Semua Akan Indah Pada Waktunya

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 18 March 2017

Hari ini merupakan hari yang sangat membahagiakan bagiku. Setelah aku selesai wisuda di kampusku sebagai lulusan terbaik, semua keluargaku berkumpul untuk merayakannya. Sudah lama sekali aku tidak merasakan indahnya kebersamaan seperti ini, dalam hati aku sangat berharap agar kebersamaan ini menjadi kenangan yang sangat indah bagiku. Namun takdir berkata lain, di tengah perjalanan mobil orangtuaku mengalami rem blong sehingga menyebabkan sebuah kecelakaan fatal yang merebut nyawa orangtuaku dan kakakku. Sedangkan aku masih diberikan kesempatan hidup oleh Tuhan di dunia ini, walaupun harus mengalami koma selama 2 minggu.

Meskipun begitu luka batin dan trauma yang kurasakan tidak dapat terobati, sehingga untuk bisa tersenyum kembali, merupakan hal yang sulit bagiku, walaupun sudah 3 bulan sejak kejadian itu. Bahkan aku sering bertanya kepada Tuhan, dalam doa yang kupanjatkan. ”Kenapa aku harus mengalami penderitaan seperti ini, kenapa Aku harus kehilangan keluargaku, kenapa semua ini terjadi padaku Tuhan, kenapa…?”
Hampir setiap aku berdoa dan teringat akan mereka batinku benar-benar terasa sakit.

Ketika aku sedang duduk termenung di sebuah bangku taman seorang laki-laki mendatangiku.
“Hai,” Sapanya.
“Hai,” balasku pelan.
“Kenapa kamu kelihatan sedih begitu?” Kemudian dia duduk di sampingku. “Kalau kamu ada masalah kamu boleh membaginya denganku. Perkenalkan namaku Rafael.”
“Aku Aya.”
“Maukah kamu membagi apa yang kau rasakan denganku?” Tanyanya lembut padaku
“Kenapa aku harus membaginya denganmu? Kita kan baru saja kenal?” Balasku.
“Jika seandainya kau tidak mau membaginya, tidak apa-apa. Aku juga tidak memaksamu kok.”
“Mengapa Tuhan harus merebut semua kebagian ini dariku? Padahal aku baru saja dapat merasakan indahnya kebersamaan, tapi semua itu harus pergi untuk selamanya,” Ucapku dengan nada yang sangat sedih.
Rafael termenung mendengar kata-kataku, tapi dia berusaha untuk memahami kata-kataku tadi. ”Aku rasa Tuhan tidak mencoba untuk merebut kebahagiaanmu,” Ujarnya berusaha menghiburku.
“Tapi apa, mencoba menghancurkan hidupku,” Jawabku dengan nada bicara yang mulai tinggi.
“Tidak Aya, Tuhan tidak akan mungkin seperti itu padamu. Aku yakin ini merupakan sebuah ujian untukmu.”
“Ujian? Ini tidak adil. Semua kebahagianku lenyap seketika. Aku merasa rencana Tuhan ini tidak adil.”
“Jangan berkata seperti itu,” Nada bicara Rafael mulai terdengar keras. ”Tuhan tidak pernah salah dan dia tidak akan pernah bersikap tidak adil pada makhluknya, bahkan dia selalu memberikan kasih sayangnya. Aku yakin Tuhan pasti memiliki sebuah rencana yang amat indah untukmu nantinya. Memang, sekarang ini semuanya sudah menjadi takdirmu. Tapi jika kamu percaya akan kuasa dan keajaiban Tuhan, serta mau bangkit, tidak berputus asa, dan berusaha untuk terus maju, percayalah, keadaan pasti dapat berubah,” Jelas Rafael terus-terang padaku.
“Apakah aku bisa merubah kesedihan ini menjadi kebahagiaan?”
“Pasti bisa Aya, Karena Tuhan tidak memberimu apa yang kamu inginkan, belum tentu Dia menolak keinginanmu. Tuhan pasti sudah merencanakan sesuatu yang lebih baik dari apa yang kamu inginkan.”
“Terima kasih banyak Rafael,” Aku dibuat terharu sekaligus lebih semangat berkat motivasinya tersebut, dan untuk yang pertama kalinya, setelah tiga bulan aku pun bisa tersenyum lagi.
”Tapi kenapa kau ingin membantuku padahal kita baru saja bertemu?”
“Tidak kau salah, hanya saja kau sudah lupa padaku.”

Aku lalu berusaha untuk mengingatnya sambil memperhatikannya. Akhirnya aku bisa mengingatnya, dia adalah Rafael Stevano, salah seorang temanku ketika aku kelas 3 SMP dulu. Aku dan rafael dulunya berteman dekat ditahun terakhir pada masa SMP kami. Tapi aku tidak menyangka kalau aku bisa benar-benar lupa dengannya saat ini.

”Sekarang aku ingat, Kamu adalah Rafael Stevano.”
“Syukurlah kamu bisa mengingatku. Aku memang mendengar dari kabar, bahwa kamu baru saja mendapatkan sebuah kecelakaan yang membuatmu kehilangan keluargamu, karena aku ingin tahu bagaimana keadaanmu saat ini, aku mencoba untuk mencarimu. Dan akhirnya aku bisa bertemu denganmu di sini.” Tuturnya sambil mengelus dadanya
“Aku juga sangat beryukur bisa bertemu lagi dengan teman sebaik dirimu, karena untuk yang pertama kalinya setelah tiga bulan aku dapat tersenyum lagi.” Aku lalu tersenyum bahagia setelah itu.
“Jika kamu menghadapi tekanan lagi, datang saja padaku, aku pasti akan membantumu,” Katanya menawarkan bantuan padaku.
“Baiklah,” Jawabku mengerti.

Setelah pertemuan itu hidupku benar-benar berubah. Berkat dukungan dan bantuan yang diberikan oleh Rafael. Dua bulan setelah itu aku berhasil mendapatkan pekerjaan di salah satu perusahaan asing di kotaku, dengan gaji yang tergolong besar. Aku akhirnya jatuh cinta kepada Rafael, tapi aku merasa belum saatnya untuk mengungkapkannya. Di saat hari ulang tahunnya, dia mengajakku pergi berlibur bersama keluarganya. Tentu saja ajakan ini kuterima, karena ini bisa menjadi kesempatan yang bagus untuk mengungkapkan perasaanku padanya.

“Aya,” Panggil Rafael padaku di dalam mobil.
“Iya, ada apa Fa?” Jawabku penasaran.
“Kamu senang tidak ikut berlibur bersama keluargaku ini?”
“Pastinya, aku juga sangat berharap ini akan menjadi kenangan yang terindah bagiku.”
“Tentunya,” Jawab Rafael sambil tersenyum padaku.
Tapi, aku merasa aneh dengan ucapanku tadi. Kemudian aku ingat, bahwa itu adalah kalimat yang kukatakan sesaat sebelum kecelakaan yang merebut nyawa keluargaku. Aku lalu berdoa kepada Tuhan agar kejadian itu tidak terulang lagi. Karena bagiku, cukup satu kali itu saja aku mengalaminya. Aku tidak ingin kehilangan Rafael dan keluarganya, yang sudah kuanggap seperti keluargaku sendiri.

Tiba-tiba sebuah truk datang dari arah yang berlawanan dengan kecepatan tinggi dan lajunya tak terkendali. Akibatnya ayah Rafael yang mengemudikan mobil kami, terpaksa banting stir ke arah kiri untuk menghindari tabrakan dengan truk tersebut. Ingatan akan kecelakaan itu kembali terbayang lagi olehku, kini aku benar-benar takut, jika aku harus kehilangan mereka. Beruntung kami tidak mengalami kecelakaan yang parah karena menghindari truk itu. Walaupun kemudian truk itu terbalik dan terbakar, sebelum truk itu benar-benar hangus terbakar, sopir dan kernet truk berhasil menyelamatkan diri. Tetapi aku benar-benar terkejut, ketika melihat Rafael tidak sadarkan diri akibat sebuah benturan di kepalanya.

Kemudian setelah itu, ambulan pun datang, kami semua dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan medis. Setelah semua lukaku diobati oleh tim medis, aku meminta izin kepada dokter untuk melihat keadaan Rafael. Namun tiba-tiba seorang dokter masuk ke ruanganku dan mengatakan bahwa Rafael mengalami koma akibat benturan yang keras di kepalanya. Betapa terkejutnya aku mendengar hal tersebut, aku benar-benar takut jika harus kehilangan Rafael.

Setelah kejadian itu, setiap harinya aku selalu datang ke rumah sakit, Tentunya untuk menjenguk Rafael. Setiap aku datang menjenguknya, dan sebelum memasuki ruangannya aku selalu berdoa agar dia bangun dari komanya. Tapi kenyataannya, Rafael masih saja terlelap dalam tidurnya hingga 3 minggu. Hal tersebut benar-benar membuatku semakin sedih. “kenapa semuanya selalu seperti ini? Kenapa disaat aku mendapatkan kebahgiaan Tuhan selalu merebutnya dariku,” Gumamku.
Namun aku ingat akan apa yang dikatakan oleh Rafael, aku tidak boleh menyerah lagi, aku yakin semua ini pasti ada hikmahnya. ”Aku tidak akan seperti dulu lagi. Kali ini aku tidak akan menyerah lagi,” Batinku dalam hati memotivasi diriku.

Hari ini tepat satu bulan sudah Rafael koma. Seperti biasa, setelah selesai kerja aku datang ke rumah sakit untuk menjenguknya. Kali ini aku ingin mencoba berbicara dengannya, aku ingin mengungkapkan semuanya, apa yang kurasakan selama ini padanya. Meskipun dia mendengarku atau tidak bagiku itu tidak masalah.
“Rafael, aku mohon bangulah, aku ingin sekali melihatmu tersenyum untukku lagi,” Ucapku sambil mengenggam tangannya. ”Aku mohon jangan tinggalkan aku. Aku ingin kita bisa bersama seperti dulu lagi, aku menyanyanngi Rafael. Tuhan aku mohon sadarkanlah dia dari tidurnya ini.”
Tiba-tiba aku merasakan tangan Rafael mulai bergerak dan aku juga melihat matanya mulai terbuka. Dia kemudian berkata padaku. “Aya kamukah itu?” Refleks aku langsung menjawabnya. ”Iya ini aku Aya, Rafael.”
Kemudian aku langsung memanggil dokter untuk memeriksa keadaannya. Setelah aku menunggu selama 15 menit, dokter tersebut akhirnya keluar dari ruangan Rafael dan melaporkan keadaan Rafael padaku.” Selamat dia sekarang sudah sembuh komanya. Kamu tidak perlu cemas lagi. Mungkin lusa besok, dia bisa keluar dari rumah sakit. Betapa bahagianya aku mendengar hal itu, tidak lupa juga aku memberitahu keluarga Rafael. Mereka pun juga turut bahagia mendengarnya.

Lusanya seperti yang dikatakan dokter, Rafael sudah dibolehkan pulang ke rumahnya. Tapi, aku memutuskan untuk datang ke rumahnya besok saja, kurasa lebih baik untuk membiarkan Rafael menghabiskan waktu bersama keluarganya dulu. Keesokan harinya ketika aku datang ke rumahnya aku melihat Rafael dan keluarganya sedang berkumpul di teras depan rumahnya. Belum sempat aku memanggilnya, tiba-tiba Rafael langsung berlari ke arahku dan memelukku. ”Aya…, aku merindukanmu, selama aku tidur aku selalu merindukanmu. Tapi aku yakin bahwa suara yang kudengar setiap sorenya itu adalah suaramu. Sekarang akhirnya aku bisa melihatmu dan meluapkan semua perasaanku,” Aku melihat keluarga Rafael masuk ke dalam, ayah Rafael lalu berbisik padaku. ”Tenang lanjutkan saja, kami tunggu kalian di dalam.”
“Rafael,” Panggilku pelan padanya.
“Iya, kenapa Aya?” Rafael lalu melepaskan pelukannya.
“Aku… aku… aku menyayangimu Rafael. Aku sangat mencintaimu, aku akui ketika kamu tertidur selama satu bulan itu membuatku sangat sedih, karena aku takut kehilanganmu. Tapi sekarang aku sangat bersyukur pada Tuhan, karena kamu sudah terbangun dan aku dapat bersamamu lagi,” Ungkapku terus-terang padanya.
“Aku juga mencintaimu Aya. Aku pun sebenarnya juga sangat takut berpisah darimu. Oleh sebab itulah ketika aku bertemu denganmu saat ini, aku meluapkan semua kerinduanku ini.”
Kemudian aku membalas pelukan Rafael, aku memeluknya dengan sangat erat seperti tidak ingin melepaskanya lagi. Aku baru melepaskannya setelah dia memintaku untuk berhenti. Karena dia ingin mengajakku masuk ke dalam rumahnya.
Ketika sampai di dalam kami di sambut layaknya seperti pasangan pengantin.
”Cieee…, ada yang baru jadian nih,” Ledek ibu Rafael pada kami, “gak segitunya juga kali Bu…,” Balas Rafael sedikit malu-malu. Sedangkan aku tidak terlalu bermasalah dengan sindiran itu, saat ini yang kupikirkan adalah bagaimana aku akan mengenang kebahagiaan ini nantinya.

Memang awalnya aku merasa sangat kecewa terhadap rencana Tuhan ini. Namun akhirnya aku sadar bahwa rencananya itu jauh lebih indah dari yang kuinginkan. Walaupun harus berpisah dari keluargaku, tapi setelah itu aku bertemu dengan Nana. Aku di ajarinya untuk menjadi kuat dalam menjalani hidup ini. Semua itu telah mengubahku dan membuatku menjadi tegar dan tangguh dalam menghadapi hidup ini.

Cerpen Karangan: Fauzi Prima
Facebook: bekadeh

Cerpen Semua Akan Indah Pada Waktunya merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kenyataan Buat Tarin

Oleh:
“Sudah lama menungguku?“ tanyaku yang baru saja sampai di halte tempat bus yang akan membawa aku dan Dika ke kampus. “Tidak kok, Tarin. Ayo naik, tuh bisnya sudah hampir

My Prince Rio

Oleh:
“Kriiing kriiing” alarm di kamar ara berbunyi dengan sangat keras dan sempat membuat ara kaget, lalu ara terbangun untuk mematikan alarm tersebut dan dia pun tidur kembali tanpa melihat

Berbagi Rasa (Part 1)

Oleh:
Kisah ini berawal dari sebuah cerita khayalanku, mungkin menurut sebagian orang hal itu adalah konyol dan membuang-buang waktu, tapi menurutku berkhayal adalah hal yang paling menyenangkan. Dunia khayalan adalah

Masih Ada

Oleh:
Tik… tik… tik… dentuman detik waktu membawaku berlari begitu cepat. Memaksaku untuk cepat melupakan masa lalu. Ya, masa lalu. Masa lalu yang sulit terdefinisikan. Bahagiakah? Senangkah? Sedihkah? Pilukah? Aku

Menjadi Teman

Oleh:
“Apa aku yang terlalu bodoh?” Ucap Adela, memecah keheningan yang mulai bersenda akrab dengan dinginnya hembusan angin malam. Lelaki di sampingnya menoleh, dengan mimik yang datar, setengah menahan kantuk,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *