Senja Di Mata Zahrani

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 10 November 2017

Selamanya aku hanya ingin selalu di sini, menyatu dengan alam. Menikmati senja. Senja yang seakan memunculkan harapan-harapan baru. Memberikan seluruh keindahan yang dimilikinya kepada jutaan pasang mata. Lukisan tangan Tuhan itu sungguh menakjubkan. Ia selalu mampu membawaku dalam dimensi ruang yang berbeda meski aku tak beranjak sama sekali dan tetap di sini. Tapi yang tak pernah kumengerti, mengapa ia hanya selalu hadir dalam beberapa saat? Mengapa tidak sepanjang hari atau ketika malam gelap membungkus kesepian ini? Mengapa?

Aku menjuntaikan kaki menatap senja. Ombak menghantam tiang dermaga kayu yang membuatnya semakin rapuh dari hari ke hari. Meski aku tahu senja akan kembali esok hari, namun aku selalu diselimuti ketakutan. Bagaimana jika dia sudah tak seindah hari ini?

“Cinta. senja kali ini indah bukan?” Suara yang indah itu mengalung di telinga. Kupalingkan wajahku. Mata kami saling bertemu. Ia tersenyum manis, seolah ia terlahir untuk selalu tersenyum selamanya untukku. Siluet wajahnya begitu teduh seolah tidak ada hal yang sulit selama perjalanan hidupnya, membuat ia semakin anggun.

Aku ingin senja ini tidak pernah usai selama aku masih ingin di sini. Senja yang mengembalikan semuanya. Terlalu banyak hal harus aku ingat bersama senja. Apakah senja hanya benar-benar dinikmati oleh orang-orang yang punya memori yang begitu indah? Atau kesedihan yang terlalu menyakitkan untuk dilupakan?

“kak Zaen. kak Zaen?”
Kudengar suara memanggil dari luar. Mata yang sudah hendak terpejam karena kelelahan kembali terbelalak.

Perlahan aku melangkah memegang gagang pintu lalu membukanya. Rupanya gadis dari Kota Kembang ini sedang berdiri, tersenyum dengan manis memperlihatkan gigi kawatnya, rambut panjangnya terurai dibelai oleh angin malam, bola mata hitam yang indah menatap, hidung yang tidak mancung dan tidak juga pesek, serta kulitnya yang semburat berwarna pink sangat jelas terlihat apabila ia kepanasan atau sedang malu. “Gadis yang cantik, apa semua gadis Bandung secantik ini?” gumamku dalam hati.

“Ada apa Zah?”
“Ini kak ada kiriman keripik tempe dari Indung di Bandung dan sangat banyak. Takutnya nggak bisa habisin sendiri, jadi saya mau ngasih kakak sebagian, soalnya tahannya hanya dua minggu saja.”
Gadis itu tersenyum sekali lagi sembari mengangkat kantong plastik besar yang berwarna hitam.
“Ini keripiknya kak. Enak loh, lebih mantep lagi kalau makannya pakai nasi yang masih hangat. Atau bisa sama Bakso atau Coto Makassar juga enak, aku pernah nyobain”
“Makasih ya Zah. Senang deh, malam ini dapat bingkisan Nyai cantik dari Bandung”
“Ah, Kakak bisa aja nih. Gomballll. Ya udah Zahra masuk dulu, banyak tugas yang bikin kepala mumet”
Gadis itu membalikkan badan, melangkah tiga kali memasuki kamarnya lalu menutup pintu rapat-rapat.

Sudah dua tahun aku mencari butiran-butiran ilmu di kota ini. Kota yang jaraknya dua ratus kilometer dari kabupaten kelahiranku. Kota yang dijuluki sebagai Kota Daeng atau Kota Angin Mamiri, terkenal dengan eksotis Pantai Losari yang terletak di sebelah barat kota yang makna namanya belum diketahui hingga saat ini. Dan sudah dua tahun pula aku mengenal Zahra. Lengkapnya Zahrani Sholehatunnisa.

Kami sering menghabiskan awal malam bersama ketika ada waktu senggang di depan kamar kos. Duduk di sebuah sofa panjang berwarna coklat yang sudah lusuh, sebagian isinya sudah terburai, namun masih bisa menopang tubuh kami berdua, serta kayunya yang penuh dengan corat-coret dari penyewa kos sebelumnya.

Zahra selalu bercerita tentang masa-masa kecilnya di Bandung. Ketika diajak Abahnya untuk liburan tiap akhir pekan. Pergi ke Observatorium Bosscha, Kebun Binatang, Museum Geologi, Museum Sri Baduga, Alun-alun atau ke jalan Asia Afrika.

“Aku sangat senang diajak Abah ke tempat yang bersejarah dan bisa menambah wawasan. Terkadang kak Amil sering ngambek karena ia lebih suka dengan tempat wisata yang bernuansa petualangan gitu dan sering ngadu sama Indung. Aku sering tertawa geli melihat tingkah kakakku itu.” Zahra berceloteh sembari tersenyum tipis.

Angin malam semakin dingin menelisik di antara rerumputan. Untunglah ada dua gelas Sarabba yang hangat menemani cerita malam itu. Sesekali hening sejenak. Mata kami memandang danau yang memantulkan cahaya purnama rembulan. Danau buatan yang tepat berada di depan kos kami yang hanya dipisah oleh jalanan seluas tiga meter saja.

“Kalau kak Zaen gimana?”
“Gimana apanya?”
“Ya.. masa kecil kakak?”
“Owww.. Masa kecil kakak juga tidak kalah indah. Hidup di desa terpencil dengan suasana yang sangat tenang. Tak ada suara klakson kendaraan yang seringkali mengaung di telinga, serta polusi udara yang menyumbat hidung disebabkan dari knalpot kendaraan ketika di jalan. Hanya ada belaian angin yang menerbangkan daun-daun kering yang bertiup di sela-sela batang bambu. Pemandangan yang sama setiap hari, melihat Ambo’-ambo’ memakai topi caping, memangkul cangkul di pundaknya dengan cerutu yang selalu mengasap sepanjang jalan hingga sampai di sawah mereka masing-masing. Atau ketika musim tanam tiba aku sering membantu Ambo’ menanam padi di sawah dengan harapan aku masih bisa melanjutkan sekolah dari batang demi batang padi yang kutanam itu. Dan yang tak pernah bisa hilang di memoriku ketika Indo’ menabur bedak gatal keseluruh tubuhku di malam hari lantaran seharian di sawah memangkul jerami ketika musim panen tiba.”

Zahra tersenyum memalingkan wajahnya ke arahku. Matanya menatap binar dengan wajah ceria, memancarkan cahaya melebihi bulan purnama yang menemani malam itu.
“Kalau ada waktu aku mau jalan-jalan ke Soppeng. Melihat kelelawar yang bertengger pada pohon asam di tengah kota, ke Villa Yuliana, bangunan peninggalan Kolonial Belanda yang katanya mirip dengan istana di Netherland. atau menikmati suasana alam di Permandian Air Panas Lejja. kak Zaen mau kan nemenin aku keliling Soppeng suatu saat nanti?”
“Boleh. Tapi jujur, aku sendiri belum pernah ke tempat yang kamu sebutkan tadi. Semua tempat itu berada di pusat kota kabupaten, jauh dari desa tempat kelahiranku. Maklum, aku tak punya kendaraan untuk ke sana. Lagipula aku lebih banyak menghabiskan waktu di sawah sepulang sekolah, atau kumpul bersama pemuda kampung di pos ronda setiap malam ahad sambil menikmati ubi rebus dari kebun kami.”

Malam sudah mulai semakin larut. Dua gelas Sarabba itu tak tersisa setetes pun, hanya menyisahkan aroma yang menyatu dengan angin malam.

“Cinta. Orang-orang tidak akan banyak berbicara ketika menikmati senja. Hanya mata mereka yang terus menatap langit yang mulai berwarna jingga saat mentari kembali ke pangkuan ibu pertiwi, sama seperti diriku. Dan senja kali ini sama seperti saat itu Cinta.”

“Cinta. Sekarang aku semakin percaya takdir-Nya. Sekalipun saat itu kita tak pernah saling menatap atau kenal satu sama lain maka kita akan tetap dipersatukan. Aku tahu itu Cinta. Dan hari yang sakral itu membuktikannya. Aku menemukan tempat hatiku berlabuh untuk selamanya sama seperti senja di Pantai Akkarena ini”

“Cinta. Kau lihat? Senja tersenyum bahagia kepadaku. Selalu tersenyum ketika ia sudah berada di ujung tempat peraduannya.”

“Cinta. Kau pernah bilang ingin menjadi senja di mataku setiap saat. Dan sore ini aku menikmati senja seolah ia terlukis di bola matamu. Aku tahu kau pergi bukan untuk meninggalkanku, tapi kau pergi karena ingin menyambutku ditempat yang lebih indah dari senja ini. Tempat terindah yang telah dijanjikan Tuhan”

“Cinta. Lihatlah Aisyah! Dia menikmati senja di pangkuanku seolah ia menatap wajah ibundanya. Wajah yang seringkali dirindukannya. Wajah yang tak pernah ia lihat setelah engkau melahirkannya”

“Ayah. Mengapa Bunda Zahra menjadi senja?”

Cerpen Karangan: Goalijaya
Blog: goalijaya.blogspot.co.id

Cerpen Senja Di Mata Zahrani merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Tembok Cinta Nan Megah

Oleh:
Telingaku menangkap hiruk-pikuk yang kemudian memaksa ku untuk membuka mataku lebih lebar lagi. Jiwaku belum terkumpul sepenuhnya. Ragaku belum juga bertenaga. Namun ku paksakan untuk berdiri. Aku berada di

Love And Friends

Oleh:
Pagi itu matahari hangat menyentuh kulitku dan Rena. Seperti biasa, kami akan pergi ke padang rumput menikmati indahnya kehangatan pagi bersama sapi-sapi. Rena adalah sahabatku sejak kecil, kami sudah

Perawat Tampan Itu

Oleh:
“Bunga di mana? Ibu sakit dan sekarang mau dirawat di rumah sakit rangkas! Cepetan ke sini” “Lagi di sekolah! Astagfirullah sakit apa? Iya iya aku ke sana!” Aku mendapat

Gara Gara Pertunangan

Oleh:
“hai, bro. Sudah lama disini? Belum ramai ya?” kata seorang gadis berumur 21 tahun baru datang dari kostnya dengan mengenakan pakaian tukang parkirnya kepada rekan rekan tukang parkir bersamanya

Kebijaksanaan Sebuah Kisah

Oleh:
Pemuda itu berjalan menyusuri trotoar menuju kedai kopi yang biasa dikunjungi kala sore hari, kali ini kepalanya tertunduk dengan kedua tangan menyusup di saku celana twis nya, cuaca sore

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *