain, namun itu adalah hal yang sangat menyenangkan bagiku, berbicara dengan orang yang kau suka tentang sesuatu yang kau suka, tak ada yang lebih baik dari ini. Hingga bel masuk kelas berbunyi aku tak sempat membaca buku yang kupegang begitu juga dengan Rani yang bahkan belum membuka buka yang ada di tangannya.

Seperti yang sudah kuduga Arif dan Roby masih menggodaku dan terus bertanya apakah aku bertemu lagi denganya di perpustakaan dan apakah yang kami bicarakan, hingga sekolah hari itu berakhir.

“teman-teman, aku akan keperpustakaan dulu” kataku pada Arif dan Roby siang itu ketika jam istirahat
“baiklah, semoga berhasil kawan” kata Roby menyalamiku
“apa maksudmu?” tanyaku padanya
“semoga berhasil dengan hubunganmu dengan kakak kelas itu” ucapanya lalu tertawa diikuti oleh Arif, aku pergi meninggalkan mereka
“apakah Rani sudah ada di sana?” tanyaku pada diri sendiri

Aku masuk ke sana dengan perasaan bahagia karena akan bertemu Rani namun di perpustakaan hanya ada beberapa adik kelas yang sedang membaca
“Rani belum datang” gumamku dan kemudian mengambil sebuah buku dan duduk di tempat kemarin, sepuluh menit berselang akhirnya Rani muncul dengan tergesa-gesa lalu duduk di depanku.
“aku agak terlambat karena ada urusan, aku kira aku tak sempat kemari” katanya setelah duduk meski aku tak bertanya apapun
Aku hanya tersenyum dan melihatnya memegang sebuah buku
“makalahku telah selesai, aku ingin kau membacanya sebelum aku mengumpulkannya pada guru, dan jika ada kekeliruan tolong beritau aku” ujarnya kemudian menyerahkan buku yang ada di tangannya padaku, aku membuka buku tersebut dan mulai membaca dan Rani mandangiku dengan serius.

“cukup bagus” kataku setelah selesai membacanya
“benarkah?” tanya Rani dengan nada senang
“iya, menurutku ini cukup bagus dan mestinya akan mendapatkan nilai yang tinggi” ucapaku berlagak seperti orang yang sangat mengerti
“syukurlah, ini berkat bantuanmu”
Waktu terasa sangat cepat siang itu, karena aku merasa baru sebentar duduk di sini namun bel masuk kelas telah berbunyi, aku dan Rani pun bangkit dan menuju kelas masing-masing.

Meski bel istirahat siang telah berbunyi dari tadi namun guru di kelas kami masih menerangkan pelajaran seakan tidak mendengar bel tersebut, seisi kelas sudah sangat gelisah
“Rani pasti sudah ada di perpustakaan” aku menggerutu dalam hati
Namun seseorang kemudian berdiri dan mengatakan pada guru kalau bel istirahat telah berbunyi, kemudian guru itu pun mengakhiri pelajarannya.

Aku bergegas menuju perpustakaan, namun tak ada siapapun di sana, hanya ada seorang penjaga, mungkin Rani belum datang dan seperti biasa aku duduk di tempat itu. Seperti sudah sangat lama aku menunggu di sini, namun Rani tak kunjung muncul, aku masih duduk di sini, sendiri. Hingga bel masuk kelas berbunyi, Rani tak kunjung datang dan itu membuatku sangat gelisah karena itu berarti aku tak bisa melihatnya hari ini.

Di kelas aku tak konsentrasi mengikuti pelajaran, aku merasa seolah-olah kelas ini sangat sepi, seperti tanpa seorangpun di sini, pikiranku hanya tertuju pada Rani. Pelajaran siang itu adalah bahasa inggris, pelajaran yang lumayan kusuka, namun entah kenapa aku tak terlalu bersemangat, aku mengangkat tanganku dan berkata
“pak, izin ke belakang sebentar” kataku
“baiklah, jangan lama-lama” ujar guru yang yang sedang mengajar
Aku pun bangkit dan segera meninggalkan ruang kelas untuk menuju ke toilet, aku berjalan dengan lambat, ketika aku melewati ruang kepala sekolah aku melihat seseorang keluar dari sana dengan menangis, ia memandangku dan berjalan ke arah yang berlawanan dariku, namun aku mengejarnya dengan cepat dan memegang lengannya.

“ada apa Rani? kenapa kau menangis?” tanyaku pada seseorang yang beru keluar dari ruang kepala sekolah dan itu adalah Rani
Rani terdiam dan tak berniat mengatakan apapun
“apakah kau ada masalah? bukankah aku pernah mengatakan padamu kalau kau butuh pertolongan aku akan membantumu” kataku mencoba menenangkannya
Rani masih terdiam namun tangisannya telah berhenti,
“bicaralah” ucapku dengan suara pelan
“aku tak tau apakah kau bisa membantuku kali ini Deny, dan aku merasa ini sudah diluar kemampuanmu” Rani akhirnya membuka suara namu dengan nada yang lirih
“meskipun aku tak bisa membantu namun kau bisa bicara denganku, aku akan mendengarkan” ucapanku kali ini telah membuatnya benar-benar tenang,
“baiklah, tapi aku tak bisa bicara di sini” katanya sambil melangkah dan menarik tanganku untuk mengikutinya, ia menuntunku menuju taman sekolah yang ada di belakang dan kami duduk di sebuah bangku yang terbuat dari kayu, setelah duduk Rani tak langsung berbicara namun sejenak menarik nafas

“aku tak tahu harus berbuat apa Deny, aku merasa hidupku benar-benar hancur” Rani akhirnya mulai berbicara
“apa yang terjadi?” tanyaku
“aku dikeluarkan dari sekolah” Katanya dengan lirih dan terlihat berusaha keras menahan tangisnya
“apa yang telah kau perbuat?” tanyaku lagi yang sadar hanya bisa bertanya di situasi selerti ini
“aku hamil” dan Rani pun tak kuasa menahan tangisnya dan kali ini air matanya mulai berjatuhan kembali

Kata-kata singkat itu membuatku terkejut hingga tak sanggup mengatakan apapun, hatiku terasa hancur berkeping-keping dan terasa seperti didorong dari bangunan yang sangat tinggi dan terjatuh,
“aku memiliki pacar yang berasal dari sekolah lain, namun ketika aku mengatakan padanya kalau aku hamil, ia bahkan tak mau mengakuinya, padahal aku tak pernah melakukannya dengan orang lain selain dia” kata Rani
aku masih terdiam, masih tak mampu berkata apapun, dan tak pernah kubayangkan mendengar hal seperti itu dari seseorang yang kusuka,
“sudah kukatakan sebelumnya, kali ini kau takkan bisa membantu, kalau tak ada yang ingin kau katakan, aku akan pergi” Rani bangkit dan sebelum pergi dia melihatku dan berkata
“selamat tinggal Deny”

aku masih terduduk di sana tanpa memandang Rani yang pergi, aku tak kuasa bangkit karena sadar kebahagiaan sederhanaku mulai sekarang akan hilang tak ada lagi hari menyenangkan di perpustakaan, tak ada lagi obrolan sederhana yang menenangkan.

Bel tanda berakhir sekolah berbunyi namun aku masih terduduk di sana, aku hanya dapat menghela nafas dan kemudian berjalan menuju kelas yang kemungkinan sudah sepi, namun perkiraanku meliru di kelas masih ada dua orang yang berada di sana, Arif dan Roby masih berdiri di sana, di dekat mejaku.

“ke mana saja kau Deny? aku kira kau hilang” Arif bertanya dengan nada bercanda namun wajahnya cukup serius
“baiklah, akhirnya kita bisa pulang” kata Roby yang menyerahkan tasku
“baiklah, mari kita pulang” kataku dengan pelan dan sedikit terharu karena mereka menungguku meski bel pulang sekolah telah berbunyi setengah jam yang lalu
Arif dan Roby tak bertanya apapun lagi, mungkin mereka mengetahui aku sedang tidak ingin berbicara, dan kami pun pulang dalam keadaan diam

Cerpen Karangan: Herfian Syah
Blog: herfiansyah.mblog.mobi

Cerpen Selamat Tinggal merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kekasihku

Oleh:
Hildan!! Kau tahu? Dia adalah laki-laki pertama yang aku cintai, aku selalu berharap dan berfikir bahwa ialah laki-laki terakhir untukku. Aku bahkan pernah berjanji “ketika aku putus dengannya aku

Bentor (Becak Motor) Dan Musik

Oleh:
Hei lari pagi, tua muda semua, lari pagi, yang sangat digemari, hei lari pagi. Aku berlari ke depan rumah masih berbalut selimut tebal, dengan mata sembab aku melihat satu

Kado Natal Yang Terindah

Oleh:
Hari ini suasana sangat ramai. Semua orang sibuk dengan aktivitasnya. Yandri terus menunggu dengan sabar jemputannya ke kampus. Meski berasal dari keluarga yang berkecukupan, Yandri lebih memilih naik bus

When You (Part 2)

Oleh:
Setibaku di rumah sakit Adinda langsung diarahkan ke ruangan Instalasi gawat darurat/IGD. Aku panik, aku tidak tau harus bagaimana, aku mencoba menghubungi sahabatku bagas, tetapi tidak ada respon, tidak

Cinta ku Remaja ku

Oleh:
Kabut gelap membuat sejuk asri pagi ini kian terasa. Burung- burung bernyanyian bersaut sautan. Oh cerahnya suasana pagi ini. Degan cekatan aku alunkan kakiku langkah demi langkah menuju sekolah.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *