Semoga Engkau Bukan Hantu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 27 January 2016

Banyak orang bilang kalau cowok gendut itu identik dengan kesan lucu, dan inilah yang terjadi padaku. Namaku Enggar Tri Widagdo, 2 IPA 1 adalah kelasku. Dalam suatu kelas percaya atau tidak percaya pasti ada salah satu murid yang badannya gemuk dan salah satu di antaranya adalah aku. Karena badanku yang paling besar ini aku akhirnya dijadikan ketua kelas oleh teman-teman sekelasku.

“Enggar Tri Widagdo!!” diringi tepuk tangan teman-temanku saat pembacaan hasil penghitungan suara calon ketua kelas.

Bagiku jadi ketua kelas itu ada asyiknya ada juga gak asyiknya, untuk asyiknya adalah aku bisa banyak kenal dengan para guru-guru yang mengajar di kelasku dari situ aku bisa mendapat perhatian lebih ketimbang para murid-murid yang lain. Dan kalau enggak enaknya adalah aku selalu menjadi pesuruh para guru-guru untuk mengumpulkan tugas teman-temanku. Bersama Dadang dan Ibnu dua sahabatku ini hari-hariku penuh dengan kelucuan dan kekonyolan.

Dadang adalah seorang donn yuan jomblo ngenes sedangkan Ibnu adalah seorang Idola cewek-cewek, ia pandai membuat puisi ia juga menjadi pemimpin redaksi majalah sekolah. Kepiawaiannya dalam menulis cerpen dan puisi mampu membuat hati cewek yang membacanya meleleh seperti es krim yang ditaruh dalam sebuah kulkas yang tak terarili listrik. Berkali-kali Ibnu mendapat surat cinta dari para cewek-cewek yang menjadi pembaca setia majalah sekolah, namun dari kesekian banyak cewek yang telah mengungkapkan isi hatinya, Ibnu tak pernah sekali pun menanggapinya.

“Aku heran sama kamu, jangan-jangan kamu gak normal?” tanya Dadang sedikit bercanda pada Ibnu saat kami sedang makan di kantin. “terserah apa katamu Dang!” jawab Ibnu singkat.
“harusnya kamu memanfaatkan karunia sang pencipta itu dengan sebaik-baiknya.” sahut Dadang. “maksudmu?” lirik Ibnu. “kamu pacarin cewek-cewek yang jelas-jelas tertarik sama kamu itu!” Dadang menjawab sambil menenggak Jus wortel kesukaannya.
“lah yang tertarik sama Ibnu kan gak cuma satu Dang.” aku ikut menimpal, “ya pake periode lah! satu bulan dengan si A trus bulan berikutnya dengan si B dan seterusnya!” jawab Dadang dengan senyum simpul.

“Dasar!! Tuhan itu maha adil, untung dia ngasih karunianya ke Ibnu bukan ke kamu Dang!” ku jawab ketus.
“maksud kamu?” Dadang merasa bingung. Aku dan Ibnu tertawa melihat ekspresi wajah Dadang.
“mungkin itulah alasan kenapa kamu selama ini selalu ditolak oleh cewek Dang!” Ibnu memandang Dadang yang tengah melirik seorang siswi.
“Hooooe Dang!!!” tangan Ibnu dikibas-kibaskan di depan wajah Dadang.
“aah kamu Nu!!” jawab Dadang kesal.

“kamu ngelamunin siapa?” tanya Ibnu. “kamu gak lihat gadis cantik yang di sana itu?” Dadang menunjuk dengan tangan kanannya. “yang mana?” aku dan Ibnu mancari tahu. “itu!! yang pake pita warna pink!”
“masyaallah!! aku juga baru lihat hari ini Dang, siapa dia?” jawabku penasaran.
“hoooee!!” suara seorang cewek mengagetkan kami. “aaaahhhh sinosuke!!” suara kami serentak.
“yaelah hehehehe, lagi pada ngelihatin siapa sih?” tanya Sintia.

Ia adalah sahabat kami dia adalah seorang cewek super tomboi dia jarang bergaul dengan para cewek pada umumnya, hampir setiap hari ia selalu bersama aku Dadang dan Ibnu. Ada satu yang unik dari seorang Sintia yang biasa kami panggil Sinosuke ini, yakni kulit wajahnya itu alergi dengan bedak ataupun komestik lainnya, kulitnya hanya dapat diolesi oleh bedak bayi. Suatu ketika ia pernah curhat tentang masalah ini padaku namun bukan solusi yang ku berikan padanya tentang alerginya itu, aku malah tertawa geli mendengarnya dan sampai sekarang ia tak pernah mau pakai bedak. Wajahnya yang tampak dekil membuat ia benar-benar seperti cowok.

“kamu kenal gadis yang pake pita Pink itu?” aku menunjuk ke arah meja makan di seberang meja kami.
“yang mana sih?” Sintia mengeritkan dahi.
“tanya cewek kok sama dia Gar, mana dia tahu… dia emang cewek tapi gak pernah gaul sama cewek.” celoteh Dadang, kami semua tertawa kecuali Sintia.
“daripada kamu sok akrab sama cewek sana-sini tapi gak pernah ada yang mau jadi pacarmu, wuuueekk!!” timpal Sintia cewek yang berambut pendek yang tak pernah sekali pun memakai anting.

“ehh, ehh kenapa kamu malah nyindir aku? huu dasar cewek superman!” Dadang melempari Sintia dengan sedotan, dan Sintia pun membalas dengan melempar sedotan es miliku. Mereka berdua memang sering saling ejek, adu mulut pokoknya saling ngejelek-jelekin satu sama lain tapi itulah yang justru yang membuat persahabatan kami makin unik dan ramai. “apa-apaan sih ini? udah deh kalian itu kayak Tom sama Jery saja… selalu saja ribut” ketus Ibnu. “Dadang tuh Nu yang selalu mulai duluan!” sahut Sintia kesal.

“sudah-sudah! sekarang aku tanya lagi… kamu tahu gak siapa gadis yang disana itu yang pake pita warna pink itu?” aku kembali bertanya pada Sintia.
“yang itu?” tanya Sintia mencoba memastikan. “iya!”
“enggak tahu!!” jawab Sintia dengan menggeleng-gelengkan kepala.
“tuh kan!! apa aku bilang… pasti cewek superman ini gak tahu.” cerocos Dadang yang kembali membuat Sintia kesal hingga akhirnya meja tempat kami makan pun jadi ramai karena pertikaian mereka. Para pengunjung kantin pun nampak geleng-geleng kepala melihat apa yang dilakukan Dadang dan Sintia.

Bel tanda pulang sekolah telah berbunyi, berduyun-duyun para siswa-siswi keluar meninggalkan kelas mereka. Riuh ramai suasana sekolah kini menjadi hening dan mulai sepi aku hari pulang agak telat karena harus mengikuti rapat OSIS. Selain ketua kelas aku memang menjadi salah satu pengurus organisasi intra sekolah itu.
“kita duluan ya Gar!!” pamit Ibnu, Dadang, dan Sintia melambaikan tangan padaku saat kami ke luar kelas. Aku bergegas meninggalkan ruang kelasku dan segera menuju ruang OSIS tempat kami mengadakan rapat.

“kok pada belum dateng sih? dasar kebiasaan pake jam karet.” aku bergumam karena sudah 15 menit aku menunggu teman-temanku sesama pengurus OSIS yang belum juga datang. Satu persatu mereka aku sms ada yang bales dan sebagian tidak hingga akhirnya mereka pun datang juga. “dasar jam karet! sudah jam berapa ini coba!” aku menunjuk jam tanganku. “yaelah Gar… belum juga sampe setengah jam kami telat!” sahut temanku yang bernama Sakti. “yang on time dong lain kali!!” aku berlagak kesal.
“nah ini ketua OSISnya saja belum nongol!” timpal Nia cewek pengurus OSIS yang pernah ditembak Dadang namun akhirnya ditolak. “ah pasti dia lagi di kantin… udah kebiasaan tuh anak kalau nyuruh rapat paling semangat tapi giliran dateng pasti paling telat.” imbuh Hery.

Hery cowok bertubuh atletis yang menjadi saingan Dadang saat PDKT sama Nia. Hery yang juga waktu itu menaruh hati pada Nia, namun sayang mereka berdua harus merasakan perasaan yang sama, sama-sama ditolak oleh Nia karena Nia lebih memilih kakak kelasku. Pernah terbesit dalam benak Dadang untuk mendekati Nia lagi namun langsung ditolak mentah-mentah oleh Nia. Dadang memang pantang menyerah meskipun ia tahu bakalan kalah!

“berkasnya kamu bawa kan Gar?” tanya Hery padaku. “berkas yang mana?” jawabku agak bingung.
“yaelah!! ya berkas yang akan kita bahas di rapat kita nanti! yang akan kita umumin di mading?”
“astaga!!!” aku terkejut ku tepuk jidatku. “aku lupa Her!! berkasnya masih belum aku Print aduh gimana ini? aku bener lupa ini?”
“yaaahhh payah! gimana sih? ya sudah buruan diprint sekarang mumpung ruang komputer masih belum dikunci Gar!” sergah Hery padaku. “oke-oke! aku langsung ke sana… tunggu sebentar!”

Seketika aku langsung meninggalkan ruang rapat itu. Aku merasa bersalah karena lupa ngeprint berkas yang akan menjadi materi rapat kami. Sebenarnya tadi sudah aku rencanakan bahwa setelah dari kantin aku akan langsung ke ruang komputer untuk ngeprint tapi aku lupa. Ini pasti gara-gara kepikiran cewek yang pake pita warna pink tadi, cewek yang baru sekali itu aku melihatnya. Cewek yang mirip sekali dengan Dian Sastrowardoyo Ibnu dan Dadang pun sependapat denganku.

Tibalah aku di depan ruang komputer.
“aduhh sudah dikunci gimana ini?” aku melihat sesosok gadis putih berambut panjang terurai dengan dihiasi pita warna pink. Gadis yang sedari tadi ku perhatikan saat kami di kantin.
“waduh sudah dikunci ya? kamu mau ngeprint juga?” aku mencoba bertanya pada gadis itu. Ia pun mengangguk pelan tanpa menjawab, dan saat itu juga Pak Ratmin seorang penjaga sekolahku lewat di hadapan kami.

“Pak! Pak Ratmin!!” aku menghentikan langkahnya. “ada apa Mas Enggar?”
“minta tolong bukain ruang komputer ini dong Pak, saya mau ngeprint file penting ini” pintaku pada Pak Ratmin.
“waduh barusan ada yang mau ngeprint juga Mas, tapi gak bisa… katanya printernya rusak gitu.” Pak Ratmin mencoba menjelaskan. “ah itu sih biasanya cuman catridgenya macet Pak! saya akan perbaiki nanti… Cuma sebentar kok.” aku meminta Pak Ratmin untuk membukakan ruang komputer.

“ayo dong Pak! saya juga mau ngeprint file penting ini.” imbuh gadis yang memakai pita warna pink itu. Ia juga seolah ingin membutuhkan printer itu saat ini juga.
“yaa iyaa! saya bukakan… kompak banget kalian ini!” Pak Ratmin akhirnya mengerti dan mau membukakan ruang komputer itu untuk kami. Aku langsung bergegas masuk ke ruang komputer ku hampiri sebuah komputer yang tersambung pada sebuah printer dan benar dugaanku catridgenya macet karena tinta di dalamnya hampir menggumpal. Tanpa banyak bicara aku langsung membuka tutup printer dan mengambil catridgenya, dengan menggunakan sebuah suntikan aku menguras tinta yang hampir menggumpal dalam catridge itu.

“kamu kelihatan jago sekali benerinnya!” suara gadis itu memecah keheningan ruangan komputer, karena hanya kami berdua yang ada di dalamnya.
“ah enggak juga kok!” ini sih hasil pengalamanku dulu ikut bantu-bantu kakakku servis komputer dan printer.”
“ohh gitu!” gadis itu mengibaskan rambut panjangnya kemudian duduk di kursi yang ada di sebelah meja komputer yang sedang ku perbaiki.
“kamu mau ngeprint apa?” aku mencoba bertanya. “ini aku mau ngeprint skenario buat acara drama.”
“drama di mana? kapan pentasnya?”
“ya di sekolah kita ini lah… buat acara 17 agustusan nanti!” gadis itu tampak antusias.
“oh gitu!” aku mengangguk.

“kalau kamu?” gadis itu balik bertanya.
“aku mau ngeprint beberapa berkas yang akan dibahas rapat osis nanti… yang buat diumumin di mading! tentang acara lomba 17-an nanti.” kami mengobrol tentang lomba-lomba yang akan diadakan pengurus osis di sekolah kami dan nampaknya ia sangat senang ku ajak membahas acara 17-an nanti. Aku mendengarkan celotehnya sambil terus menguras tinta dalam catridge yang kini sudah hampir bersih terkuras. Setelah ku pastikan sudah terkuras semua aku mulai menuangkan tinta baru di dalamnya. Ku pasang kembali catridge itu kemudian printer ku nyalakan.

“Ahaaa!! beres sudah.” aku lega akhirnya printer itu dapat ku perbaiki.
“Wiihh hebat!” gadis itu mengacungakan jempol padaku dengan senyum lebar. Sungguh gadis itu makin terlihat cantik saat tersenyum, “benar-benar mirip Dian sastro” gumamku dalam hati. Aku langsung membuka file yang akan ku cetak saking fokusnya pada file yang akan ku cetak tanpa sadar aku mengusap hidungku dengan tangan kananku yang masih terdapat tinta menempel. Melihat hidungku tercoreng tinta hitam gadis itu tertawa geli.

“ada apa kok ketawa?”
“hihihi!” gadis itu makin tak bisa menahan tawanya saat aku menatap ke arahnya. “kamu kenapa sih?”
“coba deh kamu ngaca dulu sana!” gadis itu menunjuk kaca jendela.
“haahh!! waduh gimana ini?” aku terkejut melihat mukaku tercoreng tinta, aku benar-benar mirip tentara yang mau pernag di hutan. Gadis itu makin tak bisa mehanan tawanya, berkali-kali ia cekikikan melihat wajahku.

“ini kamu pakai!” gadis itu mengulurkan sebuah sapu tangan. “bener… gak apa-apa ini aku pakai?”
“iya… kamu pakai saja! daripada aku sakit perut karena gak bisa nahan tawa lihat muka kamu yang jadi kayak badut ini, hehehe.”
“yeee!! ketawain terus.” aku terus berkaca.
“udah ini kamu pakai saja!” aku menerima sapu tangan itu. Sebuah sapu tangan berwarna pink warna yang sama dengan pita yang tersemat di rambutnya. Di saat aku sibuk membersihkan wajahku tiba-tiba hp-ku berbunyi, seseorang meneleponku.

“Hey ndut!! kamu ini ke mana? berkasnya sudah kamu print belum?” Hery menelepon dengan nada kesal.
“iya iya bentar! ini sudah seleasi kok, tinggal jalan doang!” dengan cekatan aku mengumpulkan berkas yang telah aku print. “buruan! ini teman-teman udah ngumpul dari tadi… tinggal nunggu kamu doang ini!”
“iyaa!! ini OTW!” aku menutup telepon, ku cabut flasdish dari komputer kemudian bergegas meninggalkan ruangan itu, sebenarnya aku masih ingin berlama-lama bersama gadis itu tapi kenapa harus di saat seperti ini. “udah?” tanya gadis itu saat melihatku mulai membereskan berkas yang telah aku print. “heemm!” aku mengiyakan.

Tiba-tiba datang seorang siswa menyamping di samping pintu.
“ooohh pantesan lama banget ditungguin gak dateng-dateng, ternyata!” dan dia adalah Sakti. Dia bete menungguku hingga akhirnya menyusul ke ruang komputer.
“tadi printernya pakai acara rusak segala… jadinya lama!” aku menjelaskan kepada Sakti yang nampak terus memperhatikan gadis yang bersamaku di ruangan itu.
“heleh…. rusak apa rusak?” goda Sakti. “sudah! sudah! ayo ini sudah selesai.” aku mengajaknya ke luar.

“iyaa! iyaa jangan dorong-dorong dong!” aku mendorong Sakti ke luar ruangan.
Sejak tadi matanya terus melirik ke arah gadis itu. “enggak pamit dulu sama dia?” Sakti terus melirik gadis itu. “oohh ya! eh aku duluan ya, kamu berani kan?” Aku melepas doronganku ke Sakti. “berani kok, kamu duluan saja!” ia menjawab tegas. Aku tersenyum kemudian meninggalkan ruangan komputer dengan terus mendorong Sakti karena terus melirik gadis itu. “malu-maluin saja Sakti ini.” gumamku dalam hati.

Di ruangan rapat OSIS.
“Naahh ini dia yang ditunggu-tunggu! lama banget sih? sampe bete kita nungguin kamu.” ketus Nia.
“printernya rusak!” jawabku singkat.
“ehem!” Sakti menggodaku. “rusak apa rusak?” Sakti menyikut lenganku.
“kamu ini ngomong apa sih? udah ayo kita mulai!”

“ya sudah ayo kita mulai! mana berkasnya Gar? tanya Gunawan sang ketua OSIS. Aku memberikan tumpukan berkas yang aku print, dia membuka lembar per lembar berkas itu hingga terlihat sebuah sapu tangan berwarna pink jatuh ke lantai. “ehh sory!” Gunawan kaget kemudian mengambil sapu tangan itu.
“punya kamu ya? ciiie warna pink!!” Gunawan mengulurkan sapu tangan itu padaku.
“haah? ya ampun aku lupa balikin sapu tangan ini… sebentar ya aku mau…” belum sampai aku ke luar untuk mengembalikan sapu tangan itu, niatku sudah dicegah oleh Hery.

“ehh eehh ehh mau ke mana lagi? buruan kita mulai rapat ini!”
“sebentar-sebentar ada yang ketinggalan di ruang komputer!” aku menyelonong ke luar ruangan. Aku berlari menuju ruang komputer untuk mengembalikkan sebuah sapu tangan ini. Dari jauh tampak Pak Ratmin hendak akan menutup pintu ruangan komputer. “eh Pak! Pak tunggu sebentar!” aku menyergah Pak Ratmin ku tengok ke arah sana-sini namun gadis itu tak ada. “loh… cewek yang tadi sama saya disini ke mana Pak?”

“yang tadi ngeprint sama Mas Enggar?” “iya Pak!” aku menoleh kanan dan kiri mencari sosok gadis itu.
“dia sudah pergi!” jawab Pak Ratmin singkat. “ke mana? Lewat mana?” aku antusias.
“ya pergi pulang to! lewat mananya ya saya ini gak tahu!” Pak Ratmin menjawab datar.
“ini masih mau masuk ruangan komputer lagi nggak?” Pak Ratmin dengan tangan siap mengunci pintu.
“ohh enggak Pak!” aku menggeleng.

Di mana perginya gadis itu? siapa pula namanya dasar bego! kenapa aku tadi lupa kenalan. Ku garuk-garuk rambutku, aku berjalan menyusuri teras depan kelas menengok ke arah gang-gang kelas. Gadis itu seakan lenyap entah ke mana, sapu tangan warna pink itu masih ku genggam.
“Akan ku cari dirimu, semoga angkau bukan hantu!”

Cerpen Karangan: Eddie S Raharja
Blog: bindercerpen.blogspot.com

Cerpen Semoga Engkau Bukan Hantu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Tahan Dulu Untuk Jatuh Cinta

Oleh:
Pertama melihatmu. Kau sudah membuatku tertarik. Kau terlihat begitu menarik. Kau seperti berbisik, berbisik pada ku untuk menyukaimu. Aku tak perlu tau siapa namamu, melihatmu dari kejauhan saja sudah

Tersenyumlah Untukku

Oleh:
Aku Dikenal sebagai siswi yg Berprestasi dan Ceria, aku selalu ceria dengan di temani Sahabat2ku dan juga Pacarku. Sahabatku yang bernama Sari, Cyntia dan Farhan. Pacarku Bernama Fino. ***di

Yang Kau Sebut, Teman

Oleh:
Bak sebuah langgam lama. Bukan hilang dan pudar termakan usia. Melainkan makin mempesona klasiknya. Layaknya kenangan yang begitu indah terpatri, masa dahulu begitu indah terlewati. Semakin dalam menggurat kesan

Oh Ternyata

Oleh:
Aku bersahabat dengan Dinar semenjak kami duduk di bangku SMP. Aku sudah sangat mengenalnya, hapal dengan tingkah lakunya yang kadang-kadang sedikit berlebihan dan kurang peka terhadap perasaan orang lain.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *