Sepucuk Surat Untuk Pangeran Pecinta Mawar

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Penantian
Lolos moderasi pada: 17 November 2015

Wahai pangeran pecinta mawar. Sedang apakah dirimu di negeri yang nun jauh di sana? Ya, sejenak kerinduan menyelusup ke hatiku. Bayang-bayang masa lalu itu terus menghantuiku. Tidakkah kau mengingatku? Ataukah kini kenangan itu hanya sebuah serpihan debu di hatimu yang telah hilang bersama jatuhnya rintik hujan? Hujan. Ya, hujan. Hanya dengan rintik-rintik hujan, anganku akan mengembara, mengingat betapa bahagianya masa kecilku bersamamu, bersama pangeran yang membawa kecintaanku terhadap keindahan hujan dan setangkai mawar merah yang disukai hampir semua insan.

Wahai pangeran. Kini mawar merahmu telah tumbuh dewasa. Tidakkah kau ingin melihatnya? Tidak. Ku harap tidak. Mawar merah yang tumbuh dengan asa dan harapanmu justru telah layu sebelum kau bisa melihat keindahannya. Apakah kau akan tetap menjadi kumbangku ketika kelopak-kelopak mawarku jatuh melenyapkan asaku? Menghancurkan sebuah harapan dan penantian akan pangerannya? Ya, aku adalah mawar merah yang ingin menebarkan aromanya pada semua kumbang, memberikan keindahanku untuk dinikmati. Namun tidakkah kau mengatakan, mawar merah ini hanya akan kau miliki? Tidakkah kau mengingat janjimu untuk mawar merah yang kini hampir layu?

Kala itu, wahai pangeranku. Seekor kumbang datang mendekatiku, menawarkan harapan dan asa yang indah, mengingatkanku pada dirimu yang entah berada di mana. Penantian yang melelahkan akan dirimu, janji yang tak berujung, membuatku terlena dan terbuai akan kata manisnya. Ya, aku membiarkan diriku merasakan indahnya ditemani sang kumbang, melewati waktu bersama, berjanji tak akan meninggalkan mawar merahnya.

Sampai suatu hari, sang kumbang tak kunjung datang, meresahkan hati mawar merah. Menunggu, menanti dengan setia dan tak menghiraukan kumbang-kumbang lainnya. Dan di saat itu wahai pangeranku, di saat aku masih memiliki setitik harapan pada sang kumbang, sebuah kenyataan menghantamku. Sang kumbang kini memilih mawarnya yang lain. Mawar yang jauh lebih indah dan lebih memikat hatinya. Ya, mawar merah hanya bisa pasrah, merutuki kebodohannya. Oh pangeran, apakah aku begitu bodoh, menyerahkan harapan dan asa itu kepada sang kumbang? Sang kumbang yang begitu mudahnya mengkhianati ketulusan mawar merahmu?

Wahai pangeran pecinta mawar. Ketahuilah, mawar yang kau harapkan keindahannya kini telah layu, kehilangan asa dan harapan. Apakah masih ada sang kumbang yang akan menerimaku, pangeran? Apakah sang kumbang itu adalah dirimu? Sanggupkah kau menerima mawar merahmu yang kini terluka dan hampir layu? Tidak pangeran, aku tidak akan terlalu berharap. Karena keindahan dirimu, tak pantas untuk mawar merah yang telah layu. Biarkan, biarkan mawar merahmu terluka sendiri, layu dan mati seiring jatuhnya kelopak-kelopak sisa keindahannya yang telah lenyap karena kebodohannya sendiri.

Dengan penuh kerinduan. Untuk pangeranku.
Dari Mawar Merah yang terluka.

Cerpen Karangan: Sri Minayanti

Cerpen Sepucuk Surat Untuk Pangeran Pecinta Mawar merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Takdir Kekuatan Cinta

Oleh:
Malam ini tepat pukul 19.00 aku datang ke acara reunian SMA-ku. Ketika aku tiba di tempat reunian ini, aku banyak disapa oleh teman lamaku dan mereka juga memberiku ucapan

Merindukanmu

Oleh:
Namaku Ita, dan sebut saja dia Adi. Awalnya aku tak pernah mengenal sosok Adi, meski dia sudah mengenalku lebih dulu. Walaupun dia selalu berusaha untuk mendekatiku. Kami satu kantor

Pejuang Cinta

Oleh:
Jatuh cinta adalah sebuah kepekaan hati. Perasaan tak biasa yang mengandung kegelisahan dalam keindahan. Apalagi ketika si perasa adalah seorang pemuda. Hatinya akan dipenuhi keharmonisan bak rumpun hijau yang

Ada Cerita

Oleh:
Namaku neila aku mahasiswa perguruan tinggi di yogyakarta aku punya pacar namanya nicko. Dia baik bahkan sangat baik. Awal ketemu dengan nicko secara tidak sengaja. Awalnya aku dan keluargaku

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *