Semoga Hidupmu Menderita

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Patah Hati
Lolos moderasi pada: 1 March 2018

Kota ini masih belum tidur. Angin berhembus dari lautan menimbulkan riak ombak kecil dari muara sungai. Pantulan cahaya lampu membentuk sebuah garis vertikal di permukaan air. Kiriman sampah dari hulu hanyut menuju lautan.
Kopiku terlalu pahit untuk kuhabiskan sendirian. Dia pun tidak terlalu bernafsu untuk meminumnya. Terlalu banyak gula yang dicampur pada kopi hitam ini malah membuatnya terasa seperti cuka. Maka sia-sialah segelas kopi hitam itu ditinggalkan peminumnya.

Hal serupa tidak terjadi pada sebungkus rok*k yang baru satu jam yang lalu kubuka. Hanya tinggal beberapa batang saja dalam bungkusan itu. Asbak telah penuh terisi dengan puntung rok*k. Aku mulai bosan untuk menghisap sebatang rok*k. Sampai dadaku sesak, dan batang terakhir yang aku bakar tidak pernah dihabiskan. Hanya sampai setengah batang lalu kumatikan di asbak.

“Aku ingin pulang malam ini,” Nicky berkata setelah keheningan yang terjadi tidak begitu lama.
“Lalu apa yang akan kau lakukan?” kataku.
“Hanya menikmati waktuku sendiri.”

Dia melayangkan pandangannya pada langit luas. Kepalanya menengadah ke atas. Rambutnya dikuncir kuda, sehingga leher yang panjang itu terlihat jelas. Sangat menggairahkan. Mungkin karena itulah aku mencintainya.

Aku tidak munafik. Sebagai lelaki, aku menyukai wanita dari fisiknya. Tetapi tidak dari dada atau pantat yang besar. Aku tidak menyukai hal-hal seperti itu. Aku menyukai wanita yang rambutnya hitam legam. Wanita yang langsing, berdada rata, jikapun tidak rata, asal tidak terlalu besar. Karena tidak akan proporsional dengan wanita berbadan langsing yang aku sukai.
Maka Nicky adalah gambaran seorang wanita yang benar-benar sesuai dengan seleraku. Memandanginya tidak pernah membuat aku bosan. Sudah satu jam lebih kami duduk di sini, tetapi aku belum bosan untuk tetap bersama.

Godaan melihat matahari terbit pagi nanti sungguh menggiurkan. Tidak tidur malam ini adalah harga yang terlalu murah untuk dibayar melihat pagi yang indah. Beberapa kali pernah kami saksikan, dan itu sungguh indah. Tetapi dia tidak ingin mengulanginya.

Beberapa minggu terakhir hubungan antara aku dan Nicky sangat dingin. Jika kuingat, apa hal yang aku lakukan sebelumnya, tidak kutemukan satupun kesalahan yang harus aku tebus. Maka sangat menyakitkan dengan apa yang dia lakukan kepadaku akhir-akhir ini. Diam, setelah panjang lebar aku bercerita. Dia hanya diam. Aku bertanya, dia menjawab dengan singkat sambil membuang muka. Tidak ingin menatapku. Tidak ada kehangatan yang terjadi pada tahun-tahun pertama kisahku.

Adalah suatu hal yang wajar jika sepasang kekasih berkomunikasi sepanjang hari. Apakah itu lewat pesan di telepon genggam, atau sambungan telepon. Makan malam di restoran ataupun tempat makan pinggir jalan. Atau sekedar menghabiskan waktu bersama. Kami pun seperti itu. Sampai beberapa minggu yang lalu. Semua aktivitas yang lazim dilakukan sepasang kekasih itu berhenti karena alasan yang tidak aku ketahui.
Ingin aku bertanya tentang apa yang terjadi. Tetapi tidak pernah ada jawaban yang pasti. Semua cara telah aku lakukan untuk membongkar rahasia yang dia simpan. Dengan cara yang halus, ataupun keras. Tidak pernah ada jawaban.
Malam ini aku bertekad untuk mendapat jawaban. Aku berharap semuanya menjadi jelas, dan aku ingin semuanya tetap indah. Seindah pagi dengan matahari terbit yang pernah kami saksikan.

Jawaban itu mungkin muncul saat Nicky mulai berbicara.
“Aku ingin menyampaikan sesuatu padamu.”
Ya, aku rindu mendengar suaranya yang sangat jarang aku dengar beberapa minggu terakhir.

Nicky menahan nafasnya. Lalu menghirup nafas dalam-dalam. Dia menelan ludah dan mulai berbicara.
“Tiga tahun kita bersama, sungguh saat indah. Aku menikmatinya sejauh ini. Sungguh.” Nicky berbicara sangat pelan sehingga aku pun sulit untuk mendengar apa yang dia ucapkan. Dia memandang ke arahku. Tetapi pandangannya menembusku, seakan ada sesuatu yang diperhatikannya, tetapi itu bukan aku.

“Bagaimana menurutmu jika kita akhiri saja semua ini?” Dia berkata dengan setengah berbisik. Meskipun kecil, tetapi apayang disampaikannya sangat jelas terdengar.

Untuk beberapa detik aku tidak bisa memahami apa maksud dari kalimat yang diucapkannya. Aku mecoba memahami apa yang dia katakan sebagai ajakan untuk pulang.
“Apa kau ingin pulang sekarang?” Aku bertanya.

“Pahamkah kau apa maksud perkataanku? Aku ingin semua ini berakhir. Semua tentang kita. Aku tidak ingin lagi meneruskan hubungan ini.” Kata Nicky. Suaranya lebih keras dari yang tadi. Dia tidak lagi berbisik.
“Tidak! Apa maksudmu?” Aku tidak bisa berfikir. Biarlah dia yang mengatakannya.
“Kau dan aku berakhir. Hubungan ini cukup sampai di sini. Aku tidak ingin melanjutkannya.”
“Tolong, apa maksudmu? Jangan berbicara seperti itu.” Aku mulai kalut. Titik terang dari arah pembicaraan ini mulai tampak, dan itu sungguh membuat aku takut.

“Kita putus! Hubungan ini tidak mungkin bisa aku lanjutkan. Aku tidak mencintaimu. Aku tidak tahu, semua tentang kita sudah terasa hambar bagiku…”
“Kau mencampakan aku? Tolonglah, Nicky! Apa salah yang pernah aku lakukan. Maafkanlah aku, jangan kau perlakukan seperti ini. Aku sangat mencintaimu. Jangan tinggalkan aku!”
“Tetapi aku tidak! Aku tidak mencintaimu lagi. Tidak ada kesalahan yang kau lakukan. Kesalahan ini terletak padaku. Selama ini kau sungguh baik. Tidak akan kutemukan lagi lelaki sepertimu. Terimakasih sudah pernah ada dalam hidup. Tapi sekarang aku harus pergi. Mengertilah,” kata Nicky terbata-bata. Dia menahan tangisannya agar tidak keluar. Matanya berkaca-kaca. Gelas minuman itu digenggamnya kuat-kuat.

Aku terdiam. Tenggorokanku sakit. Nafasku memburu. Bayangan-bayangan akan kehilangan Nicky berkelebat dalam pikiranku. Aku tidak mau itu terjadi. Apa yang bisa aku lakukan untuk membatalkan keputusan yang telah dibuatnya? Aku ingin berkata, tetapi lidahku kaku. Tidak ada satu kalimatpun yang bisa aku katakan.

“Aku benar-benar minta maaf. Aku tidak mengharapkan maaf darimu. Tak akan ada maaf yang bisa diberikan oleh seseorang atas apa yang aku lakukan.”
“Nicky…” Kataku. Sungguh sulit untuk menyebut namanya. Kutatap matanya. Dia membuang muka, tidak ingin membalas tatapanku.

“Apakah tidak ada cara lain untuk mengurungkan keinginanmu?” Kataku memelas.
“Tidak! Teputusanku sudah bulat,” kata Nicky datar.
“Beri aku alasan Nicky! Aku mohon!”
“Aku tidak mencintaimu lagi! Sudahlah! Tidak ada lagi yang bisa kau lakukan. Mari kita pulang?”

Sepanjang perjalanan pulang, tidak ada satu kalimatpun yang kami ucapkan. Sesekali aku mengintip wajah Nicky. Dia menunduk. Sekejap aku lihat tatapan matanya, kosong.
Jalan lurus yang akan kami tempuh terasa begitu jauh dan berat. Sebelum berjalan pulang, dia berkeras hati untuk tidak aku antar. Tetapi aku memohon, biarlah kuantar dia pulang untuk terakhir kalinya.
Sepanjang perjalanan aku masih bertanya-tanya. Kenapa dia melakukan ini semua? Alasan “aku tidak mencintaimu lagi” bagiku hanya omong kosong. Tiga minggu lalu dia masih mengatakan bahwa dia sangat mencintaiku setelah sebuah ciuman hangat aku berikan. Itu terakhir kalinya kemesraan yang kami lakukan. Setelah itu dia begitu dingin.

“Kuharap kita tidak bertemu. Aku tidak membencimu, aku hanya tidak mencintaimu lagi. Tetapi jika kau berusaha untuk menemuiku, aku akan sangat membencimu. Semoga kau bahagia dengan hidupmu.” Kata Nicky pelan sambil berjalan di sampingku.

Sampailah kami di depan rumahnya, Nicky memasuki pekarangan lalu masuk rumah tanpa menoleh sekalipun kepadaku. Begitu kekejaman yang dia lakukan. Aku tidak bisa marah, aku hanya merasakan kesedihan karena akan kehilangan dia.
Tiga tahun terakhir aku sudah sangat terbiasa ada seorang Nicky di setiap hari. Aku membayangkan bagaimana hari-hari yang akan datang bisa terlewati. Pasti akan sangat berat, sampai aku bisa menghapus kepedihan. Sampai aku tidak merasakan kesedihan kehilangan dirinya.

Tiga bulan semenjak kepergiannya. Sudah tidak ada lagi luka itu. Tetapi bekas luka tersebut masih saja terasa pedih. Aku lelah mencoba melupakannya. Sampai hari ini aku terlanjur menikmati pedih yang dia berikan.
Aku merindukan Nicky, itu pasti. Aku ingin bertemu dengannya. Tetapi semenjak malam itu aku tidak pernah lagi melihatnya.

Sialan! Dia benar-benar sialan. Kasih sayang yang tiga tahun aku berikan dia balas dengan meninggalkanku. Tiga bulan penderitaanku setelah dia tinggalkan dibayar tuntas dengan apa yang kulihat hari ini.
Apa gunanya aku masih menghormatinya dengan menjaga perasaan cinta ini. Semakin pedih cinta ini menggerogotiku, semakin besar rasa cinta tersebut.
Sampai petang ini! Cukup sudah semuanya. Sia-sia saja semuanya. Tidak akan ada lagi cinta untuknya. Aku terlalu bodoh selama ini. Mulai sekarang, tidak akan lagi aku terperangkap dalam kebodohanyang sama.

Dalam jarak seratus langkah, sangat jelas aku melihat sumber penderitaan yang aku alami dalam tiga bulan terakhir. Takdir merasa iba melihat aku terpuruk dan membuat aku melewati rumah wanita kejam itu. Semuanya menjadi jelas sekarang. Mataku telah terbuka. Entah kenapa, perasaan cinta dan kepedihan yang selalu jaga ini menguap. Aku tidak tahu. Semuanya terasa hambar.
Aku berdo’a agar dia mendapatkan balasan yang setimpal atas apa yang pernah dia lakukan kepadaku. Semoga dia menderita, dijauhi kebahagiaan. Hidup dengan penuh air mata di sisa hidupnya.

Aku berjalan mendekati rumah itu. Tidak terlalu besar, namun gaya bangunannya menarik. Beberapa tenda, meja dan kursi digelar di pekarangan rumah. Puluhan orang berada di sana dengan pakaian bagus-bagus. Suara seorang wanita yang merdu dengan jelas terdengar mengucapkan kalimat selamat menikmati hidangan yang telah disajikan. Lalu suara musik dimulai, menggetarkan jantung.
Beberapa orang duduk di meja sambil menikmati santapan mereka masing-masing. Beberapa lainnya sedang berbincang-bincang. Aku membeku di tempat aku berdiri sekarang.

Sebuah karangan bunga di tepi jalan di depan rumah itu berdiri indah dengan sebuah tulisan. Aku tertegun membaca tulisan itu, kedua tanganku mengepal dan bergetar. Nafasku sesak. Aku mencoba menahan. Tetap menahan. Terus menahan. Sampai aku tidak bisa menahan luapan emosi ini.
Aku berteriak sekeras-kerasnya.
“Nicky, sialan kau! Semoga tidak bertemu olehmu bahagia. Aku harap kau menderita selamanya!” (*)

Parik Malintang,
23 April 2017.

Cerpen Karangan: H
Facebook: haldi patra
penganut aliran mainstream entah penyair entah pujangga ataupun praktisi plagiatisme yang masih menolak untuk kreatif dan melihat dunia luar.

Cerpen Semoga Hidupmu Menderita merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Menunggu Cinta Sampai Di Batas Waktu

Oleh:
Adelia Hinata itu Namaku, Aku terkenal sebagai Primadona di sekolahku. Namun aku tak bangga dengan kepopuleranku yang membuat aku dikejar-kejar cowok satu sekolah dan termasuk cowok Idola di sekolah.

5 Tahun Yang Silam

Oleh:
Aku wanita yang mudah mencintai tapi sulit untuk melupakan, walaupun telah banyak ku temukan tapi tetap saja aku masih mengingatnya. Telah ku coba berbagai cara untuk melupakannya namun tak

Cinta Pasti Kembali

Oleh:
Bagi ku cinta yang abadi hanya cinta yang berlandaskan ketulusan.. Dan bagi ku cinta abadi yang pasti ku temukan adalah keluarga. Hari ini seperti biasa aku dan teman-teman ku

Penyesalanku

Oleh:
seiring waktu berganti tak merubah keaadan ku setelah kau tinggal pergi, prasaan cinta dn syang yg dulu hadir untukmu sedikit pun tidak berubah sampai detik ini,,, memang tak ad

Tunggu Aku di Batas Senja

Oleh:
Pagi itu Ara berlari menuju kolam ikan di samping rumahnya. Seperti yang biasa ia lakukan ketika pagi bertemunya, ia menemui ikan mas yang ada di kolam ikan samping rumahnya.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Semoga Hidupmu Menderita”

  1. Ridwan says:

    sialan, harusnya saya mengejar kejayaan perekonomian ketimbang mengejar wanita. jelas, sumber kebahagiaan hidup bukanlah cinta seorang wanita, tapi mengurus uang guna kejayaan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *