Senja Di Atas Bukit (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 4 June 2018

“Kau tahu bagaimana rasanya patah hati itu?” Gadis di depanku ini tersenyum miring sembari menatap mentari yang sedang terbenam.
“Tidak,” jawabku juga melihat mentari yang sedang terbenam.
“Rasanya sangat sakit, rasanya sama seperti kau melompat dari bukit ini … bukan itu saja … dikhianati oleh sahabat juga sama sakitnya,” ujar gadis itu. Ia menunduk dan melihat sungai yang mengalir di bawah bukit ini.
“Sahabatmu merebut seseorang itu darimu?” tanyaku.
“Iya … dan dia … juga membuka aibku. Aku akan menceritakannya kepadamu.”

7 Juni 20xx.
Seorang gadis mengenakkan baju putih dan rok hitam panjang memasuki halaman kampus. Gadis itu sesekali tersenyum dan menyapa orang yang lewat dekatnya. Sekilas dia terlihat tidak ada beban, tetapi ada beban berat yang akan ia pikul.

“Osya, akhirnya kau tiba.” Gadis yang dipanggil Osya itu menoleh dan melihat gadis berpakaian sama dengannya tengah tersenyum kepada dirinya.
“Tentu saja … lagipula sebentar lagi ‘kan ada acara kemah,” sahut Osya seraya berjalan menuju kelasnya.
“Hm … apakah kau berharap akan satu kelompok dengan Lion?” goda gadis itu, sorot penuh kejahilan terlihat dari iris biru es gadis itu.
“Te … tentu sa … saja tidak,” sangkal Osya sambil tergagap-gagap.
“Yah, kita akan berpisah. Bye bye my best friend!” seru gadis itu dan memasuki kelasnya.
Osya tersenyum kecil lalu masuk ke dalam kelasnya.

“Kau sudah mempersiapkan benda-benda untuk berkemah besok?” tanya gadis bermata biru es yang bernama Vale.
“Tentu saja,” jawab Osya sembari membaringkan tubuhnya di atas kasur empuk.

Perlahan-lahan iris hitam legam itu ditutupi oleh kelopak mata.

“Hei! Lion ke sini!” bisik Vale.
“Biarkan saja,” lenguhan kecil keluar dari bibir Osya.
‘Untuk apa Lion ke sini?’ batin Osya.

Jantungnya berdebar-debar, sekujur tubuhnya terasa panas menahan malu. Vale tertawa kecil melihat pipi Osya yang memerah, seorang pemuda bermata abu-abu dan berambut hitam masuk ke dalam kamar apartemen Osya.

“Apakah kalian sudah mempersiapkan barang-barang untuk berkemah besok?” tanyanya.
“Tentu saja, Ketua Lion!” jawab Vale dan sedikit terkekeh.
Osya membuka matanya perlahan. “Aku juga sudah,” ujar Osya.
“Bagus! Sampai jumpa besok!” ujar Lion dan keluar dari apartemen Osya.
“Hanya sebentar,” keluh Osya.
“Tidak apa-apa. Besok ‘kan dia akan lama dengan kita,” hibur Vale.

Semua mahasiswa senior di sebuah Universitas tengah Ribut karena akan berkemah yang dilakukan setiap dua tahun sekali bagi para senior. Perlahan-lahan suara ribut berhenti karena mahasiswa senior banyak yang sudah masuk ke dalam bus.

Osya duduk di paling belakang. Ada dua kursi yang tersisa. Lion duduk di sebelah Osya dan Vale duduk di pinggir. Osya sedikit merasa malu dan melihat keluar bus. Vale dan Lion terus berbincang-bincang, Osya merasa sedikit cemburu.

Tapi, pandangan gadis itu hanya melihat pemandangan. Sedikit demi sedikit bus memasuki wilayah pedesaan. Bus berhenti sebentar dan mahasiswa diperintahkan untuk keluar dari bus. Mereka akan kemah di sebuah bukit, mereka di dekat sebuah hutan yang lebat tetapi kata penduduk tidak ada hewan buas karena semua hewan buas berada di puncak bukit.

Semua mahasiswa dan dosen berjalan memasuki hutan. Tanah lembab hutan dan daun-daun yang kering membuat mereka berhati-hati. Pohon-pohon tumbuh subur, semilir udara menerpa wajah dan rambut mereka. Banyak mahasiswa berbincang dan ada juga yang diam seperti Osya.

“Osya, jangan diam saja, ayo ikut berbincang dengan kami!” ujar Vale.

Lion membuang wajahnya ke arah lain -tanda ia tidak suka Osya-. Osya hanya diam dan hatinya terasa teriris karena pemuda yang dicintainya membencinya.

“Lion, jangan diam saja!” kata Vale memegang sebelah tangan Lion.
“Maaf,” bisik Vale saat melihat tatapan tajam Osya.

Lion sedikit tersenyum dan dia mulai hangat kembali. Osya berjalan cepat menjauhi Vale dan Lion. Akhirnya mereka tiba di kaki bukit, di dekat sebuah sungai setinggi satu meter yang mengalir dengan arus sedang. Mahasiswa dan dosen banyak yang beristirahat.

Ada yang duduk, ada yang makan, ada yang tidur, dan ada yang berbincang-bincang di bawah pohon. Osya duduk di tepi sungai dan memasukkan kedua kaki bagian bawahnya ke dalam sungai. Rasa dingin air sungai dan segarnya udara menenangkan hati Osya yang tengah panas.

Osya memejamkan matanya perlahan. “Sepertinya kita akan menginap sehari di sini, karena akan terjadi hujan lebat nanti malam,” ujar Ketua Pencinta Alam.
“Yah, padahal kami ingin menginap di bukit,” keluh para mahasiswa.
“Diam! Semuanya diam! Cepat bangun tenda!” perintah Ketua Pencinta Alam.

Para mahasiswa bergabung dengan kelompok masing-masing. Osya terpaksa menuju kelompoknya.

“Baiklah, aku akan membagi tugasnya,” ujar seorang pemuda bernama Logan.
“Tapi … yang Ketua ‘kan Lion,” ujar Vale.
“Dia mengganti posisi itu kemarin. Aku dan Edward akan mencari ikan, Angel dan Vale mendirikan tenda, sedangkan Osya dan Lion mencari buah-buahan,” kata Logan.
“Baiklah semuanya silakan bekerja!”

Lion dan Osya melihat-lihat pepohonan sekitar kalau ada buah-buahan untuk mereka makan.

“Apa kau membenciku?” Pertanyaan itu meluncur mulus keluar dari mulut Osya.
“Tidak,” jawab Lion dan ia sedikit tersenyum.
“Tadi … aku hanya melihat tatapan tajam mantan kekasih Vale,” lanjut Lion dan ia sedikit terkekeh.
Osya mendongak untuk melihat Lion, Osya tersenyum tipis dan Lion memukul pelan kepala Osya.
“Ayo cari! Jangan pandangi wajahku yang tampan ini!” canda Lion.
Osya tertawa dan mereka melanjutkan mencari buah-buahan.

Cerpen Karangan: Kesya
Facebook: Kesya Mikhailova
Hai! Aku Kesya, salken ya. Maaf kalau ceritaku gaje dan membosankan. Aku tinggal di Bangkinang, semoga kota bisa berteman dengan baik!

Cerpen Senja Di Atas Bukit (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kasih yang Terpendam

Oleh:
Berawal dari kisah ku 5 tahun yg lalu, waktu aku masih menduduki kelas 1 SMP. Aku mengenal seseorang lewat mimpi, ntah pertanda apa mimpi itu, hingga suatu hari aku

Kesakitan Ku (Part 1)

Oleh:
Kicauan burung pipit terdengar bersahut-sahutan meramaikan suasana pagi ini, saebah cahaya terang merambat masuk melalui celah gorden casual brwarna putih, menyilaukan mata membuatku mau tak mau membuka mataku, melirik

Cinta Di UKS Sekolah

Oleh:
Di rumah. Jam menunjukkan pukul 06.40 pagi, aku segera berlari menuju kamar mandi. Setelah mandi aku segera memakai seragam putih biru yang sudah lama aku idam-idamkan. Hari ini merupakan

Bukit Angin

Oleh:
Bukit mungil itu berdiri di pinggir Desa Sunyi. Di punggungnya ilalang tumbuh dengan subur. Pohon besar yang tumbuh di sana tak sampai 20 batang. Belasan pohon jambu mente tersebar

Tentang Aku dan Senpai

Oleh:
Minggu, 25 Agustus 2013 “iya aku berangkat, tunggu sebentar” Hari ini aku tidak mengikuti acara di sekolah karena jarak rumahku dengan sekolah sangat jauh. Tetapi aku masih mengikuti acara

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *