Senja

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 3 July 2017

Felly terdiam di sudut ruangan. Ia hanya bisa menatap keramaian orang yang tengah menari di bawah cahaya lampu yang minim. Matanya yang sayu hanya bisa membantunya berjalan setelah ia memanggil waitters untuk mengantarkan dirinya ke bartender.

“Kasih gue lima gelas! Gue butuh yang lebih keras!,” kata Felly setelah ia berhasil mendaratkan pantatnya di atas kursi itu.
Felly menunggu minumannya datang dengan menatap keramaian, ia tidak tertarik untuk ikut jatuh ke dance floor. Ia lebih tertarik menghabiskan minuman dengan gelas-gelas kecil yang siap membantunya melupakan segalanya yang tengah memenuhi pikirannya.

“Felly!,” panggil seseorang saat melihat Felly tengah meminum minuman alkohol itu.
Minuman itu seketika tumpah tercecer dan membasahi baju Felly saat seseorang mengambil paksa minuman itu dari tangan Felly. Felly yang setengah sadar, hanya bisa mengguman tidak jelas di sana. Bahkan saat orang itu, mengangkat tubuh Felly dan membawanya keluar menembs keramaian dance floor, Felly masih mengguman tidak jelas. Efek alkohol yang ia minum, benar-benar membuat dia kehilangan kesadaran sepenuhnya.

Laki-laki itu berhasil membawa Felly ke dalam mobil. Tak lama kemudian, ia menerima sambungan telepon dan berencana membawanya ke tempat yang pantas untuk Felly. Laki-laki itu megambil kemudi dalam mobil dengan panik, Felly yang terus meronta ingin kembali sampai Felly yang berhasil memuntahkan minumannya. Laki-laki itu tidak jijik sama sekali, ia justru memberikan tissue kepada Felly agar ia membersihkan hasil usaha minumnya.

“Dian kenapa bisa sama lo Bril?,” tanya Bram kepada orang yang tengah berdiri di depannya bersama dengan kapten mereka.
“Gue tadi nemuin dia di club. Bukannya dia bakalan ada jadwal manggung sama kalian? Kenapa dia sampai keliaran di club?,” tanya Brillian kepada personil Pro Techno.
“Lo serius Felly ada di club?,” tanya Billy terkejut.
“Sejak kapan Felly main ke club? Perasaan justru kita yang sering ke club. Bahkan saat kia ngajak dia, dianya nggak bakalan mau,” jelas Riska panjang lebar.
“Gimana kalau gue kalian persilahkan masuk aja dulu. Karena gue nggak yakin kalau dia bakalan bisa berdiri lebih lama,” ucap Brillian mengingatkan.
Mereka pun memberikan jalan kepada Brillian. Dan Brillian, membopong tubuh Felly. Kemudian, menidurkan tubuh Felly yang tengah lemah karena efek minumannya.

“Lo nggak layar?,” tanya Bram.
“Gue balik. Setelah tugas gue di beberapa tempat. Dan, menemui Felly,” jelas Brillian singkat.
Bram menghembuskan nafasnya. Kemudian, matanya memandang ke arah luar. Mencoba menerawang kejadian yang telah terjadi tanpa sepengetahuannya. Ia tidak mempedulikan Billy dan Riska yang bingung mengurus Felly karena tenggang waktu manggung segera datang. Mereka tidak mungkin membatalkan perjanjian apabila tidak mau terkena denda.

“Gue nggak bisa mengatakan apapun jikalau dugaan gue benar tentang hal ini. Felly adalah gadis keras kepala yang gue kenal. Dia juga gadis yang paling kasar dan jahat yang pernah gue kenal. Tapi, dia tanggung dalam membentengi dirinya atau orang-orang sekitarnya. Dia adalah perisai bagi kami. Tapi terkadang, dia juga merasakan takut. Sama seperti kami. Tapi ketakutan Felly nggak pernah bisa sama dengan hal apa yang kami takutkan.”
“Gue emang nggak pernah tahu bagaimana kehidupan Felly. Tapi setitik tanda yang pernah gue teliti dengan pemahaman gue selama gue mengenal dia, hanya ada satu kata yang dia takutkan. Perpisahan. Dia pernah bilang ke gue. Percuma ada hubungan, kala salah satu memilih meninggalkan dan yang satunya lagi menerima sebuah takdir sebagai perpisahan. Sejenak, gue pernah bertanya saat gue nggak pernah tahu bagaimana cara memahami Felly. Tapi, dia tidak pernah menjawabnya. Dan baru sekarang, dia menjawabnya,” jelas Bram panjang lebar.

Brillian terdiam. Ia membisu saat Bram berkata demikian. Ia tidak menyangka bahwa gadis perparang singa seperti Felly memiliki rasa takut. Brillian berpikir, Felly adalah gadis langka yang ia temui. Dia gadis yang selalu menganggap dirinya sebagai sampah dan siap membuang orang-orang di sekitarnya layaknya sebuah sampah setelah tidak berguna sama sekali, atau bahkan tidak berarti apapun baginya.
Ia selalu berpikir bagaimana caranya ia menemukan strategi kehancuran untuk Felly. Hingga ia dapat menundukkan kepalanya. Brillian menyadari segalanya bahwa Felly Anggi Wiraatmaja memang pantas dipuja oleh semua kaum Adam. Bahkan saat pertama kali bertemu dengannya, Brillian berpikir bahwa ia dapat mendapatkan Felly dalam relevansi waktu yang sudah ia tentukan. Tapi gadis itu seakan dapat membaca apa yang diinginkan oleh dirinya.

“Brillian, lo kenapa?,” tanya Bram memastikan.
Brillian menggelengkan kepalanya. Ia berpikir, apa yang harus ia berikan sdah datang pada waktu yang tepat. Ia sadar bahwa Felly memilih meninggalkannya bukan karena dirinya yang kurang. Tapi karena dirinya sendiri yang terus dihantui oleh rasa takutnya. Dari sana, Brillian dapat melihat bagaimana Felly yang sebenarnya.
Felly memang bebeda dengan gadis lain. Dia lebih berani mengambil tindakan yang akan menyakiti dirinya sendiri. Dan ia juga berani berkorban untuk orang lain. Karena ia tahu, bahwa dirinya tidak mampu memberikan seluruh kebahagiaan yang tidak diyakini oleh hatinya. Brillian berpikir, bahwa kepergian Felly adalah suatu hal yang begitu menyedihkaan untuknya. Suatu hal yang benar-benar akan menjadikan harinya di atas kapal, menjadi hari terburuk meski ia dihibur oleh ika yang mengikuti kapalnya, atau bahkan senja yang begitu indah di sana.

“Masih ada waktu untuk memperbaiki semuanya. Gue yakin, Felly masih menunggu lo. Asal lo tahu aja, Felly nggak pernah menyentuh minuman. Dan di sini, gue berani taruhan karena dia stres gara-gara lo, dia jadi minum. Dia selalu melampiaskan kemarahan, kegundahan, atau bahkan suatu hal yang tidak bisa ia selesaikan dengan gitarnya. Tapi untuk kali ini, gue bisa jamin lo berhasil bikin dia gila!,” jelas Bram.
Brillian tersenyum mendengar ucapan Bram. Mereka berdua memutuskan untuk berpisah. Brillian kembali ke apartement dan Bram, kembali ke dalam studio untuk memulihkan kondisi Felly yang buruk.

Selama di apartement, Brillian masih memikirkan apa yang harus ia lakukan untuk itu. Sampai akhirnya, ia memiliki ide untuk melakukan suatu hal dan meyakinkan Felly akan dirinya. Di sana, ia tersenyum simpul. Menyadari betapa pengecutnya dia saat berhadapan dengan gadis itu. Tapi apalah daya saat dirinya tak mampu mengatakan secara langsung karena kondisi Felly dan dirinya yang tidak memngkinkan melawan waktu, Brillian memilih untuk mengirimkan pesan sara melalui ask.fmnya. Ia tidak peduli apabila ada fans Felly yang mencibir atau bahkan Felly tidak membalas suaranya. Karena saat ini, yang ia pikirkan hanyalah bagaimana cara agar Felly mengetahui perasaannya.

Suara itu menggema dalam ruangan Felly. Matanya yang sendu, kini telah berarir setelah mendengar suara Brillian. Sauara, yang hasil membuatnya menangis menahan rasa yang terus membuncah dalam dadanya. Mengetuk, atau bahkan mendobrak hatinya yang keras. Membuka paksa benteng yang ia bangun susah payah. Hingga ia memutuskan untuk menerima pertemuannya dengan Brillian.
Yah.. sebuah tempat bersejarah di dalam hidupnya yang terus terabadikan di dalam hati, musik, ata bahkan nafasnya. Felly juga menyadari, kehidupan tidak akan selalu terang seperti yang ia duga meski ia sudah merencanakannya. Bumi akan terus berputar pada porosnya. Disanalah segala hal yang kita lakukan akan menentukan apakah kita pantas seperti senja.
Cantik di tengah kegelapan malam yang siap menggantikan posisi mentari dengan bulan. Sebuah benda alam yang indah dengan beberapa macam hasil. Bulan yang terang, atau bulan yang redup. Perbedaan dengan mentari, yang akan selalu berpijar meski awan mendung menutupinya. Atauu bahkan mentari yang terus indah di saat kegelapan malam merayapinya. Ingatlah, kehidupan tidak akan lepas dari ada cahaya. Terang dan gelap.

Cerpen Karangan: Pratiwi Nur Zamzani
Facebook: Pratiwi Nur Zamzani (Pakai Hijab Putih)
P.N.Z adalah nama yang selalu tercantum dalam setiap karya gadis ini. Ia lebih akrab di panggil Pratiwi Nur Zamzani.Terkadang, banyak orang yang memanggilnya nama Felly. Karena, ia selalu menggunakan nama tersebut di setiap karyanya.
Ia lahir dengan kelahiran Pasuruan, 4 Juli 1999. Gadis ini telah menempuh pendidikan Menengah ke atas di SMA NEGERI 1 BANGIL, dan Menengah Pertama di SMP NEGERI 1 BANGIL. Ia memiliki cita-cita sebagai seorang Dosen dan motivator. Ia berharap, dengan tulisan yang ia buat, ia dapat mengisnpirasi dan memotivasi kalian dengan karyanya. Sehingga, karya tersebut dapat bermanfaat dalam kehidupan kalian. Banyak karyanya yang sudah di muat di media masa. Kalian juga bisa melihat karyanya di cerpenmu.com dengan mengetikkan namanya di search pencarian. Atau menjadikan namanya sebagai kata kunci pencarian di google.
Jika kalian berminat, kalian bisa menyapanya dengan alamat Facebook Pratiwi Nur Zamzani (Pakai Hijab Putih), IG pratiwinurzamzani (Pakai Hijab Putih) atau melalui E-mailnya pratiwinurzamzani[-at-]yahoo.co.id

Salam dan Peluk Hangat
Pratiwi Nur Zamzani

Cerpen Senja merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Wanita Subuh

Oleh:
Awal mula. Di pagi hari sekitar jam 5 di teras depan tempat di mana aku bekerja. Tiba-tiba seorang gadis cantik berjalan melintas di depanku, dengan sangat terburu-buru. Dalam hati

Surga Di Ujung Setapak

Oleh:
Aku selalu menatapmu gadis abu-abu, ketika kau berdiri di balik jendela buram di kastil kecilmu yang dikelilingi tembok yang dingin. Aku memperhatikanmu ketika aku menyusuri jalan setapak di depan

Oh God! (Part 1)

Oleh:
“Sial! Gue telat!” Omel Chera. Pagi itu Chera telat bangun. Jam sudah menunjukkan pukul 6.15 WIB, berarti kelas Chera udah masuk. Biasanya Chera bisa masuk diam diam. Tapi tidak

Beach Pangandaran

Oleh:
Weekend minggu kedua dari libur semesteran. Gak ada yang seru dari liburan kali ini. Sahabatku, Alice, liburan ke Sydney. Sedangkan aku? Harus seneng dengan keadaan ini. Aku tinggal bareng

Mengapa Harus Kembali

Oleh:
Sepanjang hari kucoba usir segala perasaan rindu di hatiku ini, namun semakin kucoba rasanya aku semakin lemah, “kumohon pergi” desahku. Semuanya percuma karena perasaan ini seakan bersahabat dan tak

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *