Semua Hati Butuh Proses

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 5 May 2016

Aku menanti dalam diam. Dulu dia pernah berjanji akan datang ketika dia melangkahkan kaki ke luar dari rumahku. Ia hanya mengucapkan kata, “Aku akan kembali.” katanya saat terakhir kami bertatap muka. Saat itu, aku selalu menunggunya sampai saat ini. Saat ini aku sedang mengarungi nasibku di salah satu perguruan tinggi di jogja. Sudah 5 tahun lamanya ia pergi.

Saat sedang asyik-asyiknya aku duduk di bawah pohon sambil menikmati sejuknya aroma pohon rindang dan angin yang berhembus, tiba-tiba aku dikejutkan oleh tepukan pada bahuku. Secara refleks aku berbalik dalam keadaan terkejut dan marah. “Apaan sih!” kataku marah tapi saat melihat siapa yang menepuk bahuku aku dibuat lebih terkejut “Omg!” kataku sambil menutup mulut karena saking terkejut. “Hei, ada apa?” tanya cowok yang membuatku hampir jantungan itu. Aku mengambil posisi duduk seperti semula, karena aku ingin mengontrol emosiku yang sangat bahagia.

“Maaf, apa kamu tidak apa-apa?” tanya cowok itu membuatku bingung.
Aku menatapnya penuh tanda tanya sehingga ia mengulangi pertanyaannya. “Kamu tidak apa-apa?” aku hanya menggeleng.
“Kenapa kamu nanya seperti itu? Aku tidak apa-apa. Tapi aku sangat senang kamu kembali,” ujarku sambil memeluknya.
“Aku senang kamu kembali. Senang sekali. Lihat wajahku, apa aku sedih?” orang yang ku rindukan itu menggeleng.
“Aku sangat bahagia, akhirnya kamu menepati janjimu. Kamu kembali. Selama ini aku menunggumu pulang. Sudah lima tahun aku menunggumu dan kamu tahu itu, bukan?” aku bahagia sekali sampai aku melompat-lompat, membuat orang-orang heran melihatku. Tapi itu tidak masalah. Mereka tidak tahu apa yang saat ini aku rasakan.

“Kamu Adera?” tanya Adit, orang yang selama ini aku rindukan. Aku sedikit merasa heran tapi rasa heranku segera sirna karena kebahagiaanku menutupi semuanya.
“Dit, aku Adera.” kataku sambil menunjuk diriku sendiri. Tiba-tiba wajah Adit berubah, seperti mengingat sesuatu.
“Kamu Adera? Ya ampun aku sampai tidak bisa mengenalmu. Kamu sangat cantik dan perfect!” katanya dengan lancang dan terlihat sangat terkejut ketika menyadari bahwa cewek yang berdiri di hadapannya saat ini adalah Aderanya. Tapi kenapa aku tidak merasa kata-kata itu spesial untukku. Hatiku tidak bahagia sama sekali tidak tersentuh. Tapi aku segera menyingkirkan perasaan itu dari pikiranku dan hatiku jauh-jauh. “Aku sangat bahagia bisa melihatmu lagi. Ade…Ra.” Adit mengatakan namaku seperti baru saja mendengar namaku, atau..? Aku bingung. Ia sangat berbeda dari Aditku dulu.

“Dit, kapan kamu datang? Kok tidak beritahu aku?” tanyaku penuh ekspresi tanda tanya.
“Oh, itu, ng… Sebenarnya… Aku ingin membuat kejutan untukmu tapi kita keburu ketemu,” jelasnya sambil cengir-cengir dan memegang belakang lehernya. Sangat terlihat ia mencari kata-kata yang tepat agar membuatku percaya. Aku sih, ingin percaya tapi kenapa hatiku tidak menginginkan hal itu. Ini sangat aneh. Pertemuan yang aneh.

Baiklah aku percaya saja. Kami berteman seperti dulu tapi caranya yang berbeda. Dia sangat bertolak belakang dengan Adit yang dulu. Dulu Adit sangat sabar menungguku berdandan bila kami hendak jalan bareng. Tapi Adit sekarang ia tidak suka menunggu, bila jalan, ia tidak suka jalan di belakangku. Ia lebih suka jalan di depanku dan masih banyak perbedaannya, yang paling aneh lagi dia cepat marah, ngomel bila aku buat kesalahan sedikit dan setelah itu ia pergi begitu saja. Tidak mengantarkan aku pulang seperti dulu. Aku sedikit merasa sedih. “Kamu berubah.” hal itu yang ingin ku katakan padanya.

“Kamu telat 2 menit,” katanya setelah aku susah payah menyeimbangkan jam kuliah-ku dan jam jalan-jalan dengannya.
“Hanya dua menit saja kan Dit,” kataku masih dengan napas yang tidak stabil.
“Kamu tidak bisa dimanjakan. Sekarang, kamu nonton sendiri saja. Sebentar lagi bioskopnya akan tutup. Percuma saja aku nonton,” katanya lalu berjalan pergi seperti biasa. Ia pergi meninggalkanku lagi. Aku hanya diam sejenak. Kali ini aku akan mencari tahu apa yang selama ini aku tidak tahu. Aku mengikutinya ke mana saja ia pergi. Dan terakhir aku melihatnya ia bertemu seseorang di sebuah cafe. Seorang cewek. Tapi wajah cewek itu sangat familiar di mataku. Aku mencoba-coba mengingat wajah itu dan aku berhasil menemukannya. Itu kakak Adit. Kak Fena. Aku berusaha mendengar percakapan mereka.

“Bagaimana? Apa kamu sudah bisa terbiasa dengan dia?” tanya kak Fena pada Adit.
“Sudah Kak. Aku sudah merasa nyaman dengannya, tapi aku juga tidak bisa menjadi Adit. Dimana aku orangnya egois. Pemarah, semua berlawanan dengan Adit Kak. Walaupun kami kembar, tapi sampai kapan pun aku tidak bisa mencintai dia seperti Adit mencintai dia Kak. Selama ini aku telah memaksa diriku untuk mencintai dia seperti Adit tapi semakin aku berusaha, aku semakin menyakitinya Kak. Aku harus bagaimana? Aku tidak ingin dia menangis kalau tahu aku bukan Adit.” aku syok mendengar semuanya. Airmataku mengalir dengan sendirinya.

“Tapi ini pesan terakhir Adit, Ran. Apa pun yang akan terjadi, kamu tetap harus menjaga Dera, Ran,” aku ke luar dari tempat persembunyianku dan menghampiri mereka dengan air mata yang masih saja jatuh walaupun sekuat apa pun aku menahannya. “Ini yang selama ini ingin ku dengar darimu, Randi!” kataku dengan keras. Hatiku begitu hancur, dan tidak dapat dikembalikan seperti semula. Kak Fena dan Adit palsu berdiri, mereka sangat terkejut dengan kehadiranku. Tapi aku lebih terkejut lagi dengan sandiwara mereka. “Di mana Adit Kak, katakan padaku!” teriakku histeris. Aku jatuh bersimpuh di lantai Randi berlutut di hadapanku sambil meminta maaf.
“Sampai kapan kalian akan menyiksaku?” tanyaku dengan lemas tapi aku berusaha bangun dan berdiri dengan tegak.
“Sembunyikan saja semua dariku. Siksa aku saja terus! Kalian senang kan, melihatku seperti ini?” aku tersenyum miris memandang kak Fena dan Fendi yang juga menangis melihatku.

“Sekarang. Berhentilah menyiksaku! Sudah cukup! Cukup! Aku lelah Kak!” aku mengeluh pada kak Fena.
“Kamu tahu aku sangat lelah menunggu dia kembali. Kamu tahu itu Kak. Kamu tahu! Tapi kenapa kamu mempermainkan aku seperti ini Kak?” aku berbalik kepada Randi.
“Aku tidak tahu kalau perasaanku selalu benar tentang kamu. Tapi aku menepisnya karena aku terlalu senang menyayangi Adit palsuku. Kamu tidak tahu betapa sakit aku menunggunya sampai kamu muncul di hadapanku! Kamu tidak tahu dan selalu tidak tahu!” teriakku histeris, kak Fena memelukku sambil menangis.
“Aku telah cape Kak. Cape. Dan dia pergi meninggalkanku sendiri? Dia sangat baik sehingga mengirim orang yang tidak pernah aku harapkan Kak. Adit sangat baik. Baik sekali, dia pergi tanpa mengatakan perpisahan padaku. Sama sekali tidak!” aku sangat lemas. Ku rasa mataku sangat berat dan setelahnya aku tidak sadarkan diri.

“Adit…” kataku saat aku baru saja sadar dari siumanku. Ibu dan ayah segera memelukku sambil menangis.
“Ibu tidak pernah tahu ini akan terjadi padamu sayang,” Kata ibu sambil menangis.
“Kamu pingsan selama 2 hari, sayang,” jelas ayah. Aku melihat ayah dan ibu bergantian.
“Adit tidak menjengukku?” tanyaku. Aku masih terbayangkan wajah Adit yang selalu menghantui pikiranku. Masa-masa dimana aku dan Adit bersama sambil tertawa selalu terbayang-bayang di kepalaku. “Tunggu, Ibu panggilkan Adit. Fena juga datang sayang.” aku baru teringat peristiwa dimana kesadaranku hilang seketika.

Ayah dan ibu ke luar menemui mereka. Entah kenapa aku merasa kosong di hatiku. Hampa semua. Tidak ada perasaan lain kecuali ingin menyusul Adit di sana. Kakiku melangkah sendiri menuju plafon rumah. Akal sehatku tidak berjalan sama sekali, aku hanya ingin menyusul Adit. Ketika kakiku telah berada di ujung tebing, wajah Adit muncul sambil mengatakan padaku. “Kembalilah. Jangan ikuti aku. Ini bukan jalan yang tepat. Kembalilah!” meski begitu kakiku tetap ingin melangkah. Satu langkah saja aku akan menyusul Adit. Ketika kaki kananku sudah tidak berada di ujung tebing, seseorang menarik tubuhku kembali.

“Jangan lakukan ini, jangan lakukan ini, ku mohon Ra. Ku mohon,” kata Randi yang berhasil mendekap tubuhku sehingga aku tidak jadi jatuh.
“Lalu apa yang kamu lakukan padaku? Jangan menahanku. Aku akan menyusul Adit. Biarkan aku pergi.” kataku masih bersih keras ingin menyusul Adit.
“Adit udah tenang Ra, Adit udah tenang! Jangan buat dia tidak tenang di sana dan jangan buat aku kehilangan orang yang ku sayang untuk kedua kalinya. Aku mohon!” Randi memohon dengan tulus. Suaranya serak. Aku menatap wajahnya.
“Apa kamu menyayangiku?” tanyaku sungguh-sungguh dan ia mengangguk.
“Aku tidak akan menyusul Adit. Tapi aku belum bisa menerimamu. Bisakah kamu menunggu untukku? Karena aku telah lelah menunggu,”
“Aku akan selalu menunggumu. Dan selamanya aku akan menunggu.”
Sampai sekarang Randi setia menungguku untuk bisa menerimanya. Maaf Randi aku telah membuatmu menunggu, karena semua hati butuh proses.

Cerpen Karangan: Asriyanti Ardin
Facebook: Asriyanti Ardin
Nama: Asriyanti Ardin
Email: riasharula[-at-]gmail.com

Cerpen Semua Hati Butuh Proses merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kau Ingat

Oleh:
Setiap hari ada sebuah bayangan dari mataku yang begitu jelas, bahkan bayang itu tersenyum, sebuah bayangan dari seseorang laki-laki yang selalu aku perhatikan. Dia… Laki-laki yang telah menjebakku dalam

Sajak Cinta Ralin

Oleh:
Asal kau tahu saja Senyum mu itu adiktif. Aku kecanduan. By: Your Forever Admire Begitulah Ralin sekitar enam bulan terakhir ini ia gencar sekali mengirimi tulisan tulisan semacam itu

Aku Bukan Dia

Oleh:
Sore ini kutumpahkan semua kesedihan yang kurasakan kepada hujan. Aku menangis dalam hujan. Dinginnya air hujan membasahi tubuhku. Kenangan 2 tahun yang lalu masih membekas di ingatanku. Sosok Cinta

Kenapa Harus Gue?

Oleh:
Lamunan Rahma buyar ketika terdengar derit pintu kamarnya terbuka. Di lihatnya sahabatnya telah berdiri di depan pintu. “Ngelamunin apa sih non?” “Menurut lo?” “Oh ya gue tau si cowok

Kisah Cintaku Yang Tidak Bisa Bersatu

Oleh:
Sekitar 10 Tahun yang lalu pada Tahun 2007, saat itu aku adalah Gadis yang penuh Obsesi, dimana aku memimpikan memiliki pasangan yang sangat sempurna dan saat itu aku sedang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *