Senja Yang Tak Sempurna

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Perpisahan
Lolos moderasi pada: 27 May 2016

Aku tercenung menatap ke luar. Di luar sana hujan tercurah dari langit, bersamaan dengan saat datangnya senja. Aku berpikir, terlalu banyak yang ku pikirkan. Tentang senja, tentang gerimis, tentang hujan, tentang purnama, tentang fajar, dan tentang sunnatullah lainnya. Aku lebih suka gerimis senja. karena apa? karena di balik kemegahan siluet di cakrawala itu tersimpan keangkuhan dan duka. Bola api angkuh itu akan menenggelamkan diri nantinya sembari memberi insan pemandangan surgawi nan memesona yang layak ditunggu setiap senjanya, tenggelam bersama keyakinannya untuk terbit esok hari dan meninggalkan bumi dalam gelapnya kelam. Lembayung senja tak terhitung jam, hanya sesaat, itu pun tak pernah ku temui senja yang sempurna. Duka, aku selalu menggambarkan hujan sebagainya. Kau tahu? Saat hujan tiba, emosiku meluap menjadi tangis, rinduku menguap menjadi isakan lirih, kebencianku berubah menjadi cinta tertahan, dan segala yang ada di dalam dadaku meluap, menguap, dan berubah semaunya.

“Apa yang kau lihat dari senja? Masih sama dengan senja kemarin, senja kemarinnya lagi, senja waktu itu, senja dahulu, dan senja-senja sebelumnya.” Dia mempertanyakan pertanyaan bodoh itu berulang kali, untunglah kupingku sudah kebal akannya.

Rintik hujan masih menari riang di luar sana, rumput di sekitar bersyukur memuaskan dahaga. Aku masih bergeming, dan akan selalu begitu. Seharusnya saat ini aku berada di pantai, memandangi rintik hujan menari di atas buih ombak, lelehan hujan membuat parit kecil di pasir putih, lalu aku memandanginya terkagum-kagum di bawah pohon berdaun cukup lebat. Namun tanpa remang senja, karena langit kelabu saat awan hitam berarak. Namun tidak, aku bukan di sana. Aku sedang menghadap hujan di luar, menatap lirih lewat jendela kusam di hadapanku. Menyentuh embun di kaca jendela, lalu membasuh wajahku dengan lembut. Sesekali ku tadahi air hujan yang mengalir, lalu ku teguk menikmati, seketika kesedihanku terbasuh bersih dalam ragaku, namun tetap tanpa senja.

“Apa itu senja yang tak sempurna?” Dia bertanya lagi padaku, aku mengerang menanggapinya, menjawab pertanyaan itu sama saja aku harus membiarkan jantungku memukuli dadaku dengan keras. “Senja tanpamu.” Wajahnya terlihat bingung, lalu tertunduk, mungkin mencoba menelaah atau mencerna jawabanku. Ia mengernyitkan dahi, tak mengerti apa yang terjadi. Sejujurnya aku juga tak mengerti, hujan membawaku begitu saja.

Pernah aku meminta seandainya dikabulkan, bisakah hujan membawa aku melaut? Dari parit yang sempit, ku lalui dunia bersama kumpulan air hujan di sana, mengalir ke tempat yang rendah, membawa, menghanyutkan apa dan siapa pun yang hendak ikut. Dan singkat cerita sampai di laut, ikut mengarungi samudera, terombang-ambing di antara ombak, lalu dihempaskan di pulau tak berpenghuni, dan memulai semua dari awal lagi.

“Jadi semua senjamu sebelumnya tidak sempurna?” Dia kembali menyemburkan pertanyaan padaku, rasa penasaran lebih tinggi daripada gengsinya. Aku menghela napas sembari berusaha membentuk segaris lengkungan senyum mengarah padanya, dia pun tersenyum, manis, sangat manis.
“Sangat amat tidak sempurna. Aku hanya ingin senja yang tak sempurna, karena aku tahu, senja yang sempurna tidak akan pernah aku dapatkan.” Aku berujar seperti seorang pesakitan yang akan segera menghadap maut, meminta permintaan terakhirnya dikabuli. Namun jika memang begitu, tentu saja senja datang lebih awal padaku. Bukan senja kemerahan menyala, lalu berganti keemasan dalam remang, tapi senja sendu bagai perpisahan yang menyedihkan, kerapuhan yang segera menghadap keruntuhan.

Seperti senja sebelum-sebelumnya, aku selalu menunggu datangnya dia dan senja. Aku duduk bersila di atas pasir dengan telapak telanjang, matahari akan segera menghampiri peraduan, air laut mulai tampak tenang saat akan menghadap senja. Aku bergumam, “Ini senja yang ku inginkan, senja yang tak sempurna, dan tak akan pernah sempurna.” Aku sendirian, benar-benar sendirian di tepi pantai ini, begitu banyak orang lalu lalang di kejauhan, namun tak ada yang ku kenali.

Air mataku mulai mengalir, cinta, rindu, dan benciku menjadi satu. Di depanku terhampar tirai gerimis, membelakangi senja berjubah keemasan. Aku mendapatkannya, gerimis senja, senja yang tak sempurna. Ya, senja yang tak sempurna, senja yang datang tanpa dia, namun digantikan oleh gerimis. Tanpa disadari, aku tersenyum kecut, inilah takdirku, jalanku yang dihiasi duka, namun aku menyukai dan mencintainya. Aku menahan napas menikmati sesuatu yang telah ku tunggu bertahun-tahun itu, takut deru napasku dapat membuat gerimis senja berlalu begitu cepat. Andai saja aku dapat mendapatkannya setiap senja, aku tak perlu tersiksa saat kerinduan pada dia mencapai puncak, dia akan digantikan gerimis senja yang begitu aku cinta, sama dengannya.

Per sekian detik, gerimis tiba-tiba mereda, aku berdiri terheran-heran memandangi indah rona senja yang ditinggalnya. Aku mendengus kesal membalikkan badan siap memaki manusia yang menjemput gerimisku, namun lidahku kelu saat menatap siapa yang tersenyum manis padaku, dia datang, Saka datang. “Bolehkah aku membuat senjamu sempurna?” Dia menawarkan diri, menarikku untuk duduk di sebelahnya, aku masih bengong antara percaya atau tidak. Lagi-lagi dia tersenyum begitu manis seraya menoleh sekilas padaku, lalu menatap lurus memandangi matahari kemerahan yang sudah hampir tenggelam penuh, air laut pun mulai tampak kehitaman.

“Kau merusak senjaku, Saka!” Aku menggerutu kesal, dia tersenyum lagi dan lagi, dengan lembut diusapnya rambutku, aku tak mengerti dengan lakuannya.
“Senja yang tak sempurna.” Dia berkata seakan tahu apa yang sedang ada di benakku. “Jika tanpaku, ada gerimis. Namun jika tanpa gerimis, ada aku. Selalu ada yang pergi, diganti yang datang.” Dia memelukku dengan erat, seakan tidak akan melepaskanku saat perpisahan itu menjelang nanti. Kerapuhan semula membatu, membangun karang yang kokoh. Tempat di mana aku mendapati senja yang tak sempurna.

Cerpen Karangan: R. Suliyarti
Facebook: Riri Suliyarti

Cerpen Senja Yang Tak Sempurna merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Aku Sudah Lulus

Oleh:
Pekik kegirangan membahana di tiap sudut sekolahku. Aku hanya bisa melihat kebahagiaan dalam tiap jengkalnya. Tawa dan peluk yang akrab ada dimana-mana. Jadi, hari ini memang hari kelulusan kami!

Masih Banyak Ikan Di Laut

Oleh:
“Pukul tiga sore, di tempat terakhir kali kita bertemu. Tolong!!” aku masih mematung setelah membaca pesan singkat itu. Wanita itu, sungguh, aku tak mengharapkannya kembali. “Aku mohon, aku ingin

Je T’aime (Part 1)

Oleh:
“Dek, kakak hari ini gak bisa jemput kamu. Tapi kakak udah minta tolong kok sama temen kakak untuk jemput kamu. Kamu tunggu aja ya” Chika menghela nafas mengingat ucapan

Not Goodbye (Part 5)

Oleh:
“Rafa… Aku dapat telepon dari rumah kalau Dera pingsan!” jelas Aisyah “Pingsan?!” sahut Rafa panik. “Kalau begitu kita balik sekarang!” “Iya…! Tunggu dulu Bukannya tadi dia di jemput sama

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *