Sepanjang Perjalanan 2 (Kesempatan)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Romantis
Lolos moderasi pada: 28 September 2017

-Gee-
Oh tidak! Dia menjemputku! Dia benar-benar datang! Dia ada di sana, berdiri dengan tegap membuatku semakin gelisah. Demi ikan tuna 20 cm yang kumakan pagi tadi, kenapa dia harus datang dengan penampilan semenarik itu membuatku semakin gusar?!

Kutundukkan kepala di bibir jendela dengan gamang. Isi kepala mulai bekerja keras membuat rancangan bagaimana cara melewati hari ini. Aku tak biasa dengan kehadirannya.
Bukan.
Maksudku, hatiku tak biasa menerima kehadirannya setelah hal memalukan kala itu. Aku yakin dia menertawakanku tapi tidak berusaha menunjukkannya. Ini lebih memalukan dibanding mengenakan training pack saat pesta kebun!

-Bobby-
Akhirnya aku bisa datang tepat waktu. Kuhembuskan napas kuat-kuat saat turun dari mobil. Dadaku berdebar kencang. Ucapannya tempo hari yang menanyakan kepulanganku cukup membuktikan ada signal positif darinya. Semoga itu akan tetap menjadi positif sampai tiba saatnya aku membuatnya tepat 1 kaki di sampingku seumur hidupnya! Baiklah, itu terlalu naif. Bahkan aku tidak tahu apakah dia akan menerimaku kembali. Ah, pertanyaan sulit itu membuatku kembali gelisah! Sejujurnya dia bukan gadis yang mudah ditebak!

Kesekian kali hembusan napas mengalir keluar dari mulut. Aku tidak mungkin kembali pulang setelah berada di muka pintu rumahnya. Setidaknya, aku harus membuatnya kembali menempatkan bola mata terarah padaku. Ya! Aku harus optimis!

4 kali bel berbunyi, tapi dia tak kunjung keluar. Ke mana dia? Apa Stevan menjemputnya? Tapi, bukankah dia sudah setuju untuk pergi bersamaku? Apa dia berubah pikiran? Apa dia masih menyisakan sakit hatinya atas perlakuanku dulu? Apa karena itu dia membatalkan janjinya denganku?
Atau … mungkinkah dia sudah memiliki kekasih? Mungkinkah dia pergi dengan kekasihnya tanpa memberitahuku? Apa dia berniat membalas dendam atas pengkhianatanku dulu? Apakah benar demikian?

Tuhan, tolong ingatkan dia bahwa di depan pintu ini ada seorang lelaki yang menunggunya dengan cinta yang tak mungkin tersaingi oleh lelaki lain!

-Gee-
Buka. Tidak. Buka. Tidak. Buka. Tidak.
Ahhh!!!! Aku benar-benar gusar. Entah berapa kali bel rumah ini berbunyi. Haruskah aku menyodorkan muka setelah pertanyaan memalukan yang kulontarkan tempo hari? Aku benar-benar tak berpikir panjang saat mengetikkan balasan yang sarat akan perhatian padanya. Lelaki manapun akan tertawa jika tahu betapa seorang gadis mengharapkan lelaki yang pernah menyesatkannya.

Oh, tidak! Demi udang kering planet Neptunus! Bobby meneleponku! Dia menelepon! Dan bodohnya aku lupa mengatur nada suara ponselku menjadi diam! Dia pasti mendengarnya dari balik pintu! Aku harus bagaimana sekarang? Seseorang, tolong bantu aku!

-Bobby-
“Gee, kau di dalam?” tanyaku mengetuk pintu sementara telepon tetap tersambung.

Apakah dia sengaja menghindariku? Atau ponselnya tertinggal di ruang tamu? Tak ada sahutan kudengar. Telepon pun tetap terhubung hingga berhenti dengan sendirinya. Apa yang terjadi dengannya?

Tiba-tiba perasaan khawatir menyelimuti hatiku. Dia sendirian di rumah. Bagaimana jika dia pingsan di dalam rumah tanpa ada seorang pun yang tahu? Itu gawat sekali. Gee pasti akan segera mengangkat teleponnya jika dia baik-baik saja. Ya. Pasti ada yang tidak beres dengan Gee.

-Gee-
“Aww!” pekikku kaget karena pintu tiba-tiba terbuka.
Selain dahiku sakit karena terantuk pintu, pinggulku juga nyeri karena terjatuh. Apa-apaan Bobby membuka pintu tanpa permisi? Bagaimana jika aku mati karena terbentur pintu?

“Gee, kau baik-baik saja?”
“Pikirkan sendiri, Jelek!” tukasku kesal.
“Hahahaaa….”
Tawa Bobby membuatku semakin jengkel. Apa-apaan dia menertawaiku setelah membuatku hampir mati karena terbentur pintu?

-Bobby-
Awalnya memang panik melihat Gee di atas lantai. Tapi melihatnya mengurut kening sambil meringis kesakitan, sepertinya dia terjatuh saat aku membuka pintu.
“Gee, kau baik-baik saja?” tanyaku sedikit heran karena dia tidak terlihat terlalu kesakitan. Aku mengenalnya sejak anak-anak. Kali ini aku merasa dia sedang tersenyum. Hatinya yang tersenyum. Sepertinya demikian. Maksudku, itu harapanku saat dia melihat mantan kekasih dan sahabatnya ini.

“Pikirkan sendiri, Jelek!” sentaknya.

Tiba-tiba ingatanku melayang pada 2 tahun silam saat kami menjadi sepasang kekasih. Dia memanggilku dengan sebutan itu. Lucu sekali. Kurasa makian itu lebih baik daripada dia diam sepanjang malam seperti tempo hari saat kami membeli kado. Aku merindukan makiannya. Aku juga merindukan pukulannya.

“Maafkan aku,” ucapku sambil berusaha keras menahan tawa. “Aku yakin kau baik-baik saja. Perlu kubantu berdiri?” tawarku berjongkok di depannya.
“Tak usah berpura-pura manis! Kau tak pernah menolongku berdiri!” tukas Gee sambil bangkit dengan sendirinya.

Tunggu dulu. Kenapa aku merasa sakit hati? Dulu aku selalu tertawa saat gadis tomboy ini menghujaniku dengan berbagai macam sumpah serapah sekalipun. Aku terbiasa dengan itu. Tapi kini … aku merasa sangat rendah.

Aku memang tidak menenangkan Gee yang menangis karena kuabaikan. Mataku hanya terpaku pada Freya. Aku membiarkan Gee terpuruk selama 2 tahun atas pengkhianatan yang kubuat sendiri. Ternyata dia masih memendam rasa sakit itu. Semangat yang muncul sesaat lalu, kini nyaris punah. Mungkinkah bukan sekarang saatnya?

-Gee-
Diam-diam kulirik Bobby yang sedang menyetir. Dia terlihat bermuka kusut. Apakah dia sedang memikirkan mantan kekasihnya? Sedalam itukah dia kesakitan karena putus dengan Freya? Berakhirnya hubungan mereka memang sudah lama sekali. Ah…. Rasa sakit hati pun tak bisa semudah itu diterka dengan waktu.

Sebelumnya, aku tak pernah tahu mereka berpacaran karena Bobby belum memutuskan hubungan kami. Atau mungkin aku yang terlalu mengada-ada. Kami memang dekat dan bersahabat sejak kecil. Kuanggap status kami berubah hanya karena dia menciumku di halaman belakang sekolah. Percuma saja aku menjadi lulusan terbaik jika memenangkan hati Bobby saja tak becus. Freya yang anggun namun berotak balita itu jauh lebih menawan di mata si bodoh Bobby.

Huft! Tak penting sekali aku mencemburui si balita itu.
Kuhela napas panjang sembari memperhatikan jalanan lekat-lekat. Mobil terus melaju tak terlalu cepat juga tidak lambat. 6 tahun aku tidak pergi ke Tanah Abang, ternyata waktu yang cukup lama untuk melupakan arah. Tapi sekarang, sepertinya aku merasa ada yang berubah. Jalanan ini benar-benar terasa asing.

-Bobby-
Sepertinya kami tersesat. Kucoba untuk tidak menunjukkan kegelisahanku, tapi aku benar-benar bingung. Ugh! Setelah ini aku harus berbelok ke mana? Sepertinya aku hanya memacu mobil ke arah yang semakin tak kumengerti. Seharusnya aku tahu bahwa memikirkan Gee tidak lekas membuat tubuhku menggerakkan kemudi ke hatinya.
Ah, hal bodoh apa yang kupikirkan barusan?

“Berhentilah! Aku ingin bertanya pada seseorang. Kurasa kita sudah salah jalan,” pinta Gee.
Aku menurut. Kuhentikan mobil di depan sebuah warung nasi. Gee turun dari mobil untuk bertanya pada pemilik warung. Seorang ibu keluar dan menunjukkan arah padanya. Sesaat kemudian mereka masuk ke dalam warung. Seorang lelaki yang kira-kira sebaya ibu pemilik warung tampak berbicara dengan Gee.

Aku menamatkan penglihatanku. Kuturunkan kaca jendela sebelah kiri untuk mengawasi Gee. Kulihat gadis itu memperhatikan bapak yang menulis sesuatu di atas meja. Mungkin bapak itu mencoba mempermudah penjelasan dengan menggambar denah. Tapi aku melihat tangan kirinya terulur ke belakang punggung Gee.

-Gee-
“Ah, kebetulan kau masuk. Aku tidak mengerti dengan petunjuknya,” ucapku lega pada Bobby.

Aku merasa laki-laki tua yang lebih pantas menjadi ayah itu menatap seolah menelanjangiku. Setiap aku beringsut menjauh, dia menarik punggungku untuk mendekat. Aku merasa sedikit tenang ketika Bobby menengahi kami. Dia mengambil alih obrolan sambil memperhatikan denah yang dibuat oleh si lelaki tua.

“Kita pergi. Aku sudah tahu harus ke mana,” ajak Bobby meraih tanganku.
“Tunggu dulu. Ibu itu sedang menggoreng pesananku.”
“Pesanan apa?” tanya Bobby.
“Pisang goreng.”

-Bobby-
Aku melihat raut was-was Gee. Tapi seperti biasa, dia bersikap tenang dan menghindar dengan sedikit sopan. Aku tahu sikap tomboy Gee pasti berguna untuk menjaga dirinya dari laki-laki. Tapi sebagai seseorang yang sedang jatuh cinta, aku tak terima ada yang menatap Gee seperti itu, terlebih lagi laki-laki yang sudah berumur.

Entah hanya perasaanku saja, atau Gee memang benar-benar takut. Dia meremas bagian pinggang kemejaku saat aku menengahi mereka. Ingin kurengkuh tubuh kurusnya untuk meyakinkan bahwa dia akan baik-baik saja. Jika aku tidak melakukannya, hanya karena ingin membuatnya yakin bahwa aku mempercayainya. Dia tak akan suka dianggap lemah.

Aku tak bisa berhenti tersenyum saat gadis berwajah bulat itu duduk kembali di sebelahku. Dia memang gadis yang unik. Datang ke pesta pernikahan dengan kemeja kedodoran dan celana pensil. Bagus sekali dia ingat untuk tidak mengenakan training pack seperti dulu saat pesta kebun ulang tahun Claudia. Kini rambut panjangnya dibiarkan tergerai dan di tangannya ada sebungkus pisang goreng hangat. Gadis lain pasti khawatir minyak dari gorengan akan mengotori gaunnya atau membuat make up berantakan. Tapi tidak dengan gadisku.

“Apa kau tak ingin membagi sedikit untuk sopir tampanmu ini?” tanyaku menggoda.
Gee menyumpalkan sepotong pisang goreng utuh langsung ke mulutku. Dasar gadis tomboy!

-Gee-
Hari sudah gelap saat kami tiba di depan rumah. Meskipun baru bertemu setelah sekian lama, tapi kini aku merasa hubunganku dengan Bobby sedikit membaik. Untuk sesaat, aku bisa melupakan perasaanku yang menginginkannya lebih dari sekedar sahabat. Realistis saja, Bobby berselera mengencani gadis anggun seperti Freya. Bersama dengannya seperti ini saja sudah cukup untuk mengobati rasa rindu pada lelaki maniak basket itu.

“Gee, aku ingin berbicara sebentar,” ucap Bobby sambil mematikan mesin mobilnya.
“Tentang?” tanyaku.
“Tentang kita.”

Aku mengatupkan mulut rapat-rapat. Aku tak ingin salah bicara lagi. Sekaligus mengingat-ingat apa aku sempat salah bicara selama bersama Bobby seharian ini.

-Bobby-
Aku seorang lelaki. Maka seharusnya aku lebih tegas pada perasaanku, pada orang yang aku cintai. Kulihat mata lentik Gee yang membola. Apakah dia bisa merasakan yang kurasa? Apakah dia tahu yang hendak kukatakan?

“Boleh aku memilikimu?” tanyaku hati-hati setelah menarik napas panjang.
“Apa?” tanya Gee meskipun aku tahu dia sudah mendengarnya.
“Dengan ini,” ucapku lagi sambil merogoh saku celana.

Cincinnya…. Cincinnya…. Tidak ada! Bagaimana mungkin? Aku yakin sudah membawanya. Kuperiksa seluruh saku yang kumiliki tapi tidak kutemukan juga.

Ah, bodohnya aku! Tadi aku mengganti pakaian karena si kecil Lica menumpahkan makanan saat aku hendak menggendongnya. Padahal, aku pikir ini akan menjadi saat yang tepat untuk mengikatnya kembali. Aku pikir dia akan selalu ada di sampingku karena cincin itu. Ah, sial!

-Gee-
“Maaf. Aku ingin memberimu sesuatu tapi aku meninggalkannya di rumah,” ucap Bobby kikuk.
“Ternyata kau tak berubah sama sekali. Jika bukan datang terlambat, kau juga teledor,” sahutku dengan nada menggerutu.
“Kau tak suka?” tanya Bobby dengan wajah tak berdosanya. Dia benar-benar menggelikan.
“Aku tak akan suka jika kau berubah,” jawabku.
Bobby mengurai senyumannya, “Aku juga tak suka jika kau berubah.”

Cerpen Karangan: Amarta Shandy
Facebook: @amarta.shaddy

Cerpen Sepanjang Perjalanan 2 (Kesempatan) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Pelukan Keluarga

Oleh:
Felly berulangkali berganti handuk hanya untuk menghilangkan keringat yang terus mengalir dari dalam tubuhnya. Meski senja itu telah basah karena air hujan, hawa panas tubuh Felly tidak pernah berhenti

Sahabat Jadi Cinta

Oleh:
Tiga tahun berlalu. Selama tiga tahun itu terangkum semua kehidupan yang kujalani saat tiga tahun yang lalu. Dari mulai aku bertemu dengan dirinya sampai aku berpisah dengan dia. Vinza

Pelangi Hatiku

Oleh:
Kisah cintaku tak seindah yang kubayangkan. Beberapa kali aku memilih lelaki yang salah tapi untungnya belum sampai menikah. Kalau dikenang sakit bukan main rasanya. Cinta pertamaku ku labuhkan pada

Truth or Dare Go Wrong

Oleh:
Namaku Seol, aku hanya seorang murid SMP yang baru pindah 2 hari yang lalu. Ayahku dipindahtugaskan ke kota ini. Ya! Betul sekali, ayahku seorang diplomat. Setiap 5 tahun aku

Ceritamu Juga Ceritaku

Oleh:
Kepulan asap yang ke luar dari mulutku yang diakibatkan dari hisapan rok*k yang ada di genggamanku saat ini. Laptop yang menyala karena aku mainkan mousenya entah apa yang ingin

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *