Senja Di Palippis

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 16 October 2015

Senja sore itu seperti biasanya Ikama telah selesai membenahi perahu sandeqnya -perahu Tradisional Mandar- semua kebutuhan yang diperlukan untuk berlayar pada malam itu sudah disiapkan. Ikama meninggalkan pantai yang indah nan elok menuju sebuah rumah yang selama ini ditempatinya. Sudah 2 tahun Ikama menetap di rumah ini, rumah mungil berkamar satu dengan dinding terbuat dari gamacca -anyaman bambu- beratap rumbia -Daun Sagu- tanpa tlapon, berlantai papan pada bagian depan, sedangkan bagian dapur berlantai bambu dan memiliki lego-lego, beberapa peralatan masak tergantung di dinding. Tak jauh dari rumah tersebut terdapat WC dan kamar mandi sederhana dengan air pancuran yang dialirkan dari sebuah mata air di gunung.

Rumah mungil Ikama menghadap ke laut mandar yang indah berada di bibir gunung palippis. Palippis adalah nama daerah yang terdapat di perbatasan antara kecamatan Campalagian dengan Kecamatan Balanipa Kabupaten polewali Mandar, sebuah daerah pantai dengan latar belakang pegunungan, pantai berpasir putih dengan perairan laut yang tenang. Sehingga ketika senja tiba pemandangan laut kemerahan diterpa matahari sore membuat kombinasi yang sangat indah. Ikama tinggal bersama Ibunya yang dengan setia menemaninya. Ayah Ikama adalah seorang nelayan tulen dan sangat mencintai lopi sandeqnya, namun telah lama meninggal ketika umur Ikama masih 15 tahun tepatnya kelas 1 SMU.

Sebuah bus besar tiba-tiba datang beriringan dari arah makassar dan satu di antaranya singgah di depan di kantor desa dan turunlah beberapa orang anak muda-mudi berjaket merah-merah dan disambut langsung oleh kepala desa dan tokoh masyarakat. Rupanya rombongan mahasiswa yang akan KKN di desanya. Nurasma itu nama gadis manis, kulit putih, pakai jilbab putih dan murah senyum adalah seorang mahasiswi fakultas kedokteran Umum dan orangtuanya seorang bangsawan dari Gowa yang menjadi kordinator desa -kordes- sepintas Asma begitu teman-temannya memanggil, adalah seorang aktivis kampus yang cerdas dan sangat mengusai permasalahan dan cepat beradaptasi, sehingga dia sangat lancar mengutarakan gagasan-gagasannya.

Seminggu anak KKN telah mengadakan survey awal dan silaturrahim dengan tokoh agama, Tokoh Masyarakat dan masyarakat lainnya. Tiba saatnya melakukan seminar program KKN, Anak KKN mengundang masyarakat untuk hadir di kantor desa untuk mengikuti seminar program. Tampak dari jauh Ikama tampil agak beda dari biasa, sehari-hari biasanya hanya pakai kaos oblong, namun hari ini dia memakai jeans biru merek cukup terkenal dipadu dengan kemeja lengan pendek, sehingga Ikama kelihatan sangat tampan. Dia mengambil posisi duduk agak di pinggir.

Setelah dibuka oleh kepala desa, maka acara selanjutnya diambil alih oleh kordes yang dipandu langsung oleh Asma, ketika sesi tanya jawab, maka Ikama ikut menyumbang saran-saran dan kelihatannya dia sangat menguasai persoalan nelayan dan kelautan, termasuk aspek sejarah, budaya, Filosofi tentang sandeq semua dikupas dengan sangat baik dan menarik. Kupasannya yang disertai susunan kata dan intonasi yang sangat baik membuat hadirin terpengarah dan terkagum-kagum serta memberi applaus kepadanya, tak terkecuali Asma yang kelihatan sangat memperhatikan setiap penjelasannya.

“Pak kama, sapa Asma setelah acara selesai, apa kabar?”
“Kenalkan Nama saya Nurasma Biasa dipanggil Asma” sambil menyilangkan kedua tanganya di depan dada.
“Baik,” jawabnya, “terima kasih, kenalkan nama saya Ikama atau biasa dipanggil kama. Saya seorang nelayan dan tinggal di pinggir laut palippis,” dia melanjutkan.
“kalau ada waktu dik Asma dan teman-teman boleh main ke rumah sambil menikmati indahnya laut palippis dan gunung di sekitar palippis.”
“Oh. Ya pak kama, terima kasih atas undangannya, nanti suatu saat saya dan teman-teman jalan-jalan ke rumah bapak”
“janganlah panggil bapak, apa saya memang sudah kelihatan seperti bapak-bapak?” canda Ikama.
“jadi Asma panggil apa dong? balasnya.
“Panggil saja Kakak atau kak kama, begitu, terima kasih sampai jumpa,” keduanya berpisah.

Ikama kembali ke rutinitasnya sehari-hari, setelah makan siang dan salat duhur, Ikama memulai hobinya yaitu membaca buku dan membuka–buka laptopnya dan mulai menjelajahi dunia maya. Setelah salat asar lalu turun ke laut mempersiapkan perlengkapan yang akan digunakan untuk berlayar pada malam harinya, esoknya subuhnya Ikama dan nelayan lainnya sudah merapat kembali di pantai palippis nan indah itu, lalu hasil tangkapannya sebagian langsung dijual, namun sebahagian lagi dikeringkan.

Daerah lokasi KKN mahasiswa sejak dulu dikenal sebagai daerah yang sangat religius, banyak tokoh dan ulama Besar dilahirkan di daerah ini, sehingga salah satu Program kerja Mahasiswa KKN adalah Sosialisasi dan pengenalan asuransi Syariah. Pagi itu Asma dan teman-teman sibuk mempersiapkan acara sosialisasi tentang asuransi syariah yang dilaksanakan di sebuah gedung yang di kecamatan. Mahasiswa KKN mengundang banyak sekali masyarakat dan Pejabat, mulai dari Bapak Bupati sampai pemerintah desa. Acara tersebut dibuka oleh Bapak Bupati dan selanjutnya dilanjutkan pemaparan materi tentang manfaat berasuransi.

Pada acara tersebut salah satu pelaku yang telah mengikuti program asuransi Syariah adalah Arifin. Dia menceritakan ketika pertama kali dia memperoleh informasi tentang tabungan Investasi atau biasa dikenal dengan unit link pada sebuah bank Syariah terbesar di Indonesia, dia mengambil paket tabungan setiap 3 bulan karena Arifin adalah seorang petani, maka penabungan dilaksanakan setiap dia panen. Pak Arifin menjelaskan bahwa selama ini petani lebih banyak menghabiskan waktunya untuk bertani dan terus bekerja tanpa memikirkan masa depannya, sementara umur dan tenaga semakin hari semakin berkurang, sehingga kalau sakit atau terjadi kecelakan kerja tidak ada lagi yang bisa dipakai berobat, terpaksa pinjam di kerabat atau tetangga. Sehingga dengan adanya program tersebut, maka pak Arifin mengajak kelompoknya untuk ikut program ini.

Di pagi yang sangat cerah itu, serombongan anak di berjaket merah beringinan berjalan di pantai, menuju kerumunan nelayan yang sedang menurunkan ikan hasil tangkapannya.
“Kak Kama,” teriak salah satunya membuat orang sekeliling menengok arah suara itu.
“Hai Asma… sampai juga kamu di kampung saya, senang ya.. menikmati pantai yang indah dan tenang ini?”
“wah Kak kama, susah digambarkan gimana indahnya pantai palippis ini, berpasir putih, nyiurnya melambai-lambai, diapik oleh gunung yang menjulang tinggi dan itu airnya jernih sekali, ingin rasanya mandi disana” jawab Asma.
“Asma, kalau kamu suka keindahan laut, gunung, pantai, pasir, dan tanaman, maka jadi orang sini saja,” goda Ikama pada Asma.
“ah. Ka kama. Ada-ada saja.”
“Dik Asma, panggil teman-teman ke rumah, kita akan bakar-bakar ikan di halaman pemandangan tak kalah indahnya dengan di sini, kebetulan hari ini hasil tangkapan Kakak tidak mengecewakan dan beragam lagi jenisnya.”

Di bawah pohon yang rindang rombongan KKN bergotong royong mengumpulkan ranting-ranting untuk menyalakan api unggun tempat membakar ikan, semua nampak gembira dan senang tertawa, bercanda dan bermain sepuasnya. Di atas rumah Ibunda Ikama juga tak kalah sibuknya, sejak subuh hari dibantu tetanggganya sudah mempersiapkan berbagai jenis makanan khas mandar, ada loka anjoroi, -pisang mengkal, dimasak dengan lalu dicelupkan ke dalam santan kelapa lalu diaduk- sokkol bunga, -Beras Ketan yang Kukus- buras tanrean, -Terbuat dari Jawawut yang dimasak dengan memakai daun Pisan- gogos, -Beras ketan yang dimasak lalu dIbungkus daun Pisang lalu diasapi- jepa -makann terbuat dari Ibu kayu dan Dimasak dengan memakai Wajan dari Tanah liat- dan kande sattang -sejenis Nasi Uduk.

Juga tak lupa disiapkan kue-kue khas mandar, ada golla kambu -Gula Merah dicampur dengan beras ketan lalu diaduk- bubur tabreang, -bubur terbuat dari jawawut pakai gula merah- dan loka janno -Pisang Goreng- semua telah disiapkan dan sudah berada di halaman dekat pembakaran ikan siap disantap.
“Kama,” teriak Ibunya, “Inna dio sangana Nurasma?” tanya Ibunya. (mana yang namanya Nurasma?)
“Dik Asma… ke sini dulu Ibu mau kenalan?” Asma yang tak menyangka mulai tersipu malu ditambah dengan siulan teman-temannya membuat pipinya yang putih menjadi merah.
“saya Asma bu, sambil membungkukkan badannya dan meraih tangan perempuan setengah baya itu.
“makappa sanna die sanaeke,” kata Ibu kama dalam hati. (cantik sekali ini anak) “Iya saya muhara, Ibunya Ikama, semoga betah tinggal di desa ini” lanjutnya
“Iya bu,” jawab Asma yang mulai menguasai diri.

“Kumpul-kumpul,” teriak Rudi yang menjadi juru bakar ikan, ikan sudah masak dan mari kita serbu makanan yang ada.
“Oke? Oke,” teriak teman-temannya serentak.
Berbagi masakan khas mandar tersaji di halaman dengan beralaskan tikar, tersajilah berbagai jenis masakan khas mandar. Ada Bau Tapa, -Ikan asap. Tak terasa acara santap ikan sudah selesai, Ipan tiba-tiba teriak. “ayo mandi, di laut,” maka berhamburanlah rombongan itu menuju laut yang jernih dan indah.
Asma dan Ikama tidak ikut mandi, tapi dia menonton teman-temanya dari dua buah kursi batang kelapa yang yang terukir rapi dan diletakkan persis di bibir pantai di bawah pohon yang rindang.

“Dik Asma,” kama memulai pembicaraan, “di mana alamat ta di makassar?”
“kalau di makassar saya tinggal di asrama putri kampus, tapi kalau saya di gowa, maka alamat saya jl. Syeh yusuf no 34.”
Asma dan kama terus berbincang-bincang, banyak hal yang mereka bincangkan termasuk program kerja yang KKN.
“Turun-turun, turun!” teriak teman-teman dari laut, Asma dan kama akhirnya juga ikut mandi di laut.

“Hari ini saya sangat senang kak Kama.. seumur hidupku baru kali ini saya merasakan pengalaman yang sangat indah dan saya bahagia sekali.” bisik Asma pada kama.
“Terima kasih semoga kita dapat bertemu kembali” dan Asma dan kama bertukar nomor HP.

Sore itu… senja di ufuk barat perlahan-lahan mulai memerah, sang surya sudah membentuk bulat penuh, rasa panas mulai melemah berganti kesejukan yang ditiup amgin sepoi-sepoi. Di kursi batang kelapa depan rumah Ikama, Ujung Jilbab Hijau mudah Asma dibiarkan terus tertiup oleh angin. Dia terus menatap senja itu seakan ingin menahan senja agar tidak masuk ditelan oleh laut yang luas. Hatinya terus berkecamuk antara bahagia, khawatir, dan perasaan lain bercampur jadi satu.

Senja ini adalah senja terakhir yang Asma nikmati, sebab besok dia sudah harus meninggalkan desa penuh kenangan ini menuju makassar tempat dia menuntut ilmu dan selanjutnya akan melaporkan hasil kerja selama 2 bulan dan yang paling penting adalah menyelesaikan kuliah dan masuk rumah sakit untuk praktek.
“Nak Asma, bahunya ditepuk, sudah adzan, mari salat magrib,” Asma kaget dari lamunannya tak disangka senja itu sudah mulai hilang diganti oleh suara adzan dari sebuah musala.
“eh… Amma… Iya ma. Saya ambil air wudu dulu” sambil bergegas menutupi kegugupannya yang dari tadi melamun.

“Nak Asma… jangan sedih, setiap pertemuan itu selalu ada perpisahan, tapi kalau Allah menhendaki kita akan bertemu kembali” bisik Muhara di atas sajadah.
“Iya ma… tapi kenapa perpisahan ini terlalu cepat, rasanya saya masih mau menikmati suasana desa pantai ini lebih lama lagi” malam ini Asma memang datang khusus bermalam di rumah Muhara, karena sudah beberapa hari ini Ikama ke makassar mengurus beberapa jaringan pemasaran hasil nelayan.
Asma memang gadis yang sangat supel. Baik dan pintar, sehingga dalam waktu tidak terlalu lama dia sudah sangat disukai masyarakat, begitu juga Ibu Ikama yang seperti sudah menganggap anak sendiri, sehingga tidak ada lagi kecanggungan di antara mereka.

Di pagi yang cerah itu, semua rombongan merasa berbahagia dan senang, mereka berbaur dengan masyarakat yang mengantar mereka, berbagai oleh-oleh sudah terkumpul di balai desa. Dan didominasi oleh oleh khas mandar, termasuk pisang, kelapa, beras dan lainnya. Pokoknya banyak. Mereka bertrima kasih pada anak KKN, karena programnya banyak yang berhasil menyentuh masyarakat. Asma tampak sangat gelisah, mata terus mencari-cari di kerumunan orang, seperti ada yang ditunggu.
“Nak Asma” Tegur Muhara, yang dari tadi terus mendampinginya, kenapa gelisa sekali, banyak orang memperhatikan tingkahnya.
“Iya ma… maaf..” sambil memperbaiki kembali duduknya.
Acara serah terima terus berjalan, sambutan dari kepala desa dan dosen pendamping bergantian.

Tak terasa rombongan sudah mulai menaiki bus, satu persatu saling bersalaman dan berpelukan sebagai tanda perpisahan. Asma memeluk erat Ibu Ikama, Solihin berteriak “asyik nih.. Camel -Calon Mertua- ni ye…” disambut ketawa oleh teman-temannya. Tapi Asma tidak peduli dia terus memeluk Muhara dan menangis sehingga jilbab merah jambunya basah, tangisannya membuat beberapa teman dan Ibu-Ibu ikut menangis, sehingga suasana perpisahan ini berubah menjadi lautan kesedihan.
“Sudah Nak..” tepuk Muhara di pundak. “teman-temanmu menunggu di atas bus.” sambil memeluk menggandeng menuju bus.
“Lobbemi nande api,” salah judul lagu mandar bunyi HP BB, rupanya SMS masuk.
“Dik Asma. Banyak cerita indah yang terukir dan tertinggal di pantai Palippis, terutama senjanya yang sangat luar biasa indah yang sulit untuk diuntai dengan kata-kata. Tapi itulah pertemuan selalu diakhiri dengan perpisahan, tapi semoga perpisahan ini hanya sementara” Kak kama, begitu SMS Ikama membuat Asma tersenyum bahagia.

Perlahan bus mulai berjalan, lambaian tangan rombongan dibalas oleh lambaian angan masyarakat yang berjubel di pinggir jalan.
“da.. da.. da”, teriaknya.
Bus perlahan hilang dari belokan dan masyarakat pun bubar.

Tepat satu tahun kemudian Asma , di wisuda, tampak rombongan dari keluarga besar dari Gowa mengantar nya masuk ke ruang audiotirium andi pettarani, suasana bahagia terus terpancar di wajahnya. Asma berjalan perlahan dengan jilbab ungu muda dipadu dengan kain sutra mandar, sehingga dia tampak barsahaja dan cantik sekali, teman-temannya menyambutnya dengan gembira.

“Lobbemi nande api…” Bunyi Hp BB- nya, terlihat SMS Masuk.
“Dik Asma, saya dan Mama turut bersuka cita atas berhasilnya menyelesaikan studi di fakultas kedokteran dan selamat bu Dokter semoga ilmu yang didapat bermanfaat bagi masyarakat. Masih adakah kerinduan kembali melihat senja di Palippis? saya, Mama dan keluarga akan berkunjung dan bersilaturrahim ke rumah ta sebentar sore. Kak Kama.” Asma kaget sekali tak disangka isi SMS demikian jelasnya.
“Ada apa ya?” pikirnya.

Sore itu di jalan Syeh Yusuf Gowa no 34, mobil avanza, terios dan sedan camri memasuki halaman rumah yang asri dan cukup luas rumah itu berbentuk seperti rumah Balla Lompoa dan ini pertanda bahwa rumah ini adalah milik seorang bangsawan Gowa, beberapa orang nampak menyambut rombongan ini di teras. Sambil mempersilahkan naik ke rumah. Pada rombongan itu nampak mantan rektor yang juga berasal dari Mandar, beberapa tokoh pendidik juga menyertainya rombongan ini. Pak rektor, memulai berbicara setelah beberapa saat bercanda.

“Pertama-tama, saya akan perkenalkan rombongan kami dulu. Yang di samping saya, Muhara, Ibu pak Kama. Yang pakai baju kemeja putih. Adalah Ir Kamaruddin Basri, Msi atau biasa dipanggil Pak kama, beliau kandidat Doktor bidang kelautan dan perikanan yang juga salah seorang dosen fakutas perikanan dan kelautan, beliau malakukan penelitian mendalam tentang sandeq dan kehidupan nelayan mandar di polman, beliau melakukan penelitian dengan gaya berbeda, dengan menyamar menjadi nelayan betulan selama dua tahun dan saat ini hasil penelitiannya telah selesai dan sedang menunggu promosi Doktornya.” Jelas pak rektor panjang lebar.

Pak kama menyelesaikan Doktornya tiga bulan yang lalu, dan langsung menikahi Dr. Nurasma Yasin atau biasa dipanggil dr. Asma, pesta diadakan di dua tempat yaitu Gowa dengan adat Gowa dan di Mandar dengan adat Mandar.

“Senja itu nampak lagi setelah sekian lama aku tak bisa menikmati,” bisik Asma pada pada Suaminya.
“Iya lama sekali kita tidak menikmati senja ini balas” pak kama.
“dulu ketika menikmati senja kita saling berjauhan karena kita belum menikah. Tapi sekarang satu kursi dong…” balas Asma.

Pak kama juga telah membangun rumah mungilnya di tempat yang sama, dengan memakai kayu hitam bentuknya khas rumah mandar namun dipadu dengan gaya rumah bangsawan gowa, sehingga melahirkan bentuk rumah yang sangat indah. Dengan halaman yang luas, berada di atas bukit yang agak datar, di depannya bibir pantai menjorok turun membuat rumah ini lebih mirip Villa. Pemandangan laut yang sangat indah, dengan sunset di sore hari membuat tempat ini sering ditempati persinggahan oleh penunpan yang lalu lalang makassar Mamuju.

“Mama.. Mama,” teriak Hidayat yang sudah berumur 3 tahun anak pertama mereka, yang mengendarai sepedanya mininya.

Pak kama saat ini sedang mengajar di Unsulbar dia diperbantukan di universitas ini untuk mengembangkan perguruan tinggi ini sedangkan Dr. Asma ditugaskan di puskesmas Balanipa.
Senja itu, adalah senja di Palippis.

Cerpen Karangan: Hasanuddin SE
Facebook: Hisyam Safran
Hasanuddin, SE alamat Jl. Kemakmuran No 10 Wonomulyo Polman. Pekerjaan Pendamping Program Masayarakat di Dep. pertanian
twitter hasanud96520448

Cerpen Senja Di Palippis merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Pesan Kecil

Oleh:
2 tahun sudah masa-masa indah itu berlalu. Aku membuka folder picture di laptopku. Tak lain yang isinya foto teman-temanku sewaktu SMA. Semua foto tersebut ku open. Ingin rasanya kembali

Merindu

Oleh:
Namaku adalah Dimas aku adalah anak pindahan dari kampung yang ingin bersekolah SDN di jakarta ini ceritaku. Pada waktu pendaftaran aku telah mendaftar di berbagai sekolah yang dekat dengan

Hai

Oleh:
“Tutup matamu dan berharap yang baik, maka kau akan dapatkan yang terbaik ketika kamu membuka mata,” Begitulah kalimat dari ibuku ketika aku ingin tidur. Kalimat itulah yang akan selalu

Pemuda Berkacamata

Oleh:
“Maaf, saya tidak sengaja,” ujarmu merasa bersalah kala itu. Saat petang menjemput suasana di taman kota setelah kau tumpahkan es jeruk itu ke lengan jaketku. “Tentu, tak apa,” sahutku

Friendship or Love (Part 5)

Oleh:
Malam itu Keno belum berhasil mendapatkan hati Nawala, namun ia sangat yakin suatu saat ia akan mendapatkannya. Mereka melanjutkan perbincangan masih seperti seorang yang berteman. Namun mengetahui bahwa Keno

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *