Senja Membisik

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 30 September 2021

Secangkir kopi hangat dan sepiring gorengan kecil buatan Weni dinikmati perlahan dalam lamunan oleh pak Hanif sore itu. Ada rasa yang menelusup kalbu saat pak Hanif menatap wajah ayu Weni. Walau kulitnya sedikit hitam dan kusam, namun kilau senyumnya selalu menawan hati. Kebaikannya terpancar dari hati yang tulus dan polos. Ya Weni namanya. Dia adalah asisten rumah tangga anak pak Hanif yang sudah bekerja dua tahun setengah di rumah anaknya.

Semenjak istrinya meninggal empat tahun yang lalu pak Hanif sering berpindah-pindah dari rumah anaknya. Dari ke empat rumah anaknya pak Hanif paling betah tinggal di rumah putri bungsunya. Alasan awal pak Hanif betah di rumah putri bungsunya karena dekat dengan klinik tempat ia berobat.

Sejak istrinya meninggal pak Hanif mengidap Autophobia. Sehingga ia harus melakukan terapi setiap minggu. Autophobia itu sendiri adalah rasa takut terhadap kesendirian atau cemas untuk merasa kesepian. Fobia ini membuat pak Hanif senantiasa membutuhkan orang lain untuk merasa aman.

Selama ini Weni lah yang menemani dan mengurus segala keperluan pak Hanif di rumah. Karena kebaikan dan kejujuran Weni dipercayai sepenuhnya oleh putri pak Hanif untuk menjaga ayah dan anak-anaknya saat ia bekerja di kantor.
Sejak empat bulan terakhir pak Hanif sudah menaruh hati kepada Weni. Rasa cintanya kepada Weni sudah tak bisa dibendung lagi. Pagi itu usai menikmati secangkir kopi buatan Weni Pak Hanif dengan bibir bergetar mengungkapkan kalau ia ingin memperistri kan Weni sebagai istrinya.

Langkah Marni terhenti, tangannya menjadi kaku dan tubuhnya mendingin serasa peredaran darah di dalam tubuhnya berhenti saat ia mendengar ucapan terbata-bata pak Hanif. Marni melihat dengan jelas rona kesepian di wajah pak Hanif. Matanya yang berkaca-kaca seakan mengisyaratkan Weni untuk menerima cintanya.

Hati Weni bingung dan mengiba lalu ia terdiam seribu bahasa. Weni terjebak oleh situasi yang tidak memungkinkan ia untuk menjawab akan ketulusan hati pak Hanif. “Bagaimana dengan ibu Fera majikanku! Kalau ia tahu pak Hanif ingin menikahiku.” pikirnya sedih dan bingung. “Kalau aku menolak pasti pak Hanif sedih.” Sambung Marni dalam hati.

“Bagaimana Weni! Kau bersedia kan menikah denganku?” Ucap pak Hanif memecah kebisuan. Plaaaak!!! bunyi suara gunting jatuh dari tangan Weni. Ucapan pak Hanif mengejutkan sekaligus menghentakkan dada Weni yang sedang menggunting bunga di teras depan. Weni menarik napasnya, lalu melepaskannya agak berat. “Sulit aku menjawabnya, Pak. Tapi, aku merasa heran, kok bisa-bisanya bapak jatuh cinta kepada saya.” Jawab polos Weni tanpa memandang pak Hanif. “Selama ini aku merawat dan menjaga bapak karena tugasku sebagai seorang pembantu. Lagian aku sudah menganggap bapak itu seperti ayahku sendiri.” Sambung Weni yang masih membelakangi pak Hanif karena ia tak mau melihat wajahnya.

Penolakan tak menyurutkan tekad pak Hanif untuk mendapatkan hati Weni. Ia Terus berusaha meyakinkan Weni kalau ia benar-benar mencintainya walau usia telah senja. “Apa karena aku sudah tua, sehingga kau tak mau menikah denganku.” pungkas pak Hanif mendekati Weni. Weni yang semakin tersudut dengan pertanyaan pak Hanif memalingkan wajah takutnya ke arah pak Hanif lalu menggelengkan kepalanya yang menandakan kalau tua bukan faktornya. “Lalu apa yang memberatkanmu untuk menikah denganku.” Sambung pak Hanif yang semakin penasaran. Weni tak menjawab ia hanya menundukkan kepalanya.

“Apa karena Fera kau takut menikah denganku?” tanya pak Hanif yang mulai curiga karena Weni menolaknya. “Perkara Fera kau tak perlu khawatir, itu semua bisa saya atur.” Sambung pak Hanif yang semakin menggebu akan keinginannya untuk menikahi Weni. Weni semakin ketakutan dengan keinginan pak Hanif yang terus memaksanya. Buliran keringat dingin mulai terlihat di wajah Weni saat ia mendengar bunyi klakson mobil ibu Fera. Weni yang belum sempat menjawab pertanyaan pak Hanif langsung berlari menuju gerbang membukakan pintu untuk ibu Fera majikannya.

Weni menghempaskan tubuh lelahnya di kasur dan memandang langit-langit kamarnya. Dia teringat dengan perkataan pak Hanif yang terus mendesak keinginannya. Weni tidak menyangka sama sekali kalau pak Hanif akan senekat itu mengajaknya untuk segera menikah.

Setelah merasa sedikit tenang Weni duduk di kursi kamar dekat tempat tidurnya lalu meneguk segelas air putih yang diambilnya sebelum masuk ke kamar. Suara napas leganya terdengar saat ia selesai minum. “Haaa! untung tadi ibu Fera tidak melihat aku dengan pak Hanif.” ucap suara lega Weni sambil memegang gelas di tangannya. Weni semakin gelisah akan perihal yang sedang ia alami. “Kalau ibu Fera tau bisa gawat ini.” Gumam Weni dalam hati.

Belum pun kegelisahan dan ketakutan Weni hilang terdengar ada suara yang mengetuk pintu kamar Weni. “Wen? Kamu tidur.” ucap ibu Fera memanggil Weni. Weni yang sedang ketakutan langsung bangun dan membukukan pintu kamarnya. “Kok muka kamu pucat, kamu sakit ya.” Tanya ibu Fera saat melihat wajah Weni yang sedang membukukan pintu.

Suasana semakin hening saat ibu Fera menatap keanehan di wajah Weni yang terlihat pucat. Namun Weni berusaha menutupi akan perihal yang sedang ia alami dengan berdalih kalau ia hanya kelelahan. “Tidak buk, saya baik-baik saja.” ucap Weni tersenyum meyakinkan ibu Fera kalau ia baik-baik saja. “Ibu mau saya siapkan makan siang sekarang.” Sambung Weni bersemangat. Kecurigaan sempat melintas di pikiran Fera saat ia melihat wajah pucat Weni karena terburu-buru harus balik ke kantor Fera pun mengabaikannya. “Saya sudah makan di kantor tadi.” Jawab ibu Fera singkat.

Meeting sore ini membuat Fera tidak bisa menemani ayahnya untuk check up sehingga ia meminta bantuan Weni untuk membawa ayahnya ke klinik. Lagi-lagi Weni harus berhadapan dengan pak Hanif padahal ia sudah berusaha semaksimal mungkin untuk tidak berdekatan lagi dengan pak Hanif. Walau berat Weni terpaksa menuruti permintaan Fera agar ia tidak menaruh curiga kepadanya.

Di sepanjang perjalanan menuju klinik tak sepatah katapun membuncah dari mulut Weni. Ia lebih memilih diam karena tidak mau memberi ruang kepada pak Hanif. Sementara pak Hanif terlihat wajahnya merona bahagia karena bisa bersama dengan Weni dalam satu taksi. Sesekali pak Hanif melirik ke arah Weni pertanda ingin mengajak ia untuk berbicara namun Weni mengabaikannya. Hingga tak terasa taksi berhenti di depan klinik. “Ayo pak kita turun!” Ucap Weni mengajak pak Hanif turun dari taksi dan berjalan masuk ke klinik.

Setelah selesai melakukan terapi eksposur yang terakhir dokter mengatakan bahwa pak Hanif telah sembuh dari autophobia yang dideritanya. Sudah enam bulan secara rutin pak Hanif melakukan terapi eksposur dengan sabar ditemani oleh Weni. Dokter sempat memuji Weni yang begitu setia menemani pak Hanif untuk terapi setiap minggu. Rona bahagia terpancar dari wajah pak Hanif saat dokter mengatakan Weni adalah tipe wanita yang baik dan setia. Sementara Weni hanya tersenyum saat dokter memujinya.

“Alhamdulillah pak, bapak sudah sembuh.” ucap Weni saat mereka keluar dari ruang terapi. “Tugas saya menemani bapak untuk terapi sudah selesai.” Sambung Weni sambil berjalan menuju apotik klinik untuk mengambil tebusan obat. Lirikan aneh dari beberapa orang yang melihat mereka berdua tak ditanggapi serius oleh Weni. Sementara pak Hanif terus memancarkan rona bahagianya ke setiap orang yang melirik mereka.

“Obatnya sudah saya tebus. Sebaiknya kita pulang sekarang pak.” ucap lesu Weni mengajak pak Hanif pulang. Weni yang jalannya melamun hampir saja tertabrak oleh brankar yang didorong oleh dua perawat saat mereka keluar dari klinik. Untungnya pak Hanif cepat menarik tangan Weni sehingga tubuhnya tidak mengenai Brankar dorong tersebut. “Tadi kamu hampir saja tertabrak brankar pasien.” ucap heroik pak Hanif saat menarik tangan Weni. Weni baru sadar dari lamunannya saat ia mendengar pak Hanif telah menyelamatkannya. Begitu melihat tangannya berada di genggaman pak Hanif, ia langsung melepaskannya.

Dengan muka kusut Weni memasuki kamarnya. Cuaca yang kian memburuk sejak sore tadi kini menyisakan butir-butir gerimis yang kian halus menetes di bumi. Suasana senyap, para penghuni rumah merasa lebih aman berada di balik selimut. Namun, tidak dengan Weni.

Weni yang masih gelisah akan perihalnya dengan pak Hanif belum bisa memejamkan matanya mesti malam sudah larut menyapa. Kejadian tadi siang di klinik masih membekas di matanya. “Seandainya saja pak Hanif tidak menarik tanganku, pasti tubuhku sudah mengenai brankar dorong itu.” pikir Weni dalam hati sambil melirik jam di kamarnya.

Weni terus membayangkan tindakan heroik pak Hanif saat menyelamatkan dirinya. Rasa kasihan dan bersalah terus membingkai hatinya. “Seharusnya tadi aku berterima kasih kepada pak Hanif.” pungkas Weni dalam hati. Ada rasa mulai menelusup hati Weni. Malam pun semakin dingin. “Ya sudahlah aku tidur saja.” peluh Weni dalam hati. Lalu ia mematikan lampu dan menarik selimutnya.

“Maaf, saya tidak sengaja.” ucap terkejut Weni saat menjatuhkan cangkir teh yang nyaris mengenai kaki Fera yang sedang duduk sarapan pagi di meja makan. Pandangan matanya tajam menusuk sudut netra indah Weni yang bertabur lebam, ia terpukau sesaat. Senyum yang tiada ramah sekilas terbersit, lalu pudar ditelan bengisnya tamparan yang ringan melayang.

Weni yang sedang memungut pecahan cangkir di lantai melirih kesakitan saat tangan lemahnya terkena pecahan cangkir. Pak Hanif yang berusaha membantu Weni dicegat oleh Fera. “Sudah, Ayah! gak usah dibantu. Itu tugas pembantu, bukan tugas Ayah.” ucap ketus Weni melarang ayahnya lalu pergi meninggalkan meja makan.

Ucapan kasar Fera sungguh menyayat hati Weni. Sikap kasarnya itu dilandaskan karena ia telah mengetahui hubungan Weni dengan ayahnya. Weni! Maafkan Fera. Mungkin dia syok mendengarnya, tapi aku yakin semuanya akan baik-baik saja.” Ujar pak Hanif menenangkan Weni. Pak Hanif tak henti-hentinya memanggil Weni. Namun Weni terus menangis di kamar tak menghiraukannya.

Kesedihan kian menyeruak saat Weni keluar dari kamar. Ia berasa melangkah di atas bara api penderitaan saat akan meninggalkan pak Hanif. Tatapan matanya semakin lebam saat menatap wajah senja pak Hanif. Weni berusaha mematahkan rasa yang mulai tertanam di dalam hatinya.

“Maafkan aku pak Hanif. Aku tak bisa meneruskan semua ini meski rasa mulai menyentuh hatiku.” ucap tangis Weni berusaha melepaskan tangan pak Hanif yang melekat di genggamannya. Kepiluan semakin menusuk hati saat pak Hanif enggan melepaskan tangannya dari genggaman Weni.

Cerpen Karangan: Fadlin S.Pd
Blog / Facebook: Fadlin Yunus
Biodata Penulis
FADLIN, S.Pd dengan nama penanya Fadlin Yunus lahir di Aceh Timur pada 26 April 1983. Sekarang ia tercatat sebagai guru honorer yang megampu mata pelajaran Bahasa Inggris di MTsN 8 Aceh Timur. Ia aktif menulis Cerpen dan Pentigraf di Media Online Guru Siana. Ia telah menghasilkan kurang lebih dua ratus judul Pentigraf dan telah dimuat di beberapa media online. Beberapa karyanya juga sudah dibukukan dalam buku Antologi. Saat ini ia sedang menulis buku solonya dengan judul “Suara Hati Negeri Monisa.”

Cerpen ini dimoderasi oleh Moderator N Cerpenmu pada 30 September 2021 dan dipublikasikan di situs Cerpenmu.com

Cerpen Senja Membisik merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Perdon Me

Oleh:
Senja mulai menghilang dan selimut malam mulai samar-samar digelar, mengaburkan sensasi hangat yang selalu senja hadirkan. Hanya ada dingin dan dingin yang kini tersisakan. Tak ada kehangatan sekali pun

Salah

Oleh:
Pagi itu aku masih menjalani aktivitas seperti hari-hari sebelumnya. Menjalani rutinitas yang memang tiada habisnya. Aku selalu sampai di kantor terlebih dahulu ketimbang munculnya matahari. Cukup lama sudah aku

Akhir Yang Manis?

Oleh:
“Aduuh, sakit!” Diandra menabrak sesuatu dengan keras hingga badannya limbung. Hap, ada yang menahan tubuhnya. Dengan perlahan Diandra menegakkan tubuhnya, membuka matanya, melihat sekeliling ternyata sudah banyak kepala-kepala yang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *