Senja Esok Hari (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Jepang
Lolos moderasi pada: 21 July 2017

Bunga tidur menghampiri hidupku setiap hari. Isinya selalu bercerita tentang hal yang sama. Tapi aku tak tahu apa maksudnya. Di sana, aku melihat sosokmu yang selalu berada di sampingku. Dengan senyummu yang senantiasa menyapa hariku…

Kaca jendela ruangan ini telah membiarkan cahaya matahari memasukinya, perlahan tapi pasti. Memberikan sinar agar ruangan itu lebih terang, namun matahari akan segera bersembunyi dibalik benda langit lain, bulan. Ya, dia adalah bulan. Tapi itu belum saatnya, kini siluet senja lah yang mengisi ruangan itu. Angin yang berhembus pun tak segan melewati jendela yang sengaja dibuka, kain yang seharusnya menutupi jendela itu pun ikut tertiup angin.

Krek..
Pintu ruangan itu tengah dibuka. Langkah kaki mulai terdengar memasuki ruangan itu. Lalu pintu itu kembali ditutup. Dia masih berdiri di daun pintu sambil memandang ke arah jendela. Kursi di sudut ruangan pun diambilnya dan kini dia duduk di atas kursi itu.

“Selamat sore. Maaf, bahkan ini terlalu sore.” Dia terkekeh kecil, lalu melanjutkan perkataannya. “…Kau tahu? Hari ini adalah kelas kesukaanmu. Kau selalu protes bahwa gambarku jelek kan? Ya, tapi itu memang hal yang bukan bidangku tahu!” bibirnya sedikit menunjukkan bahwa dia kesal.
Sebuah buku gambar tengah dikeluarkan dari tas yang dibawanya, “Tapi lihat.. aku menggambar pohon hari ini. Pohon yang sangat rindang bersama kedua anak kecil yang duduk di sana. Hehehe. Hebat kan?”

Suara angin bertiup terdengar menggerakkan pohon diluar jendela sana. Burung-burung tengah bersiap untuk pulang ke peraduaannya.
“Heeee? Apa? Kau tidak menyukainya? Yaaaa, yaaa tentu gambarmu lebih bagus. Hal yang terpenting adalah usaha dan mencoba bukan? Mari kita berjuang bersama! Yaaaa!” Kedua tangannya mengepal tanda memberikan semangat dan senyuman kembali menghiasi wajahnya.

“Maaf ya, bukan hanya datang terlambat tapi hari ini aku harus pulang lebih cepat karena tugasku banyak sekali. Seharusnya kau yang membantuku, tapi aku masih berharap kau dapat membantuku lho.” Bisikkan mulai terdengar samar-samar, “…saat ini.”

Gadis itu tetap melemparkan pandangannya keluar jendela. Lalu mulai berdiri dari kursi dan memberikan salam hangat untuk mengakhiri hari. “Sampai jumpa besok. Kau harus berjanji untuk lebih berjuang, Oke? Dan aku tidak menerima kata tidak.”
Langkah kakinya yang tidak lagi kecil kini mulai meninggalkan ruangan. Terdengar suara pintu yang digeser perlahan lalu tertutup. Saat itu pula langit senja berubah menjadi gelap dan hanya ditemani bulan, tak ada lagi suara burung dan jendela itu kini telah tertutup. Angin tidak lagi bebas meluncur ke dalam ruangan untuk hari ini.

Suasana yang sedikit berbeda dari hari-hari sebelumnya, hari ini sangat berawan dan udaranya cukup panas. Kapas berair yang ada dilangit itu mulai bergumpal, semakin banyak dan semakin tebal. Perlahan-lahan cuacanya mulai berubah. Berawan lalu mendung dan kini tetes-tetes air hujan mulai melepaskan diri. Membasahi setiap sudut kota, jatuh di antara dedaunan dan ranting. Melewati daun lalu terhempas langsung ke atas tanah. Mengalir di dari tempat yang lebih tinggi ke tempat yang lebih rendah. Terdengar samar-samar suara tiap tetesan hujan di atas payung orang-orang di luar sana. Serta cipratan di kubangan air yang sengaja dilewati oleh anak-anak.

Krek…
Suara pintu yang selalu sama saat dibuka ataupun ditutup.
Sosok gadis itu mencoba menengok dari daun pintu dengan diawali senyumnya. Senyum pertama hari ini. Rambutnya yang tergerai sedikit lembab dan menutupi bahunya. Tawa kecil mengiringi kedatangannya memasuki ruangan itu. Terlihat sepatunya basah tersentuh tetes hujan yang datang bergerombol.

“Halo!! Selamat pagi.” Dia berjalan memasuki ruangan dan seperti biasa mengambil tempat duduk yang memang tersedia di sana.
“Sepertinya hari ini kau lebih berjuang dari biasanya. Jangan tanya mengapa bisa begitu tapi aku tahu dari wajahmu.”
“Hari ini aku bawa roti kesukaanmu. Yap, garlic bread. Dan gambar kemarin yang kuceritakan padamu kini telah aku beri warna. Hahaha. Lagi-lagi aku tidak pandai menyatukan warna. Pohon ini…” Perkataannya terhenti, bibirnya sedikit terkunci tapi ia mencoba menyelesaikannya.
“Aku tahu kau pasti tahu.” Dia terkekeh dan mencoba tersenyum lagi.
“Hey, aku ingat. Tentu saja, tak mungkin aku lupa.” Aku mulai bergumam di antara sel-sel otakku.

Saat pertama kali kita bertemu itu adalah pertemuan yang membuatku terkagum karena keberanianmu. Ya, kini aku mulai mengumpulkan kepingan ingatan yang sedikit memudar. Bukan karena waktu. Bukan. Aku mulai menyatukan rol film yang ada dalam otakku. Mengingatnya bagaikan menonton dengan sebuah proyektor. Kenangan 10 tahun yang lalu.

Ketika itu…
BRUK!!
Bola basket tengah melayang namun bukan kearah yang benar, bukan passing ataupun shoot. Namun itu juga bukan akibat dari tidak bisa bermain basket, tapi dia mengarahkan bola itu pada kedua anak laki-laki yang telah menyakiti seekor anak kucing. Lalu suara langkah kaki yang berlari menyusul ke arah yang sama.

“Hey, pergi kalian!” Teriakan itu muncul dari seorang anak kecil. Kini dia bergegas melindungi anak kucing itu dalam dekapannya.
“Cih, anak menyebalkan beraninya melempariku dengan sebuah bola basket.”
Kedua anak tersebut melemparinya dengan batu yang tergeletak di atas tanah, terlihat anak itu menahan rasa sakitnya. Ah, ini menyebalkan. Benar-benar membuatku kesal. Entahlah tiba-tiba langkahku sudah terhenti di depan kedua anak lelaki itu yang tingginya melebihi diriku. Sepertinya usia mereka terpaut beberapa tahun diatasku.

“Apa kau tau orang yang payah? Itu adalah orang yang menyakiti orang lain yang bahkan tak salah apapun. Apakah kalian akan menjadi bagian dari orang-orang seperti itu? Pikirlah jika kalian punya benda kenyal dalam kepala kalian.”

Seketika aku menarik tangan anak itu tanpa pikir panjang dan mulai berlari dengan kencang menghindari kedua anak laki-laki itu. Kami bersembunyi di belakang pohon yang cukup rindang. Beruntung mereka tidak mengejar kami. Terdengar napasnya yang masih tersengal-sengal. Tak kusangka dia benar-benar membawa anak kucing itu dalam dekapannya.

“Kau tak apa-apa?” Tanyaku memastikan keadaan.
“Heee? Itu tidak seberapa kok.” Lalu dia mengacungkan jempol tangannya. Memperlihatkan kepalan tangannya yang mungil. Tentu, kami masih kecil kala itu.

Kucing itu masih dalam dekapannya, sepertinya ia nyaman berada di sana. Aku masih penasaran sebab dia sungguh terlihat marah tadi, “Itu kucingmu?”
“Eh? Tentu bukan. Aku tak mungkin memelihara anak kucing yang sepertinya baru lahir kan? Mungkin ia tertinggal oleh keluarganya. Tapi, mungkin kini aku akan melakukannya.”
“Akan kau beri nama apa?” Aku sedikit penasaran.
Wajahnya terlihat berpikir keras. “Hmmm, mungkin Shiro?”
“Bukannya itu terdengar seperti nama seekor anjing?”
Dia berpikir lagi. “Ya, biar saja kan bulunya putih. Aku berharap dia kuat seperti anjing” Kami tertawa. Entahlah, pemikirannya sungguh aneh.

Saat mengantarnya pulang, aku baru menyadari bahwa dia seorang gadis kecil. Ya aku cukup malu menduga bahwa dia bocah laki-laki. Rambutnya benar-benar tidak mencerminkan perempuan. Ketika kami berpisah hari itu, ia tersenyum dengan memperlihatkan deretan gigi kecilnya yang manis.
“Terima kasih karena telah membantuku.”

Proyektor dalam otakku berhenti, tepat pada satu kalimat yang membuat senyuman menghiasi wajahku maupun hatiku. Ya, aku baru menyadarinya. Saat ini. Betapa berharganya hal sekecil itu. Lalu sejak saat itu kita berteman, tidak—bersahabat. Dan gadis kecil itu kini telah berubah menjadi remaja yang menyenangkan. Selalu.

Ah—Ya dan pohon itu! Pohon dimana kita mengukir inisial kita berdua. Hahaha. Bahkan di sana ada ukiran kucing kecil yang kau selamatkan. Ukiran sederhana yang aku buat saat itu. Gambarku payah sekali. Aku mengingatnya dengan jelas.
Gadis itu kini meletakkan kepalanya di atas kasur. Suaranya mengecil karena tertahan dan tertutup di antara kedua tangannya. Rambutnya sedikit menutupi lengannya.

“Hehe. Aku rindu. Aku merindukan kita bermain bersama. Kau tahu? aku —sedikit kesepian. Aku tahu kau berusaha melebihi siapa pun dan maaf… maafkan aku yang kini tak dapat membantumu. Aku tak berguna. Sungguh.”
Lagi-lagi perkataannya terhenti, tapi itu tidak berlangsung lama lalu dia mengeluarkan semuanya.
“Karena itu, kumohon lekaslah sadar Takeru.”
Deg. Sesuatu yang tajam mengenai tepat di dadaku. Tidak, itu tak benar-benar berbentuk tajam hanya saja rasa sakit memenuhi hatiku. Mataku mulai membulat, lagi-lagi rol film ingatanku berlangsung di dalam otakku. Berputar dengan sangat cepat dengan background hitam, gelap dan… aku mencoba memejamkan kedua mataku sejenak lalu membukanya. Perlahan.

Aku melihat diriku yang terbaring di atas kasur dengan tak berdaya. Alat bantu pernafasan melengkapi wajahku dan semua peralatan medis yang membantuku, setidaknya untuk sekedar bernapas. Mengira bahwa ini adalah mimpi sungguh menyakitkan. Selama ini aku hanya melihat dia yang senantiasa mengunjungiku tapi aku tak melihat diriku yang terbaring di atas sana.
Mungkin aku tak ingin mengakui bahwa ini terjadi?

Kepingan ingatanku mulai sedikit menyatu. Ya, aku berada di sini karena sebuah kecelakaan yang menyebabkan luka di kepalaku dan membuatku koma. Tapi tak bisa kuingat penyebab kecelakaan itu. Hey, sudah berapa lama aku berada di sini? Tapi seberapa banyak pun aku bertanya tak akan ada jawaban bukan?

“Kumohon, lekaslah sadar.” Ulangnya, seperti mengharapkan sebuah jawaban.

Jawaban? Tentu aku ingin memberikan jawaban dan diberikan jawaban tapi —suaraku tak dapat menggapaimu. Bahkan angin sang pengirim pesan tak dapat menyampaikan pesanku bukan? Air mata menetes di kedua mataku. Tapi bukan di tubuhku. Aku hanya menundukkan kepalaku, menyadari ketidakberdayaan yang kini melanda diri ini.

Terlintas di pikiranku bila Tuhan mengizinkan aku mengucapkan salam perpisahan dengan baik bila kami memang harus berpisah. Tapi jika Tuhan berkehendak lain, aku hanyalah pelaksana skenario hidup dari-Nya.

“Hal yang terpenting adalah usaha dan mencoba bukan? Mari kita berjuang bersama!” Perkataannya waktu itu tiba-tiba terngiang di kepalaku dengan ditemani tawa kecilnya.

Ah.. .Aku tahu ini bodoh tapi —setidaknya aku harus mencoba bukan? Benar. Dia benar. Gadis kecil yang telah tumbuh itu sudah berusaha memberikan semangatnya padaku. Setidaknya, aku harus kuat.

Aku bangkit dari tangisanku, kupejamkan kedua mataku, mengepalkan kedua tangan dan mulai berteriak. “Maafkan aku yang bodoh ini. Aku baru menyadarinya. Ya, bahwa sesungguhnya aku mengharapkan sesuatu yang lebih darimu. Tidak, bukan, ah aku tak pernah pandai dalam berkata-kata tapi satu hal yang ingin aku katakan.. aku menyukaimu Hikari dan terima kasih untuk selama ini. Terima kasih!”

Hosh. Napasku mulai tersengal-sengal. Rasanya tubuhku lemah sekali, napasku mulai berat. Padahal aku hanya mengeluarkan sedikit tenaga untuk sekedar menyampaikan pesan yang —belum tentu tersampaikan.

Aku mendekati tubuhku yang terbaring di atas kasur dan dirinya yang masih dalam posisi yang sama. Mencoba menyentuh lengannya tapi aku transparan. Haha. Apa ini? Ah —sepertinya aku mendapatkan jawaban. Pandanganku gelap. Kini aku terjatuh di antara banyak rol film. Di sebuah ruangan yang sangat gelap. Aku mencoba bangkit, mungkin ini takdirku tapi aku malah berlari dalam kegelapan mencari kepingan-kepingan yang benar-benar kucari. Tidak, aku mencari jawabanku. Bahkan sepertinya ruangan itu tak berujung, seperti aku berlari dalam labirin yang tidak ada titik temu.

Tiba-tiba Hikari mengangkat kepalanya dan membulatkan mata. Bulir air tak hanya jatuh dari langit, kini pelupuk matanya basah.

“Aku mendengarnya! Aku sungguh-sungguh mendengarnya! Kata terima kasihmu. Jangan pergi ke sisi yang lain. Tetaplah di sini, berjuanglah menemukan pintu keluar dimana aku berada. Berjuanglah. Aku di sini. Kau harus mendengarku!”

Aku berada di antara banyak rol film. Suara gema tiba-tiba terdengar dengan cukup keras. ”Berjuanglah. Aku di sini. Kau harus mendengarku!” Hey, suaraku menggapaimu? Aku berteriak mencoba memberi balasan tapi itu tak lagi berguna. sepertinya keberuntunganku telah kugunakan seluruhnya, namun aku terus berlari tanpa kepastian.

“Berjuanglah!” Satu gemaan suara terdengar lagi. Aku berusaha mencari sumber suara itu berasal. Teka-teki yang harus kupecahkan ketika Tuhan telah memberi jalan. Ya, mungkin ini jawaban-Nya.

Entah seberapa jauh aku berlari, berapa banyak aku berteriak, sekuat apa aku mencoba aku belum menemukan jalannya. Ketika rasa pengecutku datang untuk menemani tanda penyerahan kala kegelapan mengelilingi, cahaya terang terlihat di sudut tak berujung dalam ruangan itu. kulihat tangan yang mengulurkan bantuan. aku menggapainya.

Elektrokardiograf terus menangkap impuls listrik yang ditimbulkan oleh denyut jantungku. Apakah akan berhenti atau terus menjelajahi naik dan turun? Alat-alat itu terus mengiringi langkah kakiku yang —mungkin menuju ke arahmu, atau tidak. Aku tidak yakin. Mataku berat, napasku sulit, aku berbaring dan sulit mengerakkan anggota tubuhku. Sekuat tenaga aku mencoba menggerakkan buku-buku jariku. Seketika, tombol yang berada di dinding itu ditekan sekuat tenaga oleh Hikari. Kurasa sudah saatnya.

Cerpen Karangan: Syafa’atul Uzhma
Halo. Saya Syafa, penulis amatir di balik layar. Terima kasih sudah mampir dan membaca cerpen ini. Saya sangat menghargai kritik, saran dan apresiasi kalian dengan share cerpen ini. Terima kasih.

Cerpen Senja Esok Hari (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kertas Kosong

Oleh:
Sunyi yang selalu menemani malam ku beserta nyanyian jangkrik di sekelilingku. Hampa sudah terasa, pupus sudah smuanya dan kini ku hanya mengharapkan kenangan yang telah sirna itu. “Dooorrr….!” Seketika

Under The Osaka Sky

Oleh:
“Klik, Cekeeetttt, Jeblog…” pintu kamarku terbuka. Spontan aku terbangun dari ranjang, padahal mataku baru saja mau memasuki alam mimpi. Dan lagi-lagi itu Yuuna, dia kembali mengganggu malam indahku. “Bisakah

Dia Memilihnya

Oleh:
Di suatu SMP kelas 2E, hiduplah seorang siswi bernama Berlin. Dia adalah gadis yang cantik dan baik hati. Dia mempunyai banyak teman karena dia ramah kepada siapapun. salah satu

Anyelir Pusaka

Oleh:
Waktu itu, di dunia peri, terjadi perang sengit antara penyihir Glawise atau penyihir jahat dari utara melawan Ratu Melia, ratu pemimpin dunia peri. Mereka berdua memperebutkan bunga Anyelir Pusaka.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *