Senyum Seindah Pelangi

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 8 June 2016

Semuanya seperti deja vu.
Masih terukir dengan jelas di benakku, tentang hari itu. Di saat butiran-butiran air berjatuhan dari langit. Petir pun seolah tak mau kalah meramaikan suasana dengan menggelegar. Suasana dingin sekaligus takut menyelimutiku. Aku seorang diri, duduk menanti, kapankah semua ini berakhir.

“Mari aku antar kau jalan ke halte bus, aku juga akan ke sana. Lihat, aku bawa payung. Cepatlah sebelum semuanya bertambah parah,” ucap seorang anak laki-laki yang tiba-tiba menghampiriku.
Aku tidak mengenalnya, dan aku pun yakin dia tidak tahu namaku. Tetapi, yang penting aku bisa berjalan melewati hujan sampai ke halte bus tanpa kebasahan. Dia, anak laki-laki yang menolongku, justru dia yang sedikit kebasahan terguyur air.

“Terimakasih sudah mengantarku. Maaf aku merepotkan, kamu jadi basah,” ucapku dengan sopannya.
“Tidak masalah. Aku sering melihatmu menunggu bus di sini, jadi melihatmu sendirian tadi aku jadi ingin… mengantarmu,” jawabnya.

Kami berdua menunggu kendaraan bercat kuning hijau yang biasanya mengantar kami ke tempat tujuan. Namun, entah mengapa kendaraan itu tak kunjung datang. Untuk meredakan kebosanan, kami berdua memutuskan untuk mengobrol.
“Kamu baru tahun ini masuk kan? Aku Ferdy, kelas 11. Salam kenal,” ucapnya sambil memberikan tangannya.
“Aku Sophia, kelas 10. Salam kenal,” jawabku, sambil mengambil tangannya dan berjabat tangan.
Semenjak hari itu, kami berteman akrab. Ferdy sering menghubungiku secara rutin melalui media sosial. Ia memperhatikan aktivitasku secara detail. Dari kesibukkanku, sampai kandungan gizi makananku.
“Maklum la, dia kan anak perpus. Kesehatan adalah hal yang penting baginya,” komentar Abigail, saat aku bercerita padanya.
“Ya, tapi aku selalu merasa seperti anak kecil saat bersamanya. Sikapnya agak berlebihan,” kataku melanjutkan ceritaku.
“Sophia, menurutmu, dia menyukaimu?” tanya Abigail.
Aku tersentak. “Tentu saja tidak. Perhatiannya, rasanya itu berbeda. Bukan seperti seorang kekasih, tapi seperti seorang kakak pada adiknya. Aku bisa merasakannya,” jawabku.
“Kau tahu kisah tentang kehidupannya?” tanya Abigail lagi.
Aku menggelengkan kepalaku, kemudian Abigail mulai bercerita.
“Sewaktu kita kelas 8 dan dia kelas 9, adik perempuan satu-satunya meninggal dunia karena penyakit kanker. Ia benar-benar menyayangi adiknya yang beda 2 tahun darinya,” cerita Abigail.
Aku langsung terdiam. Tak pernah kubayangkan di balik senyuman ceria kak Ferdy tersimpan kenangan masa lalu yang menyakitkan. Sekarang, aku juga merasakan rasa sakit tersebut. Rasa cinta yang tulus darinya ternyata hanyalah obat untuk mengobati rasa sakit akan kehilangannya. Sejak saat itu, aku berusaha untuk menjauh darinya.

Angin dingin yang menerpa tubuhku menyadarkanku dari lamunanku. Sekarang aku seorang diri menunggu kapan hujan akan reda. Seperti biasa, aku harus menunggu bus di halte depan sekolah. Namun, kurasa hal yang sama tak akan terulang lagi saat ini. Lebih baik aku berjuang menembus hujan saja sekarang ini.

Langit seolah menangis dengan kerasnya, sukses membuatku basah kuyup walau baru tiga langkah dari sekolahku. Hal yang tak terduga terjadi saat aku bersiap mengambil langkah keempat, air hujan tak mengguyurku lagi. Saat kuangkat pandanganku ke atas, ternyata ada benda berwarna biru yang melindungiku. Kemudian aku bisa mendengar suara yang sudah lama tak kudengar lagi.
“Mari aku antar kau jalan ke halte bus, aku juga akan ke sana. Aku membawa payung. Kau bisa sakit kalau kehujanan,”
Kalimat itu, mirip kalimat yang aku dengar saat hujan beberapa hari yang lalu. Hanya saja, suasanya berbeda. Ada berkas kekecewaan dalam hatiku. Tapi aku berjalan bersamanya, ini lebih baik daripada terkena hujan.

“Sophia, kau pikir aku tidak menyadarinya, kau menghindariku belakangan ini. Kenapa?” tanya Ferdy sambil mengelap wajahku dengan saputangannya.
“Aku, hanya merasa…. baik-baik saja. Tak perlu khawatir,” jawabku berbohong.
Tangannya terdiam, ia kemudian menatap kedua mataku.
“Aku tahu kau ada masalah. Kau bisa cerita padaku. Aku tidak akan membiarkan kau digerogoti masalah terus,” ucapnya.
“Mengapa kau seperti ini? Menurutmu aku ini siapamu?” aku mengerahkan semua keberanian yang aku miliki untuk menanyakan hal itu padanya.
Ia terdiam, menghela nafas, lalu lanjut berbicara, “Aku pernah punya seorang adik perempuan.”
Aku menatap matanya. Jadi benar, ia hanya menganggapku pengganti adiknya. Tapi aku masih berharap ia menceritakan semuanya kepadaku, walau aku sudah mendengarnya dari Abigail.
“Aku sangat menyayanginya. Sampai ia terkena penyakit kanker dan dipanggil Tuhan untuk selama-lamanya,” sambungnya. “Namun, sebelum ia pergi, ia berkata kepadaku jika aku jatuh cinta pada seseorang, jangan pernah mengecewakannya. Cintai dia, seperti aku mencintai adikku. Jangan pernah membuatnya dikelilingi masalah terlalu lama, itu akan menyakitinya,” mata kak Ferdy sedikit berkaca-kaca saat mengakhiri ceritanya.
Aku terpana, tak mampu berkata apa-apa. Tanpa kusadari, air mata mulai bersiap keluar dari mataku, namun aku menahannya, berusaha untuk tidak menangis.
“Sophia, apa kau baik-baik saja. Jangan menangis,” tangannya berpindah untuk menghapus air mataku yang mulai mengalir keluar.
“Kak, maafkan aku, kupikir aku telah salah paham tentangmu. Maafkan aku,” ucapku dengan air mata yang masih mengalir.
“Kau tidak bersalah, kupikir aku yang tidak menjelaskannya sejak awal. Sudahlah, semuanya akan baik-baik saja,” ucapnya menenangkanku.
“Terimakasih,” kataku pelan.
“Sekarang Sophia, aku ingin bilang kalau, aku sudah menyukaimu sejak pertama kali melihatmu. Tapi, semua keputusannya ada padamu,” ucapnya dengan nada bicara gugup.
“Aku tersentuh saat pertama kali kau bersedia mengantarku ke halte menembus hujan. Tapi….”
“Ada apa?”
“Menurutmu aku terlalu muda untuk jatuh cinta?” tanyaku sambil tersenyum kecil.
“Hehe, kupikir begitu. Jadi jangan lupa untuk belajar dengan giat ya! Jangan lupa untuk makan makanan dengan kandungan gizi yang lengkap untuk dapat tumbuh dengan sehat. Rajin juga berolahraga, dan cukup istirahat!” jawabnya dengan gembira. Dia mulai lagi, tapi kali ini aku merasa benar-benar bahagia karenanya.

Bus pun datang dan kami melangkah masuk, duduk bersama. Di saat yang bersamaan, hujanpun reda. Cahaya oranye dan kuning kembali bekerja sama menciptakan pemandangan langit sore yang indah. Di balik awan, pelangi pun muncul untuk meramaikan suasana yang indah ini. Aku tersenyum, karena aku telah menemukan orang yang akan berusaha untuk membuatku tersenyum dan sekarang ia berada di sebelahku.

Cerpen Karangan: Faline Honey
Blog: thesparkleofstar.blogspot.co.id

Cerpen Senyum Seindah Pelangi merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Pahitnya Pengkhianatan

Oleh:
Nama aku Felly, aku sekolah di salah satu SMA di Yogyakarta aku kelas XII ipa 1. Aku mempunyai seorang pacar yang bernama Angga dan seorang sahabat bernama Keshi, kami

Akhirnya Aku Resmi Jadi Mahasiswa

Oleh:
Mataku tampak berbinar-binar saat aku melihat tulisan ‘SELAMAT! ANDA DITERIMA DI UNIVERSITAS JAMBI’ muncul di layar komputerku. Itu membuktikan kalau aku lulus seleksi SBMPTN di UNJA, universitas terbesar di

Matahariku

Oleh:
Menatap matahari yang bersinar terik membuatku menyipitkan mataku. Sebuah buku tiba-tiba menghalangi pandanganku, aku menoleh dan ada Cyrus berdiri di samping Kananku. “Sayangi matamu…” ucap Cyrus, yang juga menatap

Bury, The True Story of My Life

Oleh:
Sebenarnya, udah hampir dua tahun aku suka sama seorang cowok, namanya Farel (nama disamarkan). Farel ini satu tahun lebih muda dari aku, tapi kepribadiannya lumayan dewasa. Dia sosok yang

Sepatu Hitam Di Balik Jendela

Oleh:
“Kringg… kringg… kring..” suara alarm membangunkan Alya. Terkejut ia setelah melihat jam tepat menunjukkan pukul 07.00. Ia langsung melompat dari kamar tidurnya. Langsung diambil handuk di luar kamar mandi.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *