Sepeda dan Cinta Pertamaku

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Cinta Islami
Lolos moderasi pada: 3 June 2013

Namaku Tiara, aku sangat suka sekali bersepeda. Dari kecil aku sangat menyukainya. Aku masih ingat dulu saat pertama kali ibu dan ayah mengajariku menggunakan sepeda. Jatuh bangun ku rasakan, lecet-lecet di tangan ataupun di kaki menjadi pertanda indah aku lulus menggunakan sepeda… hehe lulus, kaya Ujian Nasional aja. Kenalkan sepedaku bernama Biru Langit, aku beri nama Biru Langit karena aku sangat suka sekali melihat indahnya langit, rasanya nyaman dan tenang kalau melihatnya. Hingga kini aku masih suka sekali menggunakan sepeda, kemanapun menggunakan sepeda. Jarak paling jauh yang ku tempuh menggunakan sepeda sekitar 5 km dari rumah.

Aku bekerja sebagai jaksa, si Biru Langit selalu setia mengantarku sampai ke sekolah tempatku bekerja. Padahal ibu dan ayah telah membelikanku sepeda motor, tapi aku enggan menggunakan nya, padahal praktisnya pake sepeda motor lebih efisien, lebih cepat mengantarku sampai ke sekolah. Tapi entah mengapa aku ingin selalu menggunakan sepeda kayuhku ini.
“Bu, kenapa ibu masih pake sepeda, kan capek… kan jarak rumah – sekolah lumayan jauh?”
“Hobi bu, ya mau gimana lagi, sejak kecil saya sangat suka sekali naik sepeda”
Ini adalah pertanyaan yang sering ku terima dari rekan guru lain, ya namanya juga hobi harus bagaimana lagi.
Aku punya impian yang menurutku sangat lucu, aku ingin nantinya mendapatkan jodoh yang punya hobi yang sama denganku. Tapi selama ini aku belum jua menemukannya, aku ingin cinta pertamaku adalah seseorang yang juga suka bersepeda.

Hari ini, taggal 6 juni tepat sudah aku bekerja di lembaga hukum daerahku, aku dulu punya nadzar jika aku di terima bekerja di sisi aku akan membelikan anak-anak yatim buku bacaan. Rencananya sepulang kerja aku akan mampir ke taman belajar tempat mereka biasanya menimba ilmu “Sahabat” nama taman belajar ini. Ku kayuh sepedaku dengan penuh semangat. Semangat 45… karena hari ini adalah hari yang ku tunggu-tunggu.
“Assalamu’alaikum adik-adik, bagaimana kabar kalian semua?”
“Wa’alaikum salam… baik bu Sepeda”
Wah, sejak kapan namaku jadi bu Sepeda, anak-anak ini sungguh menggemaskan, kataku dalam hati.
“Ayo siapa yang suka membaca, angkat tangannya”
“Saya, saya, saya, saya, saya” kata mereka serentak dengan nada khas riang anak-anak.
“Bagus, semua suka membaca ya… ayo semua sekarang pergi ke toko buku “Senyum” kalian bebas memilih buku apa saja yang kalian suka, tapi paling banyak setiap anak 2 buku ya”
“Asik… iya bu”
Maklum, jumlah anak di panti ini ada 40 anak, aku harus membatasi jumlah buku setiap anak karena gaji ku yang sebagian lagi akan ku tabung untuk membelikan anak-anak sepeda.
“Kapan bu, kita beli bukunya?” tanya Siti, anak yang punya rasa ingin tahu paling tinggi.
“Besok nak, besok kita pergi ke toko buku bersama naik sepeda kayuh”
“Asik… asik… asik…”

Siluet indah mentari pagi yang ditemani indahnya hamparan langit membuat semangat pagi ini semakin memuncak, pagi ini… pagi yang ku tunggu-tunggu. Entah kenapa. Aku berharap akan ada yang spesial saja.
“Anak-anak ayo kita berangkat bersama”
“Ayoooooo…”
Kring… kring… kring… kring… kring…
Anak-anak membunyikan kelakson sepeda kayuh. Seperti karnaval sepeda hias saja, namun bedanya yang ini sepedanya tak di hias. Ku lihat wajah heran setiap orang yang menatap kami. Tatapan heran.
“Asik udah sampai ya bu? Ani udah enggak sabar mau pilih-pilih buku”
“Ya alhamdulillah kita sudah sampai anak-anak, ayo kita masuk”
“Ayooooooo…”

Ada hal yang lucu, kenapa di depan toko buku ada sepeda yang merk dan warnanya sama dengan punyaku. Ada rasa yang aneh menyelimuti perasaanku, tapi aku tak tahu perasaan apa itu.
“Assalamu’alaikum”… kami serentak mengucap salam. Seketika toko buku itu ramai oleh canda tawa anak-anak.
“Wa’alaikum salam” jawab penghuni toko buku.
Kini aku hanya tinggal duduk di sudut ruangan, menanti anak-anak memilih buku yang mereka suka, dan kiranya bisa membantu memutuskan buku mana yang pantas di beli, sesuai usia anak-anak.
“Assalamu’alaikum”
Ku dengar suara itu, seperti tak asing lagi bagiku.
“Wa’alaikum salam, siapa ya?” sambil ku menoleh kan wajah.
“Aku Andi, sahabat kecilmu dulu. Kita kan dulu waktu SD sering bersepeda bersama. Ingat tidak? Aku sudah kembali ke kota ini 1 tahun yang lalu”
“Oh, iya aku ingat. Wah ngapain kamu di sini to?”
“Wah, ya kerjalah. Aku di sini sebagai manajer. Hehe gara-gara kamu tempat parkir toko ini seperti toko sepeda saja, pasti sepedanya nyewa ya?”
“Hehe, iya nyewa. Aku belum bisa membelikan mereka sepeda, uang tabunganku belum cukup”
“Belum cukup to, kalau tabungan kita disatukan pasti cukup”
“Apa?”
Perasaan aneh menyelimuti hatiku, saat ku tatap matanya ada senyum. Ah, mungkin ini perasaan sayang terhadap sahabat saja, tak lebih.
“Engga kenapa-kenapa, biasa aja kali jawabnya. Jangan gitu”
Aku tak mengerti perasaan apa yang datang menyapa, lekas aku memilih menghampiri anak-anak, aku tak mampu berhadapan dengan Andi. Perasaan yang aneh, hatiku bergetar.
“Aku mau menemani anak-anak memilih buku dulu”
“Ya silahkan, kapan-kapan aku akan berkunjung di rumahmu”

“Bu, ayo pulang. Kami sudah dapet bukunya. Kami senang sekali” kata Siti.
“Ayo anak-anak, kita pulang. Ingat saat di jalan kalian harus hati-hati ya, ikuti perintah ibu”
“Iyaaaa bu”
Tapi ada hal yang aneh, sepedaku ini bukan Biru Langit. Ini adalah sepeda yang sama dengan sepedaku. Pemilik sepeda ini salah memilih sepeda. Besok aku akan kembali ke toko ini, kan ada Andi. Jadi aku tak malu perihal menanyakan pemilik sepeda yang mirip sepedaku.

Esok hari aku kembali ke toko buku, berharap bisa bertemu pemilik sepeda itu. Ku lihat sepeda itu terparkir rapi, alhamdulillah aku bisa bawa si Biru Langit lagi.
“Assalamu’alaikum”
“Wa’alaikum salam. Ada apa Tiara? Mau beli buku lagi apa?”
Sesaat aku merasa damai saat ada di samping Andi, aku tak bisa menjelaskan rasa itu.
“Aku, mau tanya siapa pemilik sepeda yang diparkirkan di sudut kiri tempat parkir?
“Itu milikku”
“Oalah, itu sepadaku. Sepeda kita tertukar”
“Maaf Tiara, besok aku ke rumahmu dan mengembalikkan sepeda itu, aku janji”
“Kenapa besok, sekarang saja. Aku loh ada di sini?”
“Besok saja, sekalian aku ingin bertemu ayah dan ibumu”
“Oh ya sudah, tak apa-apa, aku pamit dulu kalau gitu. Assalamu’alaikum”
“Wa’alaikum salam. Iya, Tiara. Hati-hati di jalan”
Perasaan aneh ini muncul seketika saat aku di sampingnya, kadang aku menunduk tak mampu melihat matanya saat bicara. Padahal dia adalah sahabatku, sahabat kecilku yang paling dekat dulu.

Kring… kring… kring… kring… suara kelakson sepeda terdengar riuh memecah keheningan pagi. Ibu dan ayah menyuruhku ke luar rumah. Dan ternyata di luar Andi bersama anak-anak di taman belajar yang sering ku kunjungi. Bahkan semua anak lengkap, mereka ada semua.
“Nak, tadi Andi datang ke mari untuk melamarmu, ibu dan ayah sudah menerima. Sekarang bagaimana keputusaanmu?” Kata ibu dengan lembut.
“Iya”
Dengan spontan aku jawab iya, aku juga tak tahu mengapa. Apa ini cinta, cinta pertamaku, harapan yang dulu ku anggap lucu. Berharap aku menikah dengan cinta pertamaku, dengan seseorang yang suka sekali dengan dunia sepeda. Dan kini hal ini benar-benar nyata. Sesosok Andi. Yang membuat perasaanku diselimuti rasa yang aneh, tak bisa di ungkap dengan sejuta kata.

Seminggu kemudian kami melangsungkan pernikahan. Ternyata sepeda yang digunakan anak-anak taman belajar “Sahabat” dibelikan oleh Andi. Setelah ikrar suci itu. Aku, Andi dan juga anak-anak bersepeda bersama menuju taman bacaan “Sahabat” untuk menemani anak-anak belajar. Sungguh indah, harapanku menjadi kenyataan. Aku yakin, kita harus selalu dan selalu berharap. Karena harapan itu selalu ada saat kita tak putua asa. Dan selalu berharap pada Allah. Karena hanya pada-Nya kita berharap. Semoga untaian harapan kita dapat terwujud. Walau harapan kecil dalam kegelapan, pasti akan ada cahaya yang nantinya menerangi kegelapan ini.

*** SELESAI ***

Cerpen Karangan: Rahmi (Adhe Amii)
Facebook: Adhe Amii

Cerpen Sepeda dan Cinta Pertamaku merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Perjalanan Cinta Singkat

Oleh:
Hari ini, mungkin hari pertamaku sekolah di Jakarta setelah perpindahanku dari Bandung. Meski aku sebenarnya tak berniat untuk pindah sekolah, namun semua ini terpaksa karena urusan kerja OrangTuaku. Ya..

Antara Sahabat Dan Cinta (Part 1)

Oleh:
Lisa… biasa namanya dipanggil icha oleh sahabat sahabatnya.. Sekarang lisa sudah kelas tiga di salah satu SMA paling favorit di Jakarta. Terlahir dari kedua orangtua yang mampu, namun sifat

Kamu yang Mampir Sebentar

Oleh:
Banyak cinta yang datang seolah benar-benar memberikan keyakinan hati. Tapi pada hakikatnya cinta tersebut hanya mampir sebentar, memastikan untuk kemungkinan masuk ke hatimu. Hanya saja kamu harus pintar mengolah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Sepeda dan Cinta Pertamaku”

  1. saeful aris says:

    wah bagus Am..
    bikin cerpen ttg anak2 caredocs dong

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *