Semanis Gula Jawa

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 19 July 2017

Rintik hujan mewakili rinduku pada seseorang. Pikiranku terbang jauh menembus awan gelap. Termenung di balik jendela menatap tiap tetes air yang jatuh membasahi bumi. Menanti dengan tatapan kosong dan hati yang rapuh. Mendungnya awan seolah mewakili perasaanku saat ini. Membayangkan hal yang telah tiga tahun berlalu.

Saat ini aku sudah kelas 2 SMP. Oh ya! aku Indriani. Aku bersekolah di SMP Cendekia. Sekolahku tak teramat besar. banyak pepohonan yang menutupi gedungnya. Soal kebersihan, sekolahku adalah unggulan. Setiap pagi siswa yang datang diwajibkan untuk memungut sampah yang ada di jalan. Disiplin bukan?. Di tahun ajaran baru seperti ini tak sedikit orangtua yang mendaftarkan anaknya di sekolah. Memang, mayoritas yang mendaftar adalah warga sekitar saja.

Hari pertama di kelas 2.
“Astaga Indri lihat itu! dia tampan bukan?”. Puji Mar’a. “Ya Ndri, ada kumisnya lagi”. Sambung Nabilah. “Ya ampun! kalian ini. Dia itu namanya Rifqi, Rifqi Dwi Nugraha”. jelasku. Mereka heran dari mana aku mengetahui nama adik tampan itu.

Esok paginya.
Aku baru saja sampai. Namun Mar’a dan Nabilah sudah menginterogasiku seperti inspektur. “Indri! kenapa kamu tidak kasih tau kita kalau adik tampan itu kekasihmu?”. Tanya Mar’a. “Iya, kalau kita tau dari awal kita tidak akan mendekatinya”. Timpal Nabilah. Ekspresi mereka sangat lucu. Aku tak menjawab pertanyaan konyol mereka. Aku hanya diam.

Di bahu jalan terdapat sebatang pohon cemara yang tumbuh rindang. Sudah 20 tahun pohon itu menemani jalan harapan. Di bawahnya terdapat beberapa bangku yang terbuat dari kayu. Walau, sudah terlihat tua tetapi kebanyakan orang selalu menemani bangku itu sambil menghirup udara segar di bawah pohon. Jika mentari mulai menyembur warna tubuhnya dengan kuning keemasan di ufuk timur. Maka siapapun yang berlalu lalang di Jalan Harapan akan melihat sepasang kekasih duduk di bawah pohon cemara. Aku dan Rifqi. Sore itu kami sedang menikmati indahnya mentari di sore hari. “Dari mana mereka mengetahui hubungan kita?”. Tanyaku pada Rifqi. “Teman-temanmu sering berkunjung ke Jalan Harapan untuk sekedar melihat pohon ini. Sesekali aku melihat Mar’a memperhatikan kita di sini dengan kedok jalan santai di sore hari, ia kerap kali kulihat di ujung jalan itu dengan raut muka sedih”. Jelas Rifqi sambil menunjuk ke ujung jalan. Saat itu juga aku tau bahwa Mar’a menyukai Rifqi.

“Yeah! kita naik kelas!”. “Iya, kita akan menyambut bimbel, try out, UAS, sampai UN bersama!”. Teriak Nabilah gembira. “Hey monyet! lu naik kelas?. Tanya Irul mengejutkanku. Ia memang selalu mengejutkanku. Ya, makhluk kecil itu selalu memberi kejutan pada semua orang. Ya siapa lagi kalau bukan Choirul Fadhil Fajar Sodik. Hanya Irul yang mempunyai sorot mata tajam dan dapat membuatku hampir gila jika menatapnya. Pria kecil itu sangat sombong, padahal tingginya hanya berbeda 6-7 CM dariku. Soal kulit? Ya, kami sama-sama berkulit coklat walaupun lebih manis dia. Ah, sudahlah deskripsi tentang irul sudah cukup. Jika aku tuliskan maka cerita ini tidak akan selesai. “Naiklah!”. Jawabku ketus.

Setengah jam kemudian, Pak Nurhadi wakil kepala sekolah menempel kertas panjang. Di kertas itu kita dapat melihat di mana kelas kita. Saat kulihat ternyata aku sekelas lagi dengan Irul. “Astaga aku sekelas lagi dengan Irul”. Gumamku pelan. Aku sangat senang. Tak sedikit pula teman-temanku yang mengejek kami. Akhirnya aku akan bersama Irul hingga hari kelulusan.

Malam yang dingin. Maklum saja, hujan telah mengguyur kotaku malam ini. Setelah makan malam aku minta izin pada ibu untuk keluar rumah. Malam ini kebetulan ayah juga sedang ada sip malam di rumah sakit. Sebenarnya aku ingin menemui Rifqi tetapi, tak mungkin aku jujur pada ibu pasti dia tak akan mengizinkanku.
Di bangku yang sama di Jalan Harapan. “Kamu sekelas lagi dengan Irul?”. Tanyanya. “Iya”. “Kamu bahagia?”. Tanyanya lagi. “Entahlah, memangnya kebahagiaanku membuatmu bahagia?”. Aku balik bertanya. “Iya, karena aku menyayangimu”. Ungkapnya. Adik kelas ini mempunyai pola pikir dewasa. Ya Tuhan, sebenarnya aku juga sangat menyayanginya walau Mar’a juga merasakan hal yang sama.

Senin, 28 November 2016.
Senin, bagi kami IXD, merupakan hari ‘Killer’ dari keenam hari lainnya. Dibuka dengan pelajaran biologi yang diajarkan oleh Bu Karsih yang soal-soalnya hanya ia yang dapat menjawabnya lalu, Prakarya yang diajarkan oleh Bu Desi. Bu Desi yang kalau bicara sangat menusuk hati. Terakhir Pak Nurhadi, fisikawan yang jika mengajar seperti mendongeng saja. Terkadang sebagian siswa berharap semoga ada tugas untuk para guru itu di hari senin.

Senja di Jalan Harapan.
Hari ini tepat satu tahun aku bersama Rifqi. Kami bahagia, walau tak sedikit yang percaya tentang hubungan kami ini. Namun, hari ini ada hal yang ingin kukatakan padanya. Sore ini, sinar senja telah sampai di bumi dan mega merahnya adalah dia yang saat ini duduk di hadapanku dengan senyum simpulnya yang selalu aku rindukan. Aku tak tahu harus mulai dari mana. Hatiku terasa bimbang. “Rifqi terimakasih atas satu tahun bersamamu ini. Aku sangat menyayangimu. Jadi, cukup sampai di sini saja. Pergilah Mar’a menunggumu dengan segenap cintanya”. Jelasku sambil membenarkan letak kacamataku. “Kenapa?”. Tanyanya singkat. “Mungkin kau bisa mendapatkan seseorang yang lebih cantik dariku setelah ini”. Kataku lagi. “Baiklah! Ingat lah satu hal ini, aku hanya melakukannya untukmu!”. Dia mengucapkan hal itu lalu berlalu dengan perasaan marah.

3 bulan berlalu.
Setelah hal yang kulakukan sore hari di Jalan Harapan membuahkan hasil. Mar’a telah bersama dengan Rifqi. Aku juga semakin dekat dengan Irul.
Di antara rembulan yang tengah bersinar sempurna. Bagian-bagianku senantiasa tercipta. Kata demi kata tersusun menjadi rasa yang terpendam sekian tahun lamanya. Rangkaian bintang-bintang diatas sana yang sedang gemerlapan bak lentera neon yang teramat menyilaukan mata. Seperti mimpi. Di bawah langit malam yang indah, entah apa yang diinginkan Tuhan aku dan dia ada di sini. “Mengapa Tuhan begitu baik? Ia menciptakan malam yang begitu indah”. Tanyaku. “Tak ada satu pun orang yang mampu mengetahui tujuan Tuhan menciptakan malam. Hanya paduan sinar jingga yang membias yang melahirkan sinkron keindahan”. Jawab Irul. Kurasa ada sesuatu yang terjadi pada Irul. Dia yang biasanya tak bisa diam dan selalu memanggilku monyet kini sangat berbeda. “Kau adalah surat cinta, kau adalah sulaman kata-kata yang bila dibaca membuat banyak pipi merona. Termasuk pipiku”. Jelasnya lagi. Kupikir Irul mencetak kata-kata yang ia ucapkan dari google. Namun, rasanya kata-kata itu tulus keluar dari hati. “Biar kuberitahu, aku sangat suka berlayar melewati aliran sungai yang begitu tenang, di antara gemerlap berbagai cahaya rembulan juga taburan bintang..”. Belum aku melanjutkan kalimatku, Irul memotongnya. “Termasuk diriku?”. “Tidak, aku tidak menyukaimu. Namun, aku menyukai sorot matamu itu”. Jawabku. “Kau tahu Indri, menurutku cinta mampu menjernihkan pikiran sejernih air sungai dan kau tahu? Siapapun yang merasakan jatuh cinta, pasti dirinya tak akan tenang sebelum melihat orang yang ia cintai”. Jelasnya lirih.
Malam yang indah ini aku seperti melayang diatas awan. Entah angin apa yang membawanya kemari. Semua yang ia ucapkan menembus relung hatiku.

Mengenalmu, aku menemukan sesuatu dalam dirimu yang membuatku nyaman. Tak terasa, beberapa bulan ini kulalui dengan indah. Tanpa sehari pun terlewati untuk sekadar bertanya “Apa kabar?”. Entahlah, sampai saat ini aku tak bisa mendefinisikan semua ini, yang pasti ada rasa sayang meski tak terkata, rasa cemburu meski tak terucap, bahagia, curiga, layaknya sepasang kekasih. Anehnya, tak pernah ada kata-kata jadian keluar dari mulutmu. Walau kita sudah saling mengungkapkan rasa masing-masing.
Aku mengikuti setiap irama yang kau ciptakan dalam hubungan abu-abu ini. Aku bahagia bersamamu. Dan saat ku tahu bahwa malam itu adalah malam terkahir aku melihatmu. Aku kecewa. Aku ingin menangis. Aku merasakan kegetiran yang datang menyelimuti di dalam kegundahan hati. Tak bisa kusentuh, tak bisa kurengkuh, tak bisa kupeluk, dan tak bisa kusapa. Aku hanya bisa melihatmu dari kejauhan saat ini. Berselendang kain kafan dan gundukan tanah yang akan menutupmu nanti. Rasanya aku ingin ikut masuk bersamamu. Aku tak bisa melepaskan cintamu. Setelah aku mendengar kabar kau mengalami kecelakaan malam itu. Kau menabrak truk yang sedang parkir. Tak lama kemudian darah terus mengucur dari kepalamu. Dering telepon rumahku berbunyi dan ternyata itu telepon dari ayah. Ayah bilang kau tak bisa lagi diselamatkan. Kuharap itu hanya mimpi buruk. Namun, itu salah. Itu fakta.

40 Hari setelah kematian Irul.
Suasana hening. Kesedihan masih tampak di wajah Om Rasmudi dan Tante Rusmiati. Setelah 39 hari bersedih melihat karangan bunga yang menghiasi makam Irul juga beranda rumah, juga foto-foto Irul. Akhirnya aku memutuskan untuk melupakan semuanya. Tak ada gunanya bersedih. Irul juga tak akan kembali lagi.

Bangku tua di Jalan Harapan.
“Rifqi kamu jahat! Kamu putusin Mar’a”. Ucapku. Aku tak akan mengatakan ini jika kabar putusnya mereka sampai ke telingaku. “Dia sahabatku. Sembilan tahun aku bersamanya. Bahkan aku rela mati untuknya!”. Kali ini aku mulai menunjuknya. “Sudah selesai? Dengarkan aku! Apakah kau tahu aku menyimpan rasa ini untukmu? Apakah kau tahu cinta yang ada di dalam hati ini tercipta untukmu?. Banyak hati yang menghampiri banyak cinta yang datang. Namun, hanya satu tujuan cintaku. Hanya satu yang aku harapkan. Hanya satu rasa sayang yang kupersembahkan. Mungkin kau tak pernah sadar tapi, Tuhan tau rasa yang kusimpan baik-baik ini jauh di relung hati. Membawa sejuta cinta untukmu”. Jelasnya panjang lebar. Kupikir dia terlalu bodoh mengharapkan hubungan yang telah lama hancur membaik kembali. Hanya Tuhan yang tahu. Aku adalah penyair yang gagal membaca peta di hatimu dan puisi-puisiku yang tak lagi menggetarkan jiwamu. Karena setiap malam kulewati dengan kesedihan. Bersenandung lagu-lagu muram. Berjalan tanpa arah seperti bocah gelandangan yang tergadai dalam keadaan. Tuhan telah mengirim Rifqi kembali padaku. Bak seorang malaikat ia akan menjagaku dan menggantikan Irul.
Saat ini, hubunganku sudah membaik seperti awal. Ini saatnya aku fokus dan bersemangat untuk menghadapi Ujian Nasional.

“Horee!!” teriak teman-teman hampir bersamaan. Bagaimana tidak? Seluruh siswa SMP Cendekia dinyatakan lulus 100 persen. Semua siswa bahagia. Budaya mencoret seragam di hari kelulusan terlihat biasa. Nabilah yang teramat jahil dan tak bisa diam itu beberapa kali mencoba mencoret seragam milikku. Namun, aku menolak. Padahal, ia telah berhasil mencoret seragam Irma sampai warna aslinya tak terlihat lagi. Kupikir anak gadis Om Irfan itu tak masalah. Ayahnya orang berada. Mall metropolitan yang mirip gedung pencakar langit itu miliknya. Ayahnya akan membeli seragam baru untuk Irma.

Sebagai hadiah kelulusan, Rifqi mengajakku pergi ke makam Irul.
Sesampainya di sana. Aku tak dapat membendung air mata ini. Aku menangis. “Rul, aku merindukanmu”. Ucapku. “Kak, aku tak bisa menjadi seperti dirimu. Namun, aku bisa menjaga Indri seperti dirimu”. Ujar Rifqi. Ya Tuhan aku sangat bersyukur padaMU. Kau sudah memberikanku orang-orang baik. Ayah dan ibu sebagai orangtuaku. Irma, Nabilah, Mar’a sebagai sahabatku. Irul dan Rifqi yang hadir dan mewarnai hari-hariku.
Terimakasih Tuhan. Cerita ini. Cerita hidupku ini. ‘Semanis Gula Jawa’.

Suasana setelah hujan adalah suasana yang paling nyaman. Aroma khas setelah hujan menawarkan kerinduan. Beberapa orang terlihat tergesa dengan kendaraannya, begitu juga dengan pejalan kaki. Ada yang terburu-buru karena dikejar waktu. Ada yang berjalan hati-hati menghindari genangan air.
Hanya aroma khas hujan yang menemani rasa rinduku. Aku merindukan Irul.
Terimakasih Tuhan. Terimakasih atas kehidupan ini. Walau di kehidupan ini aku sempat menyaksikan kematian orang terkasihku dan aku juga sempat merasakan indahnya jatuh cinta. Sekali lagi aku mengatakan. Cerita hidupku ini
‘Semanis Gula Jawa’.

Cerpen Karangan: Indriani
Facebook: indrii
TTL: Bontang, 7 September 2002.
SMPN 8 Bontang.
Instagram: @ndria_ni
“Ingin bertemu Andrea Hirata”.

Cerpen Semanis Gula Jawa merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Merangkai Bingkisan Kalbu

Oleh:
“Ju, jangan di kamar terus! Sekali-kali liburan gitu. Jangan belajar terus, nanti capek lo!” “Nggak Ma, Juania masih banyak tugas.” Liburan memang tak ada di mata Juania. Baginya waktu

Biarkan Aku Memandang Ke Puncak Menara

Oleh:
Ini adalah hari yang ditunggu-tunggu oleh seorang gadis bernama lengkap Mikaila Anugerah. Dimana hari pengumuman kelulusan telah tiba. Ia sudah begitu yakin akan kelulusannya. Sebab, ia selalu menduduki juara

Kenyataan

Oleh:
Angin bertiup sangat kencang. Awan hitam mulai menampakan sinarnya sedikit demi sedikit. Aku masih saja terus bertahan di bawah rerimbunan pohon tempat biasa ku mencurahakan isi hati, walaupun awan

Mengejar Bintang Jatuh (Part 1)

Oleh:
Siapa yang tidak tahu bintang jatuh? aku pastikan semua orang tahu dan pernah melihat apa itu bintang jatuh. Konon, kalau ada bintang jatuh lalu kita memohon sesuatu itu akan

Jangan Lupa Setia

Oleh:
Sekolah masih sepi, hanya ada beberapa motor yang terparkir di parkiran belakang yang biasanya dipenuhi dengan motor yang berserakan dari sudut ke sudut. Namun itu semua tak berlaku di

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *