Seperti Mentari

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 16 May 2014

Tiga ratus lima puluh delapan… tiga ratus lima puluh sembilan… tiga ratus enam puluh… tiga ratus e..
“Demikian akhir ceritanya. Untuk mengenang kisah cinta mereka, mentari berjanji akan terus bersinar agar bulan pun tetap bersinar,” kau selesaikan dongengmu yang ke sembilan.
…tus enam puluh tiga… tiga ratus enam puluh…
“Apa kau masih mau mendengar dongeng-dongengku?” tanyamu. Sengaja kuabaikan pertanyaanmu. Aku masih ingin menghitung berapa langkah kita. Satu langkah lagi. Tiga ratus enam puluh li…
“Kita sedang pergi ke Timur atau ke Barat?” tanyamu lagi. Bodohnya aku, terpancing pada pertanyaanmu.
“Sejak kapan mentari terbenam di Timur? Sekarang kita sedang menuju tempat mentari terbenam, bukan?” tanyaku padamu. Sekali lagi aku kehilangan hitungan, sudah berapa langkah kita berjalan. Tiga ratus enam puluh tiga atau tiga ratus enam puluh empat?
“Di manakah Barat atau Timur? Mungkinkah kita akan sampai di Barat? Bukankah kita akan kembali lagi dari Timur? Tempat di mana mentari terbenam bagi kita, bukankah juga adalah tempat mentari terbit bagi belahan bumi yang lain?” pertanyaan-pertanyaanmu membuat dahiku berkerut.
“Kita selalu terlambat mengejar mentari,” tambahmu, “hingga belum sempat kita tahu apakah mentari sungguh terbenam, mentari sudah muncul lagi di punggung kita, di Timur.”
Aku masih berpikir ketika kita tiba tepat di bawah pohon ketapang, di bibir pantai berkarang. Ada sebuah bangku rotan di bawahnya. Tanpa ada kata di antara kita, kita sepakat untuk duduk di bangku rotan itu; seperti sudah biasa begitu.
“Entahlah,” jawabku. “Aku merasa perjalanan kita seperti terus berulang. Aku merasa pernah mengalami ini sebelumnya. Sepertinya kita pernah berjalan seperti ini. Kau menceritakan dongeng-dongeng itu. Aku tak berhasil menghitung berapa langkah kita berjalan. Lalu, tanpa perlu ada yang mesti mengajak kita duduk di sini, di bangku rotan ini, di bawah naungan pohon ketapang ini. Semuanya seperti sudah terjadi kemarin. Seperti mentari yang terbit, terbenam, terbit lagi, terbenam lagi.”
Percakapan kita jadi seperti tak nyambung, tapi aku merasa perlu mengungkapkan itu kepadamu, hari ini.
“Bukan masalah jika hidupku harus berputar kembali ribuan bahkan jutaan kali. Asalkan selalu bersamamu, tak mengapa bagiku. Aku malah merasa sangat bahagia.”
Kurasa kau telah membuat pipiku memerah, seperti kemarin-kemarin. Apa kau pernah menyanjungku seperti itu kemarin-kemarin?

Cerpen Karangan: Oan Wutun
Facebook: Oan Wutun

Cerpen Seperti Mentari merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kishayu

Oleh:
“Hei kalian tunggu dulu,” terdengar oleh Eka ada yang memanggil gerombolannya. “Iya kak, ada apa?” tanya Eka yang ternyata dipanggil oleh Bayu, yaitu seniornya. “Aku beri info sekilas aja

Surat Merah Jingga

Oleh:
Hari ini surat merah jingga itu datang lagi dengan 1000 puisi cinta yang indah, tanpa aku tahu siapa yang mengirimkannya setiap seminggu sekali. Surat itu datang tadi pagi saat

Pelabuhan Cinta

Oleh:
Sore itu hari kamis gerimis. Ada yang berbeda pada suasana kali ini. Meski mendung entah mengapa terasa hangat? Aku turun dari bus, tanganku yang memegang buku ku jadikan pelindung

Tak Ada yang Abadi

Oleh:
Tet….tet…. Bel berbunyi 2 kali, menandakan pergantian pelajaran. “Baik anak-anak, untuk kali ini Bapak akhiri. Bapak harap, kalian mempersiapkan ujian praktek 2 bulan yang akan datang dengan semaksimal mungkin”

Muara Laut Jingga

Oleh:
Aku tak perlu menajamkan langkahku di pasir ini. Sangat tidak terasa dingin. Pantulan sinar jingga di sana membuat langkahku terasa lebih hangat. Jalanku sungguh melantur. Entah ke mana arah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

2 responses to “Seperti Mentari”

  1. tarnno hassan says:

    semoga cerpenmu, bisa jadi pembelajaran dan inspirasi kita semua…

  2. Oan Wutun says:

    makasih Tarnno,,,, semoga saja demikian…
    salam kenal….

Leave a Reply to Oan Wutun Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *